Showing posts with label movie. Show all posts
Showing posts with label movie. Show all posts
, ,

Post War Movies

November 23, 2023 Samuel Yudhistira




Sudah lama sekali tidak menulis tentang film. Beberapa hari belakangan gue diberikan rekomendasi film dari seorang kawan. Filmnya Christian Petzold, seorang sutradara handal dari Jerman yang juga menyutradai film Barbara sama Toter Mann, both are great films! Karena penasaran gue coba untuk lihat trailer-nya lalu baca sinopsisnya. Hmm...menarik. Mungkin ke depannya akan mencoba buat cari filmnya. Btw, ada beberapa streaming services kalau mau lihat film-film Eropa atau film-film indie secara legal. Mungkin dibahas nanti. Kembali ke topik! Setelah gue membaca sinopsis filmnya, latar belakang cerita, terus juga trailer dari filmnya, gue malah teringat beberapa film yang pernah gue tonton. Okeh, jadi tema utama film Phoenix adalah kehidupan "post-war" di Jerman setelah Perang Dunia Kedua selesai. Bagaimana mereka yang selamat dari kerasnya perang ternyata masih harus "berperang" kembali di kehidupan bermasyarakat. 

Menarik. Gue selalu membayangkan (semoga tidak mengalami) kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan banyak lainnya setelah melewati masa-masa kelam peperangan. Can you imagine? Life must be tough. For those who fought, death and destruction were very very common. Lalu tiba-tiba semua harus dibangun kembali dan menjadi manusia normal dalam society yang berbeda. Gak heran banyak yang depresi dan bingung ketika harus bergabung kembali dalam masyarakat.

Lalu gue teringat, kayaknya gue pernah nonton beberapa film dengan tema serupa atau mirip-miriplah kayak film Phoenix yang direkomendasikan teman gue ini. Berdasarkan ingatan gue yang gak bagus-bagus amat gue pengen coba berbagi beberapa film yang menurut gue lumayan oke dengan tema serupa. Because sometimes we glorify the madness of war and fail to understand what these men and women have gone through. 

Jujur, ini hanya berdasarkan ingatan gue. Kalau ada yang kelewat...ya mungkin emang gue belum nonton aja dan belum dapat akses buat nonton. Oh..This is not a review...I'm not an expert. I ain't passed the bar anyway. So, here they are:

Those Who Remained (Barnabás Tóth, Hungary, 2019)


Salah satu film yang diputar dalam event tahunan Europe on Screen, film ini kalau gak salah gue nonton di pagelaran tahun 2021. Film dari Hungaria yang menceritakan tentang dua orang yang selamat dari kamp konsentrasi dan menyadari kalau lingkungan mereka sudah tidak sama lagi karena nyaris semua orang yang mereka kenal sebelum perang sudah meninggal semua dan tinggal menyisakan mereka. Lumayan okelah, dapat sedikit gambaran tentang kondisi masyarakat di Hungaria pasca perang dan menjalani kehidupan di bawah pengaruh kuat Uni Soviet.



Frantz (François Ozon, France/Germany, 2016)


Okeh, this one...wew...unexpecting ending. Ini total remake sih emang karena memang film ini pada dasarnya adalah remake dari film Broken Lullaby (1932) yang disutradarai oleh Ernst Lubitsch yang juga adalah sebuah adaptasi dari karya teater Prancis dengan judul L'homme que j'ai tué karya Maurice Rostand. Gue nonton Broken Lullaby justru setelah gue nonton Frantz dan ternyata memang ada beberapa scene yang lumayan berbeda tapi malah jadi lebih okelah. Inti ceritanya adalah seorang mantan tentara Prancis yang datang ke Jerman setelah Perang Dunia I berakhir di mana kondisi politik Jerman pada kala itu setelah kalah perang cukup kacau dan sentimen anti Prancis sedang marak. Salah satu hal yang menurut gue lumayan keren adalah keputusan untuk membuat film ini ditayangkan tanpa warna (black & white) yang bikin berasa nonton film lama...yaah mayan okelaah mendengar dialog orang Prancis ngomong bahasa Jerman terus orang Jerman ngomong bahasa Prancis. hehehe...oiya versi aslinya juga gak kalah oke kok kalau mau ditonton.

Warning: Endingnya ngehe! hehe


The War (Jon Avnet, USA, 1994)


Gue masih ingat betul nonton film ini barengan bokap nyokap gue di rumah. Ini film yang lumayan menarik tentang seorang veteran perang yang mengalami banyak kegagalan akibat kondisi mentalnya yang gak stabil pasca bertugas di Vietnam. Banyak scene yang lumayan moving buat gue. Salah satu film yang membuat gue ingat sama bokap senantiasa (RIP to you, old man!) selain karena gue pertama kali nonton film ini sama beliau dan juga film ini banyak cerita tentang hubungan bapak dan anak laki-lakinya. Elijah Wood masih bocah banget di film ini...


Land of Mine/Under sandet (Martin Zandvliet, Denmark/Germany, 2015)


Based on true event. Yeah, salah satu cerita pahit setelah Perang Dunia II berakhir di mana para tawanan perang dipaksa untuk membersihkan ranjau di pesisir pantai Denmark. Most of the POWs were boys...dan faktanya memang banyak dari mereka yang akhirnya mortally wounded atau bahkan tewas ketika membersihkan ranjau. It's a great film...a depressed one..ketika perang sudah selesai tapi anak-anak muda ini masih harus bertanggung jawab atas sesuatu yang mungkin mereka juga gak paham.



Born on the Fourth of July (Oliver Stone, USA, 1989)


Again, Oliver Stone...sutradara yang bertanggung jawab memberikan kita banyak sekali film-film bagus. Salah satunya yaa film ini. Diadaptasi dari memoir yang ditulis oleh Ron Kovic, salah satu aktivis anti perang dari Amerika Serikat yang memang mengalami kelumpuhan ketika terluka di Perang Vietnam. Kita benar-benar dibawa dari optimisme anak muda sampe cynical orang yang sudah mengalami peperangan itu sendiri. A very moving film...sedih sih...Memoir dari Ron Kovic dengan judul yang sama juga bagus banget buat dibaca..Btw, Tom Cruise keren sih di film ini.





The Railway Man (Jonathan Teplitzky, UK/Australia/Switzerland/France)


Diadaptasi dari memoir yang cukup terkenal mengisahkan tentang tawanan perang di Pasifik yang dipaksa untuk membangun rel kereta untuk Jepang. Kisah Eric Lomax yang akhirnya mengkonfrontasi serdadu Jepang yang dulu menyiksa dia setelah tahu kalau serdadu Jepang tersebut masih hidup ini lumayan membuat emosi naik turun. Berbagai jenis bentuk penyiksaan dan kondisi para tawanan yang dipaksa membangun rel kereta membuat kita berpikir: Wew...that's what a human could do to another human. Colin Firth was absolutely great in this movie walau gue masih kebayang-bayang karakter dia di film "King's Speech" hehehe...



Great Freedom (Sebastian Meise, Austria, 2022)


Untuk konteks tambahan, film dokumenter "Paragraph 175" bisa lumayan menjelaskan kondisi orang-orang homosexual yang dikirim ke kamp konsentrasi di Jerman dan wilayah-wilayah yang ditaklukkan Jerman pada masa Perang Dunia II. Di film ini dijelaskan kondisi mereka yang masih dianggap melakukan pelanggaran hukum karena Paragraph 175 belum dihapuskan pasca Perang Dunia II sehingga semua hubungan sesama jenis dianggap sebagai perbuatan kriminal. Di film ini kita diajak untuk melihat sisi yang selama ini mungkin jarang dibicarakan atau susah untuk dilihat. Yeap, sisi mereka yang dikriminilasi karena orientasi seksual. Endingnya menarik buat gue. Menarik untuk dilihat karena Paragraph 175 yang resmi menjadi statuta hukum di tahun 1871 baru dihapus tahun 1994, sementara Jerman Timur (DDR) sudah menghapus undang-undang tersebut di tahun 1968.



The Reader (Stephen Daldry, Germany/USA, 2008)


Inspired by a real life person. Film ini lumayan menarik karena pada akhirnya ketika identitas asli dan masa lalu seseorang yang kita sayang terbongkar sudah pasti kita bakalan kaget. Bercerita tentang kondisi Jerman pasca Perang Dunia II di mana banya kolaborator dan mereka yang dahulu melakukan kejahatan di masa perang mengalami persidangan. Mungkin adegan persidangan baru muncul di pertengahan film tetapi di awal kita akan melihat hubungan antara tokoh utama dengan seorang wanita yang usianya terpaut sangat jauh dan mungkin berpikir: Hmm, kayak ada yang aneh sama orang ini. 

It's a great movie! Temanya mungkin gak berat-berat banget tapi lumayan menarik karena memberikan kita sudut pandang yang baru tentang kehidupan, pola pikir, dan bagaimana generasi baru Jerman pasca Perang Dunia II melihat kejahatan yang dilakukan oleh generasi sebelumnya.



Au revoir là-haut (Albert Dupontel, France, 2017)


Merupakan adapatasi dari novel karya Pierre Lemaitre dengan judul yang sama. Gue direkomendasikan film ini oleh salah satu kawan dan ternyata lumayan menarik. Kisahnya tentang seorang prajurit Prancis yang terluka di era Perang Dunia I dan harus menjalani operasi yang membuat dia kehilangan sebagian besar wajahnya. Dengan ketidakmampuan dia untuk bicara dan harus menggunakan topeng untuk menutupi luka permanen di wajahnya si tokoh utama film ini pada akhirnya menjalin pertemanan dengan seorang gadis kecil dan salah satu orang yang menyelamatkan dirinya di kala pertempuran berlangsung. Profiteering pasca perang memang lumayan jarang dibahas dalam tulisan ataupun film dan di film ini lumayan banyak menyinggung tentang sebagian orang yang memanfaatkan kekacauan administrasi pas perang besar demi keuntungannya sendiri. A great movie!




Johnny Got His Gun (Dalton Trumbo, USA, 1971)




It's one of the best anti war films ever made! Di film ini banyak banget scene yang sangat memorable buat gue ketika pertama kali menyaksikkan film ini. Mungkin salah satu yang mendorong film ini naik ke pop culture ketika dipakai sama Metallica untuk video klip lagu mereka yang judulnya One. Kalau boleh jujur film ini lumayan "mengganggu" buat gue karena saking banyaknya scene yang haunting. Gue sampe kepikiran kalau kondisi gue sampe begitu gimana yee...Hadeh...Since it's an anti war movie jadinya memang banyak pesan mengenai betapa peperangan itu meaningless dan cuman membawa keuntungan bagi sebagian kecil orang. Salah satu quote film ini yang masih membuat gue bergidik ketika menyaksikan film ini kembali:

Inside me, I'm screaming and yelling and howling like a trapped animal... and nobody pays any attention. If I had arms, I could kill myself. If I had legs, I could run away. If I had a voice, I could talk and be some kind of company for myself. I could yell for help, but nobody would help me.




Un long dimanche de fiançailles (Jean-Pierre Jeunet, France/USA, 2004)


Film ini menjadi salah satu film favorit gue sepanjang masa. Gak tahu yah, coloring dan movement film-film Prancis pasca suksesnya film Amélie keknya mengubah trend dalam cerita, editting, dan warna di film. Gue merasa cerita di film ini sangat-sangat oke sekali. You have the humour, battle scenes, love, and desperation dalam satu film. Buat gue film ini fantastis! Again, kebayang betapa kacau balaunya administrasi sebuah negara setelah perang berakhir banyak diceritakan di film ini. And you know what, this movie taught me about love. Ketika orang-orang banyak yang skeptis, cynical, bahkan menjatuhkan, tapi kalau lo tetap percaya dan fight for it, who knows, mungkin aja ada jalan.

And again...the ending...



Ladri di biciclette (Vittorio De Sica, Italy, 1948)


Kalau bicara tentang Italian Neorealism mungkin film ini adalah salah satu film di garda terdepan. Diadaptasi dari novel karya Cesare Zavattini, film ini benar-benar membuat gue kagum dengan teknik pengambilan gambar dan ceritanya. Vittorio De Sica punya banyak banget film bagus terutama di era pergerakan Neorealism. Kalau gue ditanya film favorit gue sepanjang masa apa gue pasti dengan cepat akan menjawab: Ladri di biciclette...Film ini menceritakan tentang kondisi Italia pasca Perang Dunia II di mana pada era pas Perang Dunia II kondisi Italia secara politik dan ekonomi super duper berantakan. Di film ini ada banyak sekali scenes yang membuat gue terharu...how a dad is willing to fight for the sake of his family..aduh sedih deh pokoke...dan di akhir film...ahhh lihat sendiri! Kalau bicara soal film ini gue gak bisa berhenti karena banyak banget hal yang gue ambil dan layak didiskusikan.





