Showing posts with label generasi penerus bangsa. Show all posts
Showing posts with label generasi penerus bangsa. Show all posts
, , ,

Change.

September 18, 2015 Samuel Yudhistira
John F. Kennedy once said, "Change is the law of life. And those who look only only to the past
 and present are certain to miss the future."


Gue saktujuh sama kata-kata Mr. Kennedy di atas.

Banyak orang yang terlalu takut mengalami perubahan. Gak heran muncul orang-orang konservatif yang pola pikirnya terlalu relik di era komunikasi sekarang ini.

Contohnya aja orang tua masing-masing. Mereka yang tetap memegang teguh sistem dan tata budaya jaman baheula harus berhadapan dengan anak-anak mereka beserta pola pikir barunya yang lebih progresif dan cenderung reaktif sehingga timbul kontra-kontra kecil dalam kehidupan. (saiklaaah)

Gak kecil juga sih kalo berujung pada cekcok.

Mereka generasi tua susah untuk beradaptasi dengan perubahan dan anak-anak muda yang berubah dengan kecepatan yang luar biasa cepat didukung dengan perkembangan jaman.

Kata-kata Mr. Kennedy bukannya gue jadikan senjata buat ngelawan orang tua lho tapi konsep berubah yang gue maksudkan justru lebih mengarah ke generasi di mana kita sekarang berada.

Ketika terpaku dengan masa lalu..yahh lo bakalan ketinggalan jauh dilindas oleh jaman yang super kejam.

Ketika sudah puas dengan apa yang dimilki sekarang belum tentu masa depan mau memberikan hal yang sama kepada kita.

Artinya... teruslah berkembang gali semua potensi yang ada di dalam diri kita masing-masing. 

Gue sendiri mengalami koq betapa perubahan itu sungguh amat sulit. Beradaptasi dengan hal baru itu lumayan challenging brooh. Mengubah gaya hidup,cara berdandan,cara bicara,bahasa yang digunakan,semuanya melelahkan. Memang berubah itu adalah hukum kehidupan yang tak bisa dipungkiri dan dihindari. Yang paling benar adalah dihadapi.

Anak punk masuk bank adalah fase pertama gue menguji teori hukum perubahan sebagai bagian dari hidup.

Gue yang semasa kuliah gondrong,serabutan,ngomong asal-asalan,hidupnya sok rokenrol tiba-tiba harus berubah entah berapa ratus derajat ketika pertama kali memasuki dunia pekerjaan. Rambut gue dipapas abis,kudu pake dasi dan kemeja plus sepatu pantofel, grooming abis-abisan, dan tata bahasa yang super ramah bin baku ketika bekerja di bank.

Berubah.Ya gue berubah yang tadinya anti banget nongkrong di mall jadinya ke mall, kalo belanja baju gak jauh-jauh dari flannel tiba-tiba belanja kemeja formal, tadinya pake sneakers belel tiba-tiba sepatu formal, dll. Kalo gue terus melihat masa lalu gue sebagai seorang penganut budaya urban gue gabakal tahan dan bertentangan dengan budaya perusahaan tempat gue bernaung (walaupun pada akhirnya gue cabut juga).

Jujur gue gak nyaman.

Kaya punya kulit kedua.

Tapi yah..namanya keharusan.

Dan ketika gue merasa amat tidak nyaman dengan kondisi tersebut gue mulai memikirkan masa depan gue.

Kalo gue tetap bertahan dengan apa yang ada pad asaat itu dan tahu dengan kondisi yang gak memungkinkan gue untuk berkembang gue bakalan stuck dan gak dapet apa-apa. Maka keputusan besar pun kembali dibuat. Gue memutuskan resign.

Semua orang shock.

Masuk ke tempat di mana ada tes yang lumayan sulit ditambah benefit yang lumayan untuk orang seusia gue dan tiba-tiba gue cabut gitu aja.

Berubah. Ya gue kembali berubah menjadi pribadi yang lebih kritis. Gue gak mau kehilangan masa depan yang lebih baik. Walaupun penuh kebimbangan dan godaan kanan-kiri gue tetep dengan keputusan gue. I've made a decision, a big one.

