Thursday, 8 December 2016

Belle and Sebastian - Tigermilk (1996)




Album debut dari salah satu band favorit gue: Belle and Sebastian. Direkam cepat dan efisien di Glasgow tahun 1996, album ini menjadi tonggak awal sensasi indie-pop ala mereka. Tidak terasa sudah 20 tahun yang lalu yah. Dan sampai sekarang gue masih mendengarkan album ini. Fyuuh, twenty years and still kicking my ears.


Cover albumnya jujur agak sedikit nyeleneh dengan menampilkan model yang topless dan berpose seperti sedang menyusui boneka anak harimau (atawa macan). Album ini termasuk langka karena hanya dicetak seribu kopi aja dan baru dirilis kembali tahun 1999. Okeh, yang gue punya itu CD yang rilisan ulang tahun '99.

Banyak yang punya komentar macam-macam tentang album ini, banyak yang bilang album ini diawali dan diakhiri dengan track-track yang canggih tapi in between banyak lagu-lagu yang shitty sangat.

Ya kalo jujur sih gue agak terganggu dengan track "Electronic Renaissance" entah kenapa. Untuk tema masih seputar apa yang bisa dilihat dan dirasakan sama orang-orang "biasa" pada umumnya. Ini yang jadi kekuatan Stuart Murdoch sebagai frontman dan penulis sebagian besar lagu di band ini. Dia membuat hal-hal yang umum menjadi sesuatu yang exclusive.

Tigermilk itu berasa kaya ajang pemanasan sebelum memasuki album mereka berikutnya yang sangat-sangat canggih "If You're Feeling Sinister" yang dirilis dua tahun setelah album ini.

The State I Am In

Salah satu lagu terbaik yang ada di album ini dan juga menjadi salah satu karya terbaik Belle and Sebastian. Liriknya kuat,musiknya benar-benar menggambarkan fondasi musik dari Belle and Sebastian. 

I gave myself to sin
And I've been been there and back again
I gave myself to providence
The State That I Am In
Expectations

Lagu favorit gue di album ini. It's like a conversatio. Musiknya sungguh menyenangkan dengan tambahan suara trumpet yang menambah kesan menyenangkan walau liriknya justru menggambarkan situasi yang sebaliknya. 

And the head said that you were always were a
queer one from the start
For careers you say you want to be remembered 
for your art
Your obsessions get you known throughout the school
for being strange
Making lifesize models of the Velvet Underground in clay

She's Losing It

Lagu ini bercerita tentang Lisa yang mengalami semacam abuse dalam kehidupannya. Lagu ini bercerita tentang keseharian Lisa setelah kejadian itu. Bagaimana dia memandang berbagai hal dengan penuh skeptis sampai dia bertemu dengan Chelsea, seoarang gadis yang mengalami hal serupa. Mereka merasa senasib dan mulai menjalin hubungan yang tidak biasa.

You're Just A Baby

Lagu tipikal indie rock 90-an. Jika dibandingkan dengan album-album Belle and Sebastian yang nantinya akan datang memang bisa dibilang lagu-lagu di album ini terkesan lebih "ringan" dan tidak memiliki kesan "dark" yang nantinya akan muncul di album-album mereka selanjutnya. I don't really dig this song tapi nada dan riff gitar di awalnya lumayan mengena di telinga.

Electronic Renaissance

Di awal gue bilang kalo gue sangat annoyed dengan lagu yang satu ini. Aneh aja tiba-tiba mendengar nada elektronik di tengah jangle-jangle ala indie pop. I must say that I don't really like this song.

I Could Be Dreaming

Riff dengan efek-efek delay/tremolo mengawali lagu berdurasi hampir 6 menit ini. Jujur aja lagu ini rada ngebosenin. But still, I like it. Lagu ini kaya lamunan seseorang yang saban hari mengalami hal yang itu-itu aja. 

If you had such a dream
Would you get up dan do the things
you've been dreaming

We Rule The School

Nah, kembali lagi Stuart Murdoch menulis lagu dari sudut pandang orang yang terpinggirkan dan termarjinalkan di lingkungan sekolah. I love it. Menurut gue lagu ini kaya semacam ajakan untuk berbuat sesuatu yang hebat tanpa harus berpikir menjadi seorang yang "hebat" dan dipandang di lingkungan.

Call me a prophet if you like
It's no secret
You know the world is made for men....
Not us

My Wandering Days Are Over

Ahh I love this song! Gue mendengarkan lagu ini terus-menerus waktu jaman depresi berat gue. And yeah it made me feel better that day. Lagu tentang seseorang yang bertemu dengan orang yang akhirnya menjadi sahabat atas dasar persamaan visi dan nasib. And yeah, this was my song. :D


I said "My one man band is over"
I hit the drum for the final time and I walked away
I saw you in Japanese restaurant
You were doing it for businessmen on the piano, Belle
You said it was a living hell
You said that it was hell

I Don't Love Anyone

Kembali ke jalur yang menurut gue sangat mereka. Lagu ini tentang seseorang yang benar-benar skeptis dengan semua hal dan selalu merasa dia gak pernah suka dengan apapun yang ada di dunia. Memilih untuk sendirian ketika semua orang sedang bersama-sama. Yeah, lagu ini tentang kesendirian memang.

But if there's one thing that I learned when I 
was a child
It's to take hiding
Yeah, if there's one that I learned when I 
was still at school
It's to be alone

Mary Jo

Lagu penutup yang powerful kalo menurut gue. This song is typically theirs.Dibuat mengalir seperti sebuah cerita yang dinyanyikan. Gue suka gaya musik mereka yang seperti ini. Ahh, I love this song. Sebuah lagu yang sempurna menutup album yang menjadi awal dari ledakan mereka.

Mary Jo, no one can guess
What you've been through
Now you've got love to burn


Album ini memang dianggap tidak sekuat album-album mereka yang lain. But still it is worth to hear. Dan jelas Belle and Sebastian memulai langkah mereka dari album ini. I love this album, it's still a great album.

Life is never dull in your dreams
A sorry tale of action and the men you left Women,
and the men you
left for intrigue,
and the men you left for dead.

picture source: https://en.wikipedia.org/wiki/Tigermilk

Tuesday, 6 December 2016

Surat Darinya Untuk Diriku

Dear Sam,

First, know that knowing you for the past few weeks has taught me the importance of staying honest and learning to be more outspoken. You express yourself freely, and I want to be able to do the same. I tried to be open during my time with him, but I guess the way he keeps most things to himself has turned me a bit more and more reserved each day without I even realized it. I have been suppressing myself from expressing my true emotions and thoughts, so that me and him won't have to argue about our clashing values every so often.

Now, those days are over. Or at least, I am trying my best to make it so. Please keep that in mind, because now I'd like to state what's been bugging me since last night. Like I said, I don’t want to give you less than the truth. You have given me new points of view, and this is my way of learning to apply it to my current circumstances.

Samuel, I don’t think it's fair for you alone to apologize for last night, because as much as you initiated it, I didn’t exactly stop you either. In fact, I think I have been enjoying too much of your care and attention, when at the same time I haven't actually given you any kind of certainty about our relationship. And it is simply not a fair trade. No excuse, period. Therefore, it's only logical if I take turn on asking you for an apology.

Here is another thing you need to know about me: I am a huge sucker for physical touch. Perhaps that should explain why I spontaneously touch your hand or pat you in the back when I sensed that you need some kind of encouragement. That’s what comforts me, and that’s how I usually comfort others. So when you hugged me and kissed my forehead that first time, as much as I questioned myself "Is it okay to do this so soon?" I also couldn’t help but craving for more.

Last night, the boundaries got even more blurry. One thing led to another and, voila, we kissed. I was a bit undecided at that time, but still, I gave in to the spur of the moment. Little that I know that I'll grow more and more uneasy that night, and even more the morning after.

I spent this whole morning contemplating about it. And I think I've found the answer to why I feel this way.

I do like you, and I love being around you. But my feelings to you haven't grown that deep. And I feel guilty for letting the both of us drowned in the heat. To me, this whole thing has been moving too fast and I don’t feel right to lead you into thinking that our path together is definite.

Being with you brings me back to the field; the one real game I've been unfamiliar with, having spent my days settled in uncertainties. I used to throw away my care about the future. But now with you, I need to set my eyes straight. I'm not fooling around anymore. Which is why, I want to get this right. I don’t want to rush into decisions. I don’t want to jump into anything, when I haven't been exactly certain with myself.

If you want to make this work with me, let me take my time on knowing you better. Let me show you my real self first before you decide to take this to another step. Let us test ourselves, is this a real feeling, or is it just a temporary passion? Do you really fall for me, or your ideas of me? Is that really you I want, or simply your affection?
So, what do you say?


Sincerely yours


Dirinya


*Surat ini ditemukan terpajang di kaca dunia tempat ironi menertawakan kita. Wahai tokoh yang datang mendadak, jangan terlalu lama larut dalam keterkejutan tapi saya harap anda mulai terbiasa dengan kejutan-kejutan lainnya. Kotamu begitu indah dan biarlah dia tetap menjadi indah*

Monday, 28 November 2016

Fake It Until You Make It

Kita adalah manusia-manusia yang hidup di era kepura-puraan. Pura-pura baik,pura-pura pintar, pura-pura mengerti, pura-pura tidak tahu, sampe pura-pura tidur semuanya mengambil peran dalam sandiwara kehidupan yang endingnya tidak jelas kapan.

Fake it until you make it.When you pretend that you're excellent or not in any kind work eventually it will develop the mindset or belief in your subconscious mind.

Kalo kita terlalu lama pura-pura pada akhirnya sifat "pura-pura" itu justru akan menjadi satu kebiasaan dan pikiran kita akan terus mengatakan kalau kita adalah produk dari kepura-puraan tersebut.

Pretend to be nice so you will be nice. Pretend to be sick then you will be sick. Pretend to be excellent then you will be an excellent type of person. Pretend to have a mental illness then you will have it inside your mind.

Pura-puralah bahagia, maka pikiranmu akan berkata padamu bahwa engkau adalah orang yang paling bahagia di dunia ini. Setidaknya di dalam pikiranmu engkau aman. Jangan mau dibuat sadar, karena kemabukan yang abadi terdengar jauh lebih baik daripada umpatan akan realita yang pahit.

So who are we? The pretenders.
Fake it until you make it.



Sunday, 30 October 2016

Half of Life is Fucking Up. The Other Half is Dealing With It. (part 2)

Sesuai dengan postingan di jilid pertama sokin.

Ketika elo membuka percakapan dengan teman di dalam kepala elo seperti yang gue alami terkadang elo bisa menemukan hal-hal yang luar biasa amazing dan terkadang di luar batas nalar kewajaran yang ditetapkan oleh orang-orang yang merasa normal di luar sana.

Kadang gak kuat dengarnya tapi kadang kalau disimak gue merasa impressed.

Jeez, my friend, ini adalah postingan paling depresif yang mungkin pernah gue buat. 

Beberapa percakapan yang gue lakukan sendiri dengan suara-suara di kepala gue yang kadang gue gak tahan dengernya...


Look at them. So happy. Where is your will to be happy? You are nothing compared to them. Am I right? YOU ARE NOTHING, MATE! NOTHING! UGLY NOBODY.

Pada dasarnya semua yang elo lakukan sia-sia dan tidak berguna. Melawan? Apa yang kau lawan? Mengubah dunia? Elo gak mengubah apa-apa, my friend. Gak ada yang berubah. Elo tetap gini-gini aja dan orang lain berlari kencang meninggalkan elo sendirian di tengah gurun ketidakpastian. Sendiri. Enak? Gak enak kan. 

Dia ninggalin elo karena elo gak waras.

Now you are lying on your sick bed. This ugly hospital. Will you end up here? Nobody wants you anyway. I am the only one who understands you.

Nobody wants your love. Throw it away you ugly piece of shit.

Sendiri kan? Yang boleh mengejar mimpi itu hanya mereka yang punya modal kuat. Elo cuman lulusan kampus gak berguna. Circle lo gaada teman yang bisa bantu elo. Pada akhirnya elo cuman sendirian dan meratapi nasib menjadi kumpulan manusia tidak berguna, Apa bedanya elo sama gembel-gembel jalanan di luar sana. Gaada kan? Semua orang bersenang-senang dengan uang dan kenikmatan sedangkan elo gak bisa apa-apa.

Buang impian bodoh itu!

