Wednesday, 16 August 2017

Aksi Tenang ( Bagian Kedua)

Kami membayar supaya menjadi miskin. Kita harus menjadi kaya supaya bisa menyatu dengan alam. Kami senang berjalan gagah dengan tas besar dan perlengkapan outdoor di tengah kota supaya semua orang tahu kalau kami adalah sekumpulan petualang.


"Alam tak butuh uangmu!" ujar Pohon Pinus penghuni gunung yang kini penuh coretan minim arti.

Sanggupkah kalian membuat kami sadar wahai para penghuni gunung, laut, dan hutan?

Padang rumput sunyi tempat para petapa dahulu mencari ilham dan menyatukan raganya dengan alam kini menjadi panggung pameran bungkus plastik dari berbagai produk ciptaan kota. 

Kita harus fotogenik supaya terlihat jelas kalau kita adalah manusia-manusia yang mencintai alam dengan cara yang salah.

Lihat! Mereka menerbangkan harapan, impian, dan sukacita dalam bentuk lampion kertas. Terbangkan setinggi mungkin lalu ambil citranya, unggah ke dunia maya, buat kesan seakan kita mencintai alam beserta isinya. Peduli setan ke mana kertas dan kawat itu nanti mendarat! Lampion kita akan terbang ke bulan dan menjadi sampah luar angkasa lalu kembali turun ke bumi menjelma menjadi petromak.

***
Langit berubah warna menjadi ungu.

"Tunggu dulu! Kembalikan uang kami! Di brosur kami baca kalau langit di sini penuh dengan bintang-bintang dan suasananya yang sunyi dapat membawa kami menjadi satu dengan alam."

"Sekali lagi saya mohon maaf atas ketidaknyamanan yang memang sudah seharusnya hadir di antara kita semua. Panitia ternyata punya konsep yang berbeda tahun ini. Mayoritas sudah tidak menginginkan bintang-bintang berpijar sebagai gantinya mereka menyediakan langit ungu hasil kolaborasi warna hitam langit dengan lampu sorot panggung yang luar biasa terang bahkan melebihi terangnya bintang," sang pemandu perjalanan berusaha menenangkan para peserta tur "Kembali ke Alam" yang sudah membayar mahal untuk menyatu kembali dengan alam pegunungan. 

Kita membawa Jakarta ribuan meter di atas permukaan laut.

***

Dentuman peralatan pengeras suara merek ternama menggema ke seluruh penjuru hutan yang tadinya hanya bersuarakan gemericik air di antara bebatuan sungai, siulan burung, suara angin menerpa pepohonan, dan nyanyian binatang.

Kami merasa kurang hanya mambawa polusi udara,cahaya, mental, dan plastik.
Kami juga membawa polusi suara supaya ikut menyatu bersama alam yang sudah kami "beli" dengan harga mahal.
Kehidupan lengkap sudah.
Kami menyulap alam menjadi sama persis seperti di kota.
Kami lakukan karena kami mencintai alam sama seperti alam mencintai kami.

Bukankah tindakan kami sepatutnya diganjar dengan penghargaan? Kami membawa modernisasi, peradaban, dan gaya hidup baru ke alam yang masih terbelakang ini. Kami membuat alam menjadi tidak membosankan dan nyaman seperti di rumah sendiri.

Perubahan iklim itu hanya permainan korporasi besar. Kami hanya bisa memanipulasi kalian melalui dunia maya. Kami hanya mengemas dengan cara yang paling natural. Kami tak berdosa.


Silakan sampaikan pembelaan sampai kelu lidahmu karena kata-katamu sendiri. Sampaikan itu di depan binatang yang dijerat demi hiburan, tanaman yang rusak demi ruang, ladang yang berubah menjadi lumpur demi akses masuk, dan matinya esensi alam demi kenyamanan kalian semata.

Mari kita pulang.

Tuesday, 25 July 2017

Passer Baroe

Waktu itu Pasar Baru masih menyimpan nuansa klasik dan hangat yang sampai sekarang masih aku ingat rasanya. Ketika beramai-ramai kami duduk bersama, saling mengucapkan selamat, panjang umur, dan bahagia selalu.
Aku sangat suka suasana magisnya sehabis hujan. Di malam hari ketika lampu jalan menyala terpantul genangan air menghasilkan visual yang menenangkan. 

Ada masa ketika seorang gadis menangis sedih melihat perselisihan ayah dan ibunya di rumah. Hanya ada cukup uang untuk membeli sebotol air mineral sehingga mereka punya hak untuk menikmati fasilitas berupa kursi di halaman belakang minimarket.

Seorang ibu dan anak laki-akinya berjalan menyusuri deretan toko kain dan sepatu di Pasar Baru. Si anak laki-laki hendak mengakhiri kuliah yang sudah empat tahun dijalaninya. Sidang pertanggungjawaban hasil belajar  selama empat tahun itu kini ada di depan mata. Sepasang sepatu formal model pantofel dibutuhkan demi melengkapi syarat penampilan sidangnya nanti. 

Cakwe dan kue bantal legendaris yang sudah menjadi primadona sejak dahulu. Masuk gang sempit dengan aroma limbah restoran mie yang khas jika kau hendak menemukannya. Adonan ditarik lalu berenang di lautan minyak panas kemudian berubah dari kurus putih menjadi gemuk kuning kecoklatan. Dinding kios sempit nan reot itu ditempeli foto para pesohor yang pernah mampir mencicipi kelezatannya. Secuil sejarah dan kenangan masa kecil hadir dalam setiap gigitannya.

Di depan mesin tik dan alat pemancar radio yang sudah sepuh itu kami berdiri membeku sambil membayangkan kejadian 70 tahun silam. Di tempat yang sama dan dengan peralatan yang sama berita gembira tersebut disebarluaskan. Entah perasaan macam apa yang ada di dalam hati mereka yang terlibat langsung dalam peristiwa kelahiran tersebut. Berita kelahiran ini harus disebarkan ke seluruh penjuru negeri. Karena berita ini akan membuat mereka yang tadinya berjalan sendiri-sendiri bersatu menjadi satu kesatuan besar dan akan berjalan dalam irama yang sama. Berita yang dinanti-nantikan jutaan orang bahkan jauh sebelum hari kelahiran itu tiba. Kelegaan,kebahagiaan,kebanggaan, dan kegembiraan mereka dibayangi oleh rasa was-was,ketakutan,kecurigaan, dan amarah akibat mereka yang menolak kelahiran tersebut. Kelahiran sebuah negara yang diidam-idamkan menjadi sebuah negara yang besar dan makmur. Negara yang sampai saat ini masih bergolak dalam pubertas-nya sebagai sebuah negara.

Pukul satu dini hari dan kami masih santai dengan kopi dan rokok kami. Perbincangan ala warung kopi ini memang membuat setiap orang menjadi lupa akan waktu yang sudah dilewati. Tidak jauh dari tempat kami duduk beberapa orang nampak larut dalam kegiatan serupa. Jalanan yang mulai sepi dan tanda-tanda kami sudah harus pulang mulai nampak. Tatapan mata orang-orang di sini mulai tidak ramah. Dipengaruhi alkohol jalanan dan (mungkin!) obat stimulan ilegal mata mereka nampak lebih tajam dan tidak ramah terhadap orang lain. Angin malam mulai bertiup tidak wajar dan kembalilah kami pulang terpisah. Engkau ke selatan dan aku menuju ke barat.

Wajah-wajah kaku, reruntuhan, ketidakadilan, penjahat, presiden, pahlawan, hingga pecundang terekam abadi entah dalam potret warna atau hitam putih terbingkai dan terpajang di sebuah gedung tua. Semua orang sibuk mengabadikan kembali potret-potret tersebut untuk dibagikan kembali sehingga seluruh dunianya tahu tentang apa yang terjadi di sana.

Kembali dia menghela napas dalam-dalam. Ditatapnya raut wajah ceria itu dari balik pintu kaca bening. Di balik wajah kumuh nan cemong itulah kebahagian bertahta. Tunggu sampai hujan reda lalu kita melangkah kembali menyusuri kebosanan abadi. Pendingin udara jelas sangat tidak cocok kala hujan dingin seperti ini. Keluar sejenak, menyalakan sebatang rokok sekedar untuk menghangatkan badan yang mulai dingin kaku akibat pendingin udara yang dinyalakan pada suhu yang kelewat rendah. Tempat ini adalah tempat yang sempurna untuk kembali jatuh cinta kepada Jakarta. Di sinilah sentuhan-sentuhan sederhana meninggalkan kenangan yang begitu rumit.

"Pulang, mari kita pulang," aku berbicara kepada kepulan asap di depan mata.

Kembali kita menyusuri kebosanan abadi di atas aspal hitam. Terus tidak akan pernah berhenti sampai tulang belulang kita tertanam abadi di bawah tanah. Semua kisah ini terjadi di Pasar Baru. Tempat itu masih menyimpan nuansa klasik dan hangat yang sampai sekarang masih ada.

Thursday, 13 July 2017

Aksi Tenang

Kita tidak ada di sana.
Kau dan aku sudah menyatu dengan keabadian ketika dunia penuh sesak dengan kebodohan.
Suatu hari nanti mereka akan jenuh menjadi benar.
Suatu hari nanti mereka akan sadar bahwa hidup adalah tentang keliru.
Kita tidak ada di sana.
Kau dan aku sudah lama bernyanyi tentang betapa lucunya dunia ini.
Suatu hari nanti mereka akan menyesal tidak ikut tertawa dengan kita.
Suatu hari nanti mereka akan melihat ke langit dan berharap bisa ikut dengan kita.

Jangan dibuat sulit, kawan!
Sadarlah bahwa semua begitu mudah.
Dengan sedikit keberanian engkau bisa bergabung dengan kami di sini.
Ada tempat di mana engkau merasa buta dan tuli dalam sekejab.
Ada masa ketika engkau merasa begitu tua dalam dalam satu kedipan mata.

Kita tidak ada di sana.
Kau dan aku sudah bosan membuang waktu yang tidak habis-habis.
Suatu hari nanti mereka akan berdiri dan menangisi kebodohan mereka sendiri.
Suatu hari nanti mereka hanya bisa meratapi nasib karena tidak mau ikut jalan kita.

Mereka yang menangisi pusaramu adalah mereka yang menyesal masih hidup.
Mereka yang bicara tentang penghiburan sesungguhnya menangisi hidupnya.
Mereka yang bicara soal hidup sesungguhnya tersesat di hutan kebimbangan.
Mereka yang membunuh dirinya lewat kata-kata sesungguhnya hanya menipu diri.
Mereka yang mengutuk perbuatan kita hanyalah pengecut yang tak tahu apa-apa.

Kita tidak ada di sana.
Kita tidak ada di sana.
Kita abadi.
Kita tidak akan mati.

Wednesday, 14 June 2017

Arctic Monkeys - Whatever People Say I Am, That's What I'm Not

Album ini berisi lagu-lagu yang menjadi saksi tumbuh kembang gue dan beberapa orang di generasi gue. Album ini berhasil memecahkan rekor album debut terbaik di Inggris ketika dirilis tahun 2006 mengalahkan debut album Elastica yang dirilis tahun 1995. Gak terasa juga album ini sudah berusia 11 tahun. Time flies, baby. Lagu-lagunya kebanyakan bercerita tentang potret kehidupan remaja di wilayah suburb Inggris. Mungkin ini pula yang pada akhirnya membuat band ini cepat mencuri perhatian anak-anak muda di Inggris: mereka merasa lagu-lagu di album ini mewakili perasaan mereka sebagai anak muda.

The View from the Afternoon

Album ini dimulai dengan gemuruh drum yang asoy dan tone gitar ringan yang dimainkan dalam tempo yang cepat. Gue suka permainan drum di lagu ini. Terutama di bagian chorus akhir sebelum lagu ini berakhir. 

I want to see all of the things that we've already seen
 I Bet You Look Good on the Dancefloor

Single pertama mereka yang diambil dari album ini. Intronya langsung menghentak cepat. Ahh, I love this song. Terutama lick di bagian tengah. Dude,it's totally cool.


Oh, there ain't no love, no Montagues or Capulets
Just banging tunes and DJ sets and
Dirty dance floors and dreams of naughtiness
 Fake Tales of San Francisco 

Gue jujur pertama kali denger lagu ini dari video game. Entahlah game apa tapi yang jelas dari console. Lagu ini adalah lagu Arctic Monkeys pertama yang gue kulik, lagu Arctic Monkeys pertama yang gue mainin bareng band gue jaman SMA, dan lagu ini juga menjadi lagu pembuka pertemuan gue bersama teman-teman skena permusikan. Lagu ini sudah menjadi saksi banyak sekali kejadian bersejarah.

Yeah, but his bird said it's amazing though
So all that's left
Is the proof that love's not only blind, but deaf
 Dancing Shoes

Gue selalu senang ketika mainin lagu ini bareng band. Lagu ini gampang dimainin bahkan ketika band gue personilnya cuman bertiga lagu ini masih terasa padat. Gue teringat audisi acara kampus orang waktu itu kita mainin lagu ini. Efek metalzone, gitar Squire murahan, dan bass yang gak nyetem. Gue juga heran kenapa waktu itu kita lolos-lolos aja audisi itu.

The only reason that you came
So what you scared for?
Well, don't you always do the same?
It's what you’re there for, but no
You Probably Couldn't See for the Lights But You Were Staring Right at Me

Kalo lo lagi di panggung entah dalam occasion apapun dan lampu panggung menyala garang di atas panggung sudah tentu kemampuan mata lo dalam melihat ke arah penonton berkurang drastis. Yang lo lihat cuma cahaya putih di sekeliling lo. Nah, buat yang nonton justru kebalikannya. Orang yang ada di atas panggung terlihat semakin jelas dan matanya seolah-olah menatap ke arah kita. Jangan heran kalo nonton konser kadang kita bia eye contact dengan si penyanyi padahal si penyanyi gak ngeliat apa-apa. hehehe...

They don't want to say hello
Like I want to say hello
Still Take You Home

This one... Ahh gue suka banget. Gue inget pernah bawain lagu ini waktu acara di sebuah kafe halaman belakang beberapa tahun silam. Gue masih inget lho riff sampe lirik lagu ini sekarang. hehe

I fancy you with a passion
Oh, you're a Topshop princess, a rockstar too
But you're a fad and you're a fashion
And I'm having a job trying to talk to you
But it's alright, yeah, I'll put it on one side
Oh, 'cause everybody's looking, you've got control of everyone's eyes including mine
Riot Van

Lagu ini mengingatkan gue pada kejadian cukup memalukan ketika membawakan lagu yang bercerita tentang sekumpulan anak muda sedang bersenang-senang tanpa peduli aturan ini di tahun 2013 kemarin. We played it so bad. Gue gak hafal lirik dan penonton juga kurang respon dengan lagu ini. Wajarlah, lagu ini bukan sebuah hits single yang semua orang tahu.

"Have you been drinking, son?
You don't look old enough to me"
"I'm sorry, officer, is there a certain age you're supposed to be? 'Cause nobody told me"
Red Light Indicates Doors Are Secured

Lagu tentang bocah-bocah remaja mabuk yang berbuat sesuka hatinya. Yeah, emang kebanyakan lagu-lagu di album ini bercerita tentang kehidupan remaja yang masih mencari-cari jati diri di dunia yang sangat luas ini. Semacam usaha untuk menemukan jati diri dan menjadi dewasa lebih dini.

Oh, they wanted to be men
And do some fighting in the street
He said, "No surrender
No chance of retreat"
Mardy Bum

Mardy dalam kosakata urban masyarakat Yorkshire berarti seseorang yang kerjaannya ngambek melulu (tidak kooperatif). Yeah, lagu ini bercerita tentang seorang wanita yang kerjaanya marah-marah melulu walaupun si cowok bisa menenangkan tapi sifat "ngambek" si wanita tetap saja muncul. Banyak orang mungkin yang sudah sangat famliar dengan lagu ini. Beberapa kali gue denger diputar di mall atau jadi scoring di film atau reality show. A very great song.

 just laugh and joke around?
Remember cuddles in the kitchen, yeah
To get things off the ground
And it was' up, up, and away
Oh, but it's right hard to remember that
On a day like today
When you're all argumentative
And you've got the face on
Perhaps Vampires Is a Bit Strong But...

Lagu ini cocok untuk teman kita yang selalu menjadi benalu atau vampire di dalam lingkup tongkrongan.

He said, "I can't believe that you drove all that way
Well how much did they pay ya? How much did they pay ya?
You'd have been better to stay round our way
Thinking about things but not actually doing the things"
When the Sun Goes Down

Lagu ini adalah sejarah. Pertama kali gue manggung bersama band di sebuah kafe sumpek kawasan Jakarta Pusat gue bersama band membawakan lagu ini. Yeah this was the first we played together in a gig. Lagu ini menceritakan tentang prostitusi yang ada sekitaran studio tempat Arctic Monkeys rekaman dan latihan.

Look, here comes a Ford Mondeo
Isn't he Mr. Inconspicuous?
And he don't even have to say owt
She's in the stance ready to get picked up
Bet she's delighted when she sees him
Pulling in and giving her the eye
Because she must be fucking freezing
Scantily-clad beneath the clear night sky
It don't stop in the winter, no

From the Ritz to the Rubble 

Another song about clubbing experience in Sheffield. Singkat kata lagu ini tentang seseorang yang ditendang keluar dari klub malam oleh para bouncers sangar penjaga pintu klub.

Well, I'm so glad they turned us all away
We'll put it down to fate
I thought a thousand million things
That I could never think this morning
Got too deep
But how deep is too deep?
A Certain Romance

Lagu ini adalah sebuah bentuk nyata pendewasaan diri. Orang-orang yang sudah hidup berdampingan sama kita terkadang punya pola hidup dan kesukaan yang berbeda dan apapun yang kita bilang ke mereka hal tersebut tidak akan mengubah pola pikir mereka begitu saja.

Yah, gue juga merasa demikian koq. Most of my friends, been together since high school or something. They turn into something I hate the most. Yeah, you know, they act like chavs, gentlemen, and "scientists" at the same time. Why should I mad at them anyway. Just don't give them a hoot. It's their life. So, this song kinda reminds me of them. 

