Tuesday, 25 July 2017

Passer Baroe

Waktu itu Pasar Baru masih menyimpan nuansa klasik dan hangat yang sampai sekarang masih aku ingat rasanya. Ketika beramai-ramai kami duduk bersama, saling mengucapkan selamat, panjang umur, dan bahagia selalu.
Aku sangat suka suasana magisnya sehabis hujan. Di malam hari ketika lampu jalan menyala terpantul genangan air menghasilkan visual yang menenangkan. 

Ada masa ketika seorang gadis menangis sedih melihat perselisihan ayah dan ibunya di rumah. Hanya ada cukup uang untuk membeli sebotol air mineral sehingga mereka punya hak untuk menikmati fasilitas berupa kursi di halaman belakang minimarket.

Seorang ibu dan anak laki-akinya berjalan menyusuri deretan toko kain dan sepatu di Pasar Baru. Si anak laki-laki hendak mengakhiri kuliah yang sudah empat tahun dijalaninya. Sidang pertanggungjawaban hasil belajar  selama empat tahun itu kini ada di depan mata. Sepasang sepatu formal model pantofel dibutuhkan demi melengkapi syarat penampilan sidangnya nanti. 

Cakwe dan kue bantal legendaris yang sudah menjadi primadona sejak dahulu. Masuk gang sempit dengan aroma limbah restoran mie yang khas jika kau hendak menemukannya. Adonan ditarik lalu berenang di lautan minyak panas kemudian berubah dari kurus putih menjadi gemuk kuning kecoklatan. Dinding kios sempit nan reot itu ditempeli foto para pesohor yang pernah mampir mencicipi kelezatannya. Secuil sejarah dan kenangan masa kecil hadir dalam setiap gigitannya.

Di depan mesin tik dan alat pemancar radio yang sudah sepuh itu kami berdiri membeku sambil membayangkan kejadian 70 tahun silam. Di tempat yang sama dan dengan peralatan yang sama berita gembira tersebut disebarluaskan. Entah perasaan macam apa yang ada di dalam hati mereka yang terlibat langsung dalam peristiwa kelahiran tersebut. Berita kelahiran ini harus disebarkan ke seluruh penjuru negeri. Karena berita ini akan membuat mereka yang tadinya berjalan sendiri-sendiri bersatu menjadi satu kesatuan besar dan akan berjalan dalam irama yang sama. Berita yang dinanti-nantikan jutaan orang bahkan jauh sebelum hari kelahiran itu tiba. Kelegaan,kebahagiaan,kebanggaan, dan kegembiraan mereka dibayangi oleh rasa was-was,ketakutan,kecurigaan, dan amarah akibat mereka yang menolak kelahiran tersebut. Kelahiran sebuah negara yang diidam-idamkan menjadi sebuah negara yang besar dan makmur. Negara yang sampai saat ini masih bergolak dalam pubertas-nya sebagai sebuah negara.

Pukul satu dini hari dan kami masih santai dengan kopi dan rokok kami. Perbincangan ala warung kopi ini memang membuat setiap orang menjadi lupa akan waktu yang sudah dilewati. Tidak jauh dari tempat kami duduk beberapa orang nampak larut dalam kegiatan serupa. Jalanan yang mulai sepi dan tanda-tanda kami sudah harus pulang mulai nampak. Tatapan mata orang-orang di sini mulai tidak ramah. Dipengaruhi alkohol jalanan dan (mungkin!) obat stimulan ilegal mata mereka nampak lebih tajam dan tidak ramah terhadap orang lain. Angin malam mulai bertiup tidak wajar dan kembalilah kami pulang terpisah. Engkau ke selatan dan aku menuju ke barat.

Wajah-wajah kaku, reruntuhan, ketidakadilan, penjahat, presiden, pahlawan, hingga pecundang terekam abadi entah dalam potret warna atau hitam putih terbingkai dan terpajang di sebuah gedung tua. Semua orang sibuk mengabadikan kembali potret-potret tersebut untuk dibagikan kembali sehingga seluruh dunianya tahu tentang apa yang terjadi di sana.

Kembali dia menghela napas dalam-dalam. Ditatapnya raut wajah ceria itu dari balik pintu kaca bening. Di balik wajah kumuh nan cemong itulah kebahagian bertahta. Tunggu sampai hujan reda lalu kita melangkah kembali menyusuri kebosanan abadi. Pendingin udara jelas sangat tidak cocok kala hujan dingin seperti ini. Keluar sejenak, menyalakan sebatang rokok sekedar untuk menghangatkan badan yang mulai dingin kaku akibat pendingin udara yang dinyalakan pada suhu yang kelewat rendah. Tempat ini adalah tempat yang sempurna untuk kembali jatuh cinta kepada Jakarta. Di sinilah sentuhan-sentuhan sederhana meninggalkan kenangan yang begitu rumit.

"Pulang, mari kita pulang," aku berbicara kepada kepulan asap di depan mata.

Kembali kita menyusuri kebosanan abadi di atas aspal hitam. Terus tidak akan pernah berhenti sampai tulang belulang kita tertanam abadi di bawah tanah. Semua kisah ini terjadi di Pasar Baru. Tempat itu masih menyimpan nuansa klasik dan hangat yang sampai sekarang masih ada.

Related Articles

0 komentar: