Monday, 6 February 2017

Kisah Parkiran

Si laki-laki berjalan mondar-mandir dengan tatapan bingung bercampur kesal sambil berbicara melalui telepon genggamnya. Dua jam lagi si wanita tiba, itupun belum pasti tergantung dari belas kasihan jalanan Jakarta yang selalu mampu menghambat orang-orang untuk bertemu tepat waktu. Percakapan di telepon genggam barusan nampaknya membuat si laki-laki bertambah gusar. Dia memutuskan untuk membeli segelas kopi instan dan beberapa batang rokok ketengan untuk menemaninya membunuh waktu tanpa sadar dua teman menunggu tersebut perlahan membunuh dirinya juga secara perlahan.
Ruang tunggu supir di mall adalah tempat yang cukup menyenangkan untuk sekedar duduk menikmati kopi dan kretek sambil menunggu datangnya si wanita yang terjebak kemacetan. Berhubung ini mall yang elit di kawasan Jakarta sudah tentu ruang tunggu supirnya dibuat cukup nyaman karena para supir pasti akan lama menunggu majikan mereka sibuk berbelanja atau sekedar ngopi di kafe kontras dengan mereka yang minum kopi instant dari gelas bekas air mineral.
Dimulailah cerita tentang mobil-mobil majikan mereka dengan beragam fiturnya yang mutakhir,kecepatan,kekuatan,dan kestabilan mobil-mobil super tersebut ketika melaju di jalan bebas hambatan atau tentang jarak yang mereka tempuh sehari-hari dari rumah ke kantor lalu ke mall atau bahkan ke tempat pijit dengan layanan "ekstra" selain sekedar merenggangkan otot yang kaku.
30,25,20,15,8,5 tahun sudah mengabdi di balik setir para majikan mereka.
Truk,jip,mobil boks,hingga sedan mewah sudah pernah menjadi rekan kerja mereka selama bertahun-tahun.
Dari aparat,executive,militer,hingga pegawai negeri sudah pernah menjadi tuan mereka.
Gosip majikan masing-masing menjadi penyedap rasa untuk cerita mereka.
Kebahagiaan hingga penyesalan semua menguap larut bersama udara malam.
Gaji pas-pasan dengan hutang bertumpuk menyambut mereka setiap hari di rumah.
Si laki-laki larut dalam khayalannya sendiri mencoba membayangkan menempuh Jakarta-Bogor dan sebaliknya setiap hari atau tenggelam dalam kemacetan ekstrim yang setiap hari memaksa orang-orang mengumpat setiap kali terjebak di dalamnya. Di dalam hatinya dia berdoa bersyukur atas apa yang dia genggam sekarang. Kopinya menyisakan ampas dan rokoknya mulai membakar filter menandakan tidak ada lagi tembakau untuk dibakar dan dihisap. Satu gerakan membuang dan menginjak menandakan pesta perusakan paru-paru sudah selesai.
Satu demi satu supir yang tadi ramai menunggu mulai mulai menyepi dipanggil para majikan. Telepon dari majikan menjadi panggilan surga menandakan majikan mereka sudah selesai beraktivitas dan sudah saatnya untuk pulang kembali ke rumah.
Si laki-laki menerima panggilan yang menandakan si wanita sudah tiba di mall tersebut membawa kerinduan bertumpuk beserta kelelahan fisik setelah didera kemacetan di jalan. Dilihatnya si wanita berjalan terburu-buru dengan wajah merasa bersalah karena membuat si laki-laki menunggu begitu lama. Dipeluknya tubuh si laki-laki sambil meminta maaf. Si laki-laki hanya tertawa dan tersenyum sambil mengusap rambut si wanita. Hilang semua lelah akibat menunggu dan duduk di mobil begitu lama hanya dengan pelukan dan senyuman.
Mungkin yang dibutuhkan semua orang itu hanyalah pelukan dan senyuman untuk membunuh semua beban lelah yang hinggap di tubuh. Yeah, saya mengalaminya dan saya rasa itu berhasil.

Monday, 30 January 2017

The Velvet Underground - White Light/White Heat (1968)

Watch that side, watch that side don't you know it gonna be dead in the drive.

Setelah album pertama mereka yang diproduseri oleh Andy Warhol gagal dari sisi penjualan, The Velvet Underground mengalami gesekan dengan Andy Warhol dan sudah jelas kerja sama mereka berhenti sampai di sana. 

Jadwal panggung tetap berjalan dan improvisasi berisik mereka di panggung turut membangun embrio untuk materi di album kedua yang menurut gue sangat layak untuk didengarkan. Sebuah album yang memperoleh peringkat 293 dari 500 album terbaik sepanjang masa oleh majalah Rolling Stone.

Album ini kotor,berisik,pengang,membingungkan,nyeni,eksentrik,tidak jelas,nyeleneh, dan tidak punya arti. Itulah statement yang sudah sangat jamak beredar ketika membahas tentang album ini. Buat gue album ini canggih bukan main. Makanya waktu ngeliat CD album ini di sebuah toko musik tanpa pikir panjang gue langsung merogoh kantong untuk memboyong album ini. 

First time I heard this album was in my noisy college  day. I was so confused and I thought this album made while they high or something. 

"Gilak! Kenapa orang-orang ini kepikiran bikin album macam ini sih," kira-kira begitulah pendapat pertama gue setelah mendengarkan album ini.

Warisan dari album ini bisa kita dengarkan pada band-band seperti Joy Division,Buzzcocks,New Order,Television,Sonic Youth, sampai Chelsea Light Moving.

Attitude berisik yang mereka tunjukkan di album ini juga turut memberikan andil pada perkembangan musik noise,punk,sampai experimental rock. Bisa dilihat di lagu "The Gift" mereka mengiringi pembacaan sebuah cerita pendek dengan musik yang penuh feedback dan distorsi berisik selama 8 menit lebih. Atau pada lagu berdurasi 17 menit lebih penuh eksperimen berjudul "Sister Ray" yang sempat menjadi anthem depresi gue pada masa dulu. 

"Sister Ray" mungkin lagu yang paling memusingkan di album ini. The song concerns drugs use,homosexuality,violence, and transvestism. Lou Reed dalam sebuah interview bahkan pernah berujar, "Sister Ray' was done as a joke—no, not as a joke—but it has eight characters in it and this guy gets killed and nobody does anything. It was built around this story that I wrote about this scene of total debauchery and decay. I like to think of ‘Sister Ray' as a transvestite smack dealer. The situation is a bunch of drag queens taking some sailors home with them, shooting up on smack and having this orgy when the police appear."

Sebuah statement yang menurut gue sangat Lou Reed.

Lagu-lagu lain di album ini seperti "White Light/White Heat" atau "I Heard Her Call My Name" juga memberikan warna musik yang luar biasa abstrak dan berisik dengan lirik yang sangat tidak biasa.

Walau tetap secara penjualan album ini tetap tidak laku (seperti juga semua album yang mereka rilis) tapi album ini seperti sebuah pencerahan bagi generasi-generasi musik selanjutnya. Lirik-lirik transgresif secara sosial dan menantang album-album yang populer di masa itu dengan musik mereka. 

Tanggal 30 Januari 1968 album ini dirilis dan tepat hari ini merayakan ulang tahun yang ke 49 tahun. Wow! Usia yang cukup tua untuk sebuah album "underground" yang masih memberikan pengaruh masif di kalangan seniman dan musisi secara khusus. Masih dirilis ulang dalam berbagai format dan tentu saja kualitas suara yang lebih jernih dibanding sebelumnya. 


Daytime fantasies of sexual abandon permeated his thoughts.
And the thing was, they wouldn't understand who she really was.
The Velvet Underground - The Gift


Monday, 23 January 2017

Everybody is Making Love or Else Expecting Rain

"I'm falling deeper to you," ujarmu seraya menatapku dengan tatapan layaknya seorang anak kecil.


"Buat apa jatuh kalau kau bisa terbang tinggi menari bersama senja. Terbanglah! Jangan mau jatuh lebih dalam. Menarilah bersama senja karena aku mencintaimu sama seperti aku mencintai senja," seperti biasa tanggapanku akan selalu berbanding terbalik dengan apa yang kau harapkan.

"Matamu...mereka bicara," engkau bicara sambil mengusap wajahku dengan alasan ingin menelusuri setiap lekuk yang ada di wajahku dan matamu terus beradu dengan mataku. 

Entah apa yang dibicarakan oleh kedua mataku bahkan aku sendiri tidak tahu. Yang pasti mereka pasti berbicara hal-hal yang menyenangkan. Semuanya terlihat dari ekspresi senangmu setiap kali mendengar mataku berbicara.

Jangan lihat ke belakang dan berkata bahwa semua nampak begitu baik di masa lalu. Manusia berubah begitu cepat. Aku tidak ingin menikmati waktu bersamamu karena setiap kali aku menikmati waktu di saat itu juga waktu berjalan begitu cepat. Pura-pura tidak tahu saja. Pretend to care so time won't be so mean.

Kita mengukir tanda tanya di setiap markah jalan yang kita temui sambil menertawakan orang-orang yang dengan begitu patuh mengikuti markah jalan menuju entah ke mana itu.

Beri aku badai semalam suntuk supaya aku terus terjaga bahkan dalam kelelahan yang teramat ekstrim. Jangan tawarkan aku bahagia karena kau dan aku punya definisi yang sangat berbeda tentang apa itu bahagia tapi buat aku merasakan kesedihan karena rasa sedih membuatku merasa bahwa hidup itu tidak selalu seperti apa yang aku harapkan.

Terbang, kita akan terbang dengan sayap imajiner dan tak pernah peduli kapan kita jatuh. Kita berdansa di langit yang tercemar oleh aktivitas manusia-manusia di darat sana. Kita akan terbang dan hidup di langit melawan gravitasi,tertidur di kasur awan,menantang matahari,mendengar cerita bintang-bintang, dan berdiskusi dengan bulan.


Friday, 13 January 2017

Cerita Senja

"Aku cinta padamu senja," entah mengapa aku berbisik sembari memandang ke atas langit jingga di kota kesayangan kita. Mungkin bisa kuraih jinggamu dan kubawa pulang agar dia abadi bersama denganku.

Aku ingin cerita tentang mereka yang datang dan pergi atau tentang kebencian yang bertunas,bertumbuh dan berbuah di depan mataku. Kesalahanku adalah tidak menginjak kebencian selagi dia masih berbentuk tunas.

Senja, salahku di mana? Apa yang mereka lihat dan tidak pernah kulihat sehingga membuatku dipersalahkan atas kekacauan dunia ini?

Aku cinta padamu senja. Senja, kau memang hebat! Umurmu pendek tapi semua orang berebut ingin mengabadikanmu baik secara analog sampai digital entah di puncak gunung atau di tepi pantai tapi aku menyimpanmu secara abadi masuk ke kantung memori otakku dan kubiarkan engkau bermain dengan teman-teman di kepalaku.

Senja, aku ingin cerita tentang gaji yang tak pernah cukup,macetnya jalanan menuju rumah,rekan kerjaku yang jenaka,tentang orang tuaku yang mulai menua,tentang pekerjaanku yang menyenangkan,tentang tagihan yang datang tiap bulan, dan tentang hidupku yang nyaris kehilangan makna.

Aku cinta padamu Senja.




Tuesday, 3 January 2017

Tahun Baru 2017



Tidak ada yang istimewa. 
Hanya kau,aku,dan jalanan mungkin tempat tepat untuk melewatkan pergantian tahun.

Mari dengar, ini lagu-lagu yang menyelamatkanku dari maut yang kubuat sendiri.
Baca dan pahami liriknya. Mereka mungkin tak punya arti bagi orang-orang di luar sana tapi bagiku lagu-lagu ini menyelamatkan nyawaku dari pisau dan racun.

Chamomile dan Caffeine bukan pasangan yang tepat.

"It's like in the middle of a warzone..." ujarku memandang langit yang memerah dan penuh bau mercon yang merebak menguasai malam.

Selamat tahun baru! 
Hidupku ditimpa warna baru, bukan substitusi tapi dia adalah primer lain yang mengubah lukisan kehidupan menjadi lebih berwarna. Hiduplah abstrak! Terpujilah dia diantara semua teori seni yang pernah ada di dunia.

Habiskan saja semua fast food di depan mata kita dan cerita tentang masa jaya adalah sebuah cerita yang tetap seru untuk disimak oleh siapapun juga. 

Roda berkaratku mulai berputar terlalu cepat meninggalkan jejak-jejak kehidupan di masa lalu penuh darah dan air mata.

The streets are fields that never die. 

Hai engkau tokoh yang datang mendadak, siapkah engkau beradu cepat di jalur tanda tanya? Beri aku kejutan, beri aku warna baru, beri aku perspektif baru, dan nikmati saja lara datang akibat perbuatan kita sendiri.

Selamat datang! Mari berpesta! 

Tuesday, 20 December 2016

Abrasi


Pantai.
Tempat buat santai.

Gue inget waktu gue ke Parangtritis gue langsung berasa ada di scene pembuka film "Saving Private Ryan" dikarenakan kondisi pasir yang menghitam penuh minyak dan aroma yang kurang sedap karena ceceran kotoran kuda. Mungkin bedanya gaada suara senapan mesin,bom,teriakan mereka yang tertembak dan bau darah.

Tapi gue sungguh takjub melihat ombak yang besar menghantam bibir pantai tanpa ampun. Kayanya si ombak juga nampak penasaran lalu berusaha menyeret semua pasir di pantai tenggelam ke dasar lautan.

Pantai... gue selalu mengaku gasuka pantai. Beberapa tahun lalu gue ke Bali bersama keluaga dan setiap kali main ke pantai gue menolak untuk terjun berenang bersama yang lainnya. Bahkan outfit gue sangat tidak "pantai" yaitu dengan celana jeans biru yang robek di bagian lutut,kaos, dan sepatu converse lebih mirip kaya orang mau dateng ke gig dibanding liburan ke pantai. Kerjaan gue cuman duduk,merokok,dan melihat ombak menghantam pantai tanpa ampun.

Kalo lo jalan darat dari Jawa tengah menuju ke Jawa Timur lewat Pantura lo bakal ngelewatin jalanan dengan gugusan pantai di sebelah kiri (kalo gak salah!) dan ombaknya luar biasa gede buat gue. Gue takjub sama kekuatan ombak menghantam pantai meninggalkan buih dan kembali ke lautan. 

Gue cuma suka melihat ombak.

Waktu nonton "Chasing Mavericks" akhirnya gue nemu film yang bisa menggambarkan kecintaan gue sama gelombang. Walau gue bukan surfer sih, hehe.

Pikiran kita juga nampak seperti pantai yang dihantam ombak terus menerus hingga abrasi karena tidak ada "mangrove" yang mampu melindungi pikiran sehingga akhirnya turut larut ke dasar lautan. Untuk mereka yang beruntung dan menanam mangrove sedari dini ombak-ombak tersebut tidak akan menjadi suatu masalah besar. Bahkan hanya nampak seperti sedang mengajak daratan untuk bermain dengan gembira.

Abrasi pikiran yang membuat orang-orang menjadi jauh,kehilangan arah,tidak terprediksi,dan sulit dimengerti. Seperti pantai yang mengalami abrasi dan akhirnya hilang terganti dengan luapan air laut. 

Yang tersisa hanyalah kenangan tentang pantai indah tempat orang-orang berkumpul tertawa lepas,bermain air,menikmati waktu,menunggu senja,saling mencinta,menyepi,dan terduduk lelah dengan wajah senang diterpa angin laut.

Thursday, 8 December 2016

Belle and Sebastian - Tigermilk (1996)





Album debut dari salah satu band favorit gue: Belle and Sebastian. Direkam cepat dan efisien di Glasgow tahun 1996, album ini menjadi tonggak awal sensasi indie-pop ala mereka. Tidak terasa sudah 20 tahun yang lalu yah. Dan sampai sekarang gue masih mendengarkan album ini. Fyuuh, twenty years and still kicking my ears.


Cover albumnya jujur agak sedikit nyeleneh dengan menampilkan model yang topless dan berpose seperti sedang menyusui boneka anak harimau (atawa macan). Album ini termasuk langka karena hanya dicetak seribu kopi aja dan baru dirilis kembali tahun 1999. Okeh, yang gue punya itu CD yang rilisan ulang tahun '99.

Banyak yang punya komentar macam-macam tentang album ini, banyak yang bilang album ini diawali dan diakhiri dengan track-track yang canggih tapi in between banyak lagu-lagu shitty sangat.

Ya kalo jujur sih gue agak terganggu dengan track "Electronic Renaissance" entah kenapa. Untuk tema masih seputar apa yang bisa dilihat dan dirasakan sama orang-orang "biasa" pada umumnya. Ini yang jadi kekuatan Stuart Murdoch sebagai frontman dan penulis sebagian besar lagu di band ini. Dia membuat hal-hal yang umum menjadi sesuatu yang exclusive.

Tigermilk itu berasa kaya ajang pemanasan sebelum memasuki album mereka berikutnya yang sangat-sangat canggih "If You're Feeling Sinister" dirilis dua tahun setelah album ini.

The State I Am In

Salah satu lagu terbaik yang ada di album ini dan juga menjadi salah satu karya terbaik Belle and Sebastian. Liriknya kuat,musiknya benar-benar menggambarkan fondasi musik dari Belle and Sebastian. 

I gave myself to sin
And I've been been there and back again
I gave myself to providence
The State That I Am In
Expectations

Lagu favorit gue di album ini. It's like a conversation. Musiknya sungguh menyenangkan dengan tambahan suara trumpet menambah kesan menyenangkan walau liriknya justru menggambarkan situasi sebaliknya. 

And the head said that you were always were a
queer one from the start
For careers you say you want to be remembered 
for your art
Your obsessions get you known throughout the school
for being strange
Making lifesize models of the Velvet Underground in clay

She's Losing It

Lagu ini bercerita tentang Lisa yang mengalami semacam abuse dalam kehidupannya. Lagu ini bercerita tentang keseharian Lisa setelah kejadian buruknya itu. Bagaimana dia memandang berbagai hal dengan penuh rasa skeptis sampai dia bertemu dengan Chelsea, seoarang gadis yang mengalami hal serupa. Mereka merasa senasib dan mulai menjalin hubungan tidak biasa antara perempuan dan perempuan.

You're Just A Baby

Lagu tipikal indie rock 90-an. Jika dibandingkan dengan album-album Belle and Sebastian yang nantinya akan datang memang bisa dibilang lagu-lagu di album ini terkesan lebih "ringan" dan tidak memiliki kesan "dark" nantinya akan muncul di album-album mereka selanjutnya. I don't really dig this song tapi nada dan riff gitar di awalnya lumayan mengena di telinga.

Electronic Renaissance

Di awal gue bilang kalo gue sangat annoyed dengan lagu yang satu ini. Aneh aja tiba-tiba mendengar nada elektronik di tengah jangle-jangle ala indie pop. I must say that I don't really like this song.

I Could Be Dreaming

Riff dengan efek-efek delay/tremolo mengawali lagu berdurasi hampir 6 menit ini. Jujur aja lagu ini rada ngebosenin. But still, I like it. Lagu ini kaya lamunan seseorang di mana orang itu saban hari mengalami hal yang begitu-begitu aja. 

If you had such a dream
Would you get up dan do the things
you've been dreaming

We Rule The School

Nah, kembali lagi Stuart Murdoch menulis lagu dari sudut pandang orang yang terpinggirkan dan termarjinalkan di lingkungan sekolah. I love it. Menurut gue lagu ini kaya semacam ajakan untuk berbuat sesuatu hebat tanpa harus berpikir menjadi seorang yang "hebat" dan dipandang di lingkungan.

Call me a prophet if you like
It's no secret
You know the world is made for men....
Not us

My Wandering Days Are Over

Ahh I love this song! Gue mendengarkan lagu ini terus-menerus waktu jaman depresi berat gue. And yeah it made me feel better that day. Lagu tentang seseorang yang bertemu dengan orang yang akhirnya menjadi sahabat atas dasar persamaan visi dan nasib. And yeah, this was my song. :D


I said "My one man band is over"
I hit the drum for the final time and I walked away
I saw you in Japanese restaurant
You were doing it for businessmen on the piano, Belle
You said it was a living hell
You said that it was hell

I Don't Love Anyone

Kembali ke jalur yang menurut gue sangat mereka. Lagu ini tentang seseorang yang benar-benar skeptis dengan semua hal dan selalu merasa dia gak pernah suka dengan apapun yang ada di dunia. Memilih untuk sendirian ketika semua orang sedang bersama-sama. Yeah, lagu ini tentang kesendirian memang.

But if there's one thing that I learned when I 
was a child
It's to take hiding
Yeah, if there's one that I learned when I 
was still at school
It's to be alone

Mary Jo

Lagu penutup yang powerful kalo menurut gue. This song is typically theirs.Dibuat mengalir seperti sebuah cerita yang dinyanyikan. Gue suka gaya musik mereka yang seperti ini. Ahh, I love this song. Sebuah lagu yang sempurna menutup album yang menjadi awal dari ledakan mereka.

Mary Jo, no one can guess
What you've been through
Now you've got love to burn


Album ini memang dianggap tidak sekuat album-album mereka yang lain. But still it is worth to hear. Dan jelas Belle and Sebastian memulai langkah mereka dari album ini. I love this album, it's still a great album.

Life is never dull in your dreams
A sorry tale of action and the men you left Women,
and the men you
left for intrigue,
and the men you left for dead.

picture source: https://en.wikipedia.org/wiki/Tigermilk

Tuesday, 6 December 2016

Surat Darinya Untuk Diriku

Dear Sam,

First, know that knowing you for the past few weeks has taught me the importance of staying honest and learning to be more outspoken. You express yourself freely, and I want to be able to do the same. I tried to be open during my time with him, but I guess the way he keeps most things to himself has turned me a bit more and more reserved each day without I even realized it. I have been suppressing myself from expressing my true emotions and thoughts, so that me and him won't have to argue about our clashing values every so often.

Now, those days are over. Or at least, I am trying my best to make it so. Please keep that in mind, because now I'd like to state what's been bugging me since last night. Like I said, I don’t want to give you less than the truth. You have given me new points of view, and this is my way of learning to apply it to my current circumstances.

Samuel, I don’t think it's fair for you alone to apologize for last night, because as much as you initiated it, I didn’t exactly stop you either. In fact, I think I have been enjoying too much of your care and attention, when at the same time I haven't actually given you any kind of certainty about our relationship. And it is simply not a fair trade. No excuse, period. Therefore, it's only logical if I take turn on asking you for an apology.

Here is another thing you need to know about me: I am a huge sucker for physical touch. Perhaps that should explain why I spontaneously touch your hand or pat you in the back when I sensed that you need some kind of encouragement. That’s what comforts me, and that’s how I usually comfort others. So when you hugged me and kissed my forehead that first time, as much as I questioned myself "Is it okay to do this so soon?" I also couldn’t help but craving for more.

Last night, the boundaries got even more blurry. One thing led to another and, voila, we kissed. I was a bit undecided at that time, but still, I gave in to the spur of the moment. Little that I know that I'll grow more and more uneasy that night, and even more the morning after.

I spent this whole morning contemplating about it. And I think I've found the answer to why I feel this way.

I do like you, and I love being around you. But my feelings to you haven't grown that deep. And I feel guilty for letting the both of us drowned in the heat. To me, this whole thing has been moving too fast and I don’t feel right to lead you into thinking that our path together is definite.

Being with you brings me back to the field; the one real game I've been unfamiliar with, having spent my days settled in uncertainties. I used to throw away my care about the future. But now with you, I need to set my eyes straight. I'm not fooling around anymore. Which is why, I want to get this right. I don’t want to rush into decisions. I don’t want to jump into anything, when I haven't been exactly certain with myself.

If you want to make this work with me, let me take my time on knowing you better. Let me show you my real self first before you decide to take this to another step. Let us test ourselves, is this a real feeling, or is it just a temporary passion? Do you really fall for me, or your ideas of me? Is that really you I want, or simply your affection?
So, what do you say?


Sincerely yours


Dirinya


*Surat ini ditemukan terpajang di kaca dunia tempat ironi menertawakan kita. Wahai tokoh yang datang mendadak, jangan terlalu lama larut dalam keterkejutan tapi saya harap anda mulai terbiasa dengan kejutan-kejutan lainnya. Kotamu begitu indah dan biarlah dia tetap menjadi indah*

Monday, 28 November 2016

Fake It Until You Make It

Kita adalah manusia-manusia yang hidup di era kepura-puraan. Pura-pura baik,pura-pura pintar, pura-pura mengerti, pura-pura tidak tahu, sampe pura-pura tidur semuanya mengambil peran dalam sandiwara kehidupan yang endingnya tidak jelas kapan.

Fake it until you make it.When you pretend that you're excellent or not in any kind work eventually it will develop the mindset or belief in your subconscious mind.

Kalo kita terlalu lama pura-pura pada akhirnya sifat "pura-pura" itu justru akan menjadi satu kebiasaan dan pikiran kita akan terus mengatakan kalau kita adalah produk dari kepura-puraan tersebut.

Pretend to be nice so you will be nice. Pretend to be sick then you will be sick. Pretend to be excellent then you will be an excellent type of person. Pretend to have a mental illness then you will have it inside your mind.

Pura-puralah bahagia, maka pikiranmu akan berkata padamu bahwa engkau adalah orang yang paling bahagia di dunia ini. Setidaknya di dalam pikiranmu engkau aman. Jangan mau dibuat sadar, karena kemabukan yang abadi terdengar jauh lebih baik daripada umpatan akan realita yang pahit.

