Sunday, 21 May 2017

The Strokes - Room on Fire (2003)

We were young, darling
We don’t have no control
We’re out of control

Album ini memuat lagu The Strokes pertama yang gue denger dalam sejarah hidup gue dan membuat gue pada akhirnya tergila-gila dengan band ini sampai sekarang. Album kedua dari band indie rock asal New York ini setelah gue perhatikan ternyata berisi banyak lagu-lagu yang terlalu asoy untuk tidak didengarkan.

What Ever Happened

Album ini dimulai dengan lumayan apik. I love this song. Lagu yang juga mengisi soundtrack film "Marie Antoinette" ini memang "sangat The Strokes" dengan tone tidak jauh berbeda dari album pertama mereka. Liriknya sedap terutama di bagian pertama yang merupakan favorit gue.

I wanna be forgotten
And I don't want to be reminded

Reptilia

Salah satu lagu The Strokes yang pertama kali gue mainkan bersama teman-teman satu band waktu masa SMA adalah lagu ini. It sounds simple tapi komposisi lumayan rumit ketika memasuki reff yang bikin gue dan teman-teman satu band waktu itu ngulik lumayan lama untuk lagu ini. 

The wait is over, I'm now taking over
You're no longer laughing, I'm not drowning fast enough

Automatic Stop

Seriously, the intro of this song is really something. Setiap kali gue denger lagu ini memori gue membawa gue kembali ke tahun 2011 di sebuah acara "Tribute to The Strokes" yang berujung bencana. We played really awful back then. Lagu ini waktu itu harusnya jadi salah satu lagu yang kita bawain tapi gajadi karena persoalan teknis dan internal. 

Yeah, I know you warned me but this is too important
Now I got a different view, it's you

12:51

Yep! This was their first song of them that I hear during my high school time. I remember we were at my friend's room and listening to this album. Hal paling unik mungkin riff-nya Nick Valensi yang benar-benar mengimitasi suara synth keyboard. 

12:51 is the time my voice found the words I sought
Is it this stage I want?
The world is shutting out for us
Oh, we were tense for sure but we was confident

You Talk Way Too Much

Okay, sebuah lagu breakup yang pas gue baca liriknya gue langsung merasa seperti orang di lagu tersebut. Ahh, suka merasa-merasa deh lo. Eits, tapi beneran. I feel you man in the song. I really am. 
Karena ketika kita dikejutkan oleh sesuatu yang berhenti mendadak kita akan mencoba berbagai cara untuk tetap bergerak walau kadang tindakan harus diambil dan justru membuat semuanya semakin berantakan.

Now we're out of time
I said, it's my fault, it's my fault
Can't make good decisions
It won't stop, I can't stop

Between Love and Hate

Another breakup song...

Intro drumnya catchy sih beneran. Liriknya tentang laki-laki,diputusin pacarnya,sendirian,kosong,berusaha untuk membuat pihak wanita merasa bersalah atas perbuatannya,mengingat masa-masa indah yang sudah berakhir, dan tetap bilang, "I'm okay!" walau sebenarnya enggak. Tapi yaudahlah semua sudah selesai. 

Never needed anybody, I never needed nobody
I never needed anybody, I never needed anybody
Don't worry about it, honey, I never needed anybody
I never needed anybody, it won't change now

Meet Me in the Bathroom

Intro lagunya gue suka deh. Gue inget dulu pernah ngulik lagu ini di ruangan kantor temen gue waktu jaman-jaman kuliah. 

Never was on time, yes, I once was mine
Well, that was long ago and darling, I don't mind
Yeah, they were just two fucks in lust
Oh, baby, that just don't mean much
Oh yeah, you trained me not to love
After you taught me what it was


Under Control

Anda terjebak dalam hubungan yang tidak mungkin? 
Beda suku? 
Beda agama?
Orang tua tidak setuju?
Beda visi dan misi?

Maka lagu ini cocok sekali untuk anda ketika hubungan anda yang tidak mungkin tersebut tiba pada akhirnya.

I don't want to change your mind
I don't want to waste your time
I just want to know you're alright
I've got to know you're alright

The Way It Is

Breakups are hard - even for the dumper. 

Walaupun gue merasa kalau si dumper tersebut merasa berat tapi jauh lebih berat beban si dumped. Gue merasa agak kurang 'sreg' sama lagu ini karena buat gue orang yang mencampakkan tentu saja bisa dengan enteng melaju kencang. 