Dia ninggalin elo karena elo gak berguna. Lihat! Dia lihat dunianya lebih dari elo. Dan elo cuman sampah,sampah,dan sampah. Matipun tak ada yang menangisimu. Mereka cuman datang, lihat, dan memastikan elo sudah mati. Enam bulan kemudian mereka juga udah lupa kalau Samuel Yudhistira pernah hidup. 

Dia menang. Elo kalah. Lihat pisau itu? Pisau bukanlah pisau jika tidak ada darah di matanya.

Dia akan bahagia dan elo akan merana menikmati lara yang tidak kunjung reda.

Mati itu tidak sakit. Sepersekian detik lalu selesai. Dan kita akan duduk berhadapan di meja bicara tentang dunia dari awal penciptaan hingga akhir.

She has friends, you have nothing. I am your only friend. I am real. 

Useless... apa yang bisa lo banggain? Band? Teman-teman yang ninggalin elo? Kampus? Komunitas? Pekerjaan? Proyek-proyek ngayal lo? Percuma! Tabrakin diri lo ke kereta dan itu baru hidup! Killing yourself to live. Just do it! Gak sakit! Percaya deh...

Stop making jokes! Those jokes aren't funny anymore.








Dan sampai detik ini gue masih bertarung dengan mereka....






I will get by I will survive.




Pada akhirnya gue ketemu dengan beberapa teman baru yang menyemangati gue untuk hidup. Mereka yang juga mengalami hal serupa dengan gue. Mereka yang terbuang, mereka yang ditinggalkan sendirian. Mereka yang menunggu mati. Mereka yang mencoba berkali-kali untuk mati sampai cacat. 




Apakah aku akan berhenti mengejar mimpi?
Apakah aku akan berakhir dengan darahku menari di atas mata pisau?
Apakah aku akan berakhir dengan tangan terikat mati?
Apakah aku akan berakhir menjadi seonggok daging di pinggir rel kereta sana?
Apakah aku akan kehilangan akal sehatku?
Apakah aku selamanya akan menjadi pecundang tidak berguna?



Jawabannya belum ada nih, tapi gue harap semuanya akan dijawab dengan satu kata tegas: TIDAK!







Friday, 14 October 2016

Kunjungan Morrissey ke Jakarta 2016


Ketika flyer pengumuman ini keluar di awal akhir Agustus gue langsung bersiaga mengamankan keuangan gue. AJRIIIIT HE'S BACCCCKK! MOZ IS BACK Y'ALL!!! Mantan vokalis The Smiths ini akhirnya kembali mengadakan konser di Jakarta setelah sukses menghibur para fans setianya di tahun 2012. Berhubung waktu doi ke sini tahun 2012 gue masih teramat gembel untuk beli tiket yang harganya ratusan ribu tersebut. Baru setelah gue kerja dan punya penghasilan sendiri sudah saatnya gue menunaikan "ibadah" menyaksikan idola gue yang mengubah hidup gue ini.

Di blog gue sendiri bahkan gue sudah membahas soal The Smiths beberapa kali. Yap, gue sangat mengidolakan doi sebagai figur,musisi,dan penulis lirik yang brilian  (sokin,sokin,sokin).



Rabu, 12 Oktober 2016

Dari pagi gue udah bener-bener gasabar. Di kantor gue udah gak fokus dan temen-temen yang lain juga kebetulah sudah paham dengan kelakuan gue karena emang gue dari sampe kantor juga udah ngebahas soal konser yang bakal gue datangin setelah balik kerja.

Setelah bergelut dengan ketidakf okusan gue di kantor walhasil setengah 5 gue langsung ngibrit ke kantin ngisi tenaga dulu biar pas sing along bisa kueenceng suaranya.Sebenarnya rada kuatir dengan cuaca yang dari siang rada labil cuman gue sudah mempersiapkan skenario buruk dengan menyimpan banyak baju dan celana di bagasi motor gue (syarat pertama beli motor: BAGASI LEGA!!).

Kelar makan gue langsung nyikat motor gue di parkiran tancap gas menuju venue di daerah Senayan sambil bersenandung riang gak sabaran. Man, finally gue bisa liat Moz nyanyi depan mukaaaaaa...

Sampe di Senayan menjelang malam. Seusai memarkir motor gue langsung mempersiapkan diri dengan: NGEROKOK. Kenapa? Karena di venue rokok gaboleh masuk jadinya yawdah ngerokok di marih ajah deh. hehehe (bad habit, jangan ditiru!!). Gue gak langsung masuk ke dalem karena nungguin Radit, salah satu pemain lama di scene indie Jakarta. Salah satu orang yang berjasa memperkenalkan banyak koneksi kepada gue ketika masih era radio kampus. hehehe

Mata gue gak lepas terus tertuju kepada gate depan yang akhirnya gue beri julukan "Gerbang Kemenangan."

Sambil nunggu dan gak ada kopi dan gue males muter-muter nyari kopi banyak banget calo nawarin tiket gue dengan harga super duper kampret yang gue yakin bakal dia jual lagi ke orang lain dengan harga fantastis.

Setelah Radit dateng dengan teman-temannya gue menggabungkan diri daripada ntar basi di dalem sendirian. Weh ternyata venue-nya outdoor di bekas driving range golf. Rumput dan tanah yang basah plus keinjek-injek sama orang-orang ramai membuat banyak booby trap alias kubangan di mana-mana. Walhasil sepatu pada ancur-ancuran kena lumpur tapi cueklah namanya juga konser bodo amat soal sepatu,celana,sampe baju yang kena cipratan lumpur.



Gerbang Kemenangan

Waktu gue dan kawan-kawan masuk di dalem masih memutar-mutar video klip gitu. Gue masih inget pas masuk itu lagi nyetel Sex Pistols yang "God Save The Queen" trus New York Dolls sampe The Ramones. Yeah, Morrissey memang secara pribadi dibesarkan di saat kultur punk/glam lagi gila-gilaan mempengaruhi anak muda Inggris.

Gue demen deh ngeliat panggung yang dikepung sama gedung-gedung perkantoran gitu. Kesannya kya kita berpesta kecil dikelilingi gedung-gedung angkuh yang isinya orang-orang pekerja bermental robot. Dan siraman cahaya dari gedung-gedung itu kya ngasih sensasi antara takjub dengan visualnya sama pikiran kalo besok Kamis harus balik sibuk kembali di perkantoran sibuk. Tapi pedulil hantulah! Yang penting kita bersenang-senang dulu!

Panggungnya jadi kya kecil gitu

Gapake lama, Tiba-tiba panggung menyala terang...
Dan personil band pengiring keluar saling ngasih hormat...
Muncullah dia yang kita semua nantikan... STEVEN PATRICK MORRISSEY!!!!!

Geber langsung lagu pertama: Suedehead
Wah suasana langsung meriah penuh teriakan dan tepuk tangan...
Gue langsung menyanyi bersing along sambil joget gamau kalah sama yang lain sembari sekejab menutup mata penuh penghayatan...

Why do you come here
why do you hang around
I'm so sorry
I'm so sorry
Why do you come here
when you know it makes
things hard for me
when you know, oh
why do you come?
Why do you telephone?
and why send me silly notes?
I'm so sorry
I'm so sorry
why do you come here
when you know it makes
thing hard for me
when you know, oh
why do you come?
You had to sneak into my room
'just' to read my diary
was it just to see all the things
you knew I'd written about you?
and...so many illustrations
I'm so very sickened
oh, I am so sickened NOW

Gue merinding abis sampe air mata gue keluar... ANJROOT! Ini lagu kesukaan gueee...

Kayanya emang dari awal konser ini sengaja gak dikasih ampun karena lagu kedua langsung digeber Alma Matters... Wah sontak semua penonton lelumpatan gak keruan sambil sesekali mengacungkan tangan ke udara gak peduli kena cipratan lumpur yang bisa bikin spokat mandi lumpur. GAK PEDULI! I come to dance and music!




Jujur konser ini sebenarnya bukan konser yang buruk. Moz sempat beberapa kali berucap dan berinteraksi sama penonton. Bahkan dengan jenaka kaya ngajak penonton yang tereak-tereak pake bahasa Indonesia. Doi juga sempat berujar, "Terima kasih" biasalah namanya bule ngomong Indo apalagi ini seorang Morrissey penonton langsung berteriak kegirangan. hehehe

"I don't know what the hell you are saying...but you say it with passion... what? Sorry what? No..no...no get back! No! Get back!" doi berujar dengan mimik seakan-akan ngerti penonton pada tereak apaan. hehehe.. bisa aje ni aki-aki.

Fisik doi juga kyanya udah ga sekuat kya waktu lo ngeliat dia di yutub. Sempet setelah nyanyiin lagu "Speedway" doi spontan berujar, "Oxygen!" trus langsung menghirup oksigen kaleng yang stand by di panggung.

He is still a charming man... 

Meat is Murder

Nah, kebanyakan orang berujar kalo konser Morrissey berakhir anti-klimaks setela tulisan di atas ini. Moz membawakan salah satu tembang dari The Smiths yang berjudul "Meat is Murder" lalu setelah lagu selesai Moz keluar langsung cabut tanpa berujar apapun. Penonton bingung dan mulai berteriak WE WANT MORE WE WANT MORE! Yang nongol bukannya Morrissey tapi malah kru panggung tanpa basa-basi langsung menggulung peralatan band di atas panggung dan dalam sekejab panggung kosong meninggalkan para penonton yang masih melongo dan berharap Moz keluar membawakan beberapa lagu encore sebagai tanda perpisahan.

Sudah ketebak internet ramai penuh spekulasi. Semua bingung dengan apa yang terjadi. Bahkan gue sempet iseng nanya-nanya sama salah satu kru panggung tentang apa yang terjadi. Doi hanya menjawab dengan statement yang lebih musingin kepala, "Jujur aja mas, ini konser paling aneh," ujar doi yang namanya juga gak sempet gue tanyain.

So far gue gamau bandingin sama konser tahun 2012 yang "dinilai" lebih baik dibandingin 2016. Gak sah juga sih kalo dibilang gitu. Cuman karena gaada encore bukan berarti konser ini jelek. Justru gue bingung sama orang-orang yang kebanyakan mainan hape ngerekam,motret,ngapdet socmed. FUCK YOU ALL! I come for music.. Contoh waktu lagu "First of The Gang" gue bergoyang kya orang kesetanan malah diliatin bingung. 

Oi dumbfuck! Lo dateng ke konser musik ngapain? Sekedar apdet biar terlihat fancy? Go fuck yourself then you all stupid fucks! I come to dance! 

Gaada cara yang leih baik untuk menghargai musisi favorit selain dengan berdansa mengikuti irama dan menikmatinya. Gue sih cuek aja joget gila-gilaan, sabodo teuing! 





Buat gue secara pribadi I enjoyed every moment gue di sana. Gue bangga bisa menjadi bagian dari sejarah kedatangan Morrissey yang kedua dan yeah untungnya setlist mereka malam itu sangat-sangat menghibur walau banyak juga hits yang gak dibawain. Suka gue pokoke! One of the best nights I ever have. That moment will live in my mind and heart until the day I die.

Thanks Moz! For the inspiration,music, and thank you for changing my life.


Credit: Radit and the gang untuk foto-fotonya dan untuk nemenin gue yang sendokiran di sana...

Thursday, 6 October 2016

Catatan Terselip di Balik Meja

Meja gue di kantor sumpah ancur parah banget. Berantakan penuh dengan berkas dan tulisan yang sebenarnya bertujuan nyeni  tapi malah jadi kya bengkel motor begini. Akhirnya gue memutuskan untuk sedikit melakukan perubahan dengan merapikan dan membuang hal-hal yang gak penting. Tiba-tiba di bawah tumpukan kertas,flyer, dan bungkus kopi terselip catatan penuh coretan yang tidak biasa. Mata gue menangkap ada sesuatu canggih tertulis di atas kertas tersebut. Langsung gue ambil dan gue lihat perlahan. Ada gambar entah muka orang entah setan entah monster yang serampangan digabar pake pulpen tinta biru. Selain gambar makhluk gajelas itu gue lihat di bawahnya ada semacam puisi ato sajak ato apalah itu dan isinya lumayan aneh.

Gue merasa gak pernah bikin begituan tapi tulisan dan gambar itu jelas-jelas ada di meja gue. Itu ternyata tulisan gue di masa gue depresi beberapa waktu lalu dan entah kenapa gue simpan di kantor. Gue baca dan mencoba mengingat kondisi dan lokasi ketika gue nyorat-nyoret kertas itu.

Kalo gue tarik kesimpulan tulisan ini gue buat ketika gue lagi di luar entah di mana, entah kapan, dan sudah jelas gue sedang dalam pengaruh pikiran gue yang super duper ngaco.


Di depan mereka yang tidak kita kenal
Sumpah dibacakan tanpa suara
 Semua kata membeku
Aksara membujur kaku
Bicara saja sesuka hatimu!

Waktu berhenti
Di bawah lampu ilusi kita berjanji
Di bawah sinarnya kita hilang kendali

Hari semakin gelap

Di bawah lampu ilusi kita berdiri tanpa bayangan


Monday, 26 September 2016

The Sastro - Vol 1 (2005)


source
Salah satu rilisan lokal yang menurut gue teramat pantas untuk dikoleksi dan didengarkan sebelum elo mampus. Album ini merubah warna Jakarta dan band ini menjadi semacam "mitos urban" di kalangan anak-anak muda sekarang.

Pertama kali gue denger lagu-lagu di album ini masih di era radio berjaya. Gue masih inget denger lagu "Rasuna" atau "Lari 100" lewat radio phillips jebot yang nangkring di kamar gue kala itu. Tahun 2005-2006 memang eranya gue ngulik band-band indie lokal walau saat itu gue masih tergila-gila dengan nu-metal atau industrial macam Nine Inch Nails,Linkin Park,Limp Bizkit,Korn, sampe Ministry.

Jujur awalnya gue gak terlalu ngeh dengan kehadiran band satu ini. Dan karakter musik yang dibawakan agak sedikit keluar dari jalur musik yang gue dengerin. Tapi ada satu titik di mana pada akhirnya gue tergoda untuk sekedar dengerin The Sastro secara khusyuk. Waktu itu gue masuk ke masa SMA dan internet mulai booming walau masih ala kadarnya.

Gue suka musik kaya gini.

Menurut gue album ini jenius. Wajar kalau The Sastro menjelma menjadi salah satu legenda musik di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Liriknya aneh bin ajaib tapi entah kenapa malah jadi sesuatu yang menyenangkan untuk dicerna oleh telinga anak remaja lagi mencoba menjadi pujangga jalanan.

Album ini dimulai dengan track instrumental berjudul "Plazamaya" dan sampe detik ini gue masih menganggap kalo lagu ini adalah salah satu lagu paling hebat yang digubah oleh band indie lokal. Banyak unsur yang membuat lagu instrumental berdurasi nyaris sepuluh menit ini menjadi penuh warna. Lo bisa dapetin progressive,indie pop, sampe new wave dicampur aduk dalam satu aransemen lagu. Canggih.

Lalu tiba-tiba di lagu kedua diawali dengan suara rekaman hujan dan sedikit gemuruh petir. Lagu yang merupakan favorit gue di album ini: "Kaktus". Suka banget gue di bagian intro dan liriknya bener-bener ngehe.

tempat kenangan tercipta 
dari baris senja terkunci 

maafkan aku Jakarta tentang kenangan lama akhir pekan berdua

sengaja kukenang bagian lain dimata jejakku, kisah dijiwaku kurangkaikan dalam lamunan kota jakarta yg hujan

Masuk ke lagu ketiga "Telefiksi" yang gak kalah bikin pengen nyanyi-nyanyi sendiri, nuansa mirip-mirip The Police cukup kental di lagu ini. Track berikutnya "Sejati" intro awalnya mirip jingle iklan minuman ringan deh hehe, gue suka liriknya. 

cahaya..
dari sinar purnama
sinar kecil isyarat arti jiwa
kuingin selamanya disini
bersama embun malam
membasuh wajah dunia
dengan bualan

diriku..
terjebak dalam malam kau disini
mengganggu dalam mimpiku

diriku..
merindu peluk hangat
samudera biru

Salah satu lagu The Sastro yang pertama kali gue dengerin mengisi track berikutnya: "Rasuna" walau agak bingung dengan suara ala-ala kartun gitu tapi selebihnya lagu ini adalah lagu yang hebat buat gue. Part gitarnya gue suka banget gatau kenapa. Terdengar catchy dan bikin pengen joget-joget, hehehe. Lalu memasuki salah satu lagu favorit gue di album ini judulnya "Sekilas" gue suka banget lagu ini. Intronya canggih buat canggih.

datang dan pergi aku tak mengerti
dari jalanan sepi seperti mereka
menatap malam penuh curiga

kau mencoba..
Memaksaku bicara
Haruskah dengan senjata
kumasih tak percaya


Yah, album ini gabakal lengkap kalo lagu berikutnya ini gak dibahas. Lagu ini yang membuat gue jadi demen banget sama musik The Sastro dan video klipnya gue masih inget banget pernah diputar di salah satu televisi swasta nasional. Cuek banget, sederhana,dan gue gak ngerti maksud video klipnya. Itu yang mungkin jadi daya tarik band ini: KETIDAKTAHUAN. Lagu ini judulnya "Lari 100" dan percaya atau tidak anak-anak yang lahir di generasi gue ataupun lebih tua dari gue yang dahulu punya hobi mantengin radio atau acara musik yang pada masa itu masih sangat keren pasti pernah dengar lagu ini. Lagu ini keren banget dari segi musik sampe lirik. Sumpah ini keren.

lari 100 di kota ini
lepaskan diri hindari waktu
lari 100 di sore ini
larikan diri dari nafsu

Lari 100 menembus waktu
memutar jalan kehidupanku
diam sembunyi di senja biru
takkan peduli kala sesuatu

satukan langkah, diami massa
sudut bergema riang bertabuh
hitam menjelma singkirkan massa
tertinggal jauh diam membisu

lari 100 di kota ini
lepaskan diri hindari waktu
lari 100 di sore ini
larikan diri dari nafsu

Tiba di akhir album ada lagu "Hantu TV" dengan nuansa new wave yang cukup kental dan semangat ugal-ugalan dengan lirik absurd penuh kritik terhadap hal-hal yang ada di sekitar kita. Sederhana, tapi justru hal-hal sederhana inilah yang terkadang menjadi sesuatu yang essential dan bikin manggut-manggut sambil mikir, "Oh iya yah, koq gak kepikiran yah..."

Gue masih ingat koq kejadian suara abis gue ketika album "Vol 1" merayakan ulang tahunnya yang ke-sepuluh dan pernah gue bahas juga di sini. Sebuah album yang harus kalian dengerin sebelum kalian pergi selamanya. Salah satu rilisan lokal terbaik yang masih gue dengerin sampe sekarang.


jangan…
halangi aku menjadi
semakin dekat dibalik mimpi-mimpi
kini nyata dan terus semakin nyata



credit to https://gulagilalugu.wordpress.com/2010/09/20/the-sastro/

Monday, 22 August 2016

The Queen is Dead (1986)

source

I really can't wait to share about one of the best album of 1980's. Untuk para pendengar dan pengamat musik album The Smiths yang satu ini merupakan puncak musikalitas mereka. Di album ini juga terdapat lagu The Smiths paling ikonik dan puitis yang pernah ada. This album titled: "THE QUEEN IS DEAD".

Dirilis pada tahun 1986 di Britania Raya dan sukses menembus beberapa chart musik ternama di Inggris sampai Amerika Utara. 

Beberapa lagu The Smiths yang paling gue suka juga berasal dari album ini kya: "There Is a Light That Never Goes Out", "Cemetry Gates", "The Boy with the Thorn in His Side", dan "Bigmouth Strikes Again" adalah beberapa lagu The Smiths favorit gue yang berasal dari album ini.

Perpaduan gaya jangle pop,British Invasion,musik orkestra,rockabilly, sampai punk rock menghasilkan sebuah mahakarya yang bahkan sampai sekarang masih memberikan pengaruh yang signifikan terhadap musik. Album ini memberikan sebuah sensasi yang luar biasa dan membuat The Smiths dinobatkan sebagai salah satu band terbesar di Inggris pada saat itu.

Aransemen musik yang luar biasa dan penulisan lirik yang cerdas. Beberapa majalah musik di masa itu menulis banyak review positif terhadap album ini.

Okey, mari kita bahas lagu-lagu di album ini yang berhasil membuat gue semakin tergila-gila dengan mereka.


The Queen is Dead

Jujur, ketukan drum Mike Joyce di awal dan sepanjang lagu ini buat gue sangat heavy dibandingkan permainannya di lagu-lagu The Smiths lainnya. What a song... Ketika Johnny Marr mulai bermain dengan pedal wah-wah semua terasa begitu keras ditambah lagi dengan lirik-lirik pedas ala Morrissey. A very great song.

Pass the pub that wrecks your body
And the church, all they want is your money
The Queen is dead, boys
And it's so lonely on a limb

Frankly Mr. Shankly 

Otokritik. Nuansa music hall sungguh amat terasa di lagu yang jelas-jelas menyindir label musik tempat The Smiths pernah bernaung saat itu: Rough Trade Records. 

Frankly, Mr. Shankly, this position I've held 
It pays my way, and it corrodes my soul
I want to leave, you will not miss me 
I want to go down in musical history 

I Know It's Over

This is an emotional song, very emotional. This song starts with minimal drum, quiet strumming acoustic guitar and a bass that intersperses Morrissey's highlighted voice. Menurut gue lagu ini mengisahkan tentang perpisahan yang abadi, akhir dari sebuah cerita yang panjang dan indah. Sebuah lagu yang sangat-sangat indah. Cocok didengarkan di kala hujan. hehehe

Sad veiled bride, please be happy
Handsome groom, give her room
Loud, loutish lover, treat her kindly
Although she needs you more than she loves you

Never Had No One Before

Lagu tentang kesendirian, tentang seseorang yang kesepian. Gue sering banget dengerin lagu ini ketika gue sedang dilanda kesendirian yang benar-benar parah. Gue merasa seperti tokoh dalam lagu ini yang berjalan entah kemana meratapi kensediriannya. Jujur lagu ini berasa banget nuansa 80-an.

I know I'm alone
I'm alone, I'm alone, I'm alone

And I never, never had no one ever
I never had no one ever

Cemetery Gates

Huah, I love this song. Kaya cerita tentang dua orang yang main-main ke kuburan sambil bawa buku masing-masing. Di lagu ini setidaknya ada 3 nama penulis yang disebut: John Keats,William Butler Yeats, dan Oscar Wilde. Faktanya, Morrissey memang adalah seorang yang sangat mengagumi semua karya dari Oscar Wilde dan lirik-lirik yang dia tulis banyak mengambil inspirasi dari Oscar Wilde.

Bigmouth Strikes Again

Salah satu single yang dirillis dari album ini. Lagu ini punya tema umum tentang perilaku kebanyakan manusia yang lebih banyak bicara daripada bertindak. Yep, BIGMOUTH. Sebagai tokoh yang tidak mainstream lagu ini lebih melihat ke sisi orang yang sebenarnya tahu tapi memilih tidak banyak bicara seperti orang-orang yang sok tahu. Sikap. Suara backing vocal wanita di lagu ini ditulis sebagai Ann Coates yang sebenarnya hanyalah tokoh fiktif rekaan Morrissey dan Johnny Marr sebagai bahan lelucon. Nama Ann Coates sendiri diambil dari nama salah satu distrik di kota Manchester yaitu Ancoats. Dan suara backing vocal wanita tersebut adalah suara Morrissey yang bernyanyi dengan efek suara gas helium.

Bigmouth, bigmouth
Bigmouth strikes again
And I've got no right to take my place
With the human race

The Boy with the Thorn in His Side

"The thorn is the music industry," Morrissey pernah berujar demikian dalam salah satu interview. Industri musik yang tidak pernah mau mendengar dan tidak pernah percaya dengan kemurnian sebuah karya dan menilai bagus atau tidaknya sebuah lagu dari berapa uang yang dapat dihasilkan. Lagu ini adalah lagu The Smiths pertama yang muncul dalam promosi video. Sebuah bentuk materi promosi jenis baru yang meledak di tahun 80-an. Awalnya mereka menolak dengan alasan mereka bukan bagian dari kapitalisasi industri musik tapi pada akhirnya label yang menentukan. Lagu ini menjadi favorit gue jujur gue suka banget suara Morrissey di lagu ini. Harmonisasi dengan musiknya benar-benar menghipnotis.

The boy with the thorn in his side 
Behind the hatred there lies 
A murderous desire for love 
How can they look into my eyes 
And still they don't believe me? 
How can they hear me say those words 
Still they don't believe me? 
And if they don't believe me now 
Will they ever believe me? 
And if they don't believe me now 
Will they ever, they ever, believe me?

Vicar in a Tutu

Lagu yang jika didengarkan oleh "close-minded believer" akan menjadi suatu perkara yang cukup besar. Lagu ini terkesan seperti dark joke untuk gereja Katolik. Mengisahkan tentang seseorang yang ditolak dalam lingkungan Katolik dengan alasan "kurang suci". Topik yang berat dibungkus dengan lirik dan musik yang sangat playful. Morrissey kenyataannya memang dibesarkan dalam lingkungan Katolik yang sangat kuat tapi dia sendiri menyatakan bahwa dia tidak pernah percaya terhadap konsep ke-Tuhan-an.

There is a Light That Never Goes Out

Genius!
Lagu ini hebat..puitis nan romantis. Salah satu lagu paling hebat sepanjang sejarah. Gue suka lagu ini. Saking sukanya bahkan di salah satu tembok kamar gue judul lagu ini gue tulis beserta liriknya. gue gabisa jelasin lagi liriknya. Biarkan kalian menentukan. This is a very very great song. 

Take me out tonight 
Where there's music and there's people 
And they're young and alive 
Driving in your car 
I never never want to go home 
Because I haven't got one 
Anymore 

Take me out tonight 
Because I want to see people and I 
Want to see life 
Driving in your car 
Oh, please don't drop me home 
Because it's not my home, it's their
Home, and I'm welcome no more 

And if a double-decker bus 
Crashes into us 
To die by your side 
Is such a heavenly way to die 
And if a ten-ton truck 
Kills the both of us 
To die by your side 
Well, the pleasure - the privilege is mine 

Take me out tonight 
Take me anywhere, I don't care 
I don't care, I don't care 
And in the darkened underpass 
I thought oh God, my chance has come at last
(But then a strange fear gripped me and I 
Just couldn't ask) 

Take me out tonight 
Oh, take me anywhere, I don't care 
I don't care, I don't care 
Driving in your car 
I never never want to go home 
Because I haven't got one, da
Oh, I haven't got one 

And if a double-decker bus 
Crashes into us 
To die by your side 
Is such a heavenly way to die 
And if a ten-ton truck 
Kills the both of us 
To die by your side 
Well, the pleasure - the privilege is mine 

Oh, there is a light and it never goes out 
There is a light and it never goes out 
There is a light and it never goes out 
There is a light and it never goes out 
There is a light and it never goes out



Some Girls Are Bigger Than Others

Rada sexist deh lagu ini. Tapi itulah The Smiths dan Morrissey secara khusus sebagai penulis lirik yang luar biasa cerdas. Dalam salah satu wawancara dengan majalah NME tahun 1986 Morrissey pernah berkata, "The whole idea of womanhood is something that to me is largely unexplored," sehingga akhirnya lahirlah lagu ini yang mengekspos bagian tubuh dari tiap wanita dan bagaimana hal tersebut bisa menjadi perdebatan panjang antar wanita. This song closes The Smiths' third album, The Queen Is Dead. The comedic and rather frivolous lyrics are noted for standing in ironic contrast to the bleak tales told on the rest of the album. 

Yep, seperti statement dari drummer The Smiths, Mike Joyce, "Only Morrissey could get away with that lyric - vegetarianism, sexism, children being murdered."

Sunday, 21 August 2016

I Choose to be Sad

I love sad. Sadness makes you feel more than anything - Jeff Ament- (Pearl Jam)

Sadness is a very interesting idea, this idea of sadness being some kind of default setting that artists will go into. And then I started thinking about this idea of sadness and happiness, and the idea that sadness is very loud, and happiness is quiet. -Glen Hansard- (The Frames,Solo)

I find sadness and strife to be so much more interesting with an upbeat melody. -Zooey Deschanel- (She & Him, Solo)

Sedih. Kemungkinan adalah sesuatu yang teramat dihindari oleh kebanyakan orang. Sangat-sangat dihindari sampai-sampai kalau bisa tidak perlu merasakannya.

Tapi gue menemukan sesuatu yang cukup aneh untuk dilakukan. Kesedihan itu menarik. Suatu perasaan yang menyeimbangkan kehidupan. Coba bayangkan jika di dunia ini tidak ada kesedihan. God, it might be as boring as a plain cracker. 

Untuk mencapai kebahagiaan yang nyaris sempurna terkadang kita harus mengalami kesedihan dalam batas yang nyaris ekstrim. Wah bagaimana tuh maksudnya? Logikanya kya orang lapar, kalo orang kelaparan dikasih makan sederhana aja udah bener-bener senang. Nah, sama kaya gitulah kira-kira.

Intinya jangan sampe terlalu berlarut-larut. Kesedihan yang gue maksud di sini hanya sebagai sumber alternatif untuk membuat karya seni. Sedih boleh koq, berlarut-larut juga sebenarnya hak orang sih. Cuman kalo gue menemukan "fungsi" lain kesedihan sebagai bahan gue menciptakan banyak karya terutama di musik. Bukan jadi "emo thing" tapi lebih ke arah sedih sebagai lelucon. Life is just a joke.

Lagipula hidup gue lebih dekat dengan kesedihan. Kapan terakhir kali gue senyum? Is it wicked when you smile even though you feel like crying?

Iya yah, baru nyadar.

Marilah kita bersedih bersama-sama. Sedihlah. Lalu kemudian tertawa-tawa bukan dalam pengaruh "substansi" tetapi karena kita sadar kalau semua hanya lelucon yang luar biasa lucu. Happy sad. 

"It's really easy to slide into a depression fueled by the pointlessness of existence." -Robert Smith- (The Cure)



Monday, 8 August 2016

Strangeways, Here We Come (1987)

Another Smiths' album. Wajarlah, berhubung mereka band keren dan gue suka jadi gue mau berbagi tentang pandangan gue mengenai album keempat dan terakhir mereka: "Strangeways, Here We Come" yang dirilis 4 bulan setelah band ini menyatakan bubar di tahun 1987.

Let's just skip about the story behind this album ato musikalitas album ini. Orang lain mungkin punya skill dan tanggung jawab lebih untuk menceritakan hal-hal demikian. Di sini gue cuma mau menceritakan hubungan album ini dengan apa yang gue rasakan dan nikmati.


