Thursday, 6 October 2016

Catatan Terselip di Balik Meja

Meja gue di kantor sumpah ancur parah banget. Berantakan penuh dengan berkas dan tulisan yang sebenarnya bertujuan nyeni  tapi malah jadi kya bengkel motor begini. Akhirnya gue memutuskan untuk sedikit melakukan perubahan dengan merapikan dan membuang hal-hal yang gak penting. Tiba-tiba di bawah tumpukan kertas,flyer, dan bungkus kopi terselip catatan penuh coretan yang tidak biasa. Mata gue menangkap ada sesuatu canggih tertulis di atas kertas tersebut. Langsung gue ambil dan gue lihat perlahan. Ada gambar entah muka orang entah setan entah monster yang serampangan digabar pake pulpen tinta biru. Selain gambar makhluk gajelas itu gue lihat di bawahnya ada semacam puisi ato sajak ato apalah itu dan isinya lumayan aneh.

Gue merasa gak pernah bikin begituan tapi tulisan dan gambar itu jelas-jelas ada di meja gue. Itu ternyata tulisan gue di masa gue depresi beberapa waktu lalu dan entah kenapa gue simpan di kantor. Gue baca dan mencoba mengingat kondisi dan lokasi ketika gue nyorat-nyoret kertas itu.

Kalo gue tarik kesimpulan tulisan ini gue buat ketika gue lagi di luar entah di mana, entah kapan, dan sudah jelas gue sedang dalam pengaruh pikiran gue yang super duper ngaco.


Di depan mereka yang tidak kita kenal
Sumpah dibacakan tanpa suara
 Semua kata membeku
Aksara membujur kaku
Bicara saja sesuka hatimu!

Waktu berhenti
Di bawah lampu ilusi kita berjanji
Di bawah sinarnya kita hilang kendali

Hari semakin gelap

Di bawah lampu ilusi kita berdiri tanpa bayangan


Related Articles

1 komentar:

Rose said...

Menemukan kembali dan berusaha mengingat kembali sesuatu di masa lalu.

Beberapa waktu lalu, saya juga dapat satu kertas terselip dan di dalamnya ada percakapan. Saya sungguh lupa. Berusaha mengingat-ingat kembali dan ternyata itu percakapan saya dengan seorang teman setahun lalu.

Dari kedua kejadian ini, saya pikir dan kembali tersadar kalau ternyata menuliskan perasaan dan apapun yang kita pikirkan dalam bentuk apa pun itu penting. Perasaan, perasaan, amarah atau kesenangan yang kita tuliskan pada saat itu sebenarnya hanya sepotong adegan2 hidup. Kalau pada saat itu, misalkan kita punya amarah yang besar, dan melakukan hal yang sia-sia maka rugi karena ketika waktu berlalu, jika dilihat kembali, yah seperti itu.

(Ngomong apa sih! Maaf hahaha susah menjelaskan dengan kata2)