Ada kata, kalimat, huruf, dan angka bertarung di dalam kepala. Dia biarkan semua itu berebut tempat nyaman di dalam kepalanya tanpa interupsi. Mungkin suatu hari nanti mereka semua akan bisa berdamai di dalam sana. Mereka bergerak lebih cepat dari kecepatan cahaya. Semua berusaha mengisi ruang sempit di kepala.
Semua dilarang untuk berkomentar apalagi mengeluh. Kita semua dipaksa menjadi gila agar tidak bisa berpikir tentang kenyamanan. Semua dipaksa menjadi gila agar selamat hanya menjadi fokus tunggal di dalam pikiran.
In silence, we are all safe.
In silence, we all become comfortable.
In silence, we all take our positions.
In silence, we all arrive.
Within it, we all depart.
In silence, we all disappear.
Gegap gempita pesta terdengar dari kejauhan. Kita berdua menjauh dari keramaian dan memilih untuk diam di ruang yang tidak begitu luas untuk fokus menyelesaikan tugas-tugas di dalam sebuah permainan digital. Rumah adalah tempat di mana kita berdua berbagi semua resah dan menikmati lembayung merah ketika senja datang. Tahun akhirnya berganti. Waktu yang sombong kembali menunjukkan kuasanya dengan membuka lembaran-lembaran kenangan masa lalu yang semakin berkarat. Sudah satu dasawarsa silam, satu tahun silam, tiga tahun silam.
Air mata, thyrozol, obat tidur menjadi sahabat setia melewati hari-hari yang semakin tidak jelas arahnya. Kafein mempertebal pertahanan diri melawan gejolak kehidupan. Nikotin membantu melupakan lara demi mempermudah kita melewati gelapnya malam.
Suatu malam Bapak datang ke dalam mimpi. Saya ajak dia bicara tentang kenangan di kampung tetapi dia hanya diam dengan senyum khasnya dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Saya bilang kalau Ibu sangat merindukan Bapak tetapi tidak digubris. Bapak terlalu fokus memainkan jemarinya di atas fret-fret gitar. Saya teriak, dia diam dan tetap memainkan nada-nada aneh dari gitarnya. Saya hanya ingin bicara di teras depan rumah tentang kemanusiaan, keadilan, sejarah, dan ironi kehidupan. Di dalam mimpi setelah bermain gitar bapak hanya pergi meninggalkan gitar dan saya yang entah mengapa tidak bisa bangkit dari tempat duduk untuk mengejar sosok Bapak di mimpi. Saya hanya membeku. Mungkin Bapak hanya ingin memperlihatkan keahliannya memainkan gitar dan pergi begitu saja. Mimpi yang aneh...
Kebebasan untuk memilih siapa yang harus berada di atas menjadi sebuah malapetaka untuk banyak orang yang menyaksikan hidup mereka porak-poranda dengan mata mereka sendiri. Penyelasan lahir dari ketidaktahuan mereka akan betapa mudahnya keputusan hancur lebur dibuat untuk membuat mereka babak belur. They weaponized democracy for their own advantage and use it to slaughter people's freedom.
Terkadang saya suka membayangkan diri saya berada di atas bukit tinggi dan melihat kota dari atasnya. Melihat betapa ketamakan sudah merasuki setiap orang dan setiap hari hidup dimulai bukan dengan pengharapan tetapi dengan nafsu belaka. Kita manusia diciptakan untuk menaklukkan dunia menurut kitab suci yang kubaca waktu kecil tetapi kita tumbuh besar menjadi seseorang yang mengeksploitasi kelemahan dan hanya mau menaklukkan nafsu di hari raya.
Well, I've been 'fraid of changin''Cause I've built my life around youBut time makes you bolderEven children get olderAnd I'm gettin' older, too
Mari kita tambahkan sedikit gula ke dalam minuman kita agar rasa pahit dan asam tidak begitu mengganggu setiap teguk yang masuk ke dalam mulut.
I saw the mirror the other day
I saw my reflection crumbling
I saw a defeated man
I saw nothing but a mistake
I hit the mirror
I bled my arm
Blood ran through my arm
Blood stained my shirt
I felt nothing at all
Didn't even flinch
I felt nothing
They said a man can be destroyed but not defeated
I lost.