Showing posts with label music. Show all posts
Showing posts with label music. Show all posts
, , , , , , ,

Hahawall - Lost (2018)

November 22, 2018 Samuel Yudhistira


Gue kyanya kebanyakan membahas soal album-album musik yang gue suka tapi band gue sendiri gak pernah gue bahas di sini. Lost adalah judul E.P. kedua dari Hahawall setelah sebelumnya merilis E.P. bertajuk Beautiful Day dalam format kaset di bawah naungan label independen Pita Hitam Records.

Mini album kedua ini banyak dibilang lebih sangar, berisik, noise, dan elemen-elemen rusuhnya lebih kaya daripada E.P. pertama. Well, ini kan menurut orang-orang.

Gue sendiri baru tergabung dengan Hahawall tahun 2016. Sebelumnya, gue sering sepanggung sama mereka di beberapa acara dan kenal dengan Bayu, vokalis/bassist Hahawall yang kebetulan waktu itu bekerja sebagai graphic designer paruh waktu di sebuah perusahaan media. Setelah band gue, Bising Kota bubar jalan gue diajak Bayu buat gabung dengan Hahawall yang pada waktu itu baru saja ditinggal gitarisnya.

Singkat cerita, gaya bermain gue yang bluesy rada gak masuk dengan karakter musik Hahawall yang lebih banyak dipengaruhi band-band noise dan shoegaze. Walhasil gue harus belajar ulang demi memenuhi standar musik mereka.

Kebetulan yang menyenangkan, ternyata selera musik mereka gak beda jauh sama gue. Kita sama-sama suka The Velvet Underground, Sonic Youth, My Bloody Valentine, dan Chelsea Light Moving. Mungkin karena taste yang gak beda jauh ini menyebabkan gue akhirnya mudah untuk mengubah gaya bermain gitar gue dan blend in dengan mereka.

Selama bergabung dengan Hahawall gue banyak ngulik riff-riff dan tone yang jauh dari kebiasaan gue. Secara umum, gue belajar ulang main gitar.

Okey, mari kita bahas album ini.


69
Album ini dimulai dengan hentakan pelan yang tiba-tiba berubah rusuh ketika kedua gitar masuk. Lagu ini sungguh amat cocok dijadikan pembuka album yang berisik ini. Liriknya? Wahduh gajauh-jauh dari pengaruh alkohol dan substansi.

Yah, kira-kira begitulah. Namanya juga anak muda. hehehe

Bearing a fall, it's gonna keep the rail.
You gotta get it on!
Bearing a fall, it's gonna keep the rail.
You gotta get it on! 

Lost
Lagu kedua diawali dengan teriakan depresif dan langsung dihajar riff keras dan ketukan drum yang cepat. Uedan! Lagu ini macam naik roller coaster. Cepat, pelan, sedang, pelan, cepat, tiba-tiba super cepat di beberapa bagian. Enak nih sambil headbanging di deket ampli. 

The lamp is so dumb
a fuckin' dumb
a really dumb
Today/Fade Away
Nah, ini adalah single pertama dari E.P. ini. Lagu ini merupakan salah satu lagu paling rumit yang ada di album ini. Intronya menyajikan harmonisasi gitar dan bass dengan riff yang aneh bin ajaib. Ketukan stagnan sepanjang lagu tiba-tiba berubah cepat. Wah, ternyata pengaruh punk-nya belum pudar, hehehe. 

Lagu ini masih bercerita tentang kondisi seorang dalam pengaruh substansi. Hadeh... 

Di akhir lagu benar-benar menampilkan suasana chaos yang berisik tapi tetap menyenangkan untuk didengarkan. Banyak elemen-elemen yang mengejutkan di lagu ini.