Said she's not sorry the wind blows her way
Accidents happen, there's one planned today

The End Has No End

This song is about society. Di sini kaya dijelasin tentang semuanya akan terus berputar dan hidup begitu-begitu saja. Sama kaya orang yang sedang menggambar lingkaran. Mungkin yang membedakan hanya warna dan cara gambarnya tapi yang digambar tetap lingkaran.

Hoiya, di salah satu part ada selipan tentang Lou Reed dan The Velvet Underground. :)

He want it easy, he want it relaxed
Said I can do a lot of things, but I can't do that
Two steps forward then three steps back, it won't be easy

I Can't Win

Lagu ini adalah lagu yang waktu itu gue dan teman-teman band bawain dalam sebuah audisi untuk acara "Tribute to The Strokes" tahun 2011. Gue masih inget studionya di lantai dua di seberang minimarket (sekarang dah gaada) dan waktu itu temen gue si Thari bantu mengisi keyboard untuk menutupi kekurangan gitar. 

I love this song. Vokalnya Julian Casablancas di lagu ini buat gue keren banget dan solo gitarnya Nick Valensi menurut gue yang terbaik di album ini. A great song  to end a great album.

Things in bars that people do
When no one wants to talk to you
Failing can be quite a breeze
He told me that these girls were easy
Happy that you said you'd mount me
Felt unlucky when you found me
Some nights come up empty handed
Yes, I'll take it



picture source: http://www.jyonnobitime.com/time/2011/04/

Friday, 12 May 2017

Surat Untuk Kawan Senasib

Kita sebut saja hari itu sebagai "Selasa Hitam."

Sebagian menangis sebagian tertawa.
Ada yang berteriak, "Tuhan di pihak kita!" sementara itu yang lain berujar,"Tuhan tidak tidur!"
Jeruji besi mampu memenjarakan raga tapi tidak dengan ide.
Aku sama denganmu, kawan. Tapi engkau lebih "gila" sedangkan aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat segala perilakumu.
Aku tidak mau percaya apa yang orang-orang ini sampaikan di internet ataupun televisi.
Media sekarang hanya menjadi ladang propaganda segelintir orang.
Aku sama denganmu, kawan. Berusaha menjelaskan maksud dari apa yang kita sampaikan tapi tak seorangpun bisa mengerti.
Orang-orang ini dijanjikan surga oleh segelintir oknum yang katanya punya kavling besar di Surga sana. Mungkin segelintir orang ini adalah semacam "tuan tanah" yang mampu memberikan jaminan masuk Surga kepada mereka yang penuh keraguan ini.
Mereka berteriak yakin di mulut tapi dalam hati Aku yakin mereka dihantui keraguan.
Dan sekali lagi segelintir oknum tuan tanah Surga ini berusaha meyakinkan mereka supaya ikut dengan jalan yang sama.
Yah, siapa sih dari kita yang tidak pernah tertipu dengan para tenaga penjual? 

Aku sama denganmu, kawan. 

Monday, 8 May 2017

Lembab

Bandung, 4 Mei 2017



Seorang pria dengan jaket nilon hitam dan seorang wanita dengan parka berwarna coklat berjalan cepat di bahu jalan pintu keluar tol Pasteur. Mereka mentertawakan kondisi mereka yang basah kuyub karena hujan di Bandung waktu itu terlalu indah untuk tidak dinikmati. Macet membuat mereka yang sudah lelah berjam-jam duduk di mobil memutuskan untuk menyusuri jalanan walau beresiko basah diterpa hujan.


Mereka tertawa-tawa di pelataran kampus sembari merayakan kelulusan salah satu teman, menikmati bebek goreng di depan rumah sakit, dan berbagi cerita ditemani uap panas dari cangkir-cangkir kopi.


Perjalanan mereka layaknya ziarah ke tempat-tempat yang bersejarah. Tempat si wanita makan ketika kiriman datang di awal bulan, tempat si wanita mencetak tugas akhirnya yang dikerjakan berlarut-larut, tempat dia dan kawanan jurnalistiknya berkumpul di hari kelulusan, dan gerbang kampus tempat mereka bergumul tentang masa depan mereka.

Tuesday, 2 May 2017

Halo Hujan. (bagian kedua)

5 Januari 2017


Dia berteduh di sebuah komplek pertokoan sambil meratapi nasib sial dihajar hujan deras. Jarak ke rumah dari tempatnya berteduh sekitar 36 kilometer lebih. Pikiran di kepalanya masih campur aduk antara senang atau sedih. Senang karena pada hari ini dia berulang tahun dan sedih karena hari ini terasa sangat hambar. Suasana sedih semakin bertambah kala hujan badai tiba-tiba turun tanpa pertanda.

"Aku adalah manusia sial yang tidak tahu apa artinya bersyukur," dia menggumam dalam hati sambil memandangi rintik hujan dengan tatapan naas.

Dia mengingat hari-hari yang lalu di tanggal yang sama ketika semua orang masih berwajah sama pula. Ketika segelintir orang bersumpah setia untuk saling menjaga dan mendukung satu dengan yang lainnya. Waktu itu mereka dengan bangga berkata bahwa tak akan ada yang dapat mengguncang ikatan persaudaraan di antara mereka.

Namun sayang nasib berkata lain. Mereka lebih suka membanggakan dirinya sendiri,mereka lebih suka memeluk awan hingga lupa daratan, mereka lebih mencintai uang dibanding yang lain, mereka lebih suka melihat orang lain sengsara asalkan mereka selamat.

"Air sedang menari," dia berujar lirih, "Mungkin jika setiap tetes air hujan punya warnanya masing-masing maka dunia akan menjadi sebuah lukisan yang menakjubkan."

Disekanya air hujan yang membasahi kacamatanya. Dia teringat sudut kamar tempat mencurahkan semua perkaranya, bicara dengan angin, menatap langit-langit kamar yang kadang penuh dengan visual ajaib, dan kadang bulan menyapanya dari ujung jalan. Sudut bau keringat bercampur asap yang menjadi tempat favoritnya di rumah. Di sanalah dia menulis surat untuk hujan yang dia cintai.

"Halo hujan. Terima kasih sudah memberikan ucapan ulang tahun. It means a lot to me, man. Thank you," dia mulai mengajak hujan berbicara.

"Terima kasih. Hari ini saya ulang tahun. Seperempat abad sudah menjejakkan kaki di dunia yang kadang indah kadang tidak. Saya senang kamu datang. Bahkan membawa angin temanmu untuk ikut bersukacita bersama. Ke mana kilat dan petir? Mengapa tidak sekalian kau ajak mereka? Kita bersenang-senang di sini. Antar aku pulang. Rumahku masih jauh, kalian ajak saya bicara supaya lelah di badan ini tidak lagi menyiksa," dia sudah tidak peduli lagi orang mau menganggapnya gila atau apalah mengajak hujan bicara.

Dia menari,berteriak,melompat,berjingkrak kegirangan di atas genangan air mengikuti nyanyian angin. Di hari yang sangat istimewa ini dia ingin berbagi dengan hujan sahabatnya. Hari yang dulu penuh kehangatan palsu sekarang terganti dengan dingin menusuk yang tulus dan penuh cinta.

Hari di mana dia pertama kali menghirup udara kehidupan.



Friday, 7 April 2017

Faith


You can't see it but you can feel it.

Di bawah sinar lampu seadanya kita bicara tentang apa yang tidak terlihat mata.

Apa yang kau yakini?

Ke mana kau hendak pergi?

Bagaimana bisa kau bertahan menghadapi angin ribut di dalam kepalamu?

Lampu terus berpijar, asap rokok terbang ke udara, tebal di awal lalu hilang perlahan sampai akhirnya benar-benar tembus pandang. Di antara kepulan asap kita sepakat bahwa semua yang terjadi di dunia ini tidaklah kebetulan.

"Tuhan itu simpel. Ngapain dia repot-repot ngurus ini-itu-ini-itu. Wong dia yang bikin semesta," ujarku dengan nada sarkas yang sudah menjadi ciri khas namun masih sulit engkau pahami.

Cause there must be a reason for all the looks we gave and all the things we never said before.


***
Have you and her taking picture of your obsessions?

Aku lelah dengan pikiran obsesifku. Perasaan menekan membuat emosiku tidak stabil. Diciptakan untuk menjadi paranoid. Bosan juga aku mendendam.

Yah, lama-kelamaan aku bosan memelihara dendam terhadap mereka yang dahulu berkhianat. Heran juga ada orang yang cepat sekali bosan bahkan ketika dendam belum terbalaskan dia sudah bosan mendendam.

