Showing posts with label indie pop. Show all posts
Showing posts with label indie pop. Show all posts
, , , , , , ,

Hahawall - Lost (2018)

November 22, 2018 Samuel Yudhistira


Gue kyanya kebanyakan membahas soal album-album musik yang gue suka tapi band gue sendiri gak pernah gue bahas di sini. Lost adalah judul E.P. kedua dari Hahawall setelah sebelumnya merilis E.P. bertajuk Beautiful Day dalam format kaset di bawah naungan label independen Pita Hitam Records.

Mini album kedua ini banyak dibilang lebih sangar, berisik, noise, dan elemen-elemen rusuhnya lebih kaya daripada E.P. pertama. Well, ini kan menurut orang-orang.

Gue sendiri baru tergabung dengan Hahawall tahun 2016. Sebelumnya, gue sering sepanggung sama mereka di beberapa acara dan kenal dengan Bayu, vokalis/bassist Hahawall yang kebetulan waktu itu bekerja sebagai graphic designer paruh waktu di sebuah perusahaan media. Setelah band gue, Bising Kota bubar jalan gue diajak Bayu buat gabung dengan Hahawall yang pada waktu itu baru saja ditinggal gitarisnya.

Singkat cerita, gaya bermain gue yang bluesy rada gak masuk dengan karakter musik Hahawall yang lebih banyak dipengaruhi band-band noise dan shoegaze. Walhasil gue harus belajar ulang demi memenuhi standar musik mereka.

Kebetulan yang menyenangkan, ternyata selera musik mereka gak beda jauh sama gue. Kita sama-sama suka The Velvet Underground, Sonic Youth, My Bloody Valentine, dan Chelsea Light Moving. Mungkin karena taste yang gak beda jauh ini menyebabkan gue akhirnya mudah untuk mengubah gaya bermain gitar gue dan blend in dengan mereka.

Selama bergabung dengan Hahawall gue banyak ngulik riff-riff dan tone yang jauh dari kebiasaan gue. Secara umum, gue belajar ulang main gitar.

Okey, mari kita bahas album ini.


69
Album ini dimulai dengan hentakan pelan yang tiba-tiba berubah rusuh ketika kedua gitar masuk. Lagu ini sungguh amat cocok dijadikan pembuka album yang berisik ini. Liriknya? Wahduh gajauh-jauh dari pengaruh alkohol dan substansi.

Yah, kira-kira begitulah. Namanya juga anak muda. hehehe

Bearing a fall, it's gonna keep the rail.
You gotta get it on!
Bearing a fall, it's gonna keep the rail.
You gotta get it on! 

Lost
Lagu kedua diawali dengan teriakan depresif dan langsung dihajar riff keras dan ketukan drum yang cepat. Uedan! Lagu ini macam naik roller coaster. Cepat, pelan, sedang, pelan, cepat, tiba-tiba super cepat di beberapa bagian. Enak nih sambil headbanging di deket ampli. 

The lamp is so dumb
a fuckin' dumb
a really dumb
Today/Fade Away
Nah, ini adalah single pertama dari E.P. ini. Lagu ini merupakan salah satu lagu paling rumit yang ada di album ini. Intronya menyajikan harmonisasi gitar dan bass dengan riff yang aneh bin ajaib. Ketukan stagnan sepanjang lagu tiba-tiba berubah cepat. Wah, ternyata pengaruh punk-nya belum pudar, hehehe. 

Lagu ini masih bercerita tentang kondisi seorang dalam pengaruh substansi. Hadeh... 

Di akhir lagu benar-benar menampilkan suasana chaos yang berisik tapi tetap menyenangkan untuk didengarkan. Banyak elemen-elemen yang mengejutkan di lagu ini.



Wasted
Yak, dari judulnya saja sudah ketahuan lagu ini tentang apa. Tidak perlu dijelaskan lebih jauh. Cukup dinikmati saja. Lagu ini menjadi single kedua dari album ini dan mendapat banyak respon positif karena dinilai berbeda daripada lagu-lagu lain di album ini. Yap! Setuju! Bahkan gue sebagai personil bandnya juga sangat suka dengan lagu ini. Cepat, berisik, gapake basa-basi, dan enerjik! Video klipnya sudah bisa dilihat melalui kanal streaming Youtube.



Merah

Lagu terakhir di album ini dan merupakan satu-satunya lagu berbahasa Indonesia. Awalnya lagu ini cuman jamming-jamming noisy gak keruan yang biasanya kita bawain kalo manggung. Muncul ide unik untuk memasukkan unsur vokal nyeleneh. Lalu kita mulai berpikir kira-kira siapa yang cocok untuk mengisi vokal di lagu ini. Pilihan jatuh ke Bofag the Deadwhore. Yoi, doi adalah vokalis band Barbars dan Seek Six Sick. Kebetulan gue kenal sama orangnya dan langsung kita ajak buat ngisi vokal di lagu ini. Untunglah doi ternyata mau bantuin kita buat ngisi vokal di lagu ini.Hasilnya? Gilak! Keren mampus! Versi tanpa vokal bisa didengerin di kompilasi Popcore vol. 10 yang dirilis secara terbatas.

Lagu ini merupakan single ketiga dari album ini dan video klipnya sudah ada di Youtube.



Begitulah, ini karya gue dan teman-teman di Hahawall. Waktu band gue bubar gue sempet putus asa pengen ngeband lagi tapi gapunya temen dan ternyata Hahawall menjadi tempat gue buat mengekspresikan sisi musikal gue. 

Be there, we'll make you deaf!


, , , , , ,

Belle and Sebastian - Dear Catastrophe Waitress

September 17, 2018 Samuel Yudhistira
Wahh, sudah lama saya tidak berbagi cerita tentang album-album musik favorit saya di blog ini. Okeh, gue masih bakalan ngebahas Belle and Sebastian sebagai salah satu band favorit gue. Album rilisan Rough Trade Records tahun 2003 ini berisikan 12 lagu yang karakternya mulai menjauhi album-album Belle and Sebastian sebelumnya. Ensembel rame dan harmonisasi vokal yang khas masih menjadi senjata andalan Stuart Murdoch dan kawan-kawan dalam menciptakan lagu-lagu asoy nan sedap.

Mari kita bedah lagu-lagu di album ini satu per satu:



Step Into My Office, Baby

Album dimulai dengan hentakan macam marching gitu di lagu "Step Into My Office, Baby" yang langsung menghentak dengan tema-tema seputar kehidupan sehari-hari. Ada bagian choir di tengah lagu trus transisi tempo dipadu dengan harmonisasi suara yang apik.


I'm a slave to work
I'm only living when I walk amongst the office staff
And catch up with the office wag
I'll be in bed by nine
My curtains drawn
My thoughts composed
I get to work on time

Dear Catastrophe Waitres

I don't know what to say about this song. Mungkin yang bisa gue bilang adalah lagu ini diproduksi dengan sangat rapi. Padat, penuh dengan suara instrumen, tapi tetap terdengar ringan di telinga. Entah kenapa gue menangkap kesan sinis di lagu ini setiap kali gue dengerin lagu ini.

Stick to what you know
You'll blow them all to the wall
When they realize what you've been working for
You've been working for
You've been working for

If She Wants Me

Lagu ketiga di album ini dan salah satu lagu yang gue suka banget. Intronya jangly banget bikin pengen bergoyang-goyang santai. Gue suka banget suara vokal dan lirik di lagu ini. Ada kesan depresif di liriknya tapi juga ada kesan bodo amat dengan segala masalah yang terjadi di masa lalu. Lagu ini sungguh sangat menyenangkan untuk didengarkan dan liriknya bener-bener relevan dengan krisis psikologis anak-anak muda.

If I could do just one near perfect thing I'd be happy
They'd write it on my grave, or when they scattered my ashes
On second thoughts I'd rather hang about and be there with my best friend
If she wants me

Piazza New York Catcher

Okey, this is my favourite song in this album. Yeap, sebuah lagu yang sederhana tapi punya arti yang dalem banget buat gue. Gue pernah bawain lagu ini di sebuah acara setahun yang lalu. Ancur sih, tapi yah namanya juga usaha, hehehe. Lagu ini mungkin lagu yang gak terlalu heboh secara instrumental karena cuman ada suara vokal dan gitar akustik sepanjang lagu. Tidak ada repetisi dalam penulisan lirik, jadi yaudah ngalir aja terus dah, hehe. This song reminds me of my girlfriend.

Asleep On A Sunbeam

Nuansa pop tahun 60-an berasa banget di lagu ini. Lagu ini kayanya asik didengerin sambil tiduran di padang rumput bermandikan cahaya matahari selow. Gak tau deh, gue sih ngebayanginnya gitu, hehe. 

I'm A Cuckoo

Intro gitarnya menyenangkan. Lagu ini sih kalo gue mendalami liriknya kaya semacam lagu orang yang habis putus cinta. Yeah, break-ups are sometimes miserable and complicated. Gue suka banget pas ada bagian terompet rame gitu di tengah-tengah lagu. Kesannya kayak megah banget. Love it!

Breaking off is misery
I see a wilderness for you and me
Punctuated by philosophy
And wondering how things could've been

You Don't Send Me

I like this song. Liriknya bagus banget. Nuansa lagunya berasa banget agak 60's atau 70's gitu kali yah. Harmonisasi vokalnya rame banget! Seru!

Listen honey, there is nothing you can say to surprise me
Listen honey, there is nothing you can do to offend me
You don't send me

Wrapped Up In Books

Lagu ini mungkin agak-agak mirip dengan karakter lagu-lagu Belle and Sebastian di album sebelumnya. Gue sih dengernya dari gaya nyanyi dan aransemen musiknya. Lagu ini menyenangkan. Gue suka. Satu hal yang mungkin agak berbeda di lagu ini suara tone bass-nya agak berbeda dibanding lagu-lagu lain yang ada di album ini. 

We’ve got a fantasy affair
We didn’t get wet, we didn’t dare
Our aspirations, are wrapped up in books
Our inclinations are hidden in looks

Lord Anthony

It's a beautiful song. Belle and Sebastian kembali lagi dengan tema-tema "troubled young people" di lagu ini. Kisah tentang seorang anak laki-laki yang penyendiri, dijauhi orang-orang, dan menjadi korban bullying oleh teman-temannya. Man, I love this song. 

Tony, you're a bit of a mess
Melted Toblerone under your dress
If the boys could see you they would pass you right by
Blue mascara running over your eye


If You Find Yourself Caught in Love

Satu menit pertama hanya terdengar suara piano dengan tempo pelan dan tiba-tiba musik masuk menghentak dengan nuansa indie pop awal 80-an yang menyenangkan. Asik ni lagu. Bikin badan pengen goyang-goyang santai terus. 

If you don't listen to the voices then my friend
You'll soon run out of choices
What a pity it would be
You talk of freedom don't you see
The only freedom that you'll ever really know
Is written in books from long ago

Roy Walker

Agak aneh di kuping gue. Lagu ini nuansanya beda banget dibanding lagu-lagu lainnya. Bahkan gue sampe mikir, "Ini masih Belle and Sebastian??" saking bedanya. Solo gitar di tengah-tengah lagu juga membuat lagu ini lumayan berbeda dibanding yang lain. Solo gitar, harmonika, dan harmonisasi vokal yang rame banget ternyata lumayan nendang juga di kuping. Sedap!

Stay Loose

Lagu penutup di album ini. Koq gue tiba-tiba keinget band Talking Heads yah pas dengerin lagu ini. 

Maybe I'm a little greedy
You said "Think before you speak"
Sometimes I'm a little seedy
You said "Everyone is weak"
Now I feel a little better
Is there something I can do?
But I never heard the answer
I never had a clue

Overall album ini emang agak sedikit berbeda dibandingkan dengan album-album Belle and Sebastian yang lain. Kesannya emang agak sedikit ringan tapi cukup nendang di beberapa track. Gue suka transisi tempo dan harmonisasi vokal di album ini. Intinya, album ini keren!!

, , , , , ,

Arctic Monkeys - Whatever People Say I Am, That's What I'm Not

June 14, 2017 Samuel Yudhistira
Album ini berisi lagu-lagu yang menjadi saksi tumbuh kembang gue dan beberapa orang di generasi gue. Album ini berhasil memecahkan rekor album debut terbaik di Inggris ketika dirilis tahun 2006 mengalahkan debut album Elastica yang dirilis tahun 1995. Gak terasa juga album ini sudah berusia 11 tahun. Time flies, baby. Lagu-lagunya kebanyakan bercerita tentang potret kehidupan remaja di wilayah suburb Inggris. Mungkin ini pula yang pada akhirnya membuat band ini cepat mencuri perhatian anak-anak muda di Inggris: mereka merasa lagu-lagu di album ini mewakili perasaan mereka sebagai anak muda.

The View from the Afternoon

Album ini dimulai dengan gemuruh drum yang asoy dan tone gitar ringan yang dimainkan dalam tempo yang cepat. Gue suka permainan drum di lagu ini. Terutama di bagian chorus akhir sebelum lagu ini berakhir. 

I want to see all of the things that we've already seen
 I Bet You Look Good on the Dancefloor

Single pertama mereka yang diambil dari album ini. Intronya langsung menghentak cepat. Ahh, I love this song. Terutama lick di bagian tengah. Dude,it's totally cool.


Oh, there ain't no love, no Montagues or Capulets
Just banging tunes and DJ sets and
Dirty dance floors and dreams of naughtiness
 Fake Tales of San Francisco 

Gue jujur pertama kali denger lagu ini dari video game. Entahlah game apa tapi yang jelas dari console. Lagu ini adalah lagu Arctic Monkeys pertama yang gue kulik, lagu Arctic Monkeys pertama yang gue mainin bareng band gue jaman SMA, dan lagu ini juga menjadi lagu pembuka pertemuan gue bersama teman-teman skena permusikan. Lagu ini sudah menjadi saksi banyak sekali kejadian bersejarah.

Yeah, but his bird said it's amazing though
So all that's left
Is the proof that love's not only blind, but deaf
 Dancing Shoes

Gue selalu senang ketika mainin lagu ini bareng band. Lagu ini gampang dimainin bahkan ketika band gue personilnya cuman bertiga lagu ini masih terasa padat. Gue teringat audisi acara kampus orang waktu itu kita mainin lagu ini. Efek metalzone, gitar Squire murahan, dan bass yang gak nyetem. Gue juga heran kenapa waktu itu kita lolos-lolos aja audisi itu.

The only reason that you came
So what you scared for?
Well, don't you always do the same?
It's what you’re there for, but no
You Probably Couldn't See for the Lights But You Were Staring Right at Me

Kalo lo lagi di panggung entah dalam occasion apapun dan lampu panggung menyala garang di atas panggung sudah tentu kemampuan mata lo dalam melihat ke arah penonton berkurang drastis. Yang lo lihat cuma cahaya putih di sekeliling lo. Nah, buat yang nonton justru kebalikannya. Orang yang ada di atas panggung terlihat semakin jelas dan matanya seolah-olah menatap ke arah kita. Jangan heran kalo nonton konser kadang kita bia eye contact dengan si penyanyi padahal si penyanyi gak ngeliat apa-apa. hehehe...

They don't want to say hello
Like I want to say hello
Still Take You Home

This one... Ahh gue suka banget. Gue inget pernah bawain lagu ini waktu acara di sebuah kafe halaman belakang beberapa tahun silam. Gue masih inget lho riff sampe lirik lagu ini sekarang. hehe

I fancy you with a passion
Oh, you're a Topshop princess, a rockstar too
But you're a fad and you're a fashion
And I'm having a job trying to talk to you
But it's alright, yeah, I'll put it on one side
Oh, 'cause everybody's looking, you've got control of everyone's eyes including mine
Riot Van

Lagu ini mengingatkan gue pada kejadian cukup memalukan ketika membawakan lagu yang bercerita tentang sekumpulan anak muda sedang bersenang-senang tanpa peduli aturan ini di tahun 2013 kemarin. We played it so bad. Gue gak hafal lirik dan penonton juga kurang respon dengan lagu ini. Wajarlah, lagu ini bukan sebuah hits single yang semua orang tahu.

"Have you been drinking, son?
You don't look old enough to me"
"I'm sorry, officer, is there a certain age you're supposed to be? 'Cause nobody told me"
Red Light Indicates Doors Are Secured

Lagu tentang bocah-bocah remaja mabuk yang berbuat sesuka hatinya. Yeah, emang kebanyakan lagu-lagu di album ini bercerita tentang kehidupan remaja yang masih mencari-cari jati diri di dunia yang sangat luas ini. Semacam usaha untuk menemukan jati diri dan menjadi dewasa lebih dini.

Oh, they wanted to be men
And do some fighting in the street
He said, "No surrender
No chance of retreat"
Mardy Bum

Mardy dalam kosakata urban masyarakat Yorkshire berarti seseorang yang kerjaannya ngambek melulu (tidak kooperatif). Yeah, lagu ini bercerita tentang seorang wanita yang kerjaanya marah-marah melulu walaupun si cowok bisa menenangkan tapi sifat "ngambek" si wanita tetap saja muncul. Banyak orang mungkin yang sudah sangat famliar dengan lagu ini. Beberapa kali gue denger diputar di mall atau jadi scoring di film atau reality show. A very great song.

 just laugh and joke around?
Remember cuddles in the kitchen, yeah
To get things off the ground
And it was' up, up, and away
Oh, but it's right hard to remember that
On a day like today
When you're all argumentative
And you've got the face on
Perhaps Vampires Is a Bit Strong But...

Lagu ini cocok untuk teman kita yang selalu menjadi benalu atau vampire di dalam lingkup tongkrongan.

He said, "I can't believe that you drove all that way
Well how much did they pay ya? How much did they pay ya?
You'd have been better to stay round our way
Thinking about things but not actually doing the things"
When the Sun Goes Down

Lagu ini adalah sejarah. Pertama kali gue manggung bersama band di sebuah kafe sumpek kawasan Jakarta Pusat gue bersama band membawakan lagu ini. Yeah this was the first we played together in a gig. Lagu ini menceritakan tentang prostitusi yang ada sekitaran studio tempat Arctic Monkeys rekaman dan latihan.

Look, here comes a Ford Mondeo
Isn't he Mr. Inconspicuous?
And he don't even have to say owt
She's in the stance ready to get picked up
Bet she's delighted when she sees him
Pulling in and giving her the eye
Because she must be fucking freezing
Scantily-clad beneath the clear night sky
It don't stop in the winter, no

From the Ritz to the Rubble 

Another song about clubbing experience in Sheffield. Singkat kata lagu ini tentang seseorang yang ditendang keluar dari klub malam oleh para bouncers sangar penjaga pintu klub.

Well, I'm so glad they turned us all away
We'll put it down to fate
I thought a thousand million things
That I could never think this morning
Got too deep
But how deep is too deep?
A Certain Romance

Lagu ini adalah sebuah bentuk nyata pendewasaan diri. Orang-orang yang sudah hidup berdampingan sama kita terkadang punya pola hidup dan kesukaan yang berbeda dan apapun yang kita bilang ke mereka hal tersebut tidak akan mengubah pola pikir mereka begitu saja.

Yah, gue juga merasa demikian koq. Most of my friends, been together since high school or something. They turn into something I hate the most. Yeah, you know, they act like chavs, gentlemen, and "scientists" at the same time. Why should I mad at them anyway. Just don't give them a hoot. It's their life. So, this song kinda reminds me of them. 

But over there, there's friends of mine
What can I say? I've known 'em for a long long time
And they might overstep the line
But you just cannot get angry in the same way
No, not in the same way
Said, not in the same way
Oh no, oh no, no

Seperti yang sudah gue utarakan di atas bahwa album ini adalah saksi pendewasaan diri gue. There's some kind of correlation between me and this album. Yeah, it's a great album. I do really love it.

***
Well, it's ever so funny'Cause I don't think you're special, I don't think you're coolYou're just probably alrightBut under these lights you look beautifulAnd I'm struggling, I can't see through your fake tanYeah, and you know it for a fact that everybody's eating out of your hands

***

picture source: http://relayfm.s3.amazonaws.com/assets/Inquisitive/Whatever.jpg 
, , , , , , , , , , ,

The Libertines - The Libertines (2004)

March 07, 2017 Samuel Yudhistira



Ini adalah album yang merupakan jawaban atas penantian deg-degan para fans The Libertines di tahun 2004. Setelah vokalis sekaligus salah satu frontmen mereka Pete Doherty dijebloskan ke bui akibat aksi pencurian di apartemen salah satu personil bandnya sendiri: Carl Barât. Banyak yang menduga kalau band ini bakalan bubar jalan. 



The Libertines sempat mencuri perhatian dengan album perdana mereka yang berjudul "Up The Bracket" dan menjadi ikon musik garage rock di awal tahun 2000-an. Konflik internal,perilaku ugal-ugalan,dan gaya hidup para personilnya yang berujung pada ditangkapnya Pete Doherty membuat publik sempat berasumsi kalau band ini tidak akan bertahan lama.

"FREEDOM GIG"

Tap 'n' Tin, Chatham, Kent

Acara ini menjadi tonggak awal kembalinya The Libertines sebagai sebuah band setelah Pete Doherty keluar dari penjara dan  beberapa jam kemudian langsung manggung bareng teman-teman bandnya. Publik kembali bertanya-tanya apakah kembalinya Doherty bersama bandnya apakah hanya sementara atau mungkin The Libertines kembali dengan karya-karya terbaru mereka.

Album ini menjawab semuanya.

Dirilis tahun 2004 di bawah label Rough Trade album ini merupakan album The Libertines yang pertama kali gue dengeri justru di tahun 2014. Yeah, gue terlambat satu dekade karena jujur gue belum begitu tertarik dengan musik mereka pada saat itu. Dengan bantuan dari seorang penggemar berat The Libertines (nama disamarkan) gue berhasil mendapatkan materi-materi album ini. 

Gue suka. 

This is an amazing stuffs. Album ini kaya biografi. Kebanyakan menceritakan tentang relasi pertemanan antara Pete Doherty dan Carl Barât yang sempat gonjang-ganjing karena kasus pencurian tersebut. 

Langsung digeber dengan single pertama dari album ini yaitu lagu "Can't Stand Me Now" yang juga merupakan hit palng cihuy dari The Libertines yang pernah dibuat. Lagu ini jelas tentang pertemanan yang mengalami turbulensi di tengah perjalanan. Yeah, sebuah hal yang mungkin juga banyak dialami sama kita semua.

An ending fitting for the start
you twist and tore our love apart
your light fingers through the dark
that shattered the lamp and into the darkness cast us...

No you've got it the wrong way round
you shut me up and blamed it on the brown
cornered the boy kicked out at the world...the world kicked back
alot fuckin' harder now

Gue suka track yang judulnya "Don't Be Shy","Narcissist","The Ha Ha Wall", sampe "Arbeit Macht Frei" yang masih menggunakan formula yang sama: lirik simpel,distorsi ringan,tempo cepat, dan attitude yang urakan. Album ini memang penuh dengan energi. Mungkin pengaruh absennya Pete Doherty yang tiba-tiba kembali dan membawa energi yang baru untuk The Libertines sehingga empat belas lagu di album ini menjadi penuh semangat.

Mungkin lagu "Music When The Lights Go Out" adalah lagu yang paling gue suka di album ini. Lagu ini menyentuh emosi gue secara berlebihan di masa-masa depresi gue dulu. Ahh, how I really love this song man. Lagu ini mengingatkan gue pada teman-teman dan keseruan dengan mereka. 


and all the memories of the pubs and the clubs, and the drugs and the tubs we shared together
will stay with me forever..
but all the highs and the lows and the to's and the fro's they left me dizzy oh wont you please
forgive me

but i no longer hear the music oh no no no no

Di lagu "What Katie Did" gue suka intronya dan harmonisasi vokal yang ringan tapi keren. Gue suka liriknya. Menceritakan tentang Pete Doherty yang lari dari kesedihan setelah putus dengan cara mengkonsumsi heroin.

What you gonna do Katie? 
You're a sweet, sweet girl 
But it's a cruel, cruel world 
a cruel, cruel world 

Safety pins are none too strong Katie
they hold my life together 
And I never say never 
And I never say never again 

But since you said goodbye 
The polka dots fill my eyes
And I don't know why 

Kebanyakan majalah musik memberikan review yang cukup positif tentang album ini. Tapi yang menurut gue sangat mencuri perhatian gue ketika gue dapet album ini jujur aja cover albumnya. Gue suka sama cover album ini. Sederhana tapi pesannya kuat. Foto Carl dan Pete waktu acara "Freedom Gig" yang legendaris tersebut dipilih menjadi cover album yang berisi kisah tentang mereka berdua.





Please don't get me wrong

See I forgive you with a song

We'll call the Likely Lads

But if it's left to you

I know exactly what you'd do

With all the dreams we had


picture source: https://en.wikipedia.org/wiki/The_Libertines_(album)
, , , , , , , ,

Belle and Sebastian - Tigermilk (1996)

December 09, 2016 Samuel Yudhistira




Album debut dari salah satu band favorit gue: Belle and Sebastian. Direkam cepat dan efisien di Glasgow tahun 1996, album ini menjadi tonggak awal sensasi indie-pop ala mereka. Tidak terasa sudah 20 tahun yang lalu yah. Dan sampai sekarang gue masih mendengarkan album ini. Fyuuh, twenty years and still kicking my ears.


Cover albumnya jujur agak sedikit nyeleneh dengan menampilkan model yang topless dan berpose seperti sedang menyusui boneka anak harimau (atawa macan). Album ini termasuk langka karena hanya dicetak seribu kopi aja dan baru dirilis kembali tahun 1999. Okeh, yang gue punya itu CD yang rilisan ulang tahun '99.

Banyak yang punya komentar macam-macam tentang album ini, banyak yang bilang album ini diawali dan diakhiri dengan track-track yang canggih tapi in between banyak lagu-lagu shitty sangat.

Ya kalo jujur sih gue agak terganggu dengan track "Electronic Renaissance" entah kenapa. Untuk tema masih seputar apa yang bisa dilihat dan dirasakan sama orang-orang "biasa" pada umumnya. Ini yang jadi kekuatan Stuart Murdoch sebagai frontman dan penulis sebagian besar lagu di band ini. Dia membuat hal-hal yang umum menjadi sesuatu yang exclusive.

Tigermilk itu berasa kaya ajang pemanasan sebelum memasuki album mereka berikutnya yang sangat-sangat canggih "If You're Feeling Sinister" dirilis dua tahun setelah album ini.

The State I Am In

Salah satu lagu terbaik yang ada di album ini dan juga menjadi salah satu karya terbaik Belle and Sebastian. Liriknya kuat,musiknya benar-benar menggambarkan fondasi musik dari Belle and Sebastian. 

I gave myself to sin
And I've been been there and back again
I gave myself to providence
The State That I Am In
Expectations

Lagu favorit gue di album ini. It's like a conversation. Musiknya sungguh menyenangkan dengan tambahan suara trumpet menambah kesan menyenangkan walau liriknya justru menggambarkan situasi sebaliknya. 

And the head said that you were always were a
queer one from the start
For careers you say you want to be remembered 
for your art
Your obsessions get you known throughout the school
for being strange
Making lifesize models of the Velvet Underground in clay

She's Losing It

Lagu ini bercerita tentang Lisa yang mengalami semacam abuse dalam kehidupannya. Lagu ini bercerita tentang keseharian Lisa setelah kejadian buruknya itu. Bagaimana dia memandang berbagai hal dengan penuh rasa skeptis sampai dia bertemu dengan Chelsea, seoarang gadis yang mengalami hal serupa. Mereka merasa senasib dan mulai menjalin hubungan tidak biasa antara perempuan dan perempuan.

You're Just A Baby

Lagu tipikal indie rock 90-an. Jika dibandingkan dengan album-album Belle and Sebastian yang nantinya akan datang memang bisa dibilang lagu-lagu di album ini terkesan lebih "ringan" dan tidak memiliki kesan "dark" nantinya akan muncul di album-album mereka selanjutnya. I don't really dig this song tapi nada dan riff gitar di awalnya lumayan mengena di telinga.

Electronic Renaissance

Di awal gue bilang kalo gue sangat annoyed dengan lagu yang satu ini. Aneh aja tiba-tiba mendengar nada elektronik di tengah jangle-jangle ala indie pop. I must say that I don't really like this song.

I Could Be Dreaming

Riff dengan efek-efek delay/tremolo mengawali lagu berdurasi hampir 6 menit ini. Jujur aja lagu ini rada ngebosenin. But still, I like it. Lagu ini kaya lamunan seseorang di mana orang itu saban hari mengalami hal yang begitu-begitu aja. 

If you had such a dream
Would you get up dan do the things
you've been dreaming

We Rule The School

Nah, kembali lagi Stuart Murdoch menulis lagu dari sudut pandang orang yang terpinggirkan dan termarjinalkan di lingkungan sekolah. I love it. Menurut gue lagu ini kaya semacam ajakan untuk berbuat sesuatu hebat tanpa harus berpikir menjadi seorang yang "hebat" dan dipandang di lingkungan.

Call me a prophet if you like
It's no secret
You know the world is made for men....
Not us

My Wandering Days Are Over

Ahh I love this song! Gue mendengarkan lagu ini terus-menerus waktu jaman depresi berat gue. And yeah it made me feel better that day. Lagu tentang seseorang yang bertemu dengan orang yang akhirnya menjadi sahabat atas dasar persamaan visi dan nasib. And yeah, this was my song. :D


I said "My one man band is over"
I hit the drum for the final time and I walked away
I saw you in Japanese restaurant
You were doing it for businessmen on the piano, Belle
You said it was a living hell
You said that it was hell

I Don't Love Anyone

Kembali ke jalur yang menurut gue sangat mereka. Lagu ini tentang seseorang yang benar-benar skeptis dengan semua hal dan selalu merasa dia gak pernah suka dengan apapun yang ada di dunia. Memilih untuk sendirian ketika semua orang sedang bersama-sama. Yeah, lagu ini tentang kesendirian memang.

But if there's one thing that I learned when I 
was a child
It's to take hiding
Yeah, if there's one that I learned when I 
was still at school
It's to be alone

Mary Jo

Lagu penutup yang powerful kalo menurut gue. This song is typically theirs.Dibuat mengalir seperti sebuah cerita yang dinyanyikan. Gue suka gaya musik mereka yang seperti ini. Ahh, I love this song. Sebuah lagu yang sempurna menutup album yang menjadi awal dari ledakan mereka.

Mary Jo, no one can guess
What you've been through
Now you've got love to burn


Album ini memang dianggap tidak sekuat album-album mereka yang lain. But still it is worth to hear. Dan jelas Belle and Sebastian memulai langkah mereka dari album ini. I love this album, it's still a great album.

Life is never dull in your dreams
A sorry tale of action and the men you left Women,
and the men you
left for intrigue,
and the men you left for dead.

picture source: https://en.wikipedia.org/wiki/Tigermilk
, , , ,

The Sastro - Vol 1 (2005)

September 27, 2016 Samuel Yudhistira

source
Salah satu rilisan lokal yang menurut gue teramat pantas untuk dikoleksi dan didengarkan sebelum elo mampus. Album ini merubah warna Jakarta dan band ini menjadi semacam "mitos urban" di kalangan anak-anak muda sekarang.

Pertama kali gue denger lagu-lagu di album ini masih di era radio berjaya. Gue masih inget denger lagu "Rasuna" atau "Lari 100" lewat radio phillips jebot yang nangkring di kamar gue kala itu. Tahun 2005-2006 memang eranya gue ngulik band-band indie lokal walau saat itu gue masih tergila-gila dengan nu-metal atau industrial macam Nine Inch Nails,Linkin Park,Limp Bizkit,Korn, sampe Ministry.

Jujur awalnya gue gak terlalu ngeh dengan kehadiran band satu ini. Dan karakter musik yang dibawakan agak sedikit keluar dari jalur musik yang gue dengerin. Tapi ada satu titik di mana pada akhirnya gue tergoda untuk sekedar dengerin The Sastro secara khusyuk. Waktu itu gue masuk ke masa SMA dan internet mulai booming walau masih ala kadarnya.

Gue suka musik kaya gini.

Menurut gue album ini jenius. Wajar kalau The Sastro menjelma menjadi salah satu legenda musik di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Liriknya aneh bin ajaib tapi entah kenapa malah jadi sesuatu yang menyenangkan untuk dicerna oleh telinga anak remaja lagi mencoba menjadi pujangga jalanan.

Album ini dimulai dengan track instrumental berjudul "Plazamaya" dan sampe detik ini gue masih menganggap kalo lagu ini adalah salah satu lagu paling hebat yang digubah oleh band indie lokal. Banyak unsur yang membuat lagu instrumental berdurasi nyaris sepuluh menit ini menjadi penuh warna. Lo bisa dapetin progressive,indie pop, sampe new wave dicampur aduk dalam satu aransemen lagu. Canggih.

Lalu tiba-tiba di lagu kedua diawali dengan suara rekaman hujan dan sedikit gemuruh petir. Lagu yang merupakan favorit gue di album ini: "Kaktus". Suka banget gue di bagian intro dan liriknya bener-bener ngehe.

tempat kenangan tercipta 
dari baris senja terkunci 

maafkan aku Jakarta tentang kenangan lama akhir pekan berdua

sengaja kukenang bagian lain dimata jejakku, kisah dijiwaku kurangkaikan dalam lamunan kota jakarta yg hujan

Masuk ke lagu ketiga "Telefiksi" yang gak kalah bikin pengen nyanyi-nyanyi sendiri, nuansa mirip-mirip The Police cukup kental di lagu ini. Track berikutnya "Sejati" intro awalnya mirip jingle iklan minuman ringan deh hehe, gue suka liriknya. 

cahaya..
dari sinar purnama
sinar kecil isyarat arti jiwa
kuingin selamanya disini
bersama embun malam
membasuh wajah dunia
dengan bualan

diriku..
terjebak dalam malam kau disini
mengganggu dalam mimpiku

diriku..
merindu peluk hangat
samudera biru

Salah satu lagu The Sastro yang pertama kali gue dengerin mengisi track berikutnya: "Rasuna" walau agak bingung dengan suara ala-ala kartun gitu tapi selebihnya lagu ini adalah lagu yang hebat buat gue. Part gitarnya gue suka banget gatau kenapa. Terdengar catchy dan bikin pengen joget-joget, hehehe. Lalu memasuki salah satu lagu favorit gue di album ini judulnya "Sekilas" gue suka banget lagu ini. Intronya canggih buat canggih.

datang dan pergi aku tak mengerti
dari jalanan sepi seperti mereka
menatap malam penuh curiga

kau mencoba..
Memaksaku bicara
Haruskah dengan senjata
kumasih tak percaya


Yah, album ini gabakal lengkap kalo lagu berikutnya ini gak dibahas. Lagu ini yang membuat gue jadi demen banget sama musik The Sastro dan video klipnya gue masih inget banget pernah diputar di salah satu televisi swasta nasional. Cuek banget, sederhana,dan gue gak ngerti maksud video klipnya. Itu yang mungkin jadi daya tarik band ini: KETIDAKTAHUAN. Lagu ini judulnya "Lari 100" dan percaya atau tidak anak-anak yang lahir di generasi gue ataupun lebih tua dari gue yang dahulu punya hobi mantengin radio atau acara musik yang pada masa itu masih sangat keren pasti pernah dengar lagu ini. Lagu ini keren banget dari segi musik sampe lirik. Sumpah ini keren.

lari 100 di kota ini
lepaskan diri hindari waktu
lari 100 di sore ini
larikan diri dari nafsu

Lari 100 menembus waktu
memutar jalan kehidupanku
diam sembunyi di senja biru
takkan peduli kala sesuatu

satukan langkah, diami massa
sudut bergema riang bertabuh
hitam menjelma singkirkan massa
tertinggal jauh diam membisu

lari 100 di kota ini
lepaskan diri hindari waktu
lari 100 di sore ini
larikan diri dari nafsu

Tiba di akhir album ada lagu "Hantu TV" dengan nuansa new wave yang cukup kental dan semangat ugal-ugalan dengan lirik absurd penuh kritik terhadap hal-hal yang ada di sekitar kita. Sederhana, tapi justru hal-hal sederhana inilah yang terkadang menjadi sesuatu yang essential dan bikin manggut-manggut sambil mikir, "Oh iya yah, koq gak kepikiran yah..."

Gue masih ingat koq kejadian suara abis gue ketika album "Vol 1" merayakan ulang tahunnya yang ke-sepuluh dan pernah gue bahas juga di sini. Sebuah album yang harus kalian dengerin sebelum kalian pergi selamanya. Salah satu rilisan lokal terbaik yang masih gue dengerin sampe sekarang.


jangan…
halangi aku menjadi
semakin dekat dibalik mimpi-mimpi
kini nyata dan terus semakin nyata



credit to https://gulagilalugu.wordpress.com/2010/09/20/the-sastro/

, , , , , , , , , , ,

The Queen is Dead (1986)

August 23, 2016 Samuel Yudhistira
source

I really can't wait to share about one of the best album of 1980's. Untuk para pendengar dan pengamat musik album The Smiths yang satu ini merupakan puncak musikalitas mereka. Di album ini juga terdapat lagu The Smiths paling ikonik dan puitis yang pernah ada. This album titled: "THE QUEEN IS DEAD".

Dirilis pada tahun 1986 di Britania Raya dan sukses menembus beberapa chart musik ternama di Inggris sampai Amerika Utara. 

Beberapa lagu The Smiths yang paling gue suka juga berasal dari album ini kya: "There Is a Light That Never Goes Out", "Cemetry Gates", "The Boy with the Thorn in His Side", dan "Bigmouth Strikes Again" adalah beberapa lagu The Smiths favorit gue yang berasal dari album ini.

Perpaduan gaya jangle pop,British Invasion,musik orkestra,rockabilly, sampai punk rock menghasilkan sebuah mahakarya yang bahkan sampai sekarang masih memberikan pengaruh yang signifikan terhadap musik. Album ini memberikan sebuah sensasi yang luar biasa dan membuat The Smiths dinobatkan sebagai salah satu band terbesar di Inggris pada saat itu.

Aransemen musik yang luar biasa dan penulisan lirik yang cerdas. Beberapa majalah musik di masa itu menulis banyak review positif terhadap album ini.

Okey, mari kita bahas lagu-lagu di album ini yang berhasil membuat gue semakin tergila-gila dengan mereka.


The Queen is Dead

Jujur, ketukan drum Mike Joyce di awal dan sepanjang lagu ini buat gue sangat heavy dibandingkan permainannya di lagu-lagu The Smiths lainnya. What a song... Ketika Johnny Marr mulai bermain dengan pedal wah-wah semua terasa begitu keras ditambah lagi dengan lirik-lirik pedas ala Morrissey. A very great song.

Pass the pub that wrecks your body
And the church, all they want is your money
The Queen is dead, boys
And it's so lonely on a limb

Frankly Mr. Shankly 

Otokritik. Nuansa music hall sungguh amat terasa di lagu yang jelas-jelas menyindir label musik tempat The Smiths pernah bernaung saat itu: Rough Trade Records. 

Frankly, Mr. Shankly, this position I've held 
It pays my way, and it corrodes my soul
I want to leave, you will not miss me 
I want to go down in musical history 

I Know It's Over

This is an emotional song, very emotional. This song starts with minimal drum, quiet strumming acoustic guitar and a bass that intersperses Morrissey's highlighted voice. Menurut gue lagu ini mengisahkan tentang perpisahan yang abadi, akhir dari sebuah cerita yang panjang dan indah. Sebuah lagu yang sangat-sangat indah. Cocok didengarkan di kala hujan. hehehe

Sad veiled bride, please be happy
Handsome groom, give her room
Loud, loutish lover, treat her kindly
Although she needs you more than she loves you

Never Had No One Before

Lagu tentang kesendirian, tentang seseorang yang kesepian. Gue sering banget dengerin lagu ini ketika gue sedang dilanda kesendirian yang benar-benar parah. Gue merasa seperti tokoh dalam lagu ini yang berjalan entah kemana meratapi kensediriannya. Jujur lagu ini berasa banget nuansa 80-an.

I know I'm alone
I'm alone, I'm alone, I'm alone

And I never, never had no one ever
I never had no one ever

Cemetery Gates

Huah, I love this song. Kaya cerita tentang dua orang yang main-main ke kuburan sambil bawa buku masing-masing. Di lagu ini setidaknya ada 3 nama penulis yang disebut: John Keats,William Butler Yeats, dan Oscar Wilde. Faktanya, Morrissey memang adalah seorang yang sangat mengagumi semua karya dari Oscar Wilde dan lirik-lirik yang dia tulis banyak mengambil inspirasi dari Oscar Wilde.

Bigmouth Strikes Again

Salah satu single yang dirillis dari album ini. Lagu ini punya tema umum tentang perilaku kebanyakan manusia yang lebih banyak bicara daripada bertindak. Yep, BIGMOUTH. Sebagai tokoh yang tidak mainstream lagu ini lebih melihat ke sisi orang yang sebenarnya tahu tapi memilih tidak banyak bicara seperti orang-orang yang sok tahu. Sikap. Suara backing vocal wanita di lagu ini ditulis sebagai Ann Coates yang sebenarnya hanyalah tokoh fiktif rekaan Morrissey dan Johnny Marr sebagai bahan lelucon. Nama Ann Coates sendiri diambil dari nama salah satu distrik di kota Manchester yaitu Ancoats. Dan suara backing vocal wanita tersebut adalah suara Morrissey yang bernyanyi dengan efek suara gas helium.

Bigmouth, bigmouth
Bigmouth strikes again
And I've got no right to take my place
With the human race

The Boy with the Thorn in His Side

"The thorn is the music industry," Morrissey pernah berujar demikian dalam salah satu interview. Industri musik yang tidak pernah mau mendengar dan tidak pernah percaya dengan kemurnian sebuah karya dan menilai bagus atau tidaknya sebuah lagu dari berapa uang yang dapat dihasilkan. Lagu ini adalah lagu The Smiths pertama yang muncul dalam promosi video. Sebuah bentuk materi promosi jenis baru yang meledak di tahun 80-an. Awalnya mereka menolak dengan alasan mereka bukan bagian dari kapitalisasi industri musik tapi pada akhirnya label yang menentukan. Lagu ini menjadi favorit gue jujur gue suka banget suara Morrissey di lagu ini. Harmonisasi dengan musiknya benar-benar menghipnotis.

The boy with the thorn in his side 
Behind the hatred there lies 
A murderous desire for love 
How can they look into my eyes 
And still they don't believe me? 
How can they hear me say those words 
Still they don't believe me? 
And if they don't believe me now 
Will they ever believe me? 
And if they don't believe me now 
Will they ever, they ever, believe me?

Vicar in a Tutu

Lagu yang jika didengarkan oleh "close-minded believer" akan menjadi suatu perkara yang cukup besar. Lagu ini terkesan seperti dark joke untuk gereja Katolik. Mengisahkan tentang seseorang yang ditolak dalam lingkungan Katolik dengan alasan "kurang suci". Topik yang berat dibungkus dengan lirik dan musik yang sangat playful. Morrissey kenyataannya memang dibesarkan dalam lingkungan Katolik yang sangat kuat tapi dia sendiri menyatakan bahwa dia tidak pernah percaya terhadap konsep ke-Tuhan-an.

There is a Light That Never Goes Out

Genius!
Lagu ini hebat..puitis nan romantis. Salah satu lagu paling hebat sepanjang sejarah. Gue suka lagu ini. Saking sukanya bahkan di salah satu tembok kamar gue judul lagu ini gue tulis beserta liriknya. gue gabisa jelasin lagi liriknya. Biarkan kalian menentukan. This is a very very great song. 

Take me out tonight 
Where there's music and there's people 
And they're young and alive 
Driving in your car 
I never never want to go home 
Because I haven't got one 
Anymore 

Take me out tonight 
Because I want to see people and I 
Want to see life 
Driving in your car 
Oh, please don't drop me home 
Because it's not my home, it's their
Home, and I'm welcome no more 

And if a double-decker bus 
Crashes into us 
To die by your side 
Is such a heavenly way to die 
And if a ten-ton truck 
Kills the both of us 
To die by your side 
Well, the pleasure - the privilege is mine 

Take me out tonight 
Take me anywhere, I don't care 
I don't care, I don't care 
And in the darkened underpass 
I thought oh God, my chance has come at last
(But then a strange fear gripped me and I 
Just couldn't ask) 

Take me out tonight 
Oh, take me anywhere, I don't care 
I don't care, I don't care 
Driving in your car 
I never never want to go home 
Because I haven't got one, da
Oh, I haven't got one 

And if a double-decker bus 
Crashes into us 
To die by your side 
Is such a heavenly way to die 
And if a ten-ton truck 
Kills the both of us 
To die by your side 
Well, the pleasure - the privilege is mine 

Oh, there is a light and it never goes out 
There is a light and it never goes out 
There is a light and it never goes out 
There is a light and it never goes out 
There is a light and it never goes out



Some Girls Are Bigger Than Others

Rada sexist deh lagu ini. Tapi itulah The Smiths dan Morrissey secara khusus sebagai penulis lirik yang luar biasa cerdas. Dalam salah satu wawancara dengan majalah NME tahun 1986 Morrissey pernah berkata, "The whole idea of womanhood is something that to me is largely unexplored," sehingga akhirnya lahirlah lagu ini yang mengekspos bagian tubuh dari tiap wanita dan bagaimana hal tersebut bisa menjadi perdebatan panjang antar wanita. This song closes The Smiths' third album, The Queen Is Dead. The comedic and rather frivolous lyrics are noted for standing in ironic contrast to the bleak tales told on the rest of the album. 

Yep, seperti statement dari drummer The Smiths, Mike Joyce, "Only Morrissey could get away with that lyric - vegetarianism, sexism, children being murdered."

, , , , , , ,

Strangeways, Here We Come (1987)

August 08, 2016 Samuel Yudhistira
Another Smiths' album. Wajarlah, berhubung mereka band keren dan gue suka jadi gue mau berbagi tentang pandangan gue mengenai album keempat dan terakhir mereka: "Strangeways, Here We Come" yang dirilis 4 bulan setelah band ini menyatakan bubar di tahun 1987.

