Monday, 30 October 2017

Tanpa Nama

Lompat!

BYAAAAAR!

Kepalanya pecah menghantam aspal.
Jalanan yang tadinya sepi berubah ramai macam pasar malam.
Semua sibuk mengabadikan jasad yang beberapa menit lalu masih bernapas.

Ceklik! Ceklik!

Jemari menari di atas rana kamera.
Jemari menari di atas layar gawai.


Send! Send! Upload! Upload! Share! Share! Share! 

Dalam sekejab saja "sang jasad" sudah menjadi selebriti dunia maya.

Terkenal tapi tak bernapas.
Terkenal tapi tanpa nyawa.
Terkenal tapi tak berbentuk.
Terkenal tapi tak bernama.

Sunday, 1 October 2017

Bob Dylan - Highway 61 Revisited (1965)

Gue gak pernah menyebut postingan-postingan tentang album musik yang pernah gue bikin itu sebagai review. Gak ahh, gue males disebut sebagai kritikus atau reviewer atau apapun itu. Gue hanya berbagi cerita tentang album-album musik yang gue suka. Terserah orang mau bilang apa.


And this album.... Man, what can I say about this album? This is magnificent! How can a human mind do this?

Sudah tidak menjadi rahasia bahwa gue sejak masa SMA akhir mulai menggilai musik-musik ala Bob Dylan, The Beach Boys, Donovan, Neil Young, Leonard Cohen, sampai The Grateful Dead. Semua musik mereka turut menemani tumbuh kembang masa remaja gue.

Pertama kali gue mendengar lagu-lagu di album ini menjelang masa akhir SMA dan transisi menuju masa kuliah. Bob Dylan dengan segala mitos dan sejarah yang diceritakan turun menurun oleh orang-orang yang lebih tua dari gue menuntun gue untuk mencari tahu siapa Bob Dylan sampai akhirnya lagu-lagu di album ini masuk ke telinga gue.

My mind was blowing. 

Album ini menempati posisi ke-4 di chart "500 Greatest Albums of All Time" versi majalah Rolling Stone. Bukan cuma album tapi lagu pembuka di album ini, "Like a Rolling Stone" menempati peringkat pertama di chart "500 Greatest Songs of All Time" versi majalah Rolling Stone. Wajar, soalnya nama majalah Rolling Stone diambil dari judul lagu Bob Dylan di album ini. hehehe

Ketika album ini keluar di tahun 1965 masyarakat langsung dibuat terkejut dengan karya Dylan yang satu ini. Bob Dylan berubah. Berubah dari seorang penyanyi folk dengan gitar akustik dan harmonika menjadi seorang penyanyi folk dengan band di belakangnya yang bermain dengan volume ekstra keras. Cibiran bahkan makian menyebar ke mana-mana. Bob Dylan yang dianggap sebagai tokoh panutan dalam gerakan protes anti perang berubah menjadi musuh nomor satu gerakan tersebut. Fans loyalnya menganggap Dylan sudah berubah. Bob Dylan tidak peduli dengan kritik orang-orang atas perubahan aliran musiknya hingga album ini meledak di pasaran dan menjadi akar musik folk rock modern hingga saat ini.

Here are the songs:

1. Like a Rolling Stone

Salah satu lagu paling berpengaruh dalam sejarah budaya pop kontemporer. Sebuah lagu dengan durasi lebih dari enam menit ini menjadi tonggak awal musik folk rock. Mengubah Bob Dylan dari seorang folk singer menjadi rock star. Menghancurkan prediksi orang-orang di dunia musik yang sempat berpendapat kalau lagu ini terlampau panjang dan terlalu kritis. This is a new genesis. Frustrasi, amarah, kebencian, dan kritik tergambar begitu jelas tanpa kiasan dalam setiap syair lirik yang dinyanyikan Dylan dengan keras. This song was punk rock song. Dylan was a punk rocker.


Aw, you've gone to the finest school all right, Miss Lonely
But ya' know ya' only used to get juiced in it
Nobody's ever taught ya' how to live out on the street
And now you’re gonna have to get used to it

2. Tombstone Blues

Jujur, untuk mereview album-album Bob Dylan butuh kemampuan yang luar biasa. Dalam hal kemampuan menganalisa tulisan, makna lirik, atau musikalitas gue ga sanggup. Gue hanya seorang penggemar biasa, hehe.

Gue suka lagu ini. Hentakan drumnya bikin semangat dan gaya puitis Dylan yang cuek dalam membawakan lagu ini buat gue sangat luar biasa. Lagu ini lebih bercerita mengenai kondisi masyarakat absurd Amerika ketika masa Perang Vietnam di tahun 60-an. Masih mengenai kritik, masih dengan sentimen anti perang yang mempengaruhi kultur underground di Amerika Serikat tahun 1960-an.

Now I wish I could write you a melody so plain
That could hold you dear lady from going insane
That could ease you and cool you and cease the pain
Of your useless and pointless knowledge

3. It Takes a Lot to Laugh, It Takes a Train to Cry

Awrite lagu ini kembali kepada alunan acoustic/electric blues dan tidak seagresif lagu-lagu lain yang dimuat di album ini. Lagu ini jauh lebih tenang, kalem, dan lembut dibandingkan dengan lagu-lagu lain di album ini. Liriknya berisi keresahan dan frustrasi yang begitu kelam diiringi dengan irama musik blues dan suara serak Dylan tanpa teriakan agresif. Semacam bentuk refleksi diri di antara kegilaan dan amarah.

4. From a Buick 6

Steve Jobs pernah berujar di tahun 2006 bahwa lagu ini merupakan lagu favoritnya. Well, irama blues/garage rock yang langsung menghentak ditambah vokal Bob Dylan yang sedikit keras menambah nuansa pemberontakan di lagu ini semakin kuat. Yeah, this is a great song. Pola dasar 12-bar blues dengan variasi musik dan luapan vokal Bob Dylan membuat lagu ini menjadi semakin berwarna.


Well, when the pipeline gets broken
And I'm lost on the river bridge
I’m all cracked up on the highway
And in the water’s edge

5. Ballad of a Thin Man

My personal favourite.

Great music, great lyrics, great interpretation, and this is totally outstanding.

One of the purest songs of protest ever sung.

Bahkan kontroversi masih terjadi di antara para jurnalis,kritikus, dan penggemar Bob Dylan mengenai siapakah yang disebut sebagai "Mr. Jones"di lagu ini.

Because something is happening here
But ya' don't know what it is
Do you, Mister Jones?  

6. Queen Jane Approximately 

Gue pernah membawakan ulang lagu ini. Yah, walaupun hanya sekedar akustik kecil-kecilan di ruangan. I love this song. Mengusung tema kritik terhadap kemapanan dan gaya hidup mewah mirip dengan "Like a Rolling Stone" tapi di lagu ini kritik tersebut disampaikan dengan cara yang lebih keras dan lugas. Kembali, kontroversi dan spekulasi mencuat mengenai siapakah "Queen Jane" yang dimaksud oleh Bob Dylan di lagu ini. Ada yang menyebutkan Joan Baez, ada pula spekulasi yang menyebut bahwa "Queen Jane" adalah Lady Jane Grey atau Jane Seymour, bahkan ada yang menyebutkan bahwa "Queen Jane" adalah bahasa slang dari marijuana. Satu hal yang pasti berdasarkan wawancara seorang jurnalis kepada Bob Dylan disebutkan bahwa "Queen Jane" di lagu ini adalah seorang pria.

When your mother sends back all your invitations
And your father to your sister he explains
That you’re tired of yourself and all of your creations

Won’t you come see me, Queen Jane?
Won’t you come see me, Queen Jane?

7. Highway 61 Revisited

Lagu ini benar-benar luar biasa secara penulisan lirik dan cara Dylan membawakan lagu ini. Lagu ini lebih menyerupai cerpen dibandingkan lirik lagu atau puisi. Mengambil beberapa unsur dari Alkitab dan digambarkan terjadi pada era modern. Wajar jika "Highway 61 Revisited" menempati peringkat 373 dalam chart "500 Greatest Songs of All Time" oleh majalah Rolling Stone.

8. Just Like Tom Thumb's Blues

Lagu ini pernah muncul dalam salah satu adegan di film "The Three Stooges" yang dirilis tahun 2012. Mengalir terus tanpa ada chorus dengan 6 verses/bagian di dalamnya tanpa ada pengulangan lirik sama sekali. Bob Dylan kembali membuat kita terpukau dengan gaya penulisan liriknya yang luar biasa. Bob Dylan banyak mengambil inspirasi dari sastrawan-sastrawan terkenal seperti Edgar Allan Poe, Arthur Rimbaud, hingga Jack Kerouac dalam menulis lagu. Jangan heran ada beberapa unsur novel yang masuk seperti nama tempat atau nama karakter dalam novel justru memperkaya lirik dan musiknya.

Everybody said they'd stand behind me
When the game got rough
But the joke was on me
There was nobody even there to bluff

9. Desolation Row
The longest track in this album. Lagu ini sudah berusia lebih dari 50 tahun dan sampai saat ini banyak jurnalis musik, penggemar, pengamat musik, musisi, hingga ahli tata bahasa berusaha untuk menginterpretasikan lagu berdurasi lebih dari 11 menit ini. Begitu panjang lagu ini sehingga tidak dirilis sebagai single tapi berhasil mencuri perhatian semua orang.

When trying to interpret this song, keep in mind that Dylan was experimenting with LSD around the time he recorded it. Yeap, lagu ini begitu psychotic dan psychedelic. Dylan mengurai kejadian demi kejadian dengan gaya berceritanya yang khas dan nada muram diiringi dengan suara gitar akustik.

Desolation Row menjadi penutup album luar biasa ini. Bob Dylan jarang membawakan lagu ini ketika tampil secara live di panggung tapi ketika dibawakan improvisasi panggung dapat membuat durasi lagu ini menjadi 45 menit.

Di manakah tempat yang dimaksud dengan Desolation Row di lagu ini? Hanya Bob Dylan yang tahu.


Now the moon is almost hidden
The stars are beginning to hide
The fortune-telling lady
Has even taken all her things inside
All except for Cain and Abel
And The Hunchback of Notre Dame
Everybody is making love
Or else expecting rain
And the Good Samaritan, he’s dressing
He’s getting ready for the show
He’s going to the carnival tonight
On Desolation Row

Gue dulu sangat sering berujar begini, "Bob Dylan knows everything," karena begitu luas hal-hal yang bisa dieksplor oleh seorang Bob Dylan lewat nada dan kata. Album ini dirilis tahun 1965 dan sampai saat ini semua hal yang diceritakan dalam setiap syairnya masih relevan dengan apa yang terjadi saat ini.

This is "Highway 61 Revisited" and I love this album. You should hear this album before you die, man! 







image: https://www.amazon.com/Highway-61-Revisited-Bob-Dylan/dp/B00026WU82

Tuesday, 12 September 2017

Psychocandy.

Pills to wake you up.
Pills to help you sleep.
Pills to help you stay at night.
Pills to feel happy.
Pills to feel sad.
Pills for breakfast.
Pills for lunch.
Pills for dinner.
Pills to help you laugh.
Pills to help you cry.
Pills to help you to be yourself.
Pills to help you to be a superstar.
Pills to help each other.
Pills to fight the horde.
Pills to sing.
Pills to scream.
Pills to live.
Pills to die.

Kau berbicara kepada langit di malam hari.
"Mereka tuli! Mereka bisu!"

Kau berbicara kepada pisau dapur.
"Ayo kita bervakansi bersama. Bawa aku ke taman hiburan abadi,"

Kau berbicara kepada tali tambang yang tergantung di teralis jendela kamarmu
"Mari menghilang. Jangan pernah percaya kepada retorika. Bahkan Socrates pun masih bisa tertawa ketika dipaksa minum racun,"

Kau berbicara kepada mobil-mobil yang berlarian kencang di Jalan Thamrin sana.
"Terpaksa kujilat ludahku kembali. Kubiarkan kalian yang menentukan hasil akhir"

Kau berbicara kepada tembok kumal penuh coretan di kamarmu.
"Merah! Merah! Merah! Kubiarkan bau amis darah memenuhi ruangan penuh roh jahat ini!"

Kau berbicara kepada cairan obat anti serangga.
"Mari minum darah seperti minum anggur. Kita akan abadi dalam kemudaan kita,"

Kau berbicara kepada pecahan botol di sudut ruangan. Dari ujungnya darah segar menetes.
"Kubiarkan kalian meninggalkan tanda di tubuhku supaya mereka sadar akan perbuatan mereka,"

Kau berbicara kepada pil-pil di tangan kirimu dan segelas air di tangan kananmu.
"Usir hantu di kepalaku. Akan kubuat perusahaan kalian kaya dan kudoakan dia yang menemukan formula kalian masuk surga di mana tidak ada depresi, tidak ada obsessive disorder, tidak ada schizophrenia, tidak ada manic depressive, tidak ada OCD, tidak ada mental disorder, tidak ada paranoid, dan tidak ada lagi dunia di mana rasa sakit merupakan kesenangan,"



Jakarta, 12 September 2017


Berdasarkan pengalaman pribadi.

Judul postingan gue ambil dari judul album salah satu band favorit gue: The Jesus and Mary Chain - Psychocandy. Salah satu album favorit gue yang gue selalu dengerin di masa-masa hancur lebur berantakan. 

Sekarang sudah jauh lebih baik dibanding masa-masa menjengkelkan waktu itu.

Kalo mengutip lirik lagu The Grateful Dead - Touch of Grey:

I will get by
I will get by
I will get by
I will survive

Tetaplah hidup.

Monday, 11 September 2017

Rasa Jalanan Berpendingin Ruangan

Segala hal berbau jalanan dan penuh dengan filosofi melawan sekarang sudah menjadi komoditas pasar yang diincar oleh anak-anak muda kelas menengah. Mereka datang dari keluarga yang mapan secara finansial mulai berdandan dan berperilaku layaknya anak-anak jalanan. Mengenakan baju-baju merk ternama yang identik dengan attitude anak-anak jalanan di negara barat, mereka mengimplementasikan semua filosofi jalanan negara barat tanpa tahu makna dan filosofi di baliknya. Simbol-simbol perlawanan ala barat menjadi barang mahal di Indonesia. Butuh modal untuk dapat menyatu dengan jalanan beserta gayanya. Sementara itu mereka yang tidur di pinggir kali butuh kreativitas untuk menambal bahan baju mereka yang semakin sekarat.

Anak-anak orang kaya berperilaku ugal-ugalan di dalam mall yang nyaman dengan penyejuk udara. Tidak jauh dari mall di perempatan jalan hiduplah mereka yang berperilaku ugal-ugalan supaya bisa selamat hidup di atas panasnya trotoar.


Wednesday, 16 August 2017

Aksi Tenang ( Bagian Kedua)

Kami membayar supaya menjadi miskin. Kita harus menjadi kaya supaya bisa menyatu dengan alam. Kami senang berjalan gagah dengan tas besar dan perlengkapan outdoor di tengah kota supaya semua orang tahu kalau kami adalah sekumpulan petualang.


"Alam tak butuh uangmu!" ujar Pohon Pinus penghuni gunung yang kini penuh coretan minim arti.

Sanggupkah kalian membuat kami sadar wahai para penghuni gunung, laut, dan hutan?

Padang rumput sunyi tempat para petapa dahulu mencari ilham dan menyatukan raganya dengan alam kini menjadi panggung pameran bungkus plastik dari berbagai produk ciptaan kota. 

Kita harus fotogenik supaya terlihat jelas kalau kita adalah manusia-manusia yang mencintai alam dengan cara yang salah.

Lihat! Mereka menerbangkan harapan, impian, dan sukacita dalam bentuk lampion kertas. Terbangkan setinggi mungkin lalu ambil citranya, unggah ke dunia maya, buat kesan seakan kita mencintai alam beserta isinya. Peduli setan ke mana kertas dan kawat itu nanti mendarat! Lampion kita akan terbang ke bulan dan menjadi sampah luar angkasa lalu kembali turun ke bumi menjelma menjadi petromak.

***
Langit berubah warna menjadi ungu.

"Tunggu dulu! Kembalikan uang kami! Di brosur kami baca kalau langit di sini penuh dengan bintang-bintang dan suasananya yang sunyi dapat membawa kami menjadi satu dengan alam."

"Sekali lagi saya mohon maaf atas ketidaknyamanan yang memang sudah seharusnya hadir di antara kita semua. Panitia ternyata punya konsep yang berbeda tahun ini. Mayoritas sudah tidak menginginkan bintang-bintang berpijar sebagai gantinya mereka menyediakan langit ungu hasil kolaborasi warna hitam langit dengan lampu sorot panggung yang luar biasa terang bahkan melebihi terangnya bintang," sang pemandu perjalanan berusaha menenangkan para peserta tur "Kembali ke Alam" yang sudah membayar mahal untuk menyatu kembali dengan alam pegunungan. 

Kita membawa Jakarta ribuan meter di atas permukaan laut.

***

Dentuman peralatan pengeras suara merek ternama menggema ke seluruh penjuru hutan yang tadinya hanya bersuarakan gemericik air di antara bebatuan sungai, siulan burung, suara angin menerpa pepohonan, dan nyanyian binatang.

Kami merasa kurang hanya mambawa polusi udara,cahaya, mental, dan plastik.
Kami juga membawa polusi suara supaya ikut menyatu bersama alam yang sudah kami "beli" dengan harga mahal.
Kehidupan lengkap sudah.
Kami menyulap alam menjadi sama persis seperti di kota.
Kami lakukan karena kami mencintai alam sama seperti alam mencintai kami.

Bukankah tindakan kami sepatutnya diganjar dengan penghargaan? Kami membawa modernisasi, peradaban, dan gaya hidup baru ke alam yang masih terbelakang ini. Kami membuat alam menjadi tidak membosankan dan nyaman seperti di rumah sendiri.

Perubahan iklim itu hanya permainan korporasi besar. Kami hanya bisa memanipulasi kalian melalui dunia maya. Kami hanya mengemas dengan cara yang paling natural. Kami tak berdosa.


Silakan sampaikan pembelaan sampai kelu lidahmu karena kata-katamu sendiri. Sampaikan itu di depan binatang yang dijerat demi hiburan, tanaman yang rusak demi ruang, ladang yang berubah menjadi lumpur demi akses masuk, dan matinya esensi alam demi kenyamanan kalian semata.

Mari kita pulang.

Tuesday, 25 July 2017

Passer Baroe

Waktu itu Pasar Baru masih menyimpan nuansa klasik dan hangat yang sampai sekarang masih aku ingat rasanya. Ketika beramai-ramai kami duduk bersama, saling mengucapkan selamat, panjang umur, dan bahagia selalu.
Aku sangat suka suasana magisnya sehabis hujan. Di malam hari ketika lampu jalan menyala terpantul genangan air menghasilkan visual yang menenangkan. 

Ada masa ketika seorang gadis menangis sedih melihat perselisihan ayah dan ibunya di rumah. Hanya ada cukup uang untuk membeli sebotol air mineral sehingga mereka punya hak untuk menikmati fasilitas berupa kursi di halaman belakang minimarket.

Seorang ibu dan anak laki-akinya berjalan menyusuri deretan toko kain dan sepatu di Pasar Baru. Si anak laki-laki hendak mengakhiri kuliah yang sudah empat tahun dijalaninya. Sidang pertanggungjawaban hasil belajar  selama empat tahun itu kini ada di depan mata. Sepasang sepatu formal model pantofel dibutuhkan demi melengkapi syarat penampilan sidangnya nanti. 

Cakwe dan kue bantal legendaris yang sudah menjadi primadona sejak dahulu. Masuk gang sempit dengan aroma limbah restoran mie yang khas jika kau hendak menemukannya. Adonan ditarik lalu berenang di lautan minyak panas kemudian berubah dari kurus putih menjadi gemuk kuning kecoklatan. Dinding kios sempit nan reot itu ditempeli foto para pesohor yang pernah mampir mencicipi kelezatannya. Secuil sejarah dan kenangan masa kecil hadir dalam setiap gigitannya.

Di depan mesin tik dan alat pemancar radio yang sudah sepuh itu kami berdiri membeku sambil membayangkan kejadian 70 tahun silam. Di tempat yang sama dan dengan peralatan yang sama berita gembira tersebut disebarluaskan. Entah perasaan macam apa yang ada di dalam hati mereka yang terlibat langsung dalam peristiwa kelahiran tersebut. Berita kelahiran ini harus disebarkan ke seluruh penjuru negeri. Karena berita ini akan membuat mereka yang tadinya berjalan sendiri-sendiri bersatu menjadi satu kesatuan besar dan akan berjalan dalam irama yang sama. Berita yang dinanti-nantikan jutaan orang bahkan jauh sebelum hari kelahiran itu tiba. Kelegaan,kebahagiaan,kebanggaan, dan kegembiraan mereka dibayangi oleh rasa was-was,ketakutan,kecurigaan, dan amarah akibat mereka yang menolak kelahiran tersebut. Kelahiran sebuah negara yang diidam-idamkan menjadi sebuah negara yang besar dan makmur. Negara yang sampai saat ini masih bergolak dalam pubertas-nya sebagai sebuah negara.

Pukul satu dini hari dan kami masih santai dengan kopi dan rokok kami. Perbincangan ala warung kopi ini memang membuat setiap orang menjadi lupa akan waktu yang sudah dilewati. Tidak jauh dari tempat kami duduk beberapa orang nampak larut dalam kegiatan serupa. Jalanan yang mulai sepi dan tanda-tanda kami sudah harus pulang mulai nampak. Tatapan mata orang-orang di sini mulai tidak ramah. Dipengaruhi alkohol jalanan dan (mungkin!) obat stimulan ilegal mata mereka nampak lebih tajam dan tidak ramah terhadap orang lain. Angin malam mulai bertiup tidak wajar dan kembalilah kami pulang terpisah. Engkau ke selatan dan aku menuju ke barat.

Wajah-wajah kaku, reruntuhan, ketidakadilan, penjahat, presiden, pahlawan, hingga pecundang terekam abadi entah dalam potret warna atau hitam putih terbingkai dan terpajang di sebuah gedung tua. Semua orang sibuk mengabadikan kembali potret-potret tersebut untuk dibagikan kembali sehingga seluruh dunianya tahu tentang apa yang terjadi di sana.

Kembali dia menghela napas dalam-dalam. Ditatapnya raut wajah ceria itu dari balik pintu kaca bening. Di balik wajah kumuh nan cemong itulah kebahagian bertahta. Tunggu sampai hujan reda lalu kita melangkah kembali menyusuri kebosanan abadi. Pendingin udara jelas sangat tidak cocok kala hujan dingin seperti ini. Keluar sejenak, menyalakan sebatang rokok sekedar untuk menghangatkan badan yang mulai dingin kaku akibat pendingin udara yang dinyalakan pada suhu yang kelewat rendah. Tempat ini adalah tempat yang sempurna untuk kembali jatuh cinta kepada Jakarta. Di sinilah sentuhan-sentuhan sederhana meninggalkan kenangan yang begitu rumit.

"Pulang, mari kita pulang," aku berbicara kepada kepulan asap di depan mata.

Kembali kita menyusuri kebosanan abadi di atas aspal hitam. Terus tidak akan pernah berhenti sampai tulang belulang kita tertanam abadi di bawah tanah. Semua kisah ini terjadi di Pasar Baru. Tempat itu masih menyimpan nuansa klasik dan hangat yang sampai sekarang masih ada.

Thursday, 13 July 2017

Aksi Tenang

Kita tidak ada di sana.
Kau dan aku sudah menyatu dengan keabadian ketika dunia penuh sesak dengan kebodohan.
Suatu hari nanti mereka akan jenuh menjadi benar.
Suatu hari nanti mereka akan sadar bahwa hidup adalah tentang keliru.
Kita tidak ada di sana.
Kau dan aku sudah lama bernyanyi tentang betapa lucunya dunia ini.
Suatu hari nanti mereka akan menyesal tidak ikut tertawa dengan kita.
Suatu hari nanti mereka akan melihat ke langit dan berharap bisa ikut dengan kita.

Jangan dibuat sulit, kawan!
Sadarlah bahwa semua begitu mudah.
Dengan sedikit keberanian engkau bisa bergabung dengan kami di sini.
Ada tempat di mana engkau merasa buta dan tuli dalam sekejab.
Ada masa ketika engkau merasa begitu tua dalam dalam satu kedipan mata.

Kita tidak ada di sana.
Kau dan aku sudah bosan membuang waktu yang tidak habis-habis.
Suatu hari nanti mereka akan berdiri dan menangisi kebodohan mereka sendiri.
Suatu hari nanti mereka hanya bisa meratapi nasib karena tidak mau ikut jalan kita.

Mereka yang menangisi pusaramu adalah mereka yang menyesal masih hidup.
Mereka yang bicara tentang penghiburan sesungguhnya menangisi hidupnya.
Mereka yang bicara soal hidup sesungguhnya tersesat di hutan kebimbangan.
Mereka yang membunuh dirinya lewat kata-kata sesungguhnya hanya menipu diri.
Mereka yang mengutuk perbuatan kita hanyalah pengecut yang tak tahu apa-apa.

Kita tidak ada di sana.
Kita tidak ada di sana.
Kita abadi.
Kita tidak akan mati.

Wednesday, 14 June 2017

Arctic Monkeys - Whatever People Say I Am, That's What I'm Not

Album ini berisi lagu-lagu yang menjadi saksi tumbuh kembang gue dan beberapa orang di generasi gue. Album ini berhasil memecahkan rekor album debut terbaik di Inggris ketika dirilis tahun 2006 mengalahkan debut album Elastica yang dirilis tahun 1995. Gak terasa juga album ini sudah berusia 11 tahun. Time flies, baby. Lagu-lagunya kebanyakan bercerita tentang potret kehidupan remaja di wilayah suburb Inggris. Mungkin ini pula yang pada akhirnya membuat band ini cepat mencuri perhatian anak-anak muda di Inggris: mereka merasa lagu-lagu di album ini mewakili perasaan mereka sebagai anak muda.

The View from the Afternoon

Album ini dimulai dengan gemuruh drum yang asoy dan tone gitar ringan yang dimainkan dalam tempo yang cepat. Gue suka permainan drum di lagu ini. Terutama di bagian chorus akhir sebelum lagu ini berakhir. 

I want to see all of the things that we've already seen
 I Bet You Look Good on the Dancefloor

Single pertama mereka yang diambil dari album ini. Intronya langsung menghentak cepat. Ahh, I love this song. Terutama lick di bagian tengah. Dude,it's totally cool.


Oh, there ain't no love, no Montagues or Capulets
Just banging tunes and DJ sets and
Dirty dance floors and dreams of naughtiness
 Fake Tales of San Francisco 

Gue jujur pertama kali denger lagu ini dari video game. Entahlah game apa tapi yang jelas dari console. Lagu ini adalah lagu Arctic Monkeys pertama yang gue kulik, lagu Arctic Monkeys pertama yang gue mainin bareng band gue jaman SMA, dan lagu ini juga menjadi lagu pembuka pertemuan gue bersama teman-teman skena permusikan. Lagu ini sudah menjadi saksi banyak sekali kejadian bersejarah.

Yeah, but his bird said it's amazing though
So all that's left
Is the proof that love's not only blind, but deaf
 Dancing Shoes

Gue selalu senang ketika mainin lagu ini bareng band. Lagu ini gampang dimainin bahkan ketika band gue personilnya cuman bertiga lagu ini masih terasa padat. Gue teringat audisi acara kampus orang waktu itu kita mainin lagu ini. Efek metalzone, gitar Squire murahan, dan bass yang gak nyetem. Gue juga heran kenapa waktu itu kita lolos-lolos aja audisi itu.

The only reason that you came
So what you scared for?
Well, don't you always do the same?
It's what you’re there for, but no
You Probably Couldn't See for the Lights But You Were Staring Right at Me

Kalo lo lagi di panggung entah dalam occasion apapun dan lampu panggung menyala garang di atas panggung sudah tentu kemampuan mata lo dalam melihat ke arah penonton berkurang drastis. Yang lo lihat cuma cahaya putih di sekeliling lo. Nah, buat yang nonton justru kebalikannya. Orang yang ada di atas panggung terlihat semakin jelas dan matanya seolah-olah menatap ke arah kita. Jangan heran kalo nonton konser kadang kita bia eye contact dengan si penyanyi padahal si penyanyi gak ngeliat apa-apa. hehehe...

They don't want to say hello
Like I want to say hello
Still Take You Home

This one... Ahh gue suka banget. Gue inget pernah bawain lagu ini waktu acara di sebuah kafe halaman belakang beberapa tahun silam. Gue masih inget lho riff sampe lirik lagu ini sekarang. hehe

I fancy you with a passion
Oh, you're a Topshop princess, a rockstar too
But you're a fad and you're a fashion
And I'm having a job trying to talk to you
But it's alright, yeah, I'll put it on one side
Oh, 'cause everybody's looking, you've got control of everyone's eyes including mine
Riot Van

Lagu ini mengingatkan gue pada kejadian cukup memalukan ketika membawakan lagu yang bercerita tentang sekumpulan anak muda sedang bersenang-senang tanpa peduli aturan ini di tahun 2013 kemarin. We played it so bad. Gue gak hafal lirik dan penonton juga kurang respon dengan lagu ini. Wajarlah, lagu ini bukan sebuah hits single yang semua orang tahu.

"Have you been drinking, son?
You don't look old enough to me"
"I'm sorry, officer, is there a certain age you're supposed to be? 'Cause nobody told me"
Red Light Indicates Doors Are Secured

Lagu tentang bocah-bocah remaja mabuk yang berbuat sesuka hatinya. Yeah, emang kebanyakan lagu-lagu di album ini bercerita tentang kehidupan remaja yang masih mencari-cari jati diri di dunia yang sangat luas ini. Semacam usaha untuk menemukan jati diri dan menjadi dewasa lebih dini.

Oh, they wanted to be men
And do some fighting in the street
He said, "No surrender
No chance of retreat"
Mardy Bum

Mardy dalam kosakata urban masyarakat Yorkshire berarti seseorang yang kerjaannya ngambek melulu (tidak kooperatif). Yeah, lagu ini bercerita tentang seorang wanita yang kerjaanya marah-marah melulu walaupun si cowok bisa menenangkan tapi sifat "ngambek" si wanita tetap saja muncul. Banyak orang mungkin yang sudah sangat famliar dengan lagu ini. Beberapa kali gue denger diputar di mall atau jadi scoring di film atau reality show. A very great song.

 just laugh and joke around?
Remember cuddles in the kitchen, yeah
To get things off the ground
And it was' up, up, and away
Oh, but it's right hard to remember that
On a day like today
When you're all argumentative
And you've got the face on
Perhaps Vampires Is a Bit Strong But...

Lagu ini cocok untuk teman kita yang selalu menjadi benalu atau vampire di dalam lingkup tongkrongan.

He said, "I can't believe that you drove all that way
Well how much did they pay ya? How much did they pay ya?
You'd have been better to stay round our way
Thinking about things but not actually doing the things"
When the Sun Goes Down

Lagu ini adalah sejarah. Pertama kali gue manggung bersama band di sebuah kafe sumpek kawasan Jakarta Pusat gue bersama band membawakan lagu ini. Yeah this was the first we played together in a gig. Lagu ini menceritakan tentang prostitusi yang ada sekitaran studio tempat Arctic Monkeys rekaman dan latihan.

Look, here comes a Ford Mondeo
Isn't he Mr. Inconspicuous?
And he don't even have to say owt
She's in the stance ready to get picked up
Bet she's delighted when she sees him
Pulling in and giving her the eye
Because she must be fucking freezing
Scantily-clad beneath the clear night sky
It don't stop in the winter, no

From the Ritz to the Rubble 

Another song about clubbing experience in Sheffield. Singkat kata lagu ini tentang seseorang yang ditendang keluar dari klub malam oleh para bouncers sangar penjaga pintu klub.

Well, I'm so glad they turned us all away
We'll put it down to fate
I thought a thousand million things
That I could never think this morning
Got too deep
But how deep is too deep?
A Certain Romance

Lagu ini adalah sebuah bentuk nyata pendewasaan diri. Orang-orang yang sudah hidup berdampingan sama kita terkadang punya pola hidup dan kesukaan yang berbeda dan apapun yang kita bilang ke mereka hal tersebut tidak akan mengubah pola pikir mereka begitu saja.

Yah, gue juga merasa demikian koq. Most of my friends, been together since high school or something. They turn into something I hate the most. Yeah, you know, they act like chavs, gentlemen, and "scientists" at the same time. Why should I mad at them anyway. Just don't give them a hoot. It's their life. So, this song kinda reminds me of them. 

But over there, there's friends of mine
What can I say? I've known 'em for a long long time
And they might overstep the line
But you just cannot get angry in the same way
No, not in the same way
Said, not in the same way
Oh no, oh no, no

Seperti yang sudah gue utarakan di atas bahwa album ini adalah saksi pendewasaan diri gue. There's some kind of correlation between me and this album. Yeah, it's a great album. I do really love it.

***
Well, it's ever so funny'Cause I don't think you're special, I don't think you're coolYou're just probably alrightBut under these lights you look beautifulAnd I'm struggling, I can't see through your fake tanYeah, and you know it for a fact that everybody's eating out of your hands

***

picture source: http://relayfm.s3.amazonaws.com/assets/Inquisitive/Whatever.jpg 

Friday, 2 June 2017

A Space Boy Dream

Sebuah pohon tumbuh subur di atas bukit merah yang basah karena darah. Batang dan dahannya terbuat dari aluminium. Akar kawatnya menancap gagah menusuk tanah merah yang belum kering betul dari darah. Merah. Daun-daun besi berwarna abu-abu berguguran. Pohon itu berbuahkan amunisi, bom, rudal, dan segala jenis senjata pemusnah massal.

Konon barangsiapa mampu mendaki bukit merah tersebut dan menyentuh pohon tersebut akan melihat kehidupan abadi yang sesungguhnya. Siapa yang tahan menginjak tanah lembek dan lengket oleh darah ditambah aroma busuk yang menyengat?

Dunia yang penuh karat.

***

Seorang wanita datang, duduk sudut kafetaria bernuansa industrial. Dia berkata, "Berikan padaku secangkir kopi yang hitamnya mengalahkan kegelapan malam dan manisnya mengalahkan madu!"

Kacamata berbingkai tulai rusuk manusia dan kalung rantai yang berkarat menjadi aksesoris yang cukup menarik perhatian.

"Kopi Maut" demikian para pelayan menyebut pesanan si wanita tersebut. Si wanita menyeruput ujung cangkirnya lalu tersenyum senang dan senyumannya berubah menjadi tawa yang memekakkan telinga. 

"Bolehkah aku bertanya padamu wahai Barista  Agung?" si wanita bertanya pada sang Barista Agung peracik kopi terbaik yang ada di negeri ini bahkan di seluruh jagat raya.

"Silakan nona, apakah yang ingin kau tanyakan?" 

"Bertahun-tahun aku mengelilingi dunia ini. Beribu-ribu kilometer sudah kutempuh dan puluhan peracik kopi yang katanya terbaik di tempat itu sudah menyajikan kopi untuk kucicipi tapi tak satupun memenuhi seleraku. Mendekati pun tidak. Bagaimana caranya engkau mampu membuat kopi paling enak di dunia ini?" 

Sang Barista Agung hanya menyunggingkan senyum aneh yang misterius. Entah apa maksud dari senyuman itu kita tidak akan pernah tahu.

***

Seorang wanita berlari keluar dari rumah kayu yang sedang dilalap api.
Separuh wajahnya terbakar. 
Dia berteriak-teriak meminta tolong pada seorang laki-laki kurus yang kebingungan.
Semakin dia berteriak kesakitan semakin si laki-laki kebingungan.
Darah, air mata, dan nanah menyembur keluar dari separuh wajahnya yang terbakar.
Separuh wajahnya hilang terbakar.
Si laki-laki hanya terdiam.
Si wanita yang terbakar separuh wajahnya mengerang dan menjerit kesakitan.
Si laki-laki semakin terdiam menatap dua bola mata yang sekarang bentuknya tak lagi sama.
Sebelah kiri mengeluarkan air mata bening mengalir di pipi yang halus sedangkan sebelah kanan mengeluarkan air mata bercampur darah mengalir di kulit pipi yang mengelupas terbakar api.
Si laki-laki hanya terdiam lalu membalikkan badannya dan berjalan dengan langkah pelan penuh kebingungan.
Dia nampak kenal dengan sebelah wajah yang tidak terbakar.
Dia tahu betul mata itu.
Dia benci air mata yang keluar dari wajah sebelah kiri.
Walau akhirnya dia menyerah dengan kebingungan dan memilih pergi.


***

Tulisan di atas adalah beberapa bagian yang masih gue ingat dari mimpi-mimpi absurd gue dan  belakangan ini mengganggu gue ketika tidur. Gak tahu deh apa artinya. Apakah anda percaya pertanda mimpi? 

Wednesday, 31 May 2017

What's Your Story? Hey Look! We've Made History. (part II)

Suatu hari nanti mereka akan kembali ingat dengan suara berisik dari speaker murahan di dalam sebuah studio di pinggir kali yang mengeluarkan aroma sampah menyengat. Sudut sembilan puluh derajat tempat mereka bercengkerama juga akan kembali hinggap ke dalam pikiran.

Arctic Monkeys,The Stone Roses,The Kinks,The Strokes, Nirvana, Joy Division, sampai The Vaselines pernah bermain di sana dalam wujud yang berbeda.

Gitar-gitar murahan dengan kualitas buruk yang dilabeli dengan merk ternama menjadi "senjata" yang untuk sementara membuat mereka puas. Atau mungkin mereka sudah rindu dengan suara cymbal yang nyaring tak karakter dan nampak sudah jenuh dihajar dari pagi hingga malam. Lampu redup hemat energi menyinari optimisme dan tekad mereka.

Dari sanalah mimpi itu lahir dan beranakkan kekecewaan,marah,sedih,putus asa, dan tidak peduli.

Hari Minggu jam satu selalu menjadi waktu yang tepat untuk meluapkan energi remaja mereka yang sudah kelewat batas. Dalam dua jam ke depan suara berisik yang timbul dari dalam pintu dengan peredam buatan sederhana menjadi bukti luapan energi mereka.

They were young.

Aku melihat mata-mata penuh optimisme itu. Aku teringat masa ketika beban hidup itu hanya berupa cerita belaka. Tidak punya makna. Jalan kehidupan mulus diaspal tak akan hancur walau dilindas. Aku lihat mereka bercengkerama riang gembira persis seperti yang aku alami dulu.


"Keep do the noisy thing, Sam!"

"I've never seen anything like that in my life."

"Gilak! Lo gila! Asli, lo gila!

"Kebisingan yang hakiki."

"You did it! It was awesome."


Terkadang hidup punya caranya sendiri untuk membuat kita tetap terkejut. Petasan yang abadi dan meledak bisa kapan saja. Sekarang terserah kita mau bagaimana. Untuk saat ini saya tidak mau berhenti menghajar keenam dawai yang terikat kokoh di atas pick-up dan kayu. Tuning tidak lazim dan aksi brutal tanpa aturan di atas panggung sederhana menjadi ritual suci yang tidak akan pernah usai.


Saya tidak mau mati bosan! I'll see you on the other side, boys! See yaa!