Friday, 22 July 2016

Surat Untuk Diriku (bagian pertama)

Jakarta, 22/7/2016

Semalam gue berbincang tentang topik paling pasaran dan paling murah yang kerap muncul di kepala setiap anak bocah yang sedang tumbuh dewasa: BUNUH DIRI.

Buat gue it's not a stupid thing. Bukannya mendukung setiap tindakan bunuh diri tapi kalo buat gue yasudah itu adalah hak setiap manusia toh. Each man for himself. Lagian kebanyakan yang bilang bunuh diri itu bodoh ujung-ujungnya mau mencoba... yah minimal kepikiranlah..

Killing yourself to live.

Bukan lagunya Black Sabbath... Tapi statement kalo lo mati lo bakal terus hidup tanpa pernah jadi tua. Secara raga mungkin kita nihil tapi kita abadi dalam kenangan baik maupun buruk. Selagi banyak kenangan baik lebih baik akhiri sekarang daripada menciptakan keburukan-keburukan lain.

Statement bagus...buat orang-orang tertentu.

"There's beauty in people's fucked up lives." (Kurt Cobain)


Kurt committed suicide in 1994. Yah disertai dengan kecanduan berat heroin dan penyakit perut langka dan yah perasaan tertekan karena ketenaran Nirvana.

Entahlah saya juga sulit menerima logika bunuh diri dari setiap orang dan juga sulit menerima logika menolak bunuh diri. Saya berdiri di antara dua paham.

Life is worthless. The World doesn't deserve me.

Sepertinya semua hanya ilusi. Serius deh... Gue ngebayangin kalo gue mati trus ngapain yah. Lahir kembali sebagai penjahat paling ngeri sepanjang masa ato jadi orang paling suci yang tidak tersentuh oleh keduniaan ato jadi orang paling kaya yang sanggup beli gunung.. I don't know man teori reinkarnasi terlalu muluk-muluk sepertinya.

Saya tidak bisa percaya apapun dan siapapun sekarang. Put your trust in a man or woman then he/she will fuck up your life. I believe in... Gatau deh. Jangan bicara teologi karena percuma sepertinya bicara hal-hal seperti itu di waktu seperti ini.

Sacrifice...bicara pengorbanan...Pada akhirnya pengorbanan sembunyi di balik kebohongan. Beruntung orang-orang lain dan terkutuklah saya.

Tertawa itu kya drugs. It cures for a while. Kesedihan itu racun. Sekali tenggak nyawa melayang.

Saya tidak terbayang menjadi tua dan lamban. Saya ingin abadi. Abadi dalam setiap memori orang-orang yang pernah dekat dengan saya. Saya adalah masa lalu. Dosa tak terampuni yang akan menghantui diri mereka masing-masing.

Entah apa yang gue tulis ini. Bagian dari membuang perasaan tertekan dan depresi tingkat menengah karena buat gue hidup gue sudah hampir gagal. I'm not a quitter. Anggap saja saya ambil jalan pintas menjadi abadi dan mengurangi resiko akan bertambahnya keburukan. Tangan saya bersih. Hidup saya bebas. Jadilah seperti demikian.

Happy now? :)

Related Articles

0 komentar: