Monday, 20 March 2017

Melawan Arah





Hiduplah melawan arah!

Bicara tidak sulit
Hanya entah siapa yang mau dengar.
Bicara tidak sulit
Hanya saja tidak semua mau bergerak

Visual penuh kepalsuan
Kebohongan dalam bentuk digital
Jari bicara
Mulut bungkam
Pikiran berlari
Badan tetap di tempat








Tuesday, 14 March 2017

Bicara di Bawah Lampu




“I said that people never change their lives, that in any case one life was as good as another and that I wasn’t dissatisfied with mine here at all.”
-Albert Camus, The Stranger-

Kita selalu berdebat tentang siapa yang paling hebat di bawah kolong langit ini. Entah secara selera,ilmu,karir,nilai,norma,bakat, dan banyak hal yang bisa dijadikan bahan untuk berdebat tentang siapa yang lebih dari yang lain.

Di tengah keramaian yang tidak asing dan di tempat di mana kita mulai bangkit dari keterpurukan akibat tingkah masa lalu kita permasalahan ini menguap.

Yeah. Kita semua sama, us and them and after all we are only ordinary men.


Monday, 6 March 2017

The Libertines - The Libertines (2004)




Ini adalah album yang merupakan jawaban atas penantian deg-degan para fans The Libertines di tahun 2004. Setelah vokalis sekaligus salah satu frontmen mereka Pete Doherty dijebloskan ke bui akibat aksi pencurian di apartemen salah satu personil bandnya sendiri: Carl Barât. Banyak yang menduga kalau band ini bakalan bubar jalan. 



The Libertines sempat mencuri perhatian dengan album perdana mereka yang berjudul "Up The Bracket" dan menjadi ikon musik garage rock di awal tahun 2000-an. Konflik internal,perilaku ugal-ugalan,dan gaya hidup para personilnya yang berujung pada ditangkapnya Pete Doherty membuat publik sempat berasumsi kalau band ini tidak akan bertahan lama.

"FREEDOM GIG"

Tap 'n' Tin, Chatham, Kent

Acara ini menjadi tonggak awal kembalinya The Libertines sebagai sebuah band setelah Pete Doherty keluar dari penjara dan  beberapa jam kemudian langsung manggung bareng teman-teman bandnya. Publik kembali bertanya-tanya apakah kembalinya Doherty bersama bandnya apakah hanya sementara atau mungkin The Libertines kembali dengan karya-karya terbaru mereka.

Album ini menjawab semuanya.

Dirilis tahun 2004 di bawah label Rough Trade album ini merupakan album The Libertines yang pertama kali gue dengeri justru di tahun 2014. Yeah, gue terlambat satu dekade karena jujur gue belum begitu tertarik dengan musik mereka pada saat itu. Dengan bantuan dari seorang penggemar berat The Libertines (nama disamarkan) gue berhasil mendapatkan materi-materi album ini. 

Gue suka. 

This is an amazing stuffs. Album ini kaya biografi. Kebanyakan menceritakan tentang relasi pertemanan antara Pete Doherty dan Carl Barât yang sempat gonjang-ganjing karena kasus pencurian tersebut. 

Langsung digeber dengan single pertama dari album ini yaitu lagu "Can't Stand Me Now" yang juga merupakan hit palng cihuy dari The Libertines yang pernah dibuat. Lagu ini jelas tentang pertemanan yang mengalami turbulensi di tengah perjalanan. Yeah, sebuah hal yang mungkin juga banyak dialami sama kita semua.

An ending fitting for the start
you twist and tore our love apart
your light fingers through the dark
that shattered the lamp and into the darkness cast us...

No you've got it the wrong way round
you shut me up and blamed it on the brown
cornered the boy kicked out at the world...the world kicked back
alot fuckin' harder now

Gue suka track yang judulnya "Don't Be Shy","Narcissist","The Ha Ha Wall", sampe "Arbeit Macht Frei" yang masih menggunakan formula yang sama: lirik simpel,distorsi ringan,tempo cepat, dan attitude yang urakan. Album ini memang penuh dengan energi. Mungkin pengaruh absennya Pete Doherty yang tiba-tiba kembali dan membawa energi yang baru untuk The Libertines sehingga empat belas lagu di album ini menjadi penuh semangat.

Mungkin lagu "Music When The Lights Go Out" adalah lagu yang paling gue suka di album ini. Lagu ini menyentuh emosi gue secara berlebihan di masa-masa depresi gue dulu. Ahh, how I really love this song man. Lagu ini mengingatkan gue pada teman-teman dan keseruan dengan mereka. 


and all the memories of the pubs and the clubs, and the drugs and the tubs we shared together
will stay with me forever..
but all the highs and the lows and the to's and the fro's they left me dizzy oh wont you please
forgive me

but i no longer hear the music oh no no no no

Di lagu "What Katie Did" gue suka intronya dan harmonisasi vokal yang ringan tapi keren. Gue suka liriknya. Menceritakan tentang Pete Doherty yang lari dari kesedihan setelah putus dengan cara mengkonsumsi heroin.

What you gonna do Katie? 
You're a sweet, sweet girl 
But it's a cruel, cruel world 
a cruel, cruel world 

Safety pins are none too strong Katie
they hold my life together 
And I never say never 
And I never say never again 

But since you said goodbye 
The polka dots fill my eyes
And I don't know why 

Kebanyakan majalah musik memberikan review yang cukup positif tentang album ini. Tapi yang menurut gue sangat mencuri perhatian gue ketika gue dapet album ini jujur aja cover albumnya. Gue suka sama cover album ini. Sederhana tapi pesannya kuat. Foto Carl dan Pete waktu acara "Freedom Gig" yang legendaris tersebut dipilih menjadi cover album yang berisi kisah tentang mereka berdua.





Please don't get me wrong

See I forgive you with a song

We'll call the Likely Lads

But if it's left to you

I know exactly what you'd do

With all the dreams we had


picture source: https://en.wikipedia.org/wiki/The_Libertines_(album)

Sunday, 5 March 2017

Just Trash, You and Me




Maybe, maybe it's the clothes we wear,

The tasteless bracelets and the dye in our hair,

Maybe it's our kookiness

Or maybe, maybe it's our nowhere towns,

Our nothing places and our cellophane sounds,

Maybe it's our looseness,

Akhir tahun kemarin lagu ini menjadi semacam "lagu wajib" yang terus-menerus diputar di playlist telepon genggam gue. Lagu yang membuat gue sadar kalau gue begitu berbeda dan sebaiknya gue gak perlu minder dengan apa yang gue punya sekarang. It's about the values I have. Nilai-nilai yang gue pegang dan gue gak perlu membandingkan itu dengan orang-orang lain. Just do my things

Maybe, maybe it's the things we say,

The words we've heard and the music we play,

Maybe it's our cheapness,


Or maybe, maybe it's the times we've had,

The lazy days and the crazes and the fads,

Maybe it's our sweetness,

Gue mengubah diri gue mejadi lebih legowo dalam menjalani kehidupan yang sebenarnya gak keras-keras amat,berjalan ke tempat yang gak jauh-jauh amat,dan membiasakan sesuatu yang tidak biasa itu sebenarnya gak susah-susah amat. 

Tiba-tiba gue dipertemukan secara ajaib dengan seseorang yang menimpa semua warna yang sudah aman menjadi sesuatu yang lebih liar dan ugal-ugalan. Lagu ini adalah representasi dari dia yang mengajari gue untuk saling menopang.

Kita adalah dua orang pesakitan dengan berbagai kompleksitas pemikiran yang akut. Tertawa atas nasib yang sebenarnya tidak begitu buruk tapi entah mengapa pikiran kita membuat masalah tersebut membengkak. Kita begitu curiga terhadap apa yang ditawarkan kehidupan kepada kita sehingga setiap langkah yang kita ambil penuh keraguan dan kecurigaan. 

Aneh memang ketika dua orang pesakitan ini disatukan yang terjadi bahkan tergambar dalam lagu ini....


But we're trash, you and me,

We're the litter on the breeze,

We're the lovers on the streets,

Just trash, me and you,

It's in everything we do.
It's in everything we do...

Kita adalah pesakitan yang berbahagia. 

Makan di pinggiran,menghindari keramaian,bicara filsafat hingga teologi,tertawa-tawa di balik jas hujan,nostalgia sederhana dengan masa kecil,debat kusir di perjalanan,berkhayal tentang masa depan, merajut ide serta identitas,terkadang menikmati kopi artisan sambil berbicara tentang penderitaan, kita berbeda memang dari orang-orang lain. Kita menerima semua dan kita menjadi orang yang lebih baik lagi dari sekarang.

Yeah, we're trash, you and me,we're the litter on the breeze, we're the lovers on the streets, just trash, me and you, it's in everything we do.





Song: Suede - Trash
Pokoke gue pengen lagu ini diputer kalau gue married nanti

Tuesday, 28 February 2017

Arbeit Macht Frei



Does work make you free?



Kerja.


Subuh kita bangun melawan dingin menerjang macet dan malam kita tiba di rumah membawa keluh kesah.


Bebaskah kita?


Kerja itu ibadah.


Apakah dengan bekerja kita bisa masuk surga? Segera ajukan pengunduran diri dan mulailah bertapa di gunung suci! Siapa tahu Tuhan sedang bermurah hati menurunkan wahyu-Nya kepadamu. Apakah jika engkau bekerja sebagai pelacur dan perampok masih dianggap sebagai ibadah?


Yang aku tahu air,listrik,tanah,beras,dan bensin tidak gratis.
Yang aku tahu ngopi sambil tertawa-tawa di balik etalase kafe itu tidak gratis.
Yang aku tahu buang air di WC umum itu tidak gratis.
Yang aku tahu rokok yang kuhirup nikmat itu tidak gratis

Bekerja karena memang keharusan. Kita ini adalah semacam investasi jangka panjang. Mereka menanam ilmu dan pengalaman supaya kita mengabdi entah kepada negara atau kepada perusahaan. Yang lainnya menapakkan kakinya di atas tanah berduri berusaha menjadi salah satu kepala dari sistem.


Hoaaaammm... rasa kantuk akibat buaian angin dari penyejuk udara membuatku bicara sedikit ngelantur. Di ruang penuh curiga ini aku menyempatkan diri menulis sedikit sebelum menyiapkan bahan meeting besok dan besok dan besok dan besok. Tanpa sadar uban di kepala bertambah banyak,keriput di wajah mulai menumpuk,tubuh tegap mulai membungkuk, dan nafas yang dahulu sanggup menyimpan oksigen dalam jumlah banyak mulai berkurang kapasitasnya. Yah, setidaknya di hari akhir nanti karangan bunga dari perusahaan akan menghiasi trotoar depan rumahmu. Roda kembali berputar dan berputar dan berputar. 


Berbahagialah, wahai robot-robot jalan protokol.
Kalian yang berdiri sepanjang jalan Thamrin,Sudirman,dan Rasuna Said 
Kalian yang menyempil di dalam kereta listrik
Kalian yang pasrah di tengah kemacetan
Kalian yang bergumul di dalam bus kota
Berbahagialah dan nikmati saja semua
Upahmu adalah uang pensiun yang tidak seberapa
Dan raga tua yang tak lagi produktif
Atau penyakit yang kau tabung sejak masa muda


Sudah bebaskah kita?


Arbeit macht frei!

Monday, 6 February 2017

Kisah Parkiran

Si laki-laki berjalan mondar-mandir dengan tatapan bingung bercampur kesal sambil berbicara melalui telepon genggamnya. Dua jam lagi si wanita tiba, itupun belum pasti tergantung dari belas kasihan jalanan Jakarta yang selalu mampu menghambat orang-orang untuk bertemu tepat waktu. Percakapan di telepon genggam barusan nampaknya membuat si laki-laki bertambah gusar. Dia memutuskan untuk membeli segelas kopi instan dan beberapa batang rokok ketengan untuk menemaninya membunuh waktu tanpa sadar dua teman menunggu tersebut perlahan membunuh dirinya juga secara perlahan.


Ruang tunggu supir di mall adalah tempat yang cukup menyenangkan untuk sekedar duduk menikmati kopi dan kretek sambil menunggu datangnya si wanita yang terjebak kemacetan. Berhubung ini mall yang elit di kawasan Jakarta sudah tentu ruang tunggu supirnya dibuat cukup nyaman karena para supir pasti akan lama menunggu majikan mereka sibuk berbelanja atau sekedar ngopi di kafe kontras dengan mereka yang minum kopi instant dari gelas bekas air mineral.


Dimulailah cerita tentang mobil-mobil majikan mereka dengan beragam fiturnya yang mutakhir,kecepatan,kekuatan,dan kestabilan mobil-mobil super tersebut ketika melaju di jalan bebas hambatan atau tentang jarak yang mereka tempuh sehari-hari dari rumah ke kantor lalu ke mall atau bahkan ke tempat pijit dengan layanan "ekstra" selain sekedar merenggangkan otot yang kaku.
30,25,20,15,8,5 tahun sudah mengabdi di balik setir para majikan mereka.
Truk,jip,mobil boks,hingga sedan mewah sudah pernah menjadi rekan kerja mereka selama bertahun-tahun.

Dari aparat,executive,militer,hingga pegawai negeri sudah pernah menjadi tuan mereka.
Gosip majikan masing-masing menjadi penyedap rasa untuk cerita mereka.
Kebahagiaan hingga penyesalan semua menguap larut bersama udara malam.
Gaji pas-pasan dengan hutang bertumpuk menyambut mereka setiap hari di rumah.


Si laki-laki larut dalam khayalannya sendiri mencoba membayangkan menempuh Jakarta-Bogor dan sebaliknya setiap hari atau tenggelam dalam kemacetan ekstrim yang setiap hari memaksa orang-orang mengumpat setiap kali terjebak di dalamnya. Di dalam hatinya dia berdoa bersyukur atas apa yang dia genggam sekarang. Kopinya menyisakan ampas dan rokoknya mulai membakar filter menandakan tidak ada lagi tembakau untuk dibakar dan dihisap. Satu gerakan membuang dan menginjak menandakan pesta perusakan paru-paru sudah selesai.


Satu demi satu supir yang tadi ramai menunggu mulai mulai menyepi dipanggil para majikan. Telepon dari majikan menjadi panggilan surga menandakan majikan mereka sudah selesai beraktivitas dan sudah saatnya untuk pulang kembali ke rumah.


Si laki-laki menerima panggilan yang menandakan si wanita sudah tiba di mall tersebut membawa kerinduan bertumpuk beserta kelelahan fisik setelah didera kemacetan di jalan. Dilihatnya si wanita berjalan terburu-buru dengan wajah merasa bersalah karena membuat si laki-laki menunggu begitu lama. Dipeluknya tubuh si laki-laki sambil meminta maaf. Si laki-laki hanya tertawa dan tersenyum sambil mengusap rambut si wanita. Hilang semua lelah akibat menunggu dan duduk di mobil begitu lama hanya dengan pelukan dan senyuman.


Mungkin yang dibutuhkan semua orang itu hanyalah pelukan dan senyuman untuk membunuh semua beban lelah yang hinggap di tubuh. Yeah, saya mengalaminya dan saya rasa itu berhasil.

Monday, 30 January 2017

The Velvet Underground - White Light/White Heat (1968)

Watch that side, watch that side don't you know it gonna be dead in the drive.

Setelah album pertama mereka yang diproduseri oleh Andy Warhol gagal dari sisi penjualan, The Velvet Underground mengalami gesekan dengan Andy Warhol dan sudah jelas kerja sama mereka berhenti sampai di sana. 

Jadwal panggung tetap berjalan dan improvisasi berisik mereka di panggung turut membangun embrio untuk materi di album kedua yang menurut gue sangat layak untuk didengarkan. Sebuah album yang memperoleh peringkat 293 dari 500 album terbaik sepanjang masa oleh majalah Rolling Stone.

Album ini kotor,berisik,pengang,membingungkan,nyeni,eksentrik,tidak jelas,nyeleneh, dan tidak punya arti. Itulah statement yang sudah sangat jamak beredar ketika membahas tentang album ini. Buat gue album ini canggih bukan main. Makanya waktu ngeliat CD album ini di sebuah toko musik tanpa pikir panjang gue langsung merogoh kantong untuk memboyong album ini. 

First time I heard this album was in my noisy college  day. I was so confused and I thought this album made while they high or something. 

"Gilak! Kenapa orang-orang ini kepikiran bikin album macam ini sih," kira-kira begitulah pendapat pertama gue setelah mendengarkan album ini.

Warisan dari album ini bisa kita dengarkan pada band-band seperti Joy Division,Buzzcocks,New Order,Television,Sonic Youth, sampai Chelsea Light Moving.

Attitude berisik yang mereka tunjukkan di album ini juga turut memberikan andil pada perkembangan musik noise,punk,sampai experimental rock. Bisa dilihat di lagu "The Gift" mereka mengiringi pembacaan sebuah cerita pendek dengan musik yang penuh feedback dan distorsi berisik selama 8 menit lebih. Atau pada lagu berdurasi 17 menit lebih penuh eksperimen berjudul "Sister Ray" yang sempat menjadi anthem depresi gue pada masa dulu. 

"Sister Ray" mungkin lagu yang paling memusingkan di album ini. The song concerns drugs use,homosexuality,violence, and transvestism. Lou Reed dalam sebuah interview bahkan pernah berujar, "Sister Ray' was done as a joke—no, not as a joke—but it has eight characters in it and this guy gets killed and nobody does anything. It was built around this story that I wrote about this scene of total debauchery and decay. I like to think of ‘Sister Ray' as a transvestite smack dealer. The situation is a bunch of drag queens taking some sailors home with them, shooting up on smack and having this orgy when the police appear."

Sebuah statement yang menurut gue sangat Lou Reed.

Lagu-lagu lain di album ini seperti "White Light/White Heat" atau "I Heard Her Call My Name" juga memberikan warna musik yang luar biasa abstrak dan berisik dengan lirik yang sangat tidak biasa.

Walau tetap secara penjualan album ini tetap tidak laku (seperti juga semua album yang mereka rilis) tapi album ini seperti sebuah pencerahan bagi generasi-generasi musik selanjutnya. Lirik-lirik transgresif secara sosial dan menantang album-album yang populer di masa itu dengan musik mereka. 

Tanggal 30 Januari 1968 album ini dirilis dan tepat hari ini merayakan ulang tahun yang ke 49 tahun. Wow! Usia yang cukup tua untuk sebuah album "underground" yang masih memberikan pengaruh masif di kalangan seniman dan musisi secara khusus. Masih dirilis ulang dalam berbagai format dan tentu saja kualitas suara yang lebih jernih dibanding sebelumnya. 


Daytime fantasies of sexual abandon permeated his thoughts.
And the thing was, they wouldn't understand who she really was.
The Velvet Underground - The Gift


Monday, 23 January 2017

Everybody is Making Love or Else Expecting Rain

"I'm falling deeper to you," ujarmu seraya menatapku dengan tatapan layaknya seorang anak kecil.


"Buat apa jatuh kalau kau bisa terbang tinggi menari bersama senja. Terbanglah! Jangan mau jatuh lebih dalam. Menarilah bersama senja karena aku mencintaimu sama seperti aku mencintai senja," seperti biasa tanggapanku akan selalu berbanding terbalik dengan apa yang kau harapkan.

"Matamu...mereka bicara," engkau bicara sambil mengusap wajahku dengan alasan ingin menelusuri setiap lekuk yang ada di wajahku dan matamu terus beradu dengan mataku. 

Entah apa yang dibicarakan oleh kedua mataku bahkan aku sendiri tidak tahu. Yang pasti mereka pasti berbicara hal-hal yang menyenangkan. Semuanya terlihat dari ekspresi senangmu setiap kali mendengar mataku berbicara.

Jangan lihat ke belakang dan berkata bahwa semua nampak begitu baik di masa lalu. Manusia berubah begitu cepat. Aku tidak ingin menikmati waktu bersamamu karena setiap kali aku menikmati waktu di saat itu juga waktu berjalan begitu cepat. Pura-pura tidak tahu saja. Pretend to care so time won't be so mean.

Kita mengukir tanda tanya di setiap markah jalan yang kita temui sambil menertawakan orang-orang yang dengan begitu patuh mengikuti markah jalan menuju entah ke mana itu.

Beri aku badai semalam suntuk supaya aku terus terjaga bahkan dalam kelelahan yang teramat ekstrim. Jangan tawarkan aku bahagia karena kau dan aku punya definisi yang sangat berbeda tentang apa itu bahagia tapi buat aku merasakan kesedihan karena rasa sedih membuatku merasa bahwa hidup itu tidak selalu seperti apa yang aku harapkan.

Terbang, kita akan terbang dengan sayap imajiner dan tak pernah peduli kapan kita jatuh. Kita berdansa di langit yang tercemar oleh aktivitas manusia-manusia di darat sana. Kita akan terbang dan hidup di langit melawan gravitasi,tertidur di kasur awan,menantang matahari,mendengar cerita bintang-bintang, dan berdiskusi dengan bulan.


Friday, 13 January 2017

Cerita Senja

"Aku cinta padamu senja," entah mengapa aku berbisik sembari memandang ke atas langit jingga di kota kesayangan kita. Mungkin bisa kuraih jinggamu dan kubawa pulang agar dia abadi bersama denganku.

Aku ingin cerita tentang mereka yang datang dan pergi atau tentang kebencian yang bertunas,bertumbuh dan berbuah di depan mataku. Kesalahanku adalah tidak menginjak kebencian selagi dia masih berbentuk tunas.

Senja, salahku di mana? Apa yang mereka lihat dan tidak pernah kulihat sehingga membuatku dipersalahkan atas kekacauan dunia ini?

Aku cinta padamu senja. Senja, kau memang hebat! Umurmu pendek tapi semua orang berebut ingin mengabadikanmu baik secara analog sampai digital entah di puncak gunung atau di tepi pantai tapi aku menyimpanmu secara abadi masuk ke kantung memori otakku dan kubiarkan engkau bermain dengan teman-teman di kepalaku.

Senja, aku ingin cerita tentang gaji yang tak pernah cukup,macetnya jalanan menuju rumah,rekan kerjaku yang jenaka,tentang orang tuaku yang mulai menua,tentang pekerjaanku yang menyenangkan,tentang tagihan yang datang tiap bulan, dan tentang hidupku yang nyaris kehilangan makna.

Aku cinta padamu Senja.




Tuesday, 3 January 2017

Tahun Baru 2017



Tidak ada yang istimewa. 
Hanya kau,aku,dan jalanan mungkin tempat tepat untuk melewatkan pergantian tahun.

Mari dengar, ini lagu-lagu yang menyelamatkanku dari maut yang kubuat sendiri.
Baca dan pahami liriknya. Mereka mungkin tak punya arti bagi orang-orang di luar sana tapi bagiku lagu-lagu ini menyelamatkan nyawaku dari pisau dan racun.

Chamomile dan Caffeine bukan pasangan yang tepat.

"It's like in the middle of a warzone..." ujarku memandang langit yang memerah dan penuh bau mercon yang merebak menguasai malam.

Selamat tahun baru! 
Hidupku ditimpa warna baru, bukan substitusi tapi dia adalah primer lain yang mengubah lukisan kehidupan menjadi lebih berwarna. Hiduplah abstrak! Terpujilah dia diantara semua teori seni yang pernah ada di dunia.

Habiskan saja semua fast food di depan mata kita dan cerita tentang masa jaya adalah sebuah cerita yang tetap seru untuk disimak oleh siapapun juga. 

Roda berkaratku mulai berputar terlalu cepat meninggalkan jejak-jejak kehidupan di masa lalu penuh darah dan air mata.

The streets are fields that never die. 

Hai engkau tokoh yang datang mendadak, siapkah engkau beradu cepat di jalur tanda tanya? Beri aku kejutan, beri aku warna baru, beri aku perspektif baru, dan nikmati saja lara datang akibat perbuatan kita sendiri.

Selamat datang! Mari berpesta!