Let's just skip about the story behind this album ato musikalitas album ini. Orang lain mungkin punya skill dan tanggung jawab lebih untuk menceritakan hal-hal demikian. Di sini gue cuma mau menceritakan hubungan album ini dengan apa yang gue rasakan dan nikmati.


Ini mungkin adalah album The Smiths pertama yang gue punya dan dengerin. Pertama kali gue dengerin "Stop Me If You Think You've Heard This One Before", "Girfriend in a Coma", sama "A Rush and A Push and The Land is Ours" melalui album yang luar biasa ini.


Sayangnya, The Smiths bubar setelah rekaman album ini (waktu dirilis mereka udah bubar). Menurut sumber-sumber yang gue baca album ini juga adalah album favoritnya Morrissey dan Johnny Marr seperti yang dikutip dari perkataan Morrissey, "We say it quite often. At the same time. In our sleep. But in different beds."


Menjadi satu-satunya album di mana Morrissey memainkan instrumen piano di lagu "Death of a Disco Dancer."


Lagu-lagu di album ini emang rata-rata judulnya panjang. Gatau deh kenapa. Kalau dibandingkan dengan album-album The Smiths sebelumnya kayanya tracklist di sini judulnya agak sedikit panjang.

Mari bahas lagunya satu per satu.

1. A Rush and A Push and The Land is Ours

Suara piano di awal langsung disambung masuknya vokal dari Morrissey. Jangling-nya masih berasa walau faktanya tidak ada gitar sama sekali di lagu ini. Gue suka lagu ini. Morrissey masih sering bawain lagu ini setelah bersolo karir dengan beberapa perubahan pada liriknya.

They said : 
"There's too much caffeine 
In your bloodstream 
And a lack of real spice 
In your life" 
2. I Started Something I Couldn't Finish

Gue suka intro gitarnya. Berdistorsi ringan. Salah satu lagu mereka yang gue dengerin di awal gue tahu The Smiths (sekitar jaman SMA). Gue langsung suka. Lagu ini keren banget  sampe sering gue putar ulang di MP3 player gue di jaman itu. Arti lagu ini kayanya juga mirip-mirip sama sifat geblek gue yang hobi maksain orang untuk ikutan "nyebur" dalam satu hal yang orang lain belum tentu suka dan di tengah jalan malah berubah jadi sedikit bencana.

3. Death of a Disco Dancer

Satu-satunya lagu di mana Morrissey memberikan kontribusi instrumen musik. Yep, doi memainkan piano di lagu ini, satu hal yang patut dicatat. Gue suka lagu ini. Tentang kematian dan betapa rasa kemanusiaan mulai dipertanyakan dalam kehidupan sehari-hari.

And if you think Peace 
Is a common goal 
That goes to show 
How little you know
(sebuah lirik yang kick-ass)

4. Girlfriend in a Coma

Ahhh my favourite song!! Lagu maha sarkas,penuh candaan yang ngehek, dan cerdas seperti biasanya gue suka banget lirik-lirik Morrissey yang puitis tapi tetep liar. Saking liarnya sampe lagu ini gadapet airplay di radio-radio Inggris termasuk BBC masa itu.

5. Stop Me If You Think You've Heard This One Before

I love this song. Gitarnya Johnny Marr bener-bener menghipnotis. Gue dulu sempet ngulik lagu ini dalam versi yang cukup kacau. Dan kembali tidak mendapatkan airplay dari radio di Inggris dikarenakan salah satu liriknya terdapat kata-kata "mass murder" yang dinilai terlalu ofensif termasuk lirik yang berbunyi, "a shy,bald, buddhist reflect." 
Gue suka video klip-nya. Jujur aja gue lagi sempet nyari cara bikin emblem kaya di video klip itu trus naik sepeda keliling kota. hehe.

I crashed down on the crossbar 
And the pain was enough to make 
A shy, bald, buddhist reflect 
And plan a mass murder

6. Last Night I Dreamt That Somebody Loved Me

Lagu yang dinilai oleh David Bowie sebagai yang terbaik di album ini dan menyatakan bahwa Morrissey adalah salah satu penulis lirik terhebat sepanjang sejarah. Gue sangat membenarkan Bowie. This is a great song. Liriknya juga sungguh luar biasa. Simpel tapi penuh arti.

Last night I dreamt
That somebody loved me
No hope - but no harm
Just another false alarm
Last night I felt
Real arms around me
No hope - no harm
Just another false alarm
So, tell me how long
Before the last one?
And tell me how long
Before the right one?
This story is old - I KNOW
But it goes on
This story is old - I KNOW
But it goes on
7. Unhappy Birthday 

Lagu sarkas yang memutarbalikkan kondisi tentang ulang tahun seseorang yang menurut kita "jahat". Gue suka lagu ini secara musikalitas sangat di luar pola pikir. Hal sederhana yang menjadi sebuah hal yang monumental dan begitu indah. Cara yang manis untuk menyindir seseorang.

8. Paint A Vulgar Picture

This song kicks our ears with a very "Marr" jangly thing. Jrruweeengwengwengweng. Disusul riff bass-nya Andy Rourke dan hentakan kick drum Mike Joyce. Sayup-sayup terdengar sedikit aksen tambourine baru deh masuk suara Morrissey.
Dari liriknya kayanya menceritakan tentang retorika dunia hiburan (showbiz) di mana musisi mendapat tekanan dalam berkarya demi keuntungan semata tanpa memikirkan sisi estetikanya. Kenyataan yang masih terjadi dalam dunia hiburan terutama musik akhir-akhir ini.

9. Death at One's Elbow

Salah satu lagu yang liriknya gue masih bingung artinya apa. Entah tentang affair,entah tentang suicide, entah tentang pasangan gay. Ada yang bilang diambil dari buku "James Dean is Not Dead" tapi ada juga statement lain yang bilang lagu ini diambil dari buku "The Orton Diaries" yah apapun itu pokoknya inti lagu ini adalah hal yang tragis dan menyedihkan. 

10. I Won't Share You

Final track. Dan sebuah hal yang benar-benar tepat menutup perjalanan album ini dan karir studio The Smiths. This is their legacy. Lagu ini gue sukaaaaa banget. Johnny Marr mainin autoharp di lagu ini. A very sweet song in my opinion. I won't share you/With the drive/The ambition/And the zeal I feel/This is my time. 

Huaah I really love this song. 

Pada akhirnya ini adalah album yang luar biasa. Secara musikalitas tetap mengejutkan dengan beberapa elemen instrumen yang mengisi beberapa lagu. Sayang memang menjadi karya album terakhir dari band yang sudah menginspirasi musisi di generasi selanjutnya seperti The Stone Roses,OASIS,Blur,The Libertines, dan banyak lagi band-band lain.