#4

Frequently asked questions from those people around me about my mental illness.

1.Kayanya lo baik-baik aja, koq bisa sakit?

Actually, I pretend everyday just to make people around me feel comfortable with me. It went well, year after year, until my mind exploded in 2016.

2. Lo depresi gara-gara putus kali yah?

No it's not. It's a trigger, yes. But it's not the main cause.

3. Trus penyebabnya?

Ada banyak penyebabnya gak cuman ada satu penyebab utama. Rejection, genetic, failing, hormonal disorder are the main causes to this illness and depression.

4. Apa yang lo rasakan ketika depresi menyerang?

Well... halusinasi, bisikan, suara di kepala, perasaan tertekan, visual, emosi yang labil, ada banyak.

5. Visual?

Yeap. Ketika gue lagi bengong atau berada di bawah tekanan depresi biasanya gue bisa membayangkan sebuah visual di dalam kepala gue dan muncul di sekitar gue. Artinya, apa yang bayangkan di dalam kepala itu bisa muncul seperti nyata padahal sebenarnya gak ada. Makanya gue bisa menciptakan banyak karakter fiksi yang gue bayangkan nyata. Masalahnya? Gue hidup di dalam visual tersebut dan gue menghidupi visual tersebut bahkan kadang gue berusaha untuk menjadikan visual tersebut sebagai cara gue untuk hidup. Sialnya, hal itu gak bagus. Semacam memberikan nutrisi ke depresi gue sehingga gue sulit lepas dari depresi.

6. Kapan visual itu bisa muncul?

Anytime. Bahkan di waktu-waktu yang gak bisa diprediksi. Waktu di motor, di gereja, di kantor, lagi ngumpul sama orang-orang, lagi main game, kapan aja bisa muncul. And it's very vivid.

7. Bisa sembuh gak sih?

Bisa. Tapi butuh proses yang lumayan panjang. Semua tergantung dari si penderita. Gue sudah struggle selama dua tahun sekarang sejak pertama kali depresi gue terdeteksi. Sampai hari ini gue masih berjuang melawan diri gue sendiri.

8. Lo konsul ke dokter atau psikolog gitu gak?

Both. Untuk awal gue konsul ke psikolog tapi karena penyakit gue sudah lumayan parah akhirnya gue berobat ke psikiater (dokter penyakit kejiwaan). Gue konsumsi obat-obatan mulai dari penenang, anti depresan, sampe ke benzo buat membantu gue pulih.

9. Gue baca-baca di internet soal ciri-ciri mental disorder dan kayanya gue ngalamin juga. Apa gue minum obat aja?

Wait! Jangan ambil kesimpulan sendiri. Jangan melakukan diagnosa berdasarkan dari apa yang lo baca di internet atau buku. Lo tetep butuh opini dari orang-orang yang punya kualifikasi dan pengalaman profesional. Kalo bisa gak pake obat kenapa mesti pake obat? Mental illness bukan sesuatu yang keren. Mental illness gak bisa dijadikan sesuatu yang membenarkan perilaku orang yang menyebalkan. Please, jangan melakukan hal-hal aneh dan menyalahkan mental disorder. Hal tersebut malah membuat orang-orang menjadi tidak aware dengan penderita yang sebenarnya.

10. Jadi, sebenarnya penyakit lo ini apa sih?

Gue mengidap Major Depression with Psychotic Features dan Obsessive Compulsive Disorder. Intinya adalah gue depresi. Gue masih berjuang untuk memulihkan diri gue dan gue yakin kalo gue bisa pulih. Masih banyak koq penderita lainnya yang berjuang sama beratnya bahkan lebih berat daripada gue. We can live normally hanya saja kadang kita bisa ngeliat atau ngerasain hal-hal yang orang awam gak bisa. Gak, gak, gak ini bukan kesurupan atau ditempelin roh jahat koq. Secara medis bisa dijelaskan. Pada kasus gue otak tengah gue gak bisa ngebedain lagi hormon yang membuat gue senang dan sedih jadinya terjadi badai hormon di otak sehingga menyebabkan perilaku gue jadi super duper aneh. Obat yang gue minum fungsinya adalah menstabilkan kembali hormon-hormon tersebut supaya gue bisa fokus dan gak terdistraksi.

11. Ooohhh gitu toh, terus reaksi orang-orang gimana?

Ada yang kaget, ada yang ngerasa gue boong, ada yang bingung, ada yang bilang gue gila, ada yang sedih, ada yang support, ada yang positif, ada yang seneng, banyak deh heehe.

12. Lo pernah nyoba bunuh diri?

Pernah. Niatan untuk mengakhiri hidup mah sering banget tapi yang nyaris terjadi dan pernah terjadi ada sekitar 10 kali. Terakhir gue hampir nabrakin diri ke kereta. Semua itu terjadi karena gue gak tahan dengan suara-suara di kepala gue yang merendahkan gue ke titik di mana akhirnya gue berkesimpulan kalau hidup itu gaada gunanya.

13. Weh, hebat lo masih hidup...

Gak koq. Banyak yang mengalami hal yang jauh lebih parah dari gue dan mereka masih hidup normal di luar sana. Permasalahan utama sekarang adalah menjalani hidup sepositif mungkin dan gue membangun support system lingkungan yang positif sehingga setiap kali gue mengalami masalah atau kambuh gue bisa meminta pertolongan ke mereka. Hal ini perlu karena orang yang mengalami gangguan kejiwaan atau mental illness atau mental disorder atau mental health issues MEMBUTUHKAN semacam dukungan dari orang-orang terdekat yang sekiranya mengerti mengenai masalah mereka. Di Indonesia hal-hal semacam ini masih sangat tabu. Kebanyakan penderita gangguan kejiwaan dianggap sepele. Bahkan dianggap kurang iman, kerasukan roh jahat, atau kutukan. Gak heran di daerah-daerah kebanyakan penderita diperlakukan secara tidak manusiawi, dipasung, dibuang, dan semacam diasingkan.


Comments

Popular Posts