Wasted
Yak, dari judulnya saja sudah ketahuan lagu ini tentang apa. Tidak perlu dijelaskan lebih jauh. Cukup dinikmati saja. Lagu ini menjadi single kedua dari album ini dan mendapat banyak respon positif karena dinilai berbeda daripada lagu-lagu lain di album ini. Yap! Setuju! Bahkan gue sebagai personil bandnya juga sangat suka dengan lagu ini. Cepat, berisik, gapake basa-basi, dan enerjik! Video klipnya sudah bisa dilihat melalui kanal streaming Youtube.



Merah

Lagu terakhir di album ini dan merupakan satu-satunya lagu berbahasa Indonesia. Awalnya lagu ini cuman jamming-jamming noisy gak keruan yang biasanya kita bawain kalo manggung. Muncul ide unik untuk memasukkan unsur vokal nyeleneh. Lalu kita mulai berpikir kira-kira siapa yang cocok untuk mengisi vokal di lagu ini. Pilihan jatuh ke Bofag the Deadwhore. Yoi, doi adalah vokalis band Barbars dan Seek Six Sick. Kebetulan gue kenal sama orangnya dan langsung kita ajak buat ngisi vokal di lagu ini. Untunglah doi ternyata mau bantuin kita buat ngisi vokal di lagu ini.Hasilnya? Gilak! Keren mampus! Versi tanpa vokal bisa didengerin di kompilasi Popcore vol. 10 yang dirilis secara terbatas.

Lagu ini merupakan single ketiga dari album ini dan video klipnya sudah ada di Youtube.



Begitulah, ini karya gue dan teman-teman di Hahawall. Waktu band gue bubar gue sempet putus asa pengen ngeband lagi tapi gapunya temen dan ternyata Hahawall menjadi tempat gue buat mengekspresikan sisi musikal gue. 

Be there, we'll make you deaf!


, , , , , ,

Belle and Sebastian - Dear Catastrophe Waitress

September 17, 2018 Samuel Yudhistira
Wahh, sudah lama saya tidak berbagi cerita tentang album-album musik favorit saya di blog ini. Okeh, gue masih bakalan ngebahas Belle and Sebastian sebagai salah satu band favorit gue. Album rilisan Rough Trade Records tahun 2003 ini berisikan 12 lagu yang karakternya mulai menjauhi album-album Belle and Sebastian sebelumnya. Ensembel rame dan harmonisasi vokal yang khas masih menjadi senjata andalan Stuart Murdoch dan kawan-kawan dalam menciptakan lagu-lagu asoy nan sedap.

Mari kita bedah lagu-lagu di album ini satu per satu:



Step Into My Office, Baby

Album dimulai dengan hentakan macam marching gitu di lagu "Step Into My Office, Baby" yang langsung menghentak dengan tema-tema seputar kehidupan sehari-hari. Ada bagian choir di tengah lagu trus transisi tempo dipadu dengan harmonisasi suara yang apik.


I'm a slave to work
I'm only living when I walk amongst the office staff
And catch up with the office wag
I'll be in bed by nine
My curtains drawn
My thoughts composed
I get to work on time

Dear Catastrophe Waitres

I don't know what to say about this song. Mungkin yang bisa gue bilang adalah lagu ini diproduksi dengan sangat rapi. Padat, penuh dengan suara instrumen, tapi tetap terdengar ringan di telinga. Entah kenapa gue menangkap kesan sinis di lagu ini setiap kali gue dengerin lagu ini.

Stick to what you know
You'll blow them all to the wall
When they realize what you've been working for
You've been working for
You've been working for

If She Wants Me

Lagu ketiga di album ini dan salah satu lagu yang gue suka banget. Intronya jangly banget bikin pengen bergoyang-goyang santai. Gue suka banget suara vokal dan lirik di lagu ini. Ada kesan depresif di liriknya tapi juga ada kesan bodo amat dengan segala masalah yang terjadi di masa lalu. Lagu ini sungguh sangat menyenangkan untuk didengarkan dan liriknya bener-bener relevan dengan krisis psikologis anak-anak muda.