Ini mungkin adalah album The Smiths pertama yang gue punya dan dengerin. Pertama kali gue dengerin "Stop Me If You Think You've Heard This One Before", "Girfriend in a Coma", sama "A Rush and A Push and The Land is Ours" melalui album yang luar biasa ini.


Sayangnya, The Smiths bubar setelah rekaman album ini (waktu dirilis mereka udah bubar). Menurut sumber-sumber yang gue baca album ini juga adalah album favoritnya Morrissey dan Johnny Marr seperti yang dikutip dari perkataan Morrissey, "We say it quite often. At the same time. In our sleep. But in different beds."


Menjadi satu-satunya album di mana Morrissey memainkan instrumen piano di lagu "Death of a Disco Dancer."


Lagu-lagu di album ini emang rata-rata judulnya panjang. Gatau deh kenapa. Kalau dibandingkan dengan album-album The Smiths sebelumnya kayanya tracklist di sini judulnya agak sedikit panjang.

Mari bahas lagunya satu per satu.

1. A Rush and A Push and The Land is Ours

Suara piano di awal langsung disambung masuknya vokal dari Morrissey. Jangling-nya masih berasa walau faktanya tidak ada gitar sama sekali di lagu ini. Gue suka lagu ini. Morrissey masih sering bawain lagu ini setelah bersolo karir dengan beberapa perubahan pada liriknya.

They said : 
"There's too much caffeine 
In your bloodstream 
And a lack of real spice 
In your life" 
2. I Started Something I Couldn't Finish

Gue suka intro gitarnya. Berdistorsi ringan. Salah satu lagu mereka yang gue dengerin di awal gue tahu The Smiths (sekitar jaman SMA). Gue langsung suka. Lagu ini keren banget  sampe sering gue putar ulang di MP3 player gue di jaman itu. Arti lagu ini kayanya juga mirip-mirip sama sifat geblek gue yang hobi maksain orang untuk ikutan "nyebur" dalam satu hal yang orang lain belum tentu suka dan di tengah jalan malah berubah jadi sedikit bencana.

3. Death of a Disco Dancer

Satu-satunya lagu di mana Morrissey memberikan kontribusi instrumen musik. Yep, doi memainkan piano di lagu ini, satu hal yang patut dicatat. Gue suka lagu ini. Tentang kematian dan betapa rasa kemanusiaan mulai dipertanyakan dalam kehidupan sehari-hari.

And if you think Peace 
Is a common goal 
That goes to show 
How little you know
(sebuah lirik yang kick-ass)

4. Girlfriend in a Coma

Ahhh my favourite song!! Lagu maha sarkas,penuh candaan yang ngehek, dan cerdas seperti biasanya gue suka banget lirik-lirik Morrissey yang puitis tapi tetep liar. Saking liarnya sampe lagu ini gadapet airplay di radio-radio Inggris termasuk BBC masa itu.

5. Stop Me If You Think You've Heard This One Before

I love this song. Gitarnya Johnny Marr bener-bener menghipnotis. Gue dulu sempet ngulik lagu ini dalam versi yang cukup kacau. Dan kembali tidak mendapatkan airplay dari radio di Inggris dikarenakan salah satu liriknya terdapat kata-kata "mass murder" yang dinilai terlalu ofensif termasuk lirik yang berbunyi, "a shy,bald, buddhist reflect." 
Gue suka video klip-nya. Jujur aja gue lagi sempet nyari cara bikin emblem kaya di video klip itu trus naik sepeda keliling kota. hehe.

I crashed down on the crossbar 
And the pain was enough to make 
A shy, bald, buddhist reflect 
And plan a mass murder

6. Last Night I Dreamt That Somebody Loved Me

Lagu yang dinilai oleh David Bowie sebagai yang terbaik di album ini dan menyatakan bahwa Morrissey adalah salah satu penulis lirik terhebat sepanjang sejarah. Gue sangat membenarkan Bowie. This is a great song. Liriknya juga sungguh luar biasa. Simpel tapi penuh arti.

Last night I dreamt
That somebody loved me
No hope - but no harm
Just another false alarm
Last night I felt
Real arms around me
No hope - no harm
Just another false alarm
So, tell me how long
Before the last one?
And tell me how long
Before the right one?
This story is old - I KNOW
But it goes on
This story is old - I KNOW
But it goes on
7. Unhappy Birthday 

Lagu sarkas yang memutarbalikkan kondisi tentang ulang tahun seseorang yang menurut kita "jahat". Gue suka lagu ini secara musikalitas sangat di luar pola pikir. Hal sederhana yang menjadi sebuah hal yang monumental dan begitu indah. Cara yang manis untuk menyindir seseorang.

8. Paint A Vulgar Picture

This song kicks our ears with a very "Marr" jangly thing. Jrruweeengwengwengweng. Disusul riff bass-nya Andy Rourke dan hentakan kick drum Mike Joyce. Sayup-sayup terdengar sedikit aksen tambourine baru deh masuk suara Morrissey.
Dari liriknya kayanya menceritakan tentang retorika dunia hiburan (showbiz) di mana musisi mendapat tekanan dalam berkarya demi keuntungan semata tanpa memikirkan sisi estetikanya. Kenyataan yang masih terjadi dalam dunia hiburan terutama musik akhir-akhir ini.

9. Death at One's Elbow

Salah satu lagu yang liriknya gue masih bingung artinya apa. Entah tentang affair,entah tentang suicide, entah tentang pasangan gay. Ada yang bilang diambil dari buku "James Dean is Not Dead" tapi ada juga statement lain yang bilang lagu ini diambil dari buku "The Orton Diaries" yah apapun itu pokoknya inti lagu ini adalah hal yang tragis dan menyedihkan. 

10. I Won't Share You

Final track. Dan sebuah hal yang benar-benar tepat menutup perjalanan album ini dan karir studio The Smiths. This is their legacy. Lagu ini gue sukaaaaa banget. Johnny Marr mainin autoharp di lagu ini. A very sweet song in my opinion. I won't share you/With the drive/The ambition/And the zeal I feel/This is my time. 

Huaah I really love this song. 

Pada akhirnya ini adalah album yang luar biasa. Secara musikalitas tetap mengejutkan dengan beberapa elemen instrumen yang mengisi beberapa lagu. Sayang memang menjadi karya album terakhir dari band yang sudah menginspirasi musisi di generasi selanjutnya seperti The Stone Roses,OASIS,Blur,The Libertines, dan banyak lagi band-band lain.