So who are we? The pretenders.
Fake it until you make it.



Sunday, 30 October 2016

Half of Life is Fucking Up. The Other Half is Dealing With It. (part 2)

Sesuai dengan postingan di jilid pertama sokin.

Ketika elo membuka percakapan dengan teman di dalam kepala elo seperti yang gue alami terkadang elo bisa menemukan hal-hal yang luar biasa amazing dan terkadang di luar batas nalar kewajaran yang ditetapkan oleh orang-orang yang merasa normal di luar sana.

Kadang gak kuat dengarnya tapi kadang kalau disimak gue merasa impressed.

Jeez, my friend, ini adalah postingan paling depresif yang mungkin pernah gue buat. 

Beberapa percakapan yang gue lakukan sendiri dengan suara-suara di kepala gue yang kadang gue gak tahan dengernya...


Look at them. So happy. Where is your will to be happy? You are nothing compared to them. Am I right? YOU ARE NOTHING, MATE! NOTHING! UGLY NOBODY.

Pada dasarnya semua yang elo lakukan sia-sia dan tidak berguna. Melawan? Apa yang kau lawan? Mengubah dunia? Elo gak mengubah apa-apa, my friend. Gak ada yang berubah. Elo tetap gini-gini aja dan orang lain berlari kencang meninggalkan elo sendirian di tengah gurun ketidakpastian. Sendiri. Enak? Gak enak kan. 

Dia ninggalin elo karena elo gak waras.

Now you are lying on your sick bed. This ugly hospital. Will you end up here? Nobody wants you anyway. I am the only one who understands you.

Nobody wants your love. Throw it away you ugly piece of shit.

Sendiri kan? Yang boleh mengejar mimpi itu hanya mereka yang punya modal kuat. Elo cuman lulusan kampus gak berguna. Circle lo gaada teman yang bisa bantu elo. Pada akhirnya elo cuman sendirian dan meratapi nasib menjadi kumpulan manusia tidak berguna, Apa bedanya elo sama gembel-gembel jalanan di luar sana. Gaada kan? Semua orang bersenang-senang dengan uang dan kenikmatan sedangkan elo gak bisa apa-apa.

Buang impian bodoh itu!

Dia ninggalin elo karena elo gak berguna. Lihat! Dia lihat dunianya lebih dari elo. Dan elo cuman sampah,sampah,dan sampah. Matipun tak ada yang menangisimu. Mereka cuman datang, lihat, dan memastikan elo sudah mati. Enam bulan kemudian mereka juga udah lupa kalau Samuel Yudhistira pernah hidup. 

Dia menang. Elo kalah. Lihat pisau itu? Pisau bukanlah pisau jika tidak ada darah di matanya.

Dia akan bahagia dan elo akan merana menikmati lara yang tidak kunjung reda.

Mati itu tidak sakit. Sepersekian detik lalu selesai. Dan kita akan duduk berhadapan di meja bicara tentang dunia dari awal penciptaan hingga akhir.

She has friends, you have nothing. I am your only friend. I am real. 

Useless... apa yang bisa lo banggain? Band? Teman-teman yang ninggalin elo? Kampus? Komunitas? Pekerjaan? Proyek-proyek ngayal lo? Percuma! Tabrakin diri lo ke kereta dan itu baru hidup! Killing yourself to live. Just do it! Gak sakit! Percaya deh...

Stop making jokes! Those jokes aren't funny anymore.








Dan sampai detik ini gue masih bertarung dengan mereka....






I will get by I will survive.




Pada akhirnya gue ketemu dengan beberapa teman baru yang menyemangati gue untuk hidup. Mereka yang juga mengalami hal serupa dengan gue. Mereka yang terbuang, mereka yang ditinggalkan sendirian. Mereka yang menunggu mati. Mereka yang mencoba berkali-kali untuk mati sampai cacat. 




Apakah aku akan berhenti mengejar mimpi?
Apakah aku akan berakhir dengan darahku menari di atas mata pisau?
Apakah aku akan berakhir dengan tangan terikat mati?
Apakah aku akan berakhir menjadi seonggok daging di pinggir rel kereta sana?
Apakah aku akan kehilangan akal sehatku?
Apakah aku selamanya akan menjadi pecundang tidak berguna?



Jawabannya belum ada nih, tapi gue harap semuanya akan dijawab dengan satu kata tegas: TIDAK!