Friday, 13 January 2017

Cerita Senja

"Aku cinta padamu senja," entah mengapa aku berbisik sembari memandang ke atas langit jingga di kota kesayangan kita. Mungkin bisa kuraih jinggamu dan kubawa pulang agar dia abadi bersama denganku.

Aku ingin cerita tentang mereka yang datang dan pergi atau tentang kebencian yang bertunas,bertumbuh dan berbuah di depan mataku. Kesalahanku adalah tidak menginjak kebencian selagi dia masih berbentuk tunas.

Senja, salahku di mana? Apa yang mereka lihat dan tidak pernah kulihat sehingga membuatku dipersalahkan atas kekacauan dunia ini?

Aku cinta padamu senja. Senja, kau memang hebat! Umurmu pendek tapi semua orang berebut ingin mengabadikanmu baik secara analog sampai digital entah di puncak gunung atau di tepi pantai tapi aku menyimpanmu secara abadi masuk ke kantung memori otakku dan kubiarkan engkau bermain dengan teman-teman di kepalaku.

Senja, aku ingin cerita tentang gaji yang tak pernah cukup,macetnya jalanan menuju rumah,rekan kerjaku yang jenaka,tentang orang tuaku yang mulai menua,tentang pekerjaanku yang menyenangkan,tentang tagihan yang datang tiap bulan, dan tentang hidupku yang nyaris kehilangan makna.

Aku cinta padamu Senja.




Tuesday, 3 January 2017

Tahun Baru 2017



Tidak ada yang istimewa. 
Hanya kau,aku,dan jalanan mungkin tempat tepat untuk melewatkan pergantian tahun.

Mari dengar, ini lagu-lagu yang menyelamatkanku dari maut yang kubuat sendiri.
Baca dan pahami liriknya. Mereka mungkin tak punya arti bagi orang-orang di luar sana tapi bagiku lagu-lagu ini menyelamatkan nyawaku dari pisau dan racun.

Chamomile dan Caffeine bukan pasangan yang tepat.

"It's like in the middle of a warzone..." ujarku memandang langit yang memerah dan penuh bau mercon yang merebak menguasai malam.

Selamat tahun baru! 
Hidupku ditimpa warna baru, bukan substitusi tapi dia adalah primer lain yang mengubah lukisan kehidupan menjadi lebih berwarna. Hiduplah abstrak! Terpujilah dia diantara semua teori seni yang pernah ada di dunia.

Habiskan saja semua fast food di depan mata kita dan cerita tentang masa jaya adalah sebuah cerita yang tetap seru untuk disimak oleh siapapun juga. 

Roda berkaratku mulai berputar terlalu cepat meninggalkan jejak-jejak kehidupan di masa lalu penuh darah dan air mata.

The streets are fields that never die. 

Hai engkau tokoh yang datang mendadak, siapkah engkau beradu cepat di jalur tanda tanya? Beri aku kejutan, beri aku warna baru, beri aku perspektif baru, dan nikmati saja lara datang akibat perbuatan kita sendiri.

Selamat datang! Mari berpesta! 

Tuesday, 20 December 2016

Abrasi


Pantai.
Tempat buat santai.

Gue inget waktu gue ke Parangtritis gue langsung berasa ada di scene pembuka film "Saving Private Ryan" dikarenakan kondisi pasir yang menghitam penuh minyak dan aroma yang kurang sedap karena ceceran kotoran kuda. Mungkin bedanya gaada suara senapan mesin,bom,teriakan mereka yang tertembak dan bau darah.

Tapi gue sungguh takjub melihat ombak yang besar menghantam bibir pantai tanpa ampun. Kayanya si ombak juga nampak penasaran lalu berusaha menyeret semua pasir di pantai tenggelam ke dasar lautan.

Pantai... gue selalu mengaku gasuka pantai. Beberapa tahun lalu gue ke Bali bersama keluaga dan setiap kali main ke pantai gue menolak untuk terjun berenang bersama yang lainnya. Bahkan outfit gue sangat tidak "pantai" yaitu dengan celana jeans biru yang robek di bagian lutut,kaos, dan sepatu converse lebih mirip kaya orang mau dateng ke gig dibanding liburan ke pantai. Kerjaan gue cuman duduk,merokok,dan melihat ombak menghantam pantai tanpa ampun.

Kalo lo jalan darat dari Jawa tengah menuju ke Jawa Timur lewat Pantura lo bakal ngelewatin jalanan dengan gugusan pantai di sebelah kiri (kalo gak salah!) dan ombaknya luar biasa gede buat gue. Gue takjub sama kekuatan ombak menghantam pantai meninggalkan buih dan kembali ke lautan. 

Gue cuma suka melihat ombak.

Waktu nonton "Chasing Mavericks" akhirnya gue nemu film yang bisa menggambarkan kecintaan gue sama gelombang. Walau gue bukan surfer sih, hehe.

Pikiran kita juga nampak seperti pantai yang dihantam ombak terus menerus hingga abrasi karena tidak ada "mangrove" yang mampu melindungi pikiran sehingga akhirnya turut larut ke dasar lautan. Untuk mereka yang beruntung dan menanam mangrove sedari dini ombak-ombak tersebut tidak akan menjadi suatu masalah besar. Bahkan hanya nampak seperti sedang mengajak daratan untuk bermain dengan gembira.

Abrasi pikiran yang membuat orang-orang menjadi jauh,kehilangan arah,tidak terprediksi,dan sulit dimengerti. Seperti pantai yang mengalami abrasi dan akhirnya hilang terganti dengan luapan air laut. 

Yang tersisa hanyalah kenangan tentang pantai indah tempat orang-orang berkumpul tertawa lepas,bermain air,menikmati waktu,menunggu senja,saling mencinta,menyepi,dan terduduk lelah dengan wajah senang diterpa angin laut.

Thursday, 8 December 2016

Belle and Sebastian - Tigermilk (1996)





Album debut dari salah satu band favorit gue: Belle and Sebastian. Direkam cepat dan efisien di Glasgow tahun 1996, album ini menjadi tonggak awal sensasi indie-pop ala mereka. Tidak terasa sudah 20 tahun yang lalu yah. Dan sampai sekarang gue masih mendengarkan album ini. Fyuuh, twenty years and still kicking my ears.


Cover albumnya jujur agak sedikit nyeleneh dengan menampilkan model yang topless dan berpose seperti sedang menyusui boneka anak harimau (atawa macan). Album ini termasuk langka karena hanya dicetak seribu kopi aja dan baru dirilis kembali tahun 1999. Okeh, yang gue punya itu CD yang rilisan ulang tahun '99.

Banyak yang punya komentar macam-macam tentang album ini, banyak yang bilang album ini diawali dan diakhiri dengan track-track yang canggih tapi in between banyak lagu-lagu shitty sangat.

Ya kalo jujur sih gue agak terganggu dengan track "Electronic Renaissance" entah kenapa. Untuk tema masih seputar apa yang bisa dilihat dan dirasakan sama orang-orang "biasa" pada umumnya. Ini yang jadi kekuatan Stuart Murdoch sebagai frontman dan penulis sebagian besar lagu di band ini. Dia membuat hal-hal yang umum menjadi sesuatu yang exclusive.

Tigermilk itu berasa kaya ajang pemanasan sebelum memasuki album mereka berikutnya yang sangat-sangat canggih "If You're Feeling Sinister" dirilis dua tahun setelah album ini.

The State I Am In

Salah satu lagu terbaik yang ada di album ini dan juga menjadi salah satu karya terbaik Belle and Sebastian. Liriknya kuat,musiknya benar-benar menggambarkan fondasi musik dari Belle and Sebastian. 

I gave myself to sin
And I've been been there and back again
I gave myself to providence
The State That I Am In
Expectations

Lagu favorit gue di album ini. It's like a conversation. Musiknya sungguh menyenangkan dengan tambahan suara trumpet menambah kesan menyenangkan walau liriknya justru menggambarkan situasi sebaliknya. 

And the head said that you were always were a
queer one from the start
For careers you say you want to be remembered 
for your art
Your obsessions get you known throughout the school
for being strange
Making lifesize models of the Velvet Underground in clay

She's Losing It

Lagu ini bercerita tentang Lisa yang mengalami semacam abuse dalam kehidupannya. Lagu ini bercerita tentang keseharian Lisa setelah kejadian buruknya itu. Bagaimana dia memandang berbagai hal dengan penuh rasa skeptis sampai dia bertemu dengan Chelsea, seoarang gadis yang mengalami hal serupa. Mereka merasa senasib dan mulai menjalin hubungan tidak biasa antara perempuan dan perempuan.

You're Just A Baby

Lagu tipikal indie rock 90-an. Jika dibandingkan dengan album-album Belle and Sebastian yang nantinya akan datang memang bisa dibilang lagu-lagu di album ini terkesan lebih "ringan" dan tidak memiliki kesan "dark" nantinya akan muncul di album-album mereka selanjutnya. I don't really dig this song tapi nada dan riff gitar di awalnya lumayan mengena di telinga.

Electronic Renaissance

Di awal gue bilang kalo gue sangat annoyed dengan lagu yang satu ini. Aneh aja tiba-tiba mendengar nada elektronik di tengah jangle-jangle ala indie pop. I must say that I don't really like this song.

I Could Be Dreaming

Riff dengan efek-efek delay/tremolo mengawali lagu berdurasi hampir 6 menit ini. Jujur aja lagu ini rada ngebosenin. But still, I like it. Lagu ini kaya lamunan seseorang di mana orang itu saban hari mengalami hal yang begitu-begitu aja. 

If you had such a dream
Would you get up dan do the things
you've been dreaming

We Rule The School

Nah, kembali lagi Stuart Murdoch menulis lagu dari sudut pandang orang yang terpinggirkan dan termarjinalkan di lingkungan sekolah. I love it. Menurut gue lagu ini kaya semacam ajakan untuk berbuat sesuatu hebat tanpa harus berpikir menjadi seorang yang "hebat" dan dipandang di lingkungan.

Call me a prophet if you like
It's no secret
You know the world is made for men....
Not us

My Wandering Days Are Over

Ahh I love this song! Gue mendengarkan lagu ini terus-menerus waktu jaman depresi berat gue. And yeah it made me feel better that day. Lagu tentang seseorang yang bertemu dengan orang yang akhirnya menjadi sahabat atas dasar persamaan visi dan nasib. And yeah, this was my song. :D


I said "My one man band is over"
I hit the drum for the final time and I walked away
I saw you in Japanese restaurant
You were doing it for businessmen on the piano, Belle
You said it was a living hell
You said that it was hell

I Don't Love Anyone

Kembali ke jalur yang menurut gue sangat mereka. Lagu ini tentang seseorang yang benar-benar skeptis dengan semua hal dan selalu merasa dia gak pernah suka dengan apapun yang ada di dunia. Memilih untuk sendirian ketika semua orang sedang bersama-sama. Yeah, lagu ini tentang kesendirian memang.

But if there's one thing that I learned when I 
was a child
It's to take hiding
Yeah, if there's one that I learned when I 
was still at school
It's to be alone

Mary Jo

Lagu penutup yang powerful kalo menurut gue. This song is typically theirs.Dibuat mengalir seperti sebuah cerita yang dinyanyikan. Gue suka gaya musik mereka yang seperti ini. Ahh, I love this song. Sebuah lagu yang sempurna menutup album yang menjadi awal dari ledakan mereka.

Mary Jo, no one can guess
What you've been through
Now you've got love to burn


Album ini memang dianggap tidak sekuat album-album mereka yang lain. But still it is worth to hear. Dan jelas Belle and Sebastian memulai langkah mereka dari album ini. I love this album, it's still a great album.

Life is never dull in your dreams
A sorry tale of action and the men you left Women,
and the men you
left for intrigue,
and the men you left for dead.

picture source: https://en.wikipedia.org/wiki/Tigermilk

Tuesday, 6 December 2016

Surat Darinya Untuk Diriku

Dear Sam,

First, know that knowing you for the past few weeks has taught me the importance of staying honest and learning to be more outspoken. You express yourself freely, and I want to be able to do the same. I tried to be open during my time with him, but I guess the way he keeps most things to himself has turned me a bit more and more reserved each day without I even realized it. I have been suppressing myself from expressing my true emotions and thoughts, so that me and him won't have to argue about our clashing values every so often.

Now, those days are over. Or at least, I am trying my best to make it so. Please keep that in mind, because now I'd like to state what's been bugging me since last night. Like I said, I don’t want to give you less than the truth. You have given me new points of view, and this is my way of learning to apply it to my current circumstances.

Samuel, I don’t think it's fair for you alone to apologize for last night, because as much as you initiated it, I didn’t exactly stop you either. In fact, I think I have been enjoying too much of your care and attention, when at the same time I haven't actually given you any kind of certainty about our relationship. And it is simply not a fair trade. No excuse, period. Therefore, it's only logical if I take turn on asking you for an apology.

Here is another thing you need to know about me: I am a huge sucker for physical touch. Perhaps that should explain why I spontaneously touch your hand or pat you in the back when I sensed that you need some kind of encouragement. That’s what comforts me, and that’s how I usually comfort others. So when you hugged me and kissed my forehead that first time, as much as I questioned myself "Is it okay to do this so soon?" I also couldn’t help but craving for more.

Last night, the boundaries got even more blurry. One thing led to another and, voila, we kissed. I was a bit undecided at that time, but still, I gave in to the spur of the moment. Little that I know that I'll grow more and more uneasy that night, and even more the morning after.

I spent this whole morning contemplating about it. And I think I've found the answer to why I feel this way.

I do like you, and I love being around you. But my feelings to you haven't grown that deep. And I feel guilty for letting the both of us drowned in the heat. To me, this whole thing has been moving too fast and I don’t feel right to lead you into thinking that our path together is definite.

Being with you brings me back to the field; the one real game I've been unfamiliar with, having spent my days settled in uncertainties. I used to throw away my care about the future. But now with you, I need to set my eyes straight. I'm not fooling around anymore. Which is why, I want to get this right. I don’t want to rush into decisions. I don’t want to jump into anything, when I haven't been exactly certain with myself.

If you want to make this work with me, let me take my time on knowing you better. Let me show you my real self first before you decide to take this to another step. Let us test ourselves, is this a real feeling, or is it just a temporary passion? Do you really fall for me, or your ideas of me? Is that really you I want, or simply your affection?
So, what do you say?


Sincerely yours


Dirinya


*Surat ini ditemukan terpajang di kaca dunia tempat ironi menertawakan kita. Wahai tokoh yang datang mendadak, jangan terlalu lama larut dalam keterkejutan tapi saya harap anda mulai terbiasa dengan kejutan-kejutan lainnya. Kotamu begitu indah dan biarlah dia tetap menjadi indah*

Monday, 28 November 2016

Fake It Until You Make It

Kita adalah manusia-manusia yang hidup di era kepura-puraan. Pura-pura baik,pura-pura pintar, pura-pura mengerti, pura-pura tidak tahu, sampe pura-pura tidur semuanya mengambil peran dalam sandiwara kehidupan yang endingnya tidak jelas kapan.

Fake it until you make it.When you pretend that you're excellent or not in any kind work eventually it will develop the mindset or belief in your subconscious mind.

Kalo kita terlalu lama pura-pura pada akhirnya sifat "pura-pura" itu justru akan menjadi satu kebiasaan dan pikiran kita akan terus mengatakan kalau kita adalah produk dari kepura-puraan tersebut.

Pretend to be nice so you will be nice. Pretend to be sick then you will be sick. Pretend to be excellent then you will be an excellent type of person. Pretend to have a mental illness then you will have it inside your mind.

Pura-puralah bahagia, maka pikiranmu akan berkata padamu bahwa engkau adalah orang yang paling bahagia di dunia ini. Setidaknya di dalam pikiranmu engkau aman. Jangan mau dibuat sadar, karena kemabukan yang abadi terdengar jauh lebih baik daripada umpatan akan realita yang pahit.

So who are we? The pretenders.
Fake it until you make it.



Sunday, 30 October 2016

Half of Life is Fucking Up. The Other Half is Dealing With It. (part 2)

Sesuai dengan postingan di jilid pertama sokin.

Ketika elo membuka percakapan dengan teman di dalam kepala elo seperti yang gue alami terkadang elo bisa menemukan hal-hal yang luar biasa amazing dan terkadang di luar batas nalar kewajaran yang ditetapkan oleh orang-orang yang merasa normal di luar sana.

Kadang gak kuat dengarnya tapi kadang kalau disimak gue merasa impressed.

Jeez, my friend, ini adalah postingan paling depresif yang mungkin pernah gue buat. 

Beberapa percakapan yang gue lakukan sendiri dengan suara-suara di kepala gue yang kadang gue gak tahan dengernya...


Look at them. So happy. Where is your will to be happy? You are nothing compared to them. Am I right? YOU ARE NOTHING, MATE! NOTHING! UGLY NOBODY.

Pada dasarnya semua yang elo lakukan sia-sia dan tidak berguna. Melawan? Apa yang kau lawan? Mengubah dunia? Elo gak mengubah apa-apa, my friend. Gak ada yang berubah. Elo tetap gini-gini aja dan orang lain berlari kencang meninggalkan elo sendirian di tengah gurun ketidakpastian. Sendiri. Enak? Gak enak kan. 

Dia ninggalin elo karena elo gak waras.

Now you are lying on your sick bed. This ugly hospital. Will you end up here? Nobody wants you anyway. I am the only one who understands you.

Nobody wants your love. Throw it away you ugly piece of shit.

Sendiri kan? Yang boleh mengejar mimpi itu hanya mereka yang punya modal kuat. Elo cuman lulusan kampus gak berguna. Circle lo gaada teman yang bisa bantu elo. Pada akhirnya elo cuman sendirian dan meratapi nasib menjadi kumpulan manusia tidak berguna, Apa bedanya elo sama gembel-gembel jalanan di luar sana. Gaada kan? Semua orang bersenang-senang dengan uang dan kenikmatan sedangkan elo gak bisa apa-apa.

Buang impian bodoh itu!

Dia ninggalin elo karena elo gak berguna. Lihat! Dia lihat dunianya lebih dari elo. Dan elo cuman sampah,sampah,dan sampah. Matipun tak ada yang menangisimu. Mereka cuman datang, lihat, dan memastikan elo sudah mati. Enam bulan kemudian mereka juga udah lupa kalau Samuel Yudhistira pernah hidup. 

Dia menang. Elo kalah. Lihat pisau itu? Pisau bukanlah pisau jika tidak ada darah di matanya.

