Wednesday, 25 June 2014

Surat Untuk Dirimu

22 Juni 2014.


Happy birthday "teman baikku"
Sudah 22 tahun umurmu yahhh.
Yeah, kita merayakannya dengan nyaris sempurna. Berpanas-panas ria menuju rumahmu, lalu menuju stasiun Juanda di mana kereta kita menunggu untuk membawa kita ke barat Jakarta. Bersenda gurau di stasiun terbesar (mungkin!) di Jakarta, menikmati foto-foto sejarah dunia kereta api di Indonesia sambil sesekali membayangkan suasana stasiun Jakarta-Kota di masa kolonial dulu.

Berjalan kaki menuju ke Balai Kota yang sekarang disebut Taman Fatahillah, melewati seorang gadis yang duduk tenang di atas tumpukan batu mencoba melukis bagian depan Stasiun Kota, melewati pedagang-pedagang kaki lima, melawan panas dengan bersenda gurau dan sesekali jemari-mu memainkan shutter kamera dengan wajah nampak menerawang jauh pada objek yang menarik perhatianmu. 

Berputar-putar di tengah Taman Fatahillah lalu masuk ke beberapa gedung di sebelah timur taman. Gedung yang dahulu tak pernah digunakan tetapi untuk hari ini beberapa seniman dan arsitek menggunakannya sebagai tempat memamerkan karya-karya seni kontemporer,lukisan, hingga instalasi dan video presentation dapat ditemukan di dalamnya. Kita tenggelam dalam kekaguman, dirimu mengambil setiap object yang menarik perhatian, sedangkan aku berusaha menerawang ke dalam beberapa karya berusaha menerka apa yang ada di dalam pikiran sang pencipta karya.

Setelah beberapa kali bertemu dengan kolega-kolega kampusmu dan mata kita telah puas melihat berbagai macam karya arsitek dan kontemporer kita masuk ke dalam rumah akar yang semakin membuat kita takjub dengan kondisi rumah yang temboknya termakan oleh akar pohon, nampaknya sama sekali tidak pernah mendapat perhatian dari siapapun hingga hari itu.

Takjub dengan pemandangan itu hingga akhirnya kita sadar bahwa kaki mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Kita keluar dan duduk di Taman Fatahillah. Dirimu menikmati soto mie sedangkan aku asik dengan tahu gejrot beserta kuahnya. Setelah merasa cukup segar kembali kita berjalan menuju gedung Karya Cipta di mana terdapat instalasi green building. Kembali kita dibuat takjub dengan ribuan tanaman yang berada di dalam bangunan yang sudah terbengkalai tersebut. Terdapat seorang DJ yang nampak sangat kontras dengan nuansa klasik di dalam bangunan tersebut asik memutar lagu-lagu yang entah apalah itu artinya.

Puas berputar di bangunan tersebut kita kembali ke Taman Fatahillah membeli air minum dan duduk tepat di hadapan Gedung Balai Kota, seorang pemain biola memainkan lagu-lagu pop dan perjuangan dengan biola tua-nya yang sudah nampak usang. Kita bicara tentang apa saja yang ada di dalam pikiran. Tentang ulang tahun tak ber-kue, berlilin, atau berkado tapi senyum tulusmu, tawa riangmu, dan langkah ceriamu membuat diriku tenang.

Lapar mulai melanda. Kita nikmati nasi goreng di pinggiran Taman Fatahillah, hari spesialmu kita lewati di pinggiran, tak kekurangan keceriaan kita lahap menghabiskan nasi goreng dan mulai bicara tentang perjuangan ibu-ibu pedagang kaki lima di sana yang bercerita tentang anak-anaknya yang sanggunp dia sekolahkan hingga bangku kuliah.

Waktu berputar, matahari yang tadi siang gagah membakar kulit kami sekarang mulai menunjukkan tanda-tanda melemah, sinar remang mulai muncul, wajah-wajah lelah berjalan gontai menuju rumah digantikan oleh wajah-wajah gembira mereka yang baru tiba. Kita melangkah kembali ke Stasiun Jakarta-Kota membawa senyuman dan mampir ke minimarket sekedar membeli lilin untuk ditiup sebagai lambang harapan yang akan terkabul tapi apa daya tak sebatang lilinpun kita temukan. 

Kuminum kopi perlahan, dirimu asik menjilati ice cream. Tak kita pedulikan lilin dan kue, yang ada hanya senyum penuh cinta dan obrolan menyenangkan sudah cukup menggantikannya. Kita mengobrol sekedar menghabiskan kopi dan ice cream dan mengistirahatkan kaki yang lelah menjejak terus menerus sedari siang. Tak bisa kupalingkan wajahku dari senyum manis yang tak pudar sedari siang hingga malam. Tak terbias di wajahmu rasa lelah yang mendera, yang ada hanya senyum manis yang tulus penuh cinta.

Kita sudahi hari ini, sebuah hari yang nyaris sempurna, aku biarkan kenangan ini hidup terus di dalam hatiku. Sebuah hari yang indah, salah satu hari terbaik dalam hidupku.

Selamat ulang tahun "teman baikku"!

Tak akan pernah ada yang sia-sia.


Samuel Yudhistira

Related Articles

1 komentar: