Buku Catatan Ini Tertinggal di Laci Meja Kelasmu (part 2)

Melaju kencang di lajur kanan menuju ke jantung kotamu yang abu-abu dan kelam. Semua sudah berubah total hingga saya nampak seperti masuk ke dimensi lain. Romantisasi tempat kenangan sudah hilang seiring waktu berjalan. Huah...berpuluh-puluh tahun saya menolak untuk beranjak dari sini. Setelah saya sadari sudah terlalu lama saya berada di sini. Mungkin sudah waktunya saya beranjak menjauh dari kota ini, dari kotamu, dari segala hiruk pikuk gak jelas yang ditimbulkan. 

Hidup sudah menginjakmu lebih keras daripada sebelumnya. Hidup sudah mempermainkanmu jauh lebih bengis daripada sebelumnya. Hidup sudah mengambil semua hal yang membuatmu tinggal di dalam kenangan yang sia-sia.


Saat duduk kembali di sudut favorit, tidak ada hal yang menyenangkan muncul di dalam kepalamu. Hanya momen-momen buruk yang membuat  dirimu mual dan muntah. Terlalu lama saya habiskan masa muda melakukan hal sia-sia. Teringat salah satu teman berkata: "Hanya lakukan hal yang menghasilkan uang. Kalau tidak ada uang di dalamnya lebih baik ditinggalkan,"

Sekarang saya pikir ada benarnya juga. Masa depan itu adalah tentang menghasilkan uang. Tidak apa-apa menjadi "bukan siapa-siapa" asalkan masa depanmu "aman secara finansial" semua akan baik-baik saja.

Zona amanmu adalah dirimu sendiri. 

Sudah tidak ada lagi yang patut diperjuangkan di sini. Semua sudah diambil oleh "Si Empunya Kuasa" mungkin agar kau bisa keluar dengan nyaman tanpa tekanan atau rasa rindu untuk kembali lagi ke sini. Sudah kenyanglah dirimu dengan segala hal bodoh yang kau lakukan. Mungkin juga ini adalah sebuah pertanda bahwa kau sudah harus meninggalkan semua. Semuanya. Tumpas habis semua hingga tidak ada bekasnya sedikitpun.

What makes you feel better?

Umm...nothing.

Comments