***

Sebenarnya masih banyak banget sih film-film dengan tema post war yang pernah gue tonton dan mungkin akan gue tonton lagi. List di atas gue buat berdasarkan ingatan semata dan seru aja euy, dah lama gak bahas-bahas fim...hehehe... Beberapa film post war yang gue suka juga tapi gak gue breakdown di atas tuh kayak Werk ohne Autor (2018), Hiroshima Mon Amour (1959), Barbara (2008), Die Ehe der Maria Braun (1978), Germania anno zero (1948), dan Umberto D. (1952). Mungkin bakalan gue bahas selanjutnya setelah gue nonton Phoenix yah, hehe...at last...after the war...winners take nothing.


Movie Review: The Help

December 27, 2011 Samuel Yudhistira

The Help, film yang keluar Agustus 2011 kemarin, merupakan salah satu film baru yang berkualitas yang sayang sekali belum masuk ke Indonesia.

Film ini bersetting di Amerika, wilayah negara bagian Mississippi, sebuah negara bagian di selatan Amerika Serikat yang masih memegang teguh budaya pemisahan rasial antara orang berkulit putih dengan hitam.

Di film ini diceritakan tentang kehidupa para pembantu rumah tangga berkulit hitam yang bekerja pada keluarga berkulit putih. Di pertengahan tahun 60-an masih terdapat pemisahan berdasarkan warna kulit, sehingga banyak tindak ketidakadilan berdasarkan warna kulit. Belum lagi wilayah tersebut adalah wilayah yang penuh dengan kelompok ekstremis kulit putih yang terus-menerus menekan kaum kulit hitam.

Hal tersebut berubah ketika seorang penulis amatir yang bertekad untuk menulis sebuah buku berdasarkan kehidupan para wanita pembantu berkulit hitam yang bekerja pada keluarga kulit putih hingga terkadang dianggap sebagai "home slaves".

Menulis buku mengenai orang kulit hitam bukanlah hal mudah apalagi menjadikan mereka sebagai tokoh utama yang menceritakan suka/duka bekerja pada keluarga kulit putih yang terkadang memperlakukan mereka semena-mena. Namun penulis wanita ini tidak mau menyerah sehingga buku tersebut dapat diterbitkan dan mengubah pola pikir masyarakat di seluruh Amerika Serikat kala itu.

Film ini durasinya rada lama (146 menit, sekitar 2 jam lebih 20 menitan) tapi banyak adegan yang menggugah perasaan kita tentang perjuangan para wanita kulit hitam untuk mendapatkan hak mereka sebagai manusia.

A very generous and great movie!

Change begins with a whisper

Movie Review: Death at a Funeral

November 03, 2011 Samuel Yudhistira


Salah satu film komedi yang paling gw demen, film asal Inggris produksi tahun 2007 ini mengisahkan tentang Daniel yang ditugaskan untuk mengatur pemakaman ayah-nya ketika ayahnya meninggal, tapi upacara pemakaman yang seharusnya sakral dan penuh dukacita justtru menjadi chaos dan tak terkendali dengan banyak masalah.

Mulai dari jenazah yang salah kirim,kedatangan adik Daniel dari Amerika,tunangan sepupunya yang berubah menjadi sedikit tidak waras akibat obat-obatan,seseorang yang berusaha mendapatkan kekasih lamanya yang akan menikah,kedatangan paman yang menyebalkan,dan masalah besar terakhir yang akhirnya membuat keluarga ini terjebak dalam sebuah dilema.

Asli, menurut gw film ini rada irit tempat, soalnya setting-nya cuman di satu rumah dengan segala masalah yang dihadapi tokoh utama. Dan jujur aja kekocakan ala Inggris yang mungkin gak bisa didapat di film-film Hollywood.

Gw jamin bakalan ngakak abis deh nonton film ini, gw juga udah beberapa kali nonton ulang dan gak ngerasa bosen sama film ini, walaupun gw akui endingnya agak "garing" dan datar tapi tetep film berdurasi 90 menit ini cukup menghibur, tapi berhubung banyak bahasa yang agak "rude" jadi kudu ditonton sama orang-orang yang udah 18+ lah, bukannya ada adegan yang kurang senonoh, tapi bahasanya itu, asli kasar-kasar banget.


Pokoknya ni filem wajib tonton dah!!



CHEERS!!

Movie Review: Hamburger Hill

October 04, 2011 Samuel Yudhistira
Suka dengan film berbau Perang Vietnam?

Suka dengan film perang yang brutal?

Suka dengan adegan bagian tubuh hancur dan darah di mana-mana?

Kalo begitu film ini cocok banget buat ditonton!

