Saturday, 2 May 2015

My First Job

Everyone remembers their first job.


So here I am...

Semua orang punya mimpi tentang pekerjaan impian mereka. Ada yang bermimpi menjadi pilot yang bisa terbang tinggi ke angkasa mengendalikan burung besi menerobos awan dengan angkuh, ada yang bermimpi menjadi arsitek yang mampu mendesain "rancangan" terbaik tak terbantah layaknya tuhan di dunia, atau menjadi programmer ahli teknologi komunikasi yang mampu menguasai berbagai data dan kode yang orang awampun tak bisa membacanya. Yeah, dreams are dreams. You can dream it you can make it.

What was my dream job?

Have no idea...

Oke, gue adalah lulusan ekonomi di salah satu universitas swasta yang menawarkan pendidikan mumpuni dengan harga yang miring. Dengan reputasi fasilitas yang buruk kampus ini mampu menghasilkan lulusan yang mampu bersaing di level manajemen bawah.

Yeah that's the fact. 

Pokoknya bunch of suckers-lah.

Major gue di Management terutama berkaitan dengan marketing, yang artinya gue adalah manusia yang ditekan untuk mampu menjual melampaui target yang dicanangkan. Gue adalah manusia yang diharapakan mampu untuk menjual benda apapun dalam berbagai kondisi. Kurang lebih seperti itu.

Mari kita bicara soal pekerjaan dambaan. Gue selalu bermimpi bekerja di tempat yang fun. gak bikin stress, dekat dengan rumah, bukan di daerah macet, bla....bla..bla...

Gue lulus kuliah agak lebih cepat dan ekspektasi gue mengenai pekerjaan yang akan gue dapat terlalu tinggi sehingga ketika gue dihantam oleh realita sulitnya bersaing untuk pekerjaan gue langsung hancur lebur. I wasn't ready for the real thing.

Dan ketika pada akhirnya gue terdampar di ujung Jakarta dan Tangerang gue baru mulai berpikir betapa hidup tak pernah bisa berjalan sesuai dengan apa yang kita mau. Gue pengen banget jadi penyiar radio dulu kayanya seru gitu jadi penyiar radio pokoknya hidup gajauh dari musik bukan di tempat yang gak mungkin banget buat nyetel musik bahkan dari gadget sendiri sekalipun.

Atau mungkin jadi executive muda. Nongkrong di cafe, ketawa-ketiwi,clubbing,pake baju-baju necis, wangi,pokoknya nampak dekat dengan segala sesuatu yang mewah. Kenyataannya gue sendiri pernah liat manusia dandanan exmud dateng ke warung beli rokok sebatang.

Waktu gue buat nulis di blog rada tersita dengan pekerjaan gue sekarang. 

Sikap skeptis kadang gabisa menyelesaikan masalah... Yang ada kadang masalah yang timbul bisa menjadi semakin besar dan besar. Mengeluh bukan hal yang cerdas. Menangislah... keringkan semua stock air mata lalu bangkit dan lakukan yang terbaik. Tahan rasa sakit hati dan fisikmu. Gunakan musik sebagai painkiller paling ampuh yang pernah diciptakan manusia.

Karena pada dasarnya mereka yang menang adalah mereka yang mampu mengatasi masalah dengan cerdas.

Related Articles

1 komentar:

Immanuel Lubis said...

Sama-sama saling semangat yah, sam!!!