Budaya konservatif kita sebagai orang Indonesia bahkan menurut gue udah punya pattern yang kyanya gaboleh buat diakalin. Gak percaya? Lahir...anak kecil..sekolah dasar..SMP..SMA...kuliah (kalo bisa di negeri)...lulus....kerja (klo bisa PNS)...married (seagama dan sesuku)...punya anak cucu...mati.

Harus kerja yah?

Ya, kerja di perusahaan besar merupakan suatu keharusan kyanya di mata orang tua kita. Gak jelek sih kerja itu, tapi alternatif lain kan masih banyak. Namun karena memang kita adalah manusia yang menuntut kepastian maka get a decent job adalah sebuah pilihan yang nampaknya paling umum dan pasti.

Gue tiba-tiba teringat temen gue yang setelah lulus kuliah langsung buka usaha. Tak terikat korporasi,tak terikat jam kerja,hanya terikat niat dan usaha untuk sesuatu yang lebih baik. Atau tetangga gue yang 5 tahunan kerja kantoran dan tiba-tiba banting stir jualan nasi uduk. Semua orang heboh bukan main, dari eksmud jadi tukang nasi uduk. Berubah.

Gue teringat lagu... I was looking for a job but then I've found a job and heaven knows I'm miserable now.

Berubah dan berubah memang sebuah lingkaran yang tak bisa dihindari.

Dunia kita berubah? Ya berubah. Dulu gak ada busway sekarang ada busway. Dulu naik kereta itu berasa naik kora-kora sekarang udah enakan dikit dengan sistem yang rapi. Dulu birokrasi ribet sekarang sudah agak lebih mending deh.Dulu naik ojek harus nyari pangkalan sekarang pake aplikasi hape bisa. hehehe

To change the world, it may not work but it sure is a fun trying.

Jangan takut dengan perubahan, karena gak selamanya perubahan itu negatif koq.


,

This Is My Generation!

December 22, 2010 Samuel Yudhistira
Generasi...

Kita hidup di sebuah era di mana semua orang mulai hanya peduli terhadap dirinya sendiri, ketamakan sudah menutup hati nurani, dan kita mulai dibutakan oleh gemerlapnya kemudahan dunia sehingga kadang kita lupa kalau masih ada orang lain yang hidup di dunia selain diri kita, generasi kita, inikah generasi kita yang kehilangan identitas dan tak punya corak?

Bukan! Saatnya kita sadar dan bergerak, kita adalah pemuda yang agresif,dinamis,dan tentu saja penuh kreatifitas. Kita adalah generasi masa kini!



Pandangan kami selalu kritis mengenai dunia yang bukan menjadi miliki kita lagi. Kami nampak seperti generasi tak bertujuan yang hanya berputar-putar di dunia yang datar dan membosankan

Kami bukan bagian dari "Lost Generation" tahun 1920-an yang kehilangan identitas akibat peperangan, atau Flower Generation yang meneriakkan PERDAMAIAN yang palsu dan sekonyong-konyong menikmati sifat hedonisme mereka di atas penderitaan orang-orang yang disebabkan oleh penguasa mereka. Flower/Beat/Hippies hanya meninggalkan kesenangan penuh hedonisme sebagai warisan.

Generasi masa kini memegang etos D.I.Y. (Do It Yourself) sebagai sebuah kenikmatan tiada tara, sebuah hasil yang lebih menyenangkan dan memuaskan dibanding hanya menerima dan menerima.

Generasi sekarang mampu membaca situasi secara kritis bertindak dengan perhitungan yang matang dan tidak mengandalkan insting secara total. Kita adalah anak-anak muda yang dituntut untuk mengandalkan otak dibanding otot.

Kita sebagai generasi sekarang harus mampu menggantikan pemikiran-pemikiran kolot dari generasi tua dengan pemikiran-pemikiran baru yang lebih dinamis dan lebih baru. Sebuah pemikiran yang tidak absurd dan pastinya memiliki dasar yang kuat, bukan hanya sesuatu yang jadi-jadian.

Walau memang kita, generasi sekarang, terlalu dikekang dan ditutup oleh segala macam pandangan yang meremehkan kemampuan dan pemikiran yang dianggap belum matang. Itu bukan masalah, selama kita mau berjuang dan kita merasa bahwa itu adalah hal yang benar maka kita harus mampu mempetahankan pendapat kita dan idealisme generasi masa kini.

Sudah saatnya kita bangkit dan bicara, dengan segala idealisme dan pemikiran yang kritis untuk menggusur segala hal yang berbau lama dan kadaluarsa!!

Mungkin terdengar gila dan mustahil, tapi selama kita memegang keyakinan teguh akan kebebasan dan keindahan semuanya akan menjadi sangat menyenangkan!!

Untuk kita generasi tak bernama...
, , , , ,

Rusaknya Mentalitas Bangsa

December 07, 2009 Samuel Yudhistira
Iringan lagu blues...

Secangkir kopi....

Komputer yang menyala...

Seorang gila di depannya...

Itulah keadaan gw saat posting kali ini

Gw mau kasih tahu tentang betapa rusaknya mental bangsa kita saat ini. Bener" parah sesuai dengan penglihatan gw sepanjang perjalanan gw dari rumah ke sekolah.

Kenapa?

Sebenernya yang mau gw omongin itu masalah anak jalanan a.k.a. pengemis ynag bertebaran begitu banyak di perempatan jalan ibukota Jakarta ini dan jumlahnya meningkat. Artinya: Semakin banyak orang miskin yang ada di Jakarta ini. Dan salah satu hal yang kurang diperhatikan adalah: "MENTALITAS ANAK JALANAN UDAH RUSAK PARAH!!" Bokap gw juga mengakui hal tersebut waktu ngeliat pengemis yang nyamperin gw ma bokap pas beli sate.

Mental anak" kecil yang disuruh buat minta duit ma orang lain secara terus-menerus mengakibatkan satu hal yang pasti: Mereka gak bakal bisa berdiri sendiri tanpa adanya bantuan dari pihak ketiga alias minta-minta doank! Dan yang lebih parah orang tua mereka tuh kya gak peduli bahkan sengaja memerintahkan mereka buat cari duit lewat cara ngamen ato minta" di perempatan. Memilukan sekali... Anak" yang harusnya bermain dan belajar di rumah haru bertarung di jalanan beraspal yang gak kenal ampun demi perut mereka.

Puncaknya?
Pulang sekolah tadi sore gw sempet berhenti di perempatan Cempaka Mas. Dan ada satu pemandangan yang cukup mengganggu gw pas berhenti.

Sebuah mobil Ni**an Se**na berhenti di depan pos polisi. Trus pintu penumpang sebelah kiri tiba" dibuka dan secara serentak semua pedagang asongan,pengamen,pengemis,tukang ngebersihin kaca jalanan,dan anak" jalanan yang mangkal di situ langsung berlarian secara liar dan brutal dan ngerubungin ntu mobil yang ternyata lagi bagi" makanan secara gratis buat mereka.

Tapi...

Cara mereka buat dateng ke sana bener" keterlaluan, gw bahkan sempet ngeliat salah satu anak (umurnya sekitar 7-8 tahunan gitu) hampir ketabrak mobil yang melaju di perempatan pas lampu ijo cman gara" mo ngambil ntu jatah nasi... tragis... mental anak" Indonesia itu mental minta"!! Memalukan! Bagaimana bangsa ini mau maju kalo generasi penerusnya bermental minta" seperti itu?

Gw jadi inget salah satu kejadian waktu gw kecil. Waktu itu gw pulang belanja ma nyokap di sebuah mall dan pulangnya kita naik taksi. Pas di perempatan githu ada anak kecil yang minta" sambil gendong anak balita (kyanya adeknya). Trus nyokap tiba" ngambil sebungkus biskuit (jatah gue!!) ama air mineral botolan trus buka kaca dan ngasih itu ke anak yang minta" tadi. Dan anak itu girangnya bukan main! Dia langsung bilang "Terima kasih!" trus lari" ke trotoar dan buka ntu biskuit dan makan bareng adeknya. Gw cman bisa nyaksiin kejadian itu sambil nganga... Nyokap ngeliat ke gw dan bilang, "Bersyukur kamu masih bisa hidup enak!"

Dari kejadian itu gw sekarang niat banget buat bisa nolong orang" kya mereka...