Malam Sebelum Pertunjukan

February 16, 2024 Samuel Yudhistira

Beberapa duduk tidak tenang...gelisah...Beberapa sedang memanjatkan doa ke Tuhan dengan nama dan cara yang berbeda...Banyak yang merokok...Sebagian berusaha melontarkan candaan tetapi tetap tidak mampu untuk menyembunyikan ketakutan di balik setiap canda.

Mesin-mesin kota berbunyi terus. Lampu-lampu jalan terus menyala, berusaha untuk menghidupkan kota yang tetap harus hidup walau dipaksa untuk mati. Sebagian besar penghuni kota ini masih punya nyawa tapi sudah hilang jiwanya ditelan obsesi. Obsesi untuk menjadi sama dan sederajat dengan mesin-mesin kota. Semua orang sibuk di dalam pikirannya masing-masing. Mereka tenggelam dalam lamunan. Rutinitas untuk bisa selamat menjadi sesuatu yang wajib dimiliki setiap orang di era sekarang ini.

Besides keeping themselves occupied with activities there is always a nagging fear of uncertainty: What will happen? You can hardly sleep that night cause you’re nervous, you’re doing something that most people would walk away from. You know the storm is coming. I was shaking so badly I could not light a cigarette. All kinds of stuff crosses your mind. It’s kind of hard to summarize it, because it can be a variety of things, and thoughts can come on as sort of quick flashes too. These can be totally random, and sometimes just plain odd. We became ghosts.


Semua menantikan perubahan tetapi tidak siap dengan konsekuensi perubahan tersebut. Mungkin mereka hanya jengah sesaat dan berharap perubahan akan membawa kemudahan bagi mereka. Tetapi mungkin tidak, pada dasarnya setiap perubahan sudah mempunyai target kepuasan konsumen masing-masing. Sehingga alangkah tidak bijaknya kita berharap pada perubahan yang dijanjikan. Kembali pada rumusan bahwa setiap hal sudah ditentukan jauh sebelum hal tersebut menjadi nyata. Di dalam keabstrakan warna dan kebijaksanaan dalam setiap aksara kita dibuat terbang tinggi menuju entah apa namanya. 


Malam sebelum pertunjukan!

Sesaat lagi kita akan menjadi bagian dari sebuah peristiwa budaya kecil di mana semua lakon akan menceritakan betapa bosannya keseharian kita dan betapa keseharian sedang diperjualbelikan demi menghibur masyarakat. Kita sudah terlalu terpukau dengan mereka yang mengambil keuntungan dari cerita-cerita sedih. Internet membuka mata masyarakat tentang betapa menyedihkan negara ini tetapi juga internet membuka celah bagi mereka yang kehilangan fondasi kehidupannya untuk beraspirasi terhadap ketidakadilan sambil melakukan pelanggaran berat terhadap keadilan tersebut.

Kegelisahan datang merasuki kepalamu. Di dalamnya sudah terlampau banyak masalah kehidupan sehingga kau mungkin sudah tidak tahan. Matamu beku menatap langit-langit kamarmu. Kosong.

Tumpukan puntung rokok di asbak menjadi saksi bisu betapa engkau menginginkan hari esok tidak perlu datang. Jantungmu berdegup kencang dan keringat meluncur deras dari kepala hingga kakimu. Dingin yang kau rasakan bukan karena suhu di kamarmu tetapi tubuhmu terus memaksakan dirinya menjadi dingin ketika hal yang paling kau butuhkan adalah kehangatan. Tubuhmu tidak bisa lagi merasakan apapun. Kepalamu penuh terisi dengan propaganda kebahagiaan yang entah betul atau tidak.Apakah kehidupan akan jauh lebih baik ketika kita dipaksa untuk menjadi tidak nyata? Apalah artinya bagi dunia jika satu orang tidak penting ini menghilang begitu saja?

Jika memang dunia ini diciptakan untuk kita semua lalu mengapa banyak yang beigtu tersiksa menjalani kehidupan di dunia? Apakah kita semua ini adalah hasil pertempuran antara kebaikan dan kejahatan? Bukankah nilai-nilai yang sudah ditanamkan dalam diri kita sejak kita lahir ini seharusnya melahirkan buah-buah kebajikan? Lalu mengapa derita yang kita tuai?

Besok adalah hari besar!

Kembali kau merenungkan tentang masa muda dan dunia ketika semuanya baik-baik saja. Betapa menyenangkan masa mudamu dan betapa kesulitan dengan begitu mudah bisa ditaklukkan. Nongkrong, bicara tentang musik dan film, menikmati udara yang tidak terlalu segar, semua bercanda, semua bahagia, memulai karir dengan penuh semangat, dan pada akhirnya satu per satu menghilang ditelan bumi.

Pikiranmu kembali melayang mengingat hal-hal buruk yang terlah kau perbuat dan bagaimana rasanya terhukum abadi akibat apa yang telah engkau perbuat. Bukankah kita seharusnya telah ditebus dosanya dengan darah? Apakah layak dirimu ditebus? Layakkah dirimu diselamatkan? Bukankah besok seharusnya engkau akan kembali menghadap DIA yang menciptakan dirimu dan siap merangkul dirimu ke sebuah tempat di mana derita dan beban dunia tidak lagi berlaku? Seharusnya bahagia dirimu.

 

Ada yang pernah berkata bahwa surga dan neraka hanyalah sebuah konsep. Kita adalah makhluk yang mampu menentukan di mana surga dan neraka kita. Pilihan ada di tanganmu. Surga dan neraka dapat kau nikmati selagi kau hidup karena setelah kau mati tidak ada lagi pilihan. Semua akan berhitung tentang betapa baiknya diri mereka ketika mereka masih bernapas di dunia. 


Kau mulai mengutuki dirimu sendiri. Berharapa kalau besok tiba-tiba kiamat datang. Berharap bahwa besok sebuah asteroid besar menabrak Bumi dan semua yang ada di dalamnya akan hancur lebur berantakan. Besok hari besar, kawan! Hari di mana mereka yang sudah menghakimimu secara duniawi akan melaksanakan tugas suci mereka memberantas mereka yang dianggap tidak sejalan dengan peraturan yang dibuat oleh segelintir manusia. 

Besok...ragamu akan hilang tetapi idemu akan bertahan abadi di dunia. Karena seperti yang sudah tertulis dalam sebuah catatan: "Dari dalam kubur suaraku akan jauh lebih keras terdengar!"

Bersiap siagalah karena dari raga yang tertanam akan lahir mereka yang siap untuk melawan ketidakadilan di muka bumi ini.

Besok hari besar!

Photo by Valentin Salja on Unsplash