Film produksi tahun 1987 ini emang udah lama banget jadi inceran gw, dan baru kesampean beberapa hari yang lalu setelah gw inget. Walhasil gw langsung menyaksikan adegan-adegan yang gokil untuk tahun 80-an ini.


Based on a true story, Battle of Hamburger Hill adalah salah satu pertempuran paling berdarah yang terjadi selama Perang Vietnam berlangsung. Terjadi pada tahun 1969, di mana pasukan 101st Airborne bertarung mati-matian selama beberapa hari untuk merebut sebuah bukit strategis yang dikuasai pasukan Vietnam Utara.

istilah "Hamburger Hill" sendiri diambil untuk menggambarkan kondisi bukit tersebut setelah pertempuran berlangsung di mana ratusan mayat bergelimpangan dengan kondisi tubuh yang hancur dan bagian-bagian tubuh manusia berserakan di bukit tersebut.

Asli, ini film menggambarkan secara sangat riil kondisi pertempuran yang berlangsung dan memberikan gambaran semangat para prajurit unuk merebut bukit tersebut walaupun harus dibayar dengan nyawa yang melayang begitu banyak.

Wajib tonton deh pokoknya!


War at it's worst, men at their best

Movie Review: Persepolis

September 13, 2011 Samuel Yudhistira
Well, kemarin gw dapet film lumayan bagus dan cukup kontroversial kalo menurut gw. Film dari Prancis produksi tahun 2007 berjudul "Persepolis". Kemarin baru diputar di sebuah stasiun televisi swasta, dan kebetulan gw dapet hasil dowload yg cihuy sehingga bisa turut menyaksikan film ini.

Persepolis sendiri kalo diartikan itu artinya kurang lebih adalah "Persia", jadi sudah cukup jelas kalau film ini menceritakan tentang sesuatu yang berhubungan dengan orang Persia yang sekarang menduduki sebuah negara yang bernama: IRAN.






Gw merasa Iran punya banyak nilai kontroversial sejak mengalami revolusi pada akhir tahun 70-an. Dan film ini memiliki latar belakang ketika Iran mengalami suatu hal yang bernama "Revolusi Islam" tahun 1979.

Mengisahkan tentang Marjane Satrapi yang tumbuh di kalangan keluarga yang terdidik dan mapan secara ekonomi. Dibesarkan dalam kondisi Iran yang kala itu sedang mengalami pergolakan politik menentang Shah penguasa. Hal tersebut turut membuat Marjane kecil terseret dalam euforia Revolusi yang terjadi di lingkungannya.

Keluarga dan kerabatnya adalah pendukung sosial, dan banyak terpengaruh Marxis sehingga berharap revolusi yang terjadi membawa Iran menuju bentuk negara yang sosial atau demokrat dan berpihak pada rakyat.

Namun yang terjadi adalah Iran berubah menjadi negara yang cenderung teokratis, sehingga banyak nilai-nilai lama yang dianggap "salah" secara agama harus dibuang dan diatur oleh pemerintah.

Marjane melanjutkan studi ke luar negeri dan menemukan hal yang sangat dia impikan terjadi di negaranya: KEBEBASAN. Tapi justru terjadi banyak pergumulan yang membuat dia bingung dan tersesat arah.

Film ini kalo menurut gw sangat-sangat gamblang menggambarkan kehidupan rakyat Iran pasca revolusi, walaupun menggunakan animasi yang terkesan "seadanya" tapi isi dan makna yang ada benar-benar mampu mengalihkan efek visual yang sederhana.

Gw denger juga pemerintah Iran sempat protes sama film ini.

Tapi, yah, mau bagaimana lagi, fakta di dunia ini ada dua versi: PRO dan KONTRA. Tinggal pilih kita ada di sisi yang mana. :D


Movie Review: A Walk to Remember

July 14, 2011 Samuel Yudhistira
Wallooww folks! Lama banget gak posting di mari...

Seminggu ini gw balak sibuk terus! Selain karena gw kerja, gw juga sekarang sedang dalam tahap pemulihan akibat penyakit gak jelas yang bersarang di badan gw.

Tapi masih sempet-sempetnya bikin review. Awright, some motherfuckers said kalau gw itu terlalu terpaku sama yang namanya musik. Mentang-mentang gw musisi semua hal yang gw bahas harus terpaku sama hal tersebut.

Well you damn right! ^__^

Tapi kali ini gw bakal ngebahas film drama penuh cinta dan tragedi yang bahkan harus gw tonton beberapa kali saking demennya gw sama film ini.