Dia akan bahagia dan elo akan merana menikmati lara yang tidak kunjung reda.

Mati itu tidak sakit. Sepersekian detik lalu selesai. Dan kita akan duduk berhadapan di meja bicara tentang dunia dari awal penciptaan hingga akhir.

She has friends, you have nothing. I am your only friend. I am real. 

Useless... apa yang bisa lo banggain? Band? Teman-teman yang ninggalin elo? Kampus? Komunitas? Pekerjaan? Proyek-proyek ngayal lo? Percuma! Tabrakin diri lo ke kereta dan itu baru hidup! Killing yourself to live. Just do it! Gak sakit! Percaya deh...

Stop making jokes! Those jokes aren't funny anymore.








Dan sampai detik ini gue masih bertarung dengan mereka....






I will get by I will survive.




Pada akhirnya gue ketemu dengan beberapa teman baru yang menyemangati gue untuk hidup. Mereka yang juga mengalami hal serupa dengan gue. Mereka yang terbuang, mereka yang ditinggalkan sendirian. Mereka yang menunggu mati. Mereka yang mencoba berkali-kali untuk mati sampai cacat. 




Apakah aku akan berhenti mengejar mimpi?
Apakah aku akan berakhir dengan darahku menari di atas mata pisau?
Apakah aku akan berakhir dengan tangan terikat mati?
Apakah aku akan berakhir menjadi seonggok daging di pinggir rel kereta sana?
Apakah aku akan kehilangan akal sehatku?
Apakah aku selamanya akan menjadi pecundang tidak berguna?



Jawabannya belum ada nih, tapi gue harap semuanya akan dijawab dengan satu kata tegas: TIDAK!







Friday, 14 October 2016

Kunjungan Morrissey ke Jakarta 2016


Ketika flyer pengumuman ini keluar di awal akhir Agustus gue langsung bersiaga mengamankan keuangan gue. AJRIIIIT HE'S BACCCCKK! MOZ IS BACK Y'ALL!!! Mantan vokalis The Smiths ini akhirnya kembali mengadakan konser di Jakarta setelah sukses menghibur para fans setianya di tahun 2012. Berhubung waktu doi ke sini tahun 2012 gue masih teramat gembel untuk beli tiket yang harganya ratusan ribu tersebut. Baru setelah gue kerja dan punya penghasilan sendiri sudah saatnya gue menunaikan "ibadah" menyaksikan idola gue yang mengubah hidup gue ini.

Di blog gue sendiri bahkan gue sudah membahas soal The Smiths beberapa kali. Yap, gue sangat mengidolakan doi sebagai figur,musisi,dan penulis lirik yang brilian  (sokin,sokin,sokin).



Rabu, 12 Oktober 2016

Dari pagi gue udah bener-bener gasabar. Di kantor gue udah gak fokus dan temen-temen yang lain juga kebetulah sudah paham dengan kelakuan gue karena emang gue dari sampe kantor juga udah ngebahas soal konser yang bakal gue datangin setelah balik kerja.

Setelah bergelut dengan ketidakf okusan gue di kantor walhasil setengah 5 gue langsung ngibrit ke kantin ngisi tenaga dulu biar pas sing along bisa kueenceng suaranya.Sebenarnya rada kuatir dengan cuaca yang dari siang rada labil cuman gue sudah mempersiapkan skenario buruk dengan menyimpan banyak baju dan celana di bagasi motor gue (syarat pertama beli motor: BAGASI LEGA!!).

Kelar makan gue langsung nyikat motor gue di parkiran tancap gas menuju venue di daerah Senayan sambil bersenandung riang gak sabaran. Man, finally gue bisa liat Moz nyanyi depan mukaaaaaa...

Sampe di Senayan menjelang malam. Seusai memarkir motor gue langsung mempersiapkan diri dengan: NGEROKOK. Kenapa? Karena di venue rokok gaboleh masuk jadinya yawdah ngerokok di marih ajah deh. hehehe (bad habit, jangan ditiru!!). Gue gak langsung masuk ke dalem karena nungguin Radit, salah satu pemain lama di scene indie Jakarta. Salah satu orang yang berjasa memperkenalkan banyak koneksi kepada gue ketika masih era radio kampus. hehehe

Mata gue gak lepas terus tertuju kepada gate depan yang akhirnya gue beri julukan "Gerbang Kemenangan."

Sambil nunggu dan gak ada kopi dan gue males muter-muter nyari kopi banyak banget calo nawarin tiket gue dengan harga super duper kampret yang gue yakin bakal dia jual lagi ke orang lain dengan harga fantastis.

Setelah Radit dateng dengan teman-temannya gue menggabungkan diri daripada ntar basi di dalem sendirian. Weh ternyata venue-nya outdoor di bekas driving range golf. Rumput dan tanah yang basah plus keinjek-injek sama orang-orang ramai membuat banyak booby trap alias kubangan di mana-mana. Walhasil sepatu pada ancur-ancuran kena lumpur tapi cueklah namanya juga konser bodo amat soal sepatu,celana,sampe baju yang kena cipratan lumpur.



Gerbang Kemenangan

Waktu gue dan kawan-kawan masuk di dalem masih memutar-mutar video klip gitu. Gue masih inget pas masuk itu lagi nyetel Sex Pistols yang "God Save The Queen" trus New York Dolls sampe The Ramones. Yeah, Morrissey memang secara pribadi dibesarkan di saat kultur punk/glam lagi gila-gilaan mempengaruhi anak muda Inggris.

Gue demen deh ngeliat panggung yang dikepung sama gedung-gedung perkantoran gitu. Kesannya kya kita berpesta kecil dikelilingi gedung-gedung angkuh yang isinya orang-orang pekerja bermental robot. Dan siraman cahaya dari gedung-gedung itu kya ngasih sensasi antara takjub dengan visualnya sama pikiran kalo besok Kamis harus balik sibuk kembali di perkantoran sibuk. Tapi pedulil hantulah! Yang penting kita bersenang-senang dulu!

Panggungnya jadi kya kecil gitu

Gapake lama, Tiba-tiba panggung menyala terang...
Dan personil band pengiring keluar saling ngasih hormat...
Muncullah dia yang kita semua nantikan... STEVEN PATRICK MORRISSEY!!!!!

Geber langsung lagu pertama: Suedehead
Wah suasana langsung meriah penuh teriakan dan tepuk tangan...
Gue langsung menyanyi bersing along sambil joget gamau kalah sama yang lain sembari sekejab menutup mata penuh penghayatan...

Why do you come here
why do you hang around
I'm so sorry
I'm so sorry
Why do you come here
when you know it makes
things hard for me
when you know, oh
why do you come?
Why do you telephone?
and why send me silly notes?
I'm so sorry
I'm so sorry
why do you come here
when you know it makes
thing hard for me
when you know, oh
why do you come?
You had to sneak into my room
'just' to read my diary
was it just to see all the things
you knew I'd written about you?
and...so many illustrations
I'm so very sickened
oh, I am so sickened NOW

Gue merinding abis sampe air mata gue keluar... ANJROOT! Ini lagu kesukaan gueee...

Kayanya emang dari awal konser ini sengaja gak dikasih ampun karena lagu kedua langsung digeber Alma Matters... Wah sontak semua penonton lelumpatan gak keruan sambil sesekali mengacungkan tangan ke udara gak peduli kena cipratan lumpur yang bisa bikin spokat mandi lumpur. GAK PEDULI! I come to dance and music!




Jujur konser ini sebenarnya bukan konser yang buruk. Moz sempat beberapa kali berucap dan berinteraksi sama penonton. Bahkan dengan jenaka kaya ngajak penonton yang tereak-tereak pake bahasa Indonesia. Doi juga sempat berujar, "Terima kasih" biasalah namanya bule ngomong Indo apalagi ini seorang Morrissey penonton langsung berteriak kegirangan. hehehe

"I don't know what the hell you are saying...but you say it with passion... what? Sorry what? No..no...no get back! No! Get back!" doi berujar dengan mimik seakan-akan ngerti penonton pada tereak apaan. hehehe.. bisa aje ni aki-aki.

Fisik doi juga kyanya udah ga sekuat kya waktu lo ngeliat dia di yutub. Sempet setelah nyanyiin lagu "Speedway" doi spontan berujar, "Oxygen!" trus langsung menghirup oksigen kaleng yang stand by di panggung.

He is still a charming man... 

Meat is Murder

Nah, kebanyakan orang berujar kalo konser Morrissey berakhir anti-klimaks setela tulisan di atas ini. Moz membawakan salah satu tembang dari The Smiths yang berjudul "Meat is Murder" lalu setelah lagu selesai Moz keluar langsung cabut tanpa berujar apapun. Penonton bingung dan mulai berteriak WE WANT MORE WE WANT MORE! Yang nongol bukannya Morrissey tapi malah kru panggung tanpa basa-basi langsung menggulung peralatan band di atas panggung dan dalam sekejab panggung kosong meninggalkan para penonton yang masih melongo dan berharap Moz keluar membawakan beberapa lagu encore sebagai tanda perpisahan.

Sudah ketebak internet ramai penuh spekulasi. Semua bingung dengan apa yang terjadi. Bahkan gue sempet iseng nanya-nanya sama salah satu kru panggung tentang apa yang terjadi. Doi hanya menjawab dengan statement yang lebih musingin kepala, "Jujur aja mas, ini konser paling aneh," ujar doi yang namanya juga gak sempet gue tanyain.

So far gue gamau bandingin sama konser tahun 2012 yang "dinilai" lebih baik dibandingin 2016. Gak sah juga sih kalo dibilang gitu. Cuman karena gaada encore bukan berarti konser ini jelek. Justru gue bingung sama orang-orang yang kebanyakan mainan hape ngerekam,motret,ngapdet socmed. FUCK YOU ALL! I come for music.. Contoh waktu lagu "First of The Gang" gue bergoyang kya orang kesetanan malah diliatin bingung. 

Oi dumbfuck! Lo dateng ke konser musik ngapain? Sekedar apdet biar terlihat fancy? Go fuck yourself then you all stupid fucks! I come to dance! 

Gaada cara yang leih baik untuk menghargai musisi favorit selain dengan berdansa mengikuti irama dan menikmatinya. Gue sih cuek aja joget gila-gilaan, sabodo teuing! 





Buat gue secara pribadi I enjoyed every moment gue di sana. Gue bangga bisa menjadi bagian dari sejarah kedatangan Morrissey yang kedua dan yeah untungnya setlist mereka malam itu sangat-sangat menghibur walau banyak juga hits yang gak dibawain. Suka gue pokoke! One of the best nights I ever have. That moment will live in my mind and heart until the day I die.

Thanks Moz! For the inspiration,music, and thank you for changing my life.


Credit: Radit and the gang untuk foto-fotonya dan untuk nemenin gue yang sendokiran di sana...

Thursday, 6 October 2016

Catatan Terselip di Balik Meja

Meja gue di kantor sumpah ancur parah banget. Berantakan penuh dengan berkas dan tulisan yang sebenarnya bertujuan nyeni  tapi malah jadi kya bengkel motor begini. Akhirnya gue memutuskan untuk sedikit melakukan perubahan dengan merapikan dan membuang hal-hal yang gak penting. Tiba-tiba di bawah tumpukan kertas,flyer, dan bungkus kopi terselip catatan penuh coretan yang tidak biasa. Mata gue menangkap ada sesuatu canggih tertulis di atas kertas tersebut. Langsung gue ambil dan gue lihat perlahan. Ada gambar entah muka orang entah setan entah monster yang serampangan digabar pake pulpen tinta biru. Selain gambar makhluk gajelas itu gue lihat di bawahnya ada semacam puisi ato sajak ato apalah itu dan isinya lumayan aneh.

Gue merasa gak pernah bikin begituan tapi tulisan dan gambar itu jelas-jelas ada di meja gue. Itu ternyata tulisan gue di masa gue depresi beberapa waktu lalu dan entah kenapa gue simpan di kantor. Gue baca dan mencoba mengingat kondisi dan lokasi ketika gue nyorat-nyoret kertas itu.

Kalo gue tarik kesimpulan tulisan ini gue buat ketika gue lagi di luar entah di mana, entah kapan, dan sudah jelas gue sedang dalam pengaruh pikiran gue yang super duper ngaco.


Di depan mereka yang tidak kita kenal
Sumpah dibacakan tanpa suara
 Semua kata membeku
Aksara membujur kaku
Bicara saja sesuka hatimu!

Waktu berhenti
Di bawah lampu ilusi kita berjanji
Di bawah sinarnya kita hilang kendali

Hari semakin gelap

Di bawah lampu ilusi kita berdiri tanpa bayangan


Monday, 26 September 2016

The Sastro - Vol 1 (2005)


source
Salah satu rilisan lokal yang menurut gue teramat pantas untuk dikoleksi dan didengarkan sebelum elo mampus. Album ini merubah warna Jakarta dan band ini menjadi semacam "mitos urban" di kalangan anak-anak muda sekarang.

Pertama kali gue denger lagu-lagu di album ini masih di era radio berjaya. Gue masih inget denger lagu "Rasuna" atau "Lari 100" lewat radio phillips jebot yang nangkring di kamar gue kala itu. Tahun 2005-2006 memang eranya gue ngulik band-band indie lokal walau saat itu gue masih tergila-gila dengan nu-metal atau industrial macam Nine Inch Nails,Linkin Park,Limp Bizkit,Korn, sampe Ministry.

Jujur awalnya gue gak terlalu ngeh dengan kehadiran band satu ini. Dan karakter musik yang dibawakan agak sedikit keluar dari jalur musik yang gue dengerin. Tapi ada satu titik di mana pada akhirnya gue tergoda untuk sekedar dengerin The Sastro secara khusyuk. Waktu itu gue masuk ke masa SMA dan internet mulai booming walau masih ala kadarnya.

Gue suka musik kaya gini.

Menurut gue album ini jenius. Wajar kalau The Sastro menjelma menjadi salah satu legenda musik di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Liriknya aneh bin ajaib tapi entah kenapa malah jadi sesuatu yang menyenangkan untuk dicerna oleh telinga anak remaja lagi mencoba menjadi pujangga jalanan.

Album ini dimulai dengan track instrumental berjudul "Plazamaya" dan sampe detik ini gue masih menganggap kalo lagu ini adalah salah satu lagu paling hebat yang digubah oleh band indie lokal. Banyak unsur yang membuat lagu instrumental berdurasi nyaris sepuluh menit ini menjadi penuh warna. Lo bisa dapetin progressive,indie pop, sampe new wave dicampur aduk dalam satu aransemen lagu. Canggih.

Lalu tiba-tiba di lagu kedua diawali dengan suara rekaman hujan dan sedikit gemuruh petir. Lagu yang merupakan favorit gue di album ini: "Kaktus". Suka banget gue di bagian intro dan liriknya bener-bener ngehe.

tempat kenangan tercipta 
dari baris senja terkunci 

maafkan aku Jakarta tentang kenangan lama akhir pekan berdua

sengaja kukenang bagian lain dimata jejakku, kisah dijiwaku kurangkaikan dalam lamunan kota jakarta yg hujan

Masuk ke lagu ketiga "Telefiksi" yang gak kalah bikin pengen nyanyi-nyanyi sendiri, nuansa mirip-mirip The Police cukup kental di lagu ini. Track berikutnya "Sejati" intro awalnya mirip jingle iklan minuman ringan deh hehe, gue suka liriknya. 

cahaya..
dari sinar purnama
sinar kecil isyarat arti jiwa
kuingin selamanya disini
bersama embun malam
membasuh wajah dunia
dengan bualan

diriku..
terjebak dalam malam kau disini
mengganggu dalam mimpiku

diriku..
merindu peluk hangat
samudera biru

Salah satu lagu The Sastro yang pertama kali gue dengerin mengisi track berikutnya: "Rasuna" walau agak bingung dengan suara ala-ala kartun gitu tapi selebihnya lagu ini adalah lagu yang hebat buat gue. Part gitarnya gue suka banget gatau kenapa. Terdengar catchy dan bikin pengen joget-joget, hehehe. Lalu memasuki salah satu lagu favorit gue di album ini judulnya "Sekilas" gue suka banget lagu ini. Intronya canggih buat canggih.

datang dan pergi aku tak mengerti
dari jalanan sepi seperti mereka
menatap malam penuh curiga

kau mencoba..
Memaksaku bicara
Haruskah dengan senjata
kumasih tak percaya


Yah, album ini gabakal lengkap kalo lagu berikutnya ini gak dibahas. Lagu ini yang membuat gue jadi demen banget sama musik The Sastro dan video klipnya gue masih inget banget pernah diputar di salah satu televisi swasta nasional. Cuek banget, sederhana,dan gue gak ngerti maksud video klipnya. Itu yang mungkin jadi daya tarik band ini: KETIDAKTAHUAN. Lagu ini judulnya "Lari 100" dan percaya atau tidak anak-anak yang lahir di generasi gue ataupun lebih tua dari gue yang dahulu punya hobi mantengin radio atau acara musik yang pada masa itu masih sangat keren pasti pernah dengar lagu ini. Lagu ini keren banget dari segi musik sampe lirik. Sumpah ini keren.

lari 100 di kota ini
lepaskan diri hindari waktu
lari 100 di sore ini
larikan diri dari nafsu

Lari 100 menembus waktu
memutar jalan kehidupanku
diam sembunyi di senja biru
takkan peduli kala sesuatu

satukan langkah, diami massa
sudut bergema riang bertabuh
hitam menjelma singkirkan massa
tertinggal jauh diam membisu

lari 100 di kota ini
lepaskan diri hindari waktu
lari 100 di sore ini
larikan diri dari nafsu

Tiba di akhir album ada lagu "Hantu TV" dengan nuansa new wave yang cukup kental dan semangat ugal-ugalan dengan lirik absurd penuh kritik terhadap hal-hal yang ada di sekitar kita. Sederhana, tapi justru hal-hal sederhana inilah yang terkadang menjadi sesuatu yang essential dan bikin manggut-manggut sambil mikir, "Oh iya yah, koq gak kepikiran yah..."

Gue masih ingat koq kejadian suara abis gue ketika album "Vol 1" merayakan ulang tahunnya yang ke-sepuluh dan pernah gue bahas juga di sini. Sebuah album yang harus kalian dengerin sebelum kalian pergi selamanya. Salah satu rilisan lokal terbaik yang masih gue dengerin sampe sekarang.


jangan…
halangi aku menjadi
semakin dekat dibalik mimpi-mimpi
kini nyata dan terus semakin nyata



credit to https://gulagilalugu.wordpress.com/2010/09/20/the-sastro/