Showing posts with label tentang dia. Show all posts
Showing posts with label tentang dia. Show all posts
, , , ,

Kisah Parkiran

February 07, 2017 Samuel Yudhistira
Si laki-laki berjalan mondar-mandir dengan tatapan bingung bercampur kesal sambil berbicara melalui telepon genggamnya. Dua jam lagi si wanita tiba, itupun belum pasti tergantung dari belas kasihan jalanan Jakarta yang selalu mampu menghambat orang-orang untuk bertemu tepat waktu. Percakapan di telepon genggam barusan nampaknya membuat si laki-laki bertambah gusar. Dia memutuskan untuk membeli segelas kopi instan dan beberapa batang rokok ketengan untuk menemaninya membunuh waktu tanpa sadar dua teman menunggu tersebut perlahan membunuh dirinya juga secara perlahan.


Ruang tunggu supir di mall adalah tempat yang cukup menyenangkan untuk sekedar duduk menikmati kopi dan kretek sambil menunggu datangnya si wanita yang terjebak kemacetan. Berhubung ini mall yang elit di kawasan Jakarta sudah tentu ruang tunggu supirnya dibuat cukup nyaman karena para supir pasti akan lama menunggu majikan mereka sibuk berbelanja atau sekedar ngopi di kafe kontras dengan mereka yang minum kopi instant dari gelas bekas air mineral.


Dimulailah cerita tentang mobil-mobil majikan mereka dengan beragam fiturnya yang mutakhir,kecepatan,kekuatan,dan kestabilan mobil-mobil super tersebut ketika melaju di jalan bebas hambatan atau tentang jarak yang mereka tempuh sehari-hari dari rumah ke kantor lalu ke mall atau bahkan ke tempat pijit dengan layanan "ekstra" selain sekedar merenggangkan otot yang kaku.
30,25,20,15,8,5 tahun sudah mengabdi di balik setir para majikan mereka.
Truk,jip,mobil boks,hingga sedan mewah sudah pernah menjadi rekan kerja mereka selama bertahun-tahun.

Dari aparat,executive,militer,hingga pegawai negeri sudah pernah menjadi tuan mereka.
Gosip majikan masing-masing menjadi penyedap rasa untuk cerita mereka.
Kebahagiaan hingga penyesalan semua menguap larut bersama udara malam.
Gaji pas-pasan dengan hutang bertumpuk menyambut mereka setiap hari di rumah.


Si laki-laki larut dalam khayalannya sendiri mencoba membayangkan menempuh Jakarta-Bogor dan sebaliknya setiap hari atau tenggelam dalam kemacetan ekstrim yang setiap hari memaksa orang-orang mengumpat setiap kali terjebak di dalamnya. Di dalam hatinya dia berdoa bersyukur atas apa yang dia genggam sekarang. Kopinya menyisakan ampas dan rokoknya mulai membakar filter menandakan tidak ada lagi tembakau untuk dibakar dan dihisap. Satu gerakan membuang dan menginjak menandakan pesta perusakan paru-paru sudah selesai.


Satu demi satu supir yang tadi ramai menunggu mulai mulai menyepi dipanggil para majikan. Telepon dari majikan menjadi panggilan surga menandakan majikan mereka sudah selesai beraktivitas dan sudah saatnya untuk pulang kembali ke rumah.


Si laki-laki menerima panggilan yang menandakan si wanita sudah tiba di mall tersebut membawa kerinduan bertumpuk beserta kelelahan fisik setelah didera kemacetan di jalan. Dilihatnya si wanita berjalan terburu-buru dengan wajah merasa bersalah karena membuat si laki-laki menunggu begitu lama. Dipeluknya tubuh si laki-laki sambil meminta maaf. Si laki-laki hanya tertawa dan tersenyum sambil mengusap rambut si wanita. Hilang semua lelah akibat menunggu dan duduk di mobil begitu lama hanya dengan pelukan dan senyuman.


Mungkin yang dibutuhkan semua orang itu hanyalah pelukan dan senyuman untuk membunuh semua beban lelah yang hinggap di tubuh. Yeah, saya mengalaminya dan saya rasa itu berhasil.
, , , ,

About A Girl...

December 12, 2009 Samuel Yudhistira
Sekilas judul postingan gw kya judul lagunya Nirvana, band grunge legendaris asal Seattle... Tapi kita gak akan bicara secuil pun tentang lagu. Tapi tentang sesuatu yang mungkin ada hubungannya sama judul lagu itu.

Khalil Gibran pernah menulis kya gini, "Cinta berlalu di depan kita, terbalut dalam kerendahan hati; tetapi kita lari darinya dalam ketakutan, atau bersembunyi di dalam kegelapan; atau yang lain mengejarnya, untuk berbuat jahat atas namanya.

Dan itulah kondisi gw sekarang ini. Gw serasa berdiri di sebuah Crossroad antara iya atau tidak. Mungkin ada kalanya gw mengerti perasaan orang lain. Tapi gw kurang peka kalo untuk masalah kya gini. Dampaknya sungguh buruk....

Ada seorang cewe yang gw kenal pendiem,gak terlalu banyak bicara,lumayan cantik,tajir,dan lumayan dewasa dalam bersifat. Gw sebenarnya gak terlalu deket ama dia tapi temen" gw banyak yang kenal sama dia, tapi walaupun kita kebetulan lagi ngobrol" dan ada dia di situ gw gak terlalu merhatiin.

Tapi suatu hari...

Tiba" dia minta tolong ama gw tentang suatu masalah yang agak rumit dan gw bersedia aja karena gw nganggep dia itu TEMEN gw. Dan gw jadi lumayan deket ama dia walaupun gw gak terlalu merhatiin dia. Tapi ternyata terjadi kesalahpahaman.

Karena gw udah ngebantuin dia memecahkan suatu problemnya yang agak susah dan rela ngebantuin dia kapanpun dia mau menimbulkan suatu perasaan: Dia suka ma gw...

Gw bingung musti gimana!!

Jadi selama gw ngebantuin dia, dia nganggep gw tuhh tulus banget dan baek ma dia, bahkan dia mpe curhat ke temen" gw. Dia nanyain secara detail tentang gw.

Dan gawatnya gw gak ada "rasa" ama dia!

Seriously, gw bingung mo gmn... don't know what to do...

Walaupun emang dia cantik dan perfeklah kalo kata temen" gw. But, she isn't my type! Gmn donk!

Bahkan dia udah ampe curhat ke guru agama sekolah gw! *Gila banget dahh!!*

Emang bener kata" Khalil Gibran, "Hati wanita seperti padang yang berubah menjadi medan peperangan; setelah pohon-pohon tercerabut, rumput-rumput terbakar,batu-batu karang dilumuri darah dan bumi penuh ditanami tulang dan tengkorak, lalu perlahan-lahan diam dan sunyi, seolah-olah tak ada yang pernah terjadi; musim semi dan musim gugur datang di antara mereka dan mencatat segala yang terjadi...