But over there, there's friends of mine
What can I say? I've known 'em for a long long time
And they might overstep the line
But you just cannot get angry in the same way
No, not in the same way
Said, not in the same way
Oh no, oh no, no

Seperti yang sudah gue utarakan di atas bahwa album ini adalah saksi pendewasaan diri gue. There's some kind of correlation between me and this album. Yeah, it's a great album. I do really love it.

***
Well, it's ever so funny'Cause I don't think you're special, I don't think you're coolYou're just probably alrightBut under these lights you look beautifulAnd I'm struggling, I can't see through your fake tanYeah, and you know it for a fact that everybody's eating out of your hands

***

picture source: http://relayfm.s3.amazonaws.com/assets/Inquisitive/Whatever.jpg 

Friday, 2 June 2017

A Space Boy Dream

Sebuah pohon tumbuh subur di atas bukit merah yang basah karena darah. Batang dan dahannya terbuat dari aluminium. Akar kawatnya menancap gagah menusuk tanah merah yang belum kering betul dari darah. Merah. Daun-daun besi berwarna abu-abu berguguran. Pohon itu berbuahkan amunisi, bom, rudal, dan segala jenis senjata pemusnah massal.

Konon barangsiapa mampu mendaki bukit merah tersebut dan menyentuh pohon tersebut akan melihat kehidupan abadi yang sesungguhnya. Siapa yang tahan menginjak tanah lembek dan lengket oleh darah ditambah aroma busuk yang menyengat?

Dunia yang penuh karat.

***

Seorang wanita datang, duduk sudut kafetaria bernuansa industrial. Dia berkata, "Berikan padaku secangkir kopi yang hitamnya mengalahkan kegelapan malam dan manisnya mengalahkan madu!"

Kacamata berbingkai tulai rusuk manusia dan kalung rantai yang berkarat menjadi aksesoris yang cukup menarik perhatian.

"Kopi Maut" demikian para pelayan menyebut pesanan si wanita tersebut. Si wanita menyeruput ujung cangkirnya lalu tersenyum senang dan senyumannya berubah menjadi tawa yang memekakkan telinga. 

"Bolehkah aku bertanya padamu wahai Barista  Agung?" si wanita bertanya pada sang Barista Agung peracik kopi terbaik yang ada di negeri ini bahkan di seluruh jagat raya.

"Silakan nona, apakah yang ingin kau tanyakan?" 

"Bertahun-tahun aku mengelilingi dunia ini. Beribu-ribu kilometer sudah kutempuh dan puluhan peracik kopi yang katanya terbaik di tempat itu sudah menyajikan kopi untuk kucicipi tapi tak satupun memenuhi seleraku. Mendekati pun tidak. Bagaimana caranya engkau mampu membuat kopi paling enak di dunia ini?" 

Sang Barista Agung hanya menyunggingkan senyum aneh yang misterius. Entah apa maksud dari senyuman itu kita tidak akan pernah tahu.

***

Seorang wanita berlari keluar dari rumah kayu yang sedang dilalap api.
Separuh wajahnya terbakar. 
Dia berteriak-teriak meminta tolong pada seorang laki-laki kurus yang kebingungan.
Semakin dia berteriak kesakitan semakin si laki-laki kebingungan.
Darah, air mata, dan nanah menyembur keluar dari separuh wajahnya yang terbakar.
Separuh wajahnya hilang terbakar.
Si laki-laki hanya terdiam.
Si wanita yang terbakar separuh wajahnya mengerang dan menjerit kesakitan.
Si laki-laki semakin terdiam menatap dua bola mata yang sekarang bentuknya tak lagi sama.
Sebelah kiri mengeluarkan air mata bening mengalir di pipi yang halus sedangkan sebelah kanan mengeluarkan air mata bercampur darah mengalir di kulit pipi yang mengelupas terbakar api.
Si laki-laki hanya terdiam lalu membalikkan badannya dan berjalan dengan langkah pelan penuh kebingungan.
Dia nampak kenal dengan sebelah wajah yang tidak terbakar.
Dia tahu betul mata itu.
Dia benci air mata yang keluar dari wajah sebelah kiri.
Walau akhirnya dia menyerah dengan kebingungan dan memilih pergi.


***

Tulisan di atas adalah beberapa bagian yang masih gue ingat dari mimpi-mimpi absurd gue dan  belakangan ini mengganggu gue ketika tidur. Gak tahu deh apa artinya. Apakah anda percaya pertanda mimpi? 

Wednesday, 31 May 2017

What's Your Story? Hey Look! We've Made History. (part II)

Suatu hari nanti mereka akan kembali ingat dengan suara berisik dari speaker murahan di dalam sebuah studio di pinggir kali yang mengeluarkan aroma sampah menyengat. Sudut sembilan puluh derajat tempat mereka bercengkerama juga akan kembali hinggap ke dalam pikiran.

Arctic Monkeys,The Stone Roses,The Kinks,The Strokes, Nirvana, Joy Division, sampai The Vaselines pernah bermain di sana dalam wujud yang berbeda.

Gitar-gitar murahan dengan kualitas buruk yang dilabeli dengan merk ternama menjadi "senjata" yang untuk sementara membuat mereka puas. Atau mungkin mereka sudah rindu dengan suara cymbal yang nyaring tak karakter dan nampak sudah jenuh dihajar dari pagi hingga malam. Lampu redup hemat energi menyinari optimisme dan tekad mereka.

Dari sanalah mimpi itu lahir dan beranakkan kekecewaan,marah,sedih,putus asa, dan tidak peduli.

Hari Minggu jam satu selalu menjadi waktu yang tepat untuk meluapkan energi remaja mereka yang sudah kelewat batas. Dalam dua jam ke depan suara berisik yang timbul dari dalam pintu dengan peredam buatan sederhana menjadi bukti luapan energi mereka.

They were young.

Aku melihat mata-mata penuh optimisme itu. Aku teringat masa ketika beban hidup itu hanya berupa cerita belaka. Tidak punya makna. Jalan kehidupan mulus diaspal tak akan hancur walau dilindas. Aku lihat mereka bercengkerama riang gembira persis seperti yang aku alami dulu.


"Keep do the noisy thing, Sam!"

"I've never seen anything like that in my life."

"Gilak! Lo gila! Asli, lo gila!

"Kebisingan yang hakiki."

"You did it! It was awesome."


Terkadang hidup punya caranya sendiri untuk membuat kita tetap terkejut. Petasan yang abadi dan meledak bisa kapan saja. Sekarang terserah kita mau bagaimana. Untuk saat ini saya tidak mau berhenti menghajar keenam dawai yang terikat kokoh di atas pick-up dan kayu. Tuning tidak lazim dan aksi brutal tanpa aturan di atas panggung sederhana menjadi ritual suci yang tidak akan pernah usai.


Saya tidak mau mati bosan! I'll see you on the other side, boys! See yaa!

Sunday, 21 May 2017

The Strokes - Room on Fire (2003)

We were young, darling
We don’t have no control
We’re out of control

Album ini memuat lagu The Strokes pertama yang gue denger dalam sejarah hidup gue dan membuat gue pada akhirnya tergila-gila dengan band ini sampai sekarang. Album kedua dari band indie rock asal New York ini setelah gue perhatikan ternyata berisi banyak lagu-lagu yang terlalu asoy untuk tidak didengarkan.

What Ever Happened

Album ini dimulai dengan lumayan apik. I love this song. Lagu yang juga mengisi soundtrack film "Marie Antoinette" ini memang "sangat The Strokes" dengan tone tidak jauh berbeda dari album pertama mereka. Liriknya sedap terutama di bagian pertama yang merupakan favorit gue.

I wanna be forgotten
And I don't want to be reminded

Reptilia

Salah satu lagu The Strokes yang pertama kali gue mainkan bersama teman-teman satu band waktu masa SMA adalah lagu ini. It sounds simple tapi komposisi lumayan rumit ketika memasuki reff yang bikin gue dan teman-teman satu band waktu itu ngulik lumayan lama untuk lagu ini. 

The wait is over, I'm now taking over
You're no longer laughing, I'm not drowning fast enough

Automatic Stop

Seriously, the intro of this song is really something. Setiap kali gue denger lagu ini memori gue membawa gue kembali ke tahun 2011 di sebuah acara "Tribute to The Strokes" yang berujung bencana. We played really awful back then. Lagu ini waktu itu harusnya jadi salah satu lagu yang kita bawain tapi gajadi karena persoalan teknis dan internal. 

Yeah, I know you warned me but this is too important
Now I got a different view, it's you

12:51

Yep! This was their first song of them that I hear during my high school time. I remember we were at my friend's room and listening to this album. Hal paling unik mungkin riff-nya Nick Valensi yang benar-benar mengimitasi suara synth keyboard. 

12:51 is the time my voice found the words I sought
Is it this stage I want?
The world is shutting out for us
Oh, we were tense for sure but we was confident

You Talk Way Too Much

Okay, sebuah lagu breakup yang pas gue baca liriknya gue langsung merasa seperti orang di lagu tersebut. Ahh, suka merasa-merasa deh lo. Eits, tapi beneran. I feel you man in the song. I really am. 
Karena ketika kita dikejutkan oleh sesuatu yang berhenti mendadak kita akan mencoba berbagai cara untuk tetap bergerak walau kadang tindakan harus diambil dan justru membuat semuanya semakin berantakan.

Now we're out of time
I said, it's my fault, it's my fault
Can't make good decisions
It won't stop, I can't stop

Between Love and Hate

Another breakup song...

Intro drumnya catchy sih beneran. Liriknya tentang laki-laki,diputusin pacarnya,sendirian,kosong,berusaha untuk membuat pihak wanita merasa bersalah atas perbuatannya,mengingat masa-masa indah yang sudah berakhir, dan tetap bilang, "I'm okay!" walau sebenarnya enggak. Tapi yaudahlah semua sudah selesai. 

Never needed anybody, I never needed nobody
I never needed anybody, I never needed anybody
Don't worry about it, honey, I never needed anybody
I never needed anybody, it won't change now

Meet Me in the Bathroom

Intro lagunya gue suka deh. Gue inget dulu pernah ngulik lagu ini di ruangan kantor temen gue waktu jaman-jaman kuliah. 

Never was on time, yes, I once was mine
Well, that was long ago and darling, I don't mind
Yeah, they were just two fucks in lust
Oh, baby, that just don't mean much
Oh yeah, you trained me not to love
After you taught me what it was


Under Control

Anda terjebak dalam hubungan yang tidak mungkin? 
Beda suku? 
Beda agama?
Orang tua tidak setuju?
Beda visi dan misi?

Maka lagu ini cocok sekali untuk anda ketika hubungan anda yang tidak mungkin tersebut tiba pada akhirnya.

I don't want to change your mind
I don't want to waste your time
I just want to know you're alright
I've got to know you're alright

The Way It Is

Breakups are hard - even for the dumper. 

Walaupun gue merasa kalau si dumper tersebut merasa berat tapi jauh lebih berat beban si dumped. Gue merasa agak kurang 'sreg' sama lagu ini karena buat gue orang yang mencampakkan tentu saja bisa dengan enteng melaju kencang. 

Said she's not sorry the wind blows her way
Accidents happen, there's one planned today

The End Has No End

This song is about society. Di sini kaya dijelasin tentang semuanya akan terus berputar dan hidup begitu-begitu saja. Sama kaya orang yang sedang menggambar lingkaran. Mungkin yang membedakan hanya warna dan cara gambarnya tapi yang digambar tetap lingkaran.

Hoiya, di salah satu part ada selipan tentang Lou Reed dan The Velvet Underground. :)

He want it easy, he want it relaxed
Said I can do a lot of things, but I can't do that
Two steps forward then three steps back, it won't be easy

I Can't Win

Lagu ini adalah lagu yang waktu itu gue dan teman-teman band bawain dalam sebuah audisi untuk acara "Tribute to The Strokes" tahun 2011. Gue masih inget studionya di lantai dua di seberang minimarket (sekarang dah gaada) dan waktu itu temen gue si Thari bantu mengisi keyboard untuk menutupi kekurangan gitar. 

I love this song. Vokalnya Julian Casablancas di lagu ini buat gue keren banget dan solo gitarnya Nick Valensi menurut gue yang terbaik di album ini. A great song  to end a great album.

Things in bars that people do
When no one wants to talk to you
Failing can be quite a breeze
He told me that these girls were easy
Happy that you said you'd mount me
Felt unlucky when you found me
Some nights come up empty handed
Yes, I'll take it



picture source: http://www.jyonnobitime.com/time/2011/04/

Friday, 12 May 2017

Surat Untuk Kawan Senasib

Kita sebut saja hari itu sebagai "Selasa Hitam."

Sebagian menangis sebagian tertawa.
Ada yang berteriak, "Tuhan di pihak kita!" sementara itu yang lain berujar,"Tuhan tidak tidur!"
Jeruji besi mampu memenjarakan raga tapi tidak dengan ide.
Aku sama denganmu, kawan. Tapi engkau lebih "gila" sedangkan aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat segala perilakumu.
Aku tidak mau percaya apa yang orang-orang ini sampaikan di internet ataupun televisi.
Media sekarang hanya menjadi ladang propaganda segelintir orang.
Aku sama denganmu, kawan. Berusaha menjelaskan maksud dari apa yang kita sampaikan tapi tak seorangpun bisa mengerti.
Orang-orang ini dijanjikan surga oleh segelintir oknum yang katanya punya kavling besar di Surga sana. Mungkin segelintir orang ini adalah semacam "tuan tanah" yang mampu memberikan jaminan masuk Surga kepada mereka yang penuh keraguan ini.
Mereka berteriak yakin di mulut tapi dalam hati Aku yakin mereka dihantui keraguan.
Dan sekali lagi segelintir oknum tuan tanah Surga ini berusaha meyakinkan mereka supaya ikut dengan jalan yang sama.
Yah, siapa sih dari kita yang tidak pernah tertipu dengan para tenaga penjual? 

Aku sama denganmu, kawan. 

Monday, 8 May 2017

Lembab

Bandung, 4 Mei 2017



Seorang pria dengan jaket nilon hitam dan seorang wanita dengan parka berwarna coklat berjalan cepat di bahu jalan pintu keluar tol Pasteur. Mereka mentertawakan kondisi mereka yang basah kuyub karena hujan di Bandung waktu itu terlalu indah untuk tidak dinikmati. Macet membuat mereka yang sudah lelah berjam-jam duduk di mobil memutuskan untuk menyusuri jalanan walau beresiko basah diterpa hujan.


Mereka tertawa-tawa di pelataran kampus sembari merayakan kelulusan salah satu teman, menikmati bebek goreng di depan rumah sakit, dan berbagi cerita ditemani uap panas dari cangkir-cangkir kopi.


Perjalanan mereka layaknya ziarah ke tempat-tempat yang bersejarah. Tempat si wanita makan ketika kiriman datang di awal bulan, tempat si wanita mencetak tugas akhirnya yang dikerjakan berlarut-larut, tempat dia dan kawanan jurnalistiknya berkumpul di hari kelulusan, dan gerbang kampus tempat mereka bergumul tentang masa depan mereka.

Tuesday, 2 May 2017

Halo Hujan. (bagian kedua)

5 Januari 2017


Dia berteduh di sebuah komplek pertokoan sambil meratapi nasib sial dihajar hujan deras. Jarak ke rumah dari tempatnya berteduh sekitar 36 kilometer lebih. Pikiran di kepalanya masih campur aduk antara senang atau sedih. Senang karena pada hari ini dia berulang tahun dan sedih karena hari ini terasa sangat hambar. Suasana sedih semakin bertambah kala hujan badai tiba-tiba turun tanpa pertanda.

"Aku adalah manusia sial yang tidak tahu apa artinya bersyukur," dia menggumam dalam hati sambil memandangi rintik hujan dengan tatapan naas.

Dia mengingat hari-hari yang lalu di tanggal yang sama ketika semua orang masih berwajah sama pula. Ketika segelintir orang bersumpah setia untuk saling menjaga dan mendukung satu dengan yang lainnya. Waktu itu mereka dengan bangga berkata bahwa tak akan ada yang dapat mengguncang ikatan persaudaraan di antara mereka.

Namun sayang nasib berkata lain. Mereka lebih suka membanggakan dirinya sendiri,mereka lebih suka memeluk awan hingga lupa daratan, mereka lebih mencintai uang dibanding yang lain, mereka lebih suka melihat orang lain sengsara asalkan mereka selamat.

"Air sedang menari," dia berujar lirih, "Mungkin jika setiap tetes air hujan punya warnanya masing-masing maka dunia akan menjadi sebuah lukisan yang menakjubkan."

Disekanya air hujan yang membasahi kacamatanya. Dia teringat sudut kamar tempat mencurahkan semua perkaranya, bicara dengan angin, menatap langit-langit kamar yang kadang penuh dengan visual ajaib, dan kadang bulan menyapanya dari ujung jalan. Sudut bau keringat bercampur asap yang menjadi tempat favoritnya di rumah. Di sanalah dia menulis surat untuk hujan yang dia cintai.

"Halo hujan. Terima kasih sudah memberikan ucapan ulang tahun. It means a lot to me, man. Thank you," dia mulai mengajak hujan berbicara.

"Terima kasih. Hari ini saya ulang tahun. Seperempat abad sudah menjejakkan kaki di dunia yang kadang indah kadang tidak. Saya senang kamu datang. Bahkan membawa angin temanmu untuk ikut bersukacita bersama. Ke mana kilat dan petir? Mengapa tidak sekalian kau ajak mereka? Kita bersenang-senang di sini. Antar aku pulang. Rumahku masih jauh, kalian ajak saya bicara supaya lelah di badan ini tidak lagi menyiksa," dia sudah tidak peduli lagi orang mau menganggapnya gila atau apalah mengajak hujan bicara.

Dia menari,berteriak,melompat,berjingkrak kegirangan di atas genangan air mengikuti nyanyian angin. Di hari yang sangat istimewa ini dia ingin berbagi dengan hujan sahabatnya. Hari yang dulu penuh kehangatan palsu sekarang terganti dengan dingin menusuk yang tulus dan penuh cinta.

Hari di mana dia pertama kali menghirup udara kehidupan.