Judulnya: A Walk to Remember.


Ceritanya bisa gw bilang "pasaran" tapi tetep aja bikin gw gak bosen nontonnya. Tentang percintaan antara dua orang, yang satu adalah siswa paling terkenal di sekolah, Landon Carter dan yang satunya lagi anak dari seorang pendeta yang bisa dibilang agak "kuper", Jamie Sullivan, mereka bertemu dalam Kerja Sosial yang merupakan hukuman bagi Landon akibat tindakan melanggar hukumnya. Keduanya terlibat dalam drama musim panas dan saling jatuh cinta sampe suatu titik di mana Jamie harus memberitahukan rahasia terbesarnya yang bisa membuat cinta mereka tak bisa bersatu.

Asli, salah satu film drama yang gw suka, jarang gw demen genre film kya begini, tapi yang satu ini beda walau intrik ceritanya kebanyakan sama dengan film drama yang ada.

Kalau boleh ngasih penilaian gw bakal kasih nilai 8.5 dari total 10

Favourite quote:

Jamie saved my life. She taught me everything. About life, hope and the long journey ahead. I'll always miss her. But our love is like the wind. I can't see it, but I can feel it.

Movie Review: Full Metal Jacket

July 04, 2011 Samuel Yudhistira
Hello fellas!

Setelah mengobrak-abrik DVD, mata gw terpaku pada sebuah cover DVD bergambar helm dengan peace symbol dan tulisan "Born To Kill". Ternyata film yang pertama kali gw tonton pas SMA dengan judul "Full Metal Jacket"karya seorang sutradara terkenal asal Amerika, Stanley Kubrick yang dibuat tahun 1987.

Film dimulai dengan lagu "Good Bye My Darling Hello Vietnam" yang gw rasa lebih mirip lagu propaganda nasionalisme dibanding lagu cinta.





Kisahnya adalah mengenai pasukan Marinir yang akan dikirim ke Vietnam dalam rangka membantu operasi militer Amerika di daerah Indo-China tahun 1968. Di film ini, diperlihatkan perjuangan mereka untuk lolos dari pelatihan yang ekstra keras dan penuh disiplin. Tokoh utamanya adalah seorang prajurit James T. "Joker" Davis, seorang yang sangat ingin melihat situasi peperangan di Vietnam sehingga mendaftar ke Marinir.

Lalu ada trainer mereka Sersan Hartman yang sangat keras dalam mendidik dan tidak kenal ampun dalam menghukum mereka yang bertindak di luar aturan. Kemudian ada Pvt. Gomer Pyle yang selalu bertindak di luar aturan dan pada akhirnya mengalami gangguan mental dan mencoba membunuh semua orang di kamp.

Di Vietnam Joker akhirnya menjadi koresponden yang bertugas di garis belakang Marinir di kota Da Nang. Kemudian dikirim untuk meliput situasi peperangan di kota Hue di mana dia menyaksikan situasi perang yang sesungguhnya.

Sebuah film yang menurut gw luar biasa, penggambaran pertempuran di Vietnam yang benar-benar brutal. Dan sisi sosial mengenai kehidupan masyarakat di Vietnam pada era perang. Pelatihan para Marinir yang dilatih untuk menjadi pembunuh, semua dirangkum dalam satu film yang hebat ini.

Salah satu Quote yang gw suka di film ini:

"The dead know only one thing: it is better to be alive.
"


,

Movie Review: The Damned United

June 19, 2011 Samuel Yudhistira

Well, kali ini gw mau review film... first... it's not a bloody music thing :D

Jangan mentang-mentang gw musisi film yang gw bahas berkaitan dengan musik. Weiitss jangan salah, friend! Kali ini film yang gw bahas gak berkaitan dengan musik.

Film yang gw bahas kali ini judulnya "The Damned United".

Film Inggris produksi tahun 2009 ini bersetting tahun 1970-an di Inggris. Menceritakan tentang perjuangan seorang pelatih sepakbola Brian Clough dan asistennya Peter Taylor. Mereka berdua melatih sebuah klub di kota Derby yaitu Derby County F.C., dan klub ini bukanlah sebuah klub besar, bahkan sedang berjuang dalam krisis finansial dan ancaman degradasi.

Di sini diceritakan perjuangan Brian Clough dan Peter Taylor untuk mensejajarkan diri dengan sebuah klub Inggris yang tengah berjaya, yaitu Leeds United yang dilatih oleh Don Revie.

Diisi juga dengan konflik-konflik batin dalam diri Brian,perpecahannya dengan klub Derby County,putusnya hubungan dengan Peter Taylor, dan Brian yang terobsesi untuk mengalahkan nama besar Don Revie bersama Leeds United.

Banyak pelajaran yang bisa ditarik dari film ini, jadi cukup menarik untuk disaksikan. Lumayan juga bisa mendapatkan potret kehidupan sepakbola Inggris tahun 70-an.

Pokoknya seru deh!

Gw quote kata-kata Brian Clough waktu dia akhirnya ditunjuk sebagai pelatih klub yang dia benci, Leeds United...

"Of course it's just about me and Don. Always has been. But instead of putting frowns on your foreheads, all you elders of Leeds in your blazers and your brass-fucking-buttons, it should put big white Colgate smiles on your big white faces. Because it means I won't eat, and won't sleep until I've taken whatever that man's achieved, and beaten it. Beaten it so I never have to hear the name Don fucking Revie again. Beat it, the only name anyone sings in the Yorkshire ale houses, raising their stinking jars to their stinking mouths, is Brian Clough. Brian Clough uber-fucking-alles! Understand?"




Btw... Film ini berdasarkan kisah nyata lhoo... :D



,

Movie Review: Cadillac Records

June 14, 2011 Samuel Yudhistira


Satu lagi film bagus yang sangat telat gw dapatkan, fim tahun 2008 yang bersetting di kota Chicago tahun 1940-an dan 50-an ini bercerita tentang perjalanan salah satu label rekaman yang sudah sangat berjasa dalam perjalanan musik Rock 'n Roll, Chess Records.


Kisah ini diawali dengan Leonard Chess (diperankan sama Adrien Brody, yang main "The Pianist) yang berteman dengan seorang gitaris blues bernama Muddy Waters (he is a LEGEND!!) dan membangun perusahaan rekaman yang diberi nama Chess Records.

Setelah Muddy sukses dengan lagu-lagunya, Chess juga mencari artis lainnya untuk dapat rekaman di studio-nya dan mencetak hits. Lalu mendapati seorang pemain bass dan pencipta lagu ternama, Willie Dixon, seorang pemain harmonika Little Walter, penyanyi blues yang nantinya akan legendaris Howlin Wolf, dan penyanyi blues wanita bernama Etta James.

Dan pada akhirnya Chess menaungi seorang bintang Rock 'n Roll besar yang nantinya akan merubah dunia.... Chuck Berry.


Kesuksesan Len Chess dalam meramu bintang-bintang rock/blues yang berkulit hitam dan kegigihannya menembus batas rasisme yang masih marak di Amerika pada era tersebut membuatnya kaya raya begitu pula dengan artisnya yang masing-masing mendapat mobil Cadillac model terbaru setiap kali single mereka laku di pasaran. Oleh karena itu label rekaman milik Leonard Chess dijuluki sebagai "Cadillac Record".

Ceritanya lumayan seru sih, buat yang suka sama musik rock/blues/metal harus tau sejarah perjuangan para musisi rock 'n roll kulit hitam dalam menembus batas rasisme di masanya, juga kehidupan Muddy Waters, seorang yang sudah menjadi inspirasi bagi banyak musisi rock di era ke depannya, yang paling terkenal adalah The Rolling Stones, yang bahkan mengambil nama band mereka dari salah satu judul lagu Muddy Waters "Like a Rollin' Stones".

Pokoknya ni film lumayan dah buat ngisi waktu senggang! :D


BTW semua orang yang mengawali kariernya di Chess Records berhasil masuk ke "Rock 'n Roll Hall of Fame" lho, itu kya semacam perhargaan untuk mereka yang berjasa bagi musik rock/metal.

,

Review Film: "The Boat That Rocked"

June 10, 2011 Samuel Yudhistira


Ada film seru nih! Film lama sih tahun 2009 tapi gw baru dapet sekarang (TELAT!)

"The Boat That Rocked" menceritakan tentang sebuah stasiun radio ilegal yang melakukan siaran di sebuah kapal di Laut Utara Inggris di tahun 1966. Mereka menamakan dirinya sebagai "Radio Rock"dan selalu memutar lagu-lagu rock 'n roll dan bicara tanpa ada aturan.

Semboyannya: "On Air, Off shore, Out of control"

Ada 8 radio DJ yang ada di dalam kapal yang mereka sebut "Love Boat" dengan aturan-aturan unik dalam kapal tersebut dan 1 boss. Ada beberapa operator dan satu wanita sebagai juru masak (she is a lesbo!). Lalu ada juga Carl, anak muda yang dititipkan ibunya di kapal tersebut tanpa tujuan yang jelas. Masing-masing DJ membawakan acara-acara yang berbeda tiap waktunya, dan entah kenapa acara yang mereka bawakan sesuai dengan karakter mereka.

Walaupun akhirnya pemerintah jengah dengan tingkah laku mereka dan akhirnya mengeluarkan undang-undang untuk melarang pirate radio mengudara. Tapi para crew di Love Boat tidak mau menyerah dengan keadaan dan mencoba melarikan diri dari kejaran polisi dan tetap mengudara.

Ada juga konflik di antara mereka yang ada di kapal tersebut. Ada persaingan antar 2 DJ radio untuk membuktikan siapa yang merupakan pengecut, kisah patah hati, hancurnya pernikahan akibat selingkuh,dan kisah Carl yang ternyata menemukan ayahnya yang adalah salah satu dari DJ di radio tersebut, walaupun pada akhirnya mereka tetap menyatu dalam musik.

Salah satu yang gw suka dari film ini adalah soundtracknya, band-band rock 'n roll tahun 60-an semuanya keluar! The Rolling Stones, Jimi Hendrix, The Kinks, The Who, Buddy Holly, masih banyak yang lain.

Inti ceritanya adalah usaha mereka untuk melawan tirani, mereka berani melawan tekanan pemerintah melalui musik yang mereka putar. Selain itu independensi dan loyalitas mereka sebagai penyiar radio patut diacungi jempol!

Overall ini film keren abis deh buat lo semua yang punya cita-cita jadi penyiar radio...

ROCK 'N ROLL!
,

Review: The Damned United

March 26, 2010 Samuel Yudhistira
Film yang bener" keren! Jalan ceritanya gak ngebosenin dan karakter yang ada di film ini bener" sesuai dengan "eranya". Film ini sebenarnya diambil dari sebuah novel karya David Peace, "The Damned United" yang kemudian diangkat ke layar lebar dan disutradarai oleh Peter Morgan


Latar belakang filmnya itu Inggris di tahun 1970-an, di masa itu Leeds United memang menjadi "raja" Liga Inggris masa itu dengan pemain-pemain top Inggris masa itu.

Nah, waktu itu Inggris gagal lolos ke putaran final Piala Dunia 1974 setelah kalah di babak qualify. Sehingga F.A. menunjuk Don Revie (Colm Meaney) yang kala itu menjabat sebagai pelatih Leeds United buat melatih di tim nasional Inggris.

Untuk mengisi kekosongan bangku pelatih di Leeds United, akhirnya ditunjuklah Brian Clough (Michael Sheen), seorang pelatih muda yang saat itu sedang menjabat sebagai pelatih dari Derby County. Namun, masa jabatannya di Leeds tidaklah lama (44 hari), banyak orang menganggap hal itu dikarenakan Brian tidak lagi bekerja sama dengan Peter Taylor (Timothy Spall) yang merupakan asisten pelatihnya semasa ia bersama Derby County dan Hartlepool United, juga sifat Brian yang keras dan ambisius membuat para pemain tidak mau mendengarkannya.

Setelah gagal total di Leeds United akhirnya Brian Clough dan Peter Taylor bersatu kembali sebagai rekan. Mereka bergabung dengan Nottingham Forest di tahun 1975 dan memenangkan Liga Champions 2 kali berturut-turut! Suatu prestasi yang mencengangkan, dan Brian Clough dianggap sebagai pelatih terbaik sepanjang masa yang pernah ada di Inggris.

Di Film ini gw dapat menarik kesimpulan bahwa sebagai seseorang terkadang kita harus mau rendah hati dan mau mendengarkan pendapat dari orang-orang terdekat kita. Selain itu kita juga harus bisa menahan ambisi kita yang terkadang bisa membuat kita jatuh ketika kita menganggap semua hal itu sangat mudah kita lakukan. Just like Brian did....

I never have to hear the name Don fucking Revie again. Beat it, the only name anyone sings in the Yorkshire ale houses, raising their stinking jars to their stinking mouths, is Brian Clough. Brian Clough uber-fucking-alles! Understand? *Cuplikan percakapan di film "The Damned United*