Sekarang aku ingin memelihara kegilaan. Bosan tinggal di tengah masyarakat yang pura-pura waras dan tidak mau dianggap gila. Apa salahnya menjadi gila? Bahkan tanpa kalian semua sadari kalian sudah menjadi gila dan terpenjara dalam pikiran kalian sendiri.


***
Century of fakers

A sorry tale of action and the men you left for women, and the men you left for intrigue, and the men you left for dead.

Kita bicara tentang masyarakat miskin di sebuah kafetaria dalam mall yang menjual segelas kopi hitam seharga lima puluh ribu. Revolusi dimulai dari tempat tidur dan berakhir dengan retorika yang tidak pernah usai. Kita yang bicara keadilan tanpa sadar berada di garis depan untuk menginjak-injak keadilan itu sendiri.

Slogan-slogan basi yang terus diteriakkan lama-kelamaan membuat kita mual. Politisasi surga menjadi tontonan sehari-hari dan tanpa malu orang-orang itu menunjukkan betapa pura-pura pintarnya mereka. Heran, masih saja mereka berlagak pintar. Apa salahnya menjadi bodoh? Bukankah Steve Jobs yang Agung pernah berkata, "Stay foolish, stay hungry!" kepada mahasiswa-mahasiswa pintar di Stanford sana?

Wahai manusia-manusia berbalut putih penuh kepalsuan aku harap kalian menemukan jalan kalian menuju kedamaian.

***
If you had such dream would you get up and do the things you believe in?

Life is never dull in your dreams.

Mungkin karena itu kita sangat-sangat senang tidur. Betapa nyaman dan menyenangkan hidup dalam mimpi. Semua bisa diatur dan sungguh amat teratur. 

Hidup....
Mimpi....

Hiduplah dalam mimpi. Jangan pernah menyesal karena tidak akan pernah ada yang salah.
Tetaplah hidup.

Monday, 20 March 2017

Melawan Arah





Hiduplah melawan arah!

Bicara tidak sulit
Hanya entah siapa yang mau dengar.
Bicara tidak sulit
Hanya saja tidak semua mau bergerak

Visual penuh kepalsuan
Kebohongan dalam bentuk digital
Jari bicara
Mulut bungkam
Pikiran berlari
Badan tetap di tempat








Tuesday, 14 March 2017

Bicara di Bawah Lampu




“I said that people never change their lives, that in any case one life was as good as another and that I wasn’t dissatisfied with mine here at all.”
-Albert Camus, The Stranger-

Kita selalu berdebat tentang siapa yang paling hebat di bawah kolong langit ini. Entah secara selera,ilmu,karir,nilai,norma,bakat, dan banyak hal yang bisa dijadikan bahan untuk berdebat tentang siapa yang lebih dari yang lain.

Di tengah keramaian yang tidak asing dan di tempat di mana kita mulai bangkit dari keterpurukan akibat tingkah masa lalu kita permasalahan ini menguap.

Yeah. Kita semua sama, us and them and after all we are only ordinary men.


Monday, 6 March 2017

The Libertines - The Libertines (2004)




Ini adalah album yang merupakan jawaban atas penantian deg-degan para fans The Libertines di tahun 2004. Setelah vokalis sekaligus salah satu frontmen mereka Pete Doherty dijebloskan ke bui akibat aksi pencurian di apartemen salah satu personil bandnya sendiri: Carl Barât. Banyak yang menduga kalau band ini bakalan bubar jalan. 



The Libertines sempat mencuri perhatian dengan album perdana mereka yang berjudul "Up The Bracket" dan menjadi ikon musik garage rock di awal tahun 2000-an. Konflik internal,perilaku ugal-ugalan,dan gaya hidup para personilnya yang berujung pada ditangkapnya Pete Doherty membuat publik sempat berasumsi kalau band ini tidak akan bertahan lama.

"FREEDOM GIG"

Tap 'n' Tin, Chatham, Kent

Acara ini menjadi tonggak awal kembalinya The Libertines sebagai sebuah band setelah Pete Doherty keluar dari penjara dan  beberapa jam kemudian langsung manggung bareng teman-teman bandnya. Publik kembali bertanya-tanya apakah kembalinya Doherty bersama bandnya apakah hanya sementara atau mungkin The Libertines kembali dengan karya-karya terbaru mereka.

Album ini menjawab semuanya.

Dirilis tahun 2004 di bawah label Rough Trade album ini merupakan album The Libertines yang pertama kali gue dengeri justru di tahun 2014. Yeah, gue terlambat satu dekade karena jujur gue belum begitu tertarik dengan musik mereka pada saat itu. Dengan bantuan dari seorang penggemar berat The Libertines (nama disamarkan) gue berhasil mendapatkan materi-materi album ini. 

Gue suka. 

This is an amazing stuffs. Album ini kaya biografi. Kebanyakan menceritakan tentang relasi pertemanan antara Pete Doherty dan Carl Barât yang sempat gonjang-ganjing karena kasus pencurian tersebut. 

Langsung digeber dengan single pertama dari album ini yaitu lagu "Can't Stand Me Now" yang juga merupakan hit palng cihuy dari The Libertines yang pernah dibuat. Lagu ini jelas tentang pertemanan yang mengalami turbulensi di tengah perjalanan. Yeah, sebuah hal yang mungkin juga banyak dialami sama kita semua.

An ending fitting for the start
you twist and tore our love apart
your light fingers through the dark
that shattered the lamp and into the darkness cast us...

No you've got it the wrong way round
you shut me up and blamed it on the brown
cornered the boy kicked out at the world...the world kicked back
alot fuckin' harder now

Gue suka track yang judulnya "Don't Be Shy","Narcissist","The Ha Ha Wall", sampe "Arbeit Macht Frei" yang masih menggunakan formula yang sama: lirik simpel,distorsi ringan,tempo cepat, dan attitude yang urakan. Album ini memang penuh dengan energi. Mungkin pengaruh absennya Pete Doherty yang tiba-tiba kembali dan membawa energi yang baru untuk The Libertines sehingga empat belas lagu di album ini menjadi penuh semangat.

Mungkin lagu "Music When The Lights Go Out" adalah lagu yang paling gue suka di album ini. Lagu ini menyentuh emosi gue secara berlebihan di masa-masa depresi gue dulu. Ahh, how I really love this song man. Lagu ini mengingatkan gue pada teman-teman dan keseruan dengan mereka. 


and all the memories of the pubs and the clubs, and the drugs and the tubs we shared together
will stay with me forever..
but all the highs and the lows and the to's and the fro's they left me dizzy oh wont you please
forgive me

but i no longer hear the music oh no no no no

Di lagu "What Katie Did" gue suka intronya dan harmonisasi vokal yang ringan tapi keren. Gue suka liriknya. Menceritakan tentang Pete Doherty yang lari dari kesedihan setelah putus dengan cara mengkonsumsi heroin.

What you gonna do Katie? 
You're a sweet, sweet girl 
But it's a cruel, cruel world 
a cruel, cruel world 

Safety pins are none too strong Katie
they hold my life together 
And I never say never 
And I never say never again 

But since you said goodbye 
The polka dots fill my eyes
And I don't know why 

Kebanyakan majalah musik memberikan review yang cukup positif tentang album ini. Tapi yang menurut gue sangat mencuri perhatian gue ketika gue dapet album ini jujur aja cover albumnya. Gue suka sama cover album ini. Sederhana tapi pesannya kuat. Foto Carl dan Pete waktu acara "Freedom Gig" yang legendaris tersebut dipilih menjadi cover album yang berisi kisah tentang mereka berdua.





Please don't get me wrong

See I forgive you with a song

We'll call the Likely Lads

But if it's left to you

I know exactly what you'd do

With all the dreams we had


picture source: https://en.wikipedia.org/wiki/The_Libertines_(album)

Sunday, 5 March 2017

Just Trash, You and Me




Maybe, maybe it's the clothes we wear,

The tasteless bracelets and the dye in our hair,

Maybe it's our kookiness

Or maybe, maybe it's our nowhere towns,

Our nothing places and our cellophane sounds,

Maybe it's our looseness,

Akhir tahun kemarin lagu ini menjadi semacam "lagu wajib" yang terus-menerus diputar di playlist telepon genggam gue. Lagu yang membuat gue sadar kalau gue begitu berbeda dan sebaiknya gue gak perlu minder dengan apa yang gue punya sekarang. It's about the values I have. Nilai-nilai yang gue pegang dan gue gak perlu membandingkan itu dengan orang-orang lain. Just do my things

Maybe, maybe it's the things we say,

The words we've heard and the music we play,

Maybe it's our cheapness,


Or maybe, maybe it's the times we've had,

The lazy days and the crazes and the fads,

Maybe it's our sweetness,

Gue mengubah diri gue mejadi lebih legowo dalam menjalani kehidupan yang sebenarnya gak keras-keras amat,berjalan ke tempat yang gak jauh-jauh amat,dan membiasakan sesuatu yang tidak biasa itu sebenarnya gak susah-susah amat. 

Tiba-tiba gue dipertemukan secara ajaib dengan seseorang yang menimpa semua warna yang sudah aman menjadi sesuatu yang lebih liar dan ugal-ugalan. Lagu ini adalah representasi dari dia yang mengajari gue untuk saling menopang.

Kita adalah dua orang pesakitan dengan berbagai kompleksitas pemikiran yang akut. Tertawa atas nasib yang sebenarnya tidak begitu buruk tapi entah mengapa pikiran kita membuat masalah tersebut membengkak. Kita begitu curiga terhadap apa yang ditawarkan kehidupan kepada kita sehingga setiap langkah yang kita ambil penuh keraguan dan kecurigaan. 

Aneh memang ketika dua orang pesakitan ini disatukan yang terjadi bahkan tergambar dalam lagu ini....


But we're trash, you and me,

We're the litter on the breeze,

We're the lovers on the streets,

Just trash, me and you,

It's in everything we do.
It's in everything we do...

Kita adalah pesakitan yang berbahagia. 

Makan di pinggiran,menghindari keramaian,bicara filsafat hingga teologi,tertawa-tawa di balik jas hujan,nostalgia sederhana dengan masa kecil,debat kusir di perjalanan,berkhayal tentang masa depan, merajut ide serta identitas,terkadang menikmati kopi artisan sambil berbicara tentang penderitaan, kita berbeda memang dari orang-orang lain. Kita menerima semua dan kita menjadi orang yang lebih baik lagi dari sekarang.

Yeah, we're trash, you and me,we're the litter on the breeze, we're the lovers on the streets, just trash, me and you, it's in everything we do.





Song: Suede - Trash
Pokoke gue pengen lagu ini diputer kalau gue married nanti

Tuesday, 28 February 2017

Arbeit Macht Frei



Does work make you free?



Kerja.


Subuh kita bangun melawan dingin menerjang macet dan malam kita tiba di rumah membawa keluh kesah.


Bebaskah kita?


Kerja itu ibadah.


Apakah dengan bekerja kita bisa masuk surga? Segera ajukan pengunduran diri dan mulailah bertapa di gunung suci! Siapa tahu Tuhan sedang bermurah hati menurunkan wahyu-Nya kepadamu. Apakah jika engkau bekerja sebagai pelacur dan perampok masih dianggap sebagai ibadah?


Yang aku tahu air,listrik,tanah,beras,dan bensin tidak gratis.
Yang aku tahu ngopi sambil tertawa-tawa di balik etalase kafe itu tidak gratis.
Yang aku tahu buang air di WC umum itu tidak gratis.
Yang aku tahu rokok yang kuhirup nikmat itu tidak gratis

Bekerja karena memang keharusan. Kita ini adalah semacam investasi jangka panjang. Mereka menanam ilmu dan pengalaman supaya kita mengabdi entah kepada negara atau kepada perusahaan. Yang lainnya menapakkan kakinya di atas tanah berduri berusaha menjadi salah satu kepala dari sistem.


Hoaaaammm... rasa kantuk akibat buaian angin dari penyejuk udara membuatku bicara sedikit ngelantur. Di ruang penuh curiga ini aku menyempatkan diri menulis sedikit sebelum menyiapkan bahan meeting besok dan besok dan besok dan besok. Tanpa sadar uban di kepala bertambah banyak,keriput di wajah mulai menumpuk,tubuh tegap mulai membungkuk, dan nafas yang dahulu sanggup menyimpan oksigen dalam jumlah banyak mulai berkurang kapasitasnya. Yah, setidaknya di hari akhir nanti karangan bunga dari perusahaan akan menghiasi trotoar depan rumahmu. Roda kembali berputar dan berputar dan berputar. 


Berbahagialah, wahai robot-robot jalan protokol.
Kalian yang berdiri sepanjang jalan Thamrin,Sudirman,dan Rasuna Said 
Kalian yang menyempil di dalam kereta listrik
Kalian yang pasrah di tengah kemacetan
Kalian yang bergumul di dalam bus kota
Berbahagialah dan nikmati saja semua
Upahmu adalah uang pensiun yang tidak seberapa
Dan raga tua yang tak lagi produktif
Atau penyakit yang kau tabung sejak masa muda


Sudah bebaskah kita?


Arbeit macht frei!