Friday, 7 April 2017

Faith


You can't see it but you can feel it.

Di bawah sinar lampu seadanya kita bicara tentang apa yang tidak terlihat mata.

Apa yang kau yakini?

Ke mana kau hendak pergi?

Bagaimana bisa kau bertahan menghadapi angin ribut di dalam kepalamu?

Lampu terus berpijar, asap rokok terbang ke udara, tebal di awal lalu hilang perlahan sampai akhirnya benar-benar tembus pandang. Di antara kepulan asap kita sepakat bahwa semua yang terjadi di dunia ini tidaklah kebetulan.

"Tuhan itu simpel. Ngapain dia repot-repot ngurus ini-itu-ini-itu. Wong dia yang bikin semesta," ujarku dengan nada sarkas yang sudah menjadi ciri khas namun masih sulit engkau pahami.

Cause there must be a reason for all the looks we gave and all the things we never said before.


***
Have you and her taking picture of your obsessions?

Aku lelah dengan pikiran obsesifku. Perasaan menekan membuat emosiku tidak stabil. Diciptakan untuk menjadi paranoid. Bosan juga aku mendendam.

Yah, lama-kelamaan aku bosan memelihara dendam terhadap mereka yang dahulu berkhianat. Heran juga ada orang yang cepat sekali bosan bahkan ketika dendam belum terbalaskan dia sudah bosan mendendam.

Sekarang aku ingin memelihara kegilaan. Bosan tinggal di tengah masyarakat yang pura-pura waras dan tidak mau dianggap gila. Apa salahnya menjadi gila? Bahkan tanpa kalian semua sadari kalian sudah menjadi gila dan terpenjara dalam pikiran kalian sendiri.


***
Century of fakers

A sorry tale of action and the men you left for women, and the men you left for intrigue, and the men you left for dead.

Kita bicara tentang masyarakat miskin di sebuah kafetaria dalam mall yang menjual segelas kopi hitam seharga lima puluh ribu. Revolusi dimulai dari tempat tidur dan berakhir dengan retorika yang tidak pernah usai. Kita yang bicara keadilan tanpa sadar berada di garis depan untuk menginjak-injak keadilan itu sendiri.

Slogan-slogan basi yang terus diteriakkan lama-kelamaan membuat kita mual. Politisasi surga menjadi tontonan sehari-hari dan tanpa malu orang-orang itu menunjukkan betapa pura-pura pintarnya mereka. Heran, masih saja mereka berlagak pintar. Apa salahnya menjadi bodoh? Bukankah Steve Jobs yang Agung pernah berkata, "Stay foolish, stay hungry!" kepada mahasiswa-mahasiswa pintar di Stanford sana?

Wahai manusia-manusia berbalut putih penuh kepalsuan aku harap kalian menemukan jalan kalian menuju kedamaian.

***
If you had such dream would you get up and do the things you believe in?

Life is never dull in your dreams.

Mungkin karena itu kita sangat-sangat senang tidur. Betapa nyaman dan menyenangkan hidup dalam mimpi. Semua bisa diatur dan sungguh amat teratur. 

Hidup....
Mimpi....

Hiduplah dalam mimpi. Jangan pernah menyesal karena tidak akan pernah ada yang salah.
Tetaplah hidup.

Related Articles

1 komentar:

Rose said...

singgah sebentar ngambil makna