If I could do just one near perfect thing I'd be happy
They'd write it on my grave, or when they scattered my ashes
On second thoughts I'd rather hang about and be there with my best friend
If she wants me

Piazza New York Catcher

Okey, this is my favourite song in this album. Yeap, sebuah lagu yang sederhana tapi punya arti yang dalem banget buat gue. Gue pernah bawain lagu ini di sebuah acara setahun yang lalu. Ancur sih, tapi yah namanya juga usaha, hehehe. Lagu ini mungkin lagu yang gak terlalu heboh secara instrumental karena cuman ada suara vokal dan gitar akustik sepanjang lagu. Tidak ada repetisi dalam penulisan lirik, jadi yaudah ngalir aja terus dah, hehe. This song reminds me of my girlfriend.

Asleep On A Sunbeam

Nuansa pop tahun 60-an berasa banget di lagu ini. Lagu ini kayanya asik didengerin sambil tiduran di padang rumput bermandikan cahaya matahari selow. Gak tau deh, gue sih ngebayanginnya gitu, hehe. 

I'm A Cuckoo

Intro gitarnya menyenangkan. Lagu ini sih kalo gue mendalami liriknya kaya semacam lagu orang yang habis putus cinta. Yeah, break-ups are sometimes miserable and complicated. Gue suka banget pas ada bagian terompet rame gitu di tengah-tengah lagu. Kesannya kayak megah banget. Love it!

Breaking off is misery
I see a wilderness for you and me
Punctuated by philosophy
And wondering how things could've been

You Don't Send Me

I like this song. Liriknya bagus banget. Nuansa lagunya berasa banget agak 60's atau 70's gitu kali yah. Harmonisasi vokalnya rame banget! Seru!

Listen honey, there is nothing you can say to surprise me
Listen honey, there is nothing you can do to offend me
You don't send me

Wrapped Up In Books

Lagu ini mungkin agak-agak mirip dengan karakter lagu-lagu Belle and Sebastian di album sebelumnya. Gue sih dengernya dari gaya nyanyi dan aransemen musiknya. Lagu ini menyenangkan. Gue suka. Satu hal yang mungkin agak berbeda di lagu ini suara tone bass-nya agak berbeda dibanding lagu-lagu lain yang ada di album ini. 

We’ve got a fantasy affair
We didn’t get wet, we didn’t dare
Our aspirations, are wrapped up in books
Our inclinations are hidden in looks

Lord Anthony

It's a beautiful song. Belle and Sebastian kembali lagi dengan tema-tema "troubled young people" di lagu ini. Kisah tentang seorang anak laki-laki yang penyendiri, dijauhi orang-orang, dan menjadi korban bullying oleh teman-temannya. Man, I love this song. 

Tony, you're a bit of a mess
Melted Toblerone under your dress
If the boys could see you they would pass you right by
Blue mascara running over your eye


If You Find Yourself Caught in Love

Satu menit pertama hanya terdengar suara piano dengan tempo pelan dan tiba-tiba musik masuk menghentak dengan nuansa indie pop awal 80-an yang menyenangkan. Asik ni lagu. Bikin badan pengen goyang-goyang santai terus. 

If you don't listen to the voices then my friend
You'll soon run out of choices
What a pity it would be
You talk of freedom don't you see
The only freedom that you'll ever really know
Is written in books from long ago

Roy Walker

Agak aneh di kuping gue. Lagu ini nuansanya beda banget dibanding lagu-lagu lainnya. Bahkan gue sampe mikir, "Ini masih Belle and Sebastian??" saking bedanya. Solo gitar di tengah-tengah lagu juga membuat lagu ini lumayan berbeda dibanding yang lain. Solo gitar, harmonika, dan harmonisasi vokal yang rame banget ternyata lumayan nendang juga di kuping. Sedap!

Stay Loose

Lagu penutup di album ini. Koq gue tiba-tiba keinget band Talking Heads yah pas dengerin lagu ini. 

Maybe I'm a little greedy
You said "Think before you speak"
Sometimes I'm a little seedy
You said "Everyone is weak"
Now I feel a little better
Is there something I can do?
But I never heard the answer
I never had a clue

Overall album ini emang agak sedikit berbeda dibandingkan dengan album-album Belle and Sebastian yang lain. Kesannya emang agak sedikit ringan tapi cukup nendang di beberapa track. Gue suka transisi tempo dan harmonisasi vokal di album ini. Intinya, album ini keren!!

, , , , , , , , ,

Bob Dylan - Highway 61 Revisited (1965)

October 02, 2017 Samuel Yudhistira
Gue gak pernah menyebut postingan-postingan tentang album musik yang pernah gue bikin itu sebagai review. Gak ahh, gue males disebut sebagai kritikus atau reviewer atau apapun itu. Gue hanya berbagi cerita tentang album-album musik yang gue suka. Terserah orang mau bilang apa.


And this album.... Man, what can I say about this album? This is magnificent! How can a human mind do this?

Sudah tidak menjadi rahasia bahwa gue sejak masa SMA akhir mulai menggilai musik-musik ala Bob Dylan, The Beach Boys, Donovan, Neil Young, Leonard Cohen, sampai The Grateful Dead. Semua musik mereka turut menemani tumbuh kembang masa remaja gue.

Pertama kali gue mendengar lagu-lagu di album ini menjelang masa akhir SMA dan transisi menuju masa kuliah. Bob Dylan dengan segala mitos dan sejarah yang diceritakan turun menurun oleh orang-orang yang lebih tua dari gue menuntun gue untuk mencari tahu siapa Bob Dylan sampai akhirnya lagu-lagu di album ini masuk ke telinga gue.

My mind was blowing. 

Album ini menempati posisi ke-4 di chart "500 Greatest Albums of All Time" versi majalah Rolling Stone. Bukan cuma album tapi lagu pembuka di album ini, "Like a Rolling Stone" menempati peringkat pertama di chart "500 Greatest Songs of All Time" versi majalah Rolling Stone. Wajar, soalnya nama majalah Rolling Stone diambil dari judul lagu Bob Dylan di album ini. hehehe

Ketika album ini keluar di tahun 1965 masyarakat langsung dibuat terkejut dengan karya Dylan yang satu ini. Bob Dylan berubah. Berubah dari seorang penyanyi folk dengan gitar akustik dan harmonika menjadi seorang penyanyi folk dengan band di belakangnya yang bermain dengan volume ekstra keras. Cibiran bahkan makian menyebar ke mana-mana. Bob Dylan yang dianggap sebagai tokoh panutan dalam gerakan protes anti perang berubah menjadi musuh nomor satu gerakan tersebut. Fans loyalnya menganggap Dylan sudah berubah. Bob Dylan tidak peduli dengan kritik orang-orang atas perubahan aliran musiknya hingga album ini meledak di pasaran dan menjadi akar musik folk rock modern hingga saat ini.

Here are the songs:

1. Like a Rolling Stone

Salah satu lagu paling berpengaruh dalam sejarah budaya pop kontemporer. Sebuah lagu dengan durasi lebih dari enam menit ini menjadi tonggak awal musik folk rock. Mengubah Bob Dylan dari seorang folk singer menjadi rock star. Menghancurkan prediksi orang-orang di dunia musik yang sempat berpendapat kalau lagu ini terlampau panjang dan terlalu kritis. This is a new genesis. Frustrasi, amarah, kebencian, dan kritik tergambar begitu jelas tanpa kiasan dalam setiap syair lirik yang dinyanyikan Dylan dengan keras. This song was punk rock song. Dylan was a punk rocker.


Aw, you've gone to the finest school all right, Miss Lonely
But ya' know ya' only used to get juiced in it
Nobody's ever taught ya' how to live out on the street
And now you’re gonna have to get used to it

2. Tombstone Blues

Jujur, untuk mereview album-album Bob