Monday, 26 September 2016

The Sastro - Vol 1 (2005)


source
Salah satu rilisan lokal yang menurut gue teramat pantas untuk dikoleksi dan didengarkan sebelum elo mampus. Album ini merubah warna Jakarta dan band ini menjadi semacam "mitos urban" di kalangan anak-anak muda sekarang.

Pertama kali gue denger lagu-lagu di album ini masih di era radio berjaya. Gue masih inget denger lagu "Rasuna" atau "Lari 100" lewat radio phillips jebot yang nangkring di kamar gue kala itu. Tahun 2005-2006 memang eranya gue ngulik band-band indie lokal walau saat itu gue masih tergila-gila dengan nu-metal atau industrial macam Nine Inch Nails,Linkin Park,Limp Bizkit,Korn, sampe Ministry.

Jujur awalnya gue gak terlalu ngeh dengan kehadiran band satu ini. Dan karakter musik yang dibawakan agak sedikit keluar dari jalur musik yang gue dengerin. Tapi ada satu titik di mana pada akhirnya gue tergoda untuk sekedar dengerin The Sastro secara khusyuk. Waktu itu gue masuk ke masa SMA dan internet mulai booming walau masih ala kadarnya.

Gue suka musik kaya gini.

Menurut gue album ini jenius. Wajar kalau The Sastro menjelma menjadi salah satu legenda musik di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Liriknya aneh bin ajaib tapi entah kenapa malah jadi sesuatu yang menyenangkan untuk dicerna oleh telinga anak remaja lagi mencoba menjadi pujangga jalanan.

Album ini dimulai dengan track instrumental berjudul "Plazamaya" dan sampe detik ini gue masih menganggap kalo lagu ini adalah salah satu lagu paling hebat yang digubah oleh band indie lokal. Banyak unsur yang membuat lagu instrumental berdurasi nyaris sepuluh menit ini menjadi penuh warna. Lo bisa dapetin progressive,indie pop, sampe new wave dicampur aduk dalam satu aransemen lagu. Canggih.

Lalu tiba-tiba di lagu kedua diawali dengan suara rekaman hujan dan sedikit gemuruh petir. Lagu yang merupakan favorit gue di album ini: "Kaktus". Suka banget gue di bagian intro dan liriknya bener-bener ngehe.

tempat kenangan tercipta 
dari baris senja terkunci 

maafkan aku Jakarta tentang kenangan lama akhir pekan berdua

sengaja kukenang bagian lain dimata jejakku, kisah dijiwaku kurangkaikan dalam lamunan kota jakarta yg hujan

Masuk ke lagu ketiga "Telefiksi" yang gak kalah bikin pengen nyanyi-nyanyi sendiri, nuansa mirip-mirip The Police cukup kental di lagu ini. Track berikutnya "Sejati" intro awalnya mirip jingle iklan minuman ringan deh hehe, gue suka liriknya. 

cahaya..
dari sinar purnama
sinar kecil isyarat arti jiwa
kuingin selamanya disini
bersama embun malam
membasuh wajah dunia
dengan bualan

diriku..
terjebak dalam malam kau disini
mengganggu dalam mimpiku

diriku..
merindu peluk hangat
samudera biru

Salah satu lagu The Sastro yang pertama kali gue dengerin mengisi track berikutnya: "Rasuna" walau agak bingung dengan suara ala-ala kartun gitu tapi selebihnya lagu ini adalah lagu yang hebat buat gue. Part gitarnya gue suka banget gatau kenapa. Terdengar catchy dan bikin pengen joget-joget, hehehe. Lalu memasuki salah satu lagu favorit gue di album ini judulnya "Sekilas" gue suka banget lagu ini. Intronya canggih buat canggih.

datang dan pergi aku tak mengerti
dari jalanan sepi seperti mereka
menatap malam penuh curiga

kau mencoba..
Memaksaku bicara
Haruskah dengan senjata
kumasih tak percaya


Yah, album ini gabakal lengkap kalo lagu berikutnya ini gak dibahas. Lagu ini yang membuat gue jadi demen banget sama musik The Sastro dan video klipnya gue masih inget banget pernah diputar di salah satu televisi swasta nasional. Cuek banget, sederhana,dan gue gak ngerti maksud video klipnya. Itu yang mungkin jadi daya tarik band ini: KETIDAKTAHUAN. Lagu ini judulnya "Lari 100" dan percaya atau tidak anak-anak yang lahir di generasi gue ataupun lebih tua dari gue yang dahulu punya hobi mantengin radio atau acara musik yang pada masa itu masih sangat keren pasti pernah dengar lagu ini. Lagu ini keren banget dari segi musik sampe lirik. Sumpah ini keren.

lari 100 di kota ini
lepaskan diri hindari waktu
lari 100 di sore ini
larikan diri dari nafsu

Lari 100 menembus waktu
memutar jalan kehidupanku
diam sembunyi di senja biru
takkan peduli kala sesuatu

satukan langkah, diami massa
sudut bergema riang bertabuh
hitam menjelma singkirkan massa
tertinggal jauh diam membisu

lari 100 di kota ini
lepaskan diri hindari waktu
lari 100 di sore ini
larikan diri dari nafsu

Tiba di akhir album ada lagu "Hantu TV" dengan nuansa new wave yang cukup kental dan semangat ugal-ugalan dengan lirik absurd penuh kritik terhadap hal-hal yang ada di sekitar kita. Sederhana, tapi justru hal-hal sederhana inilah yang terkadang menjadi sesuatu yang essential dan bikin manggut-manggut sambil mikir, "Oh iya yah, koq gak kepikiran yah..."

Gue masih ingat koq kejadian suara abis gue ketika album "Vol 1" merayakan ulang tahunnya yang ke-sepuluh dan pernah gue bahas juga di sini. Sebuah album yang harus kalian dengerin sebelum kalian pergi selamanya. Salah satu rilisan lokal terbaik yang masih gue dengerin sampe sekarang.


jangan…
halangi aku menjadi
semakin dekat dibalik mimpi-mimpi
kini nyata dan terus semakin nyata



credit to https://gulagilalugu.wordpress.com/2010/09/20/the-sastro/

Related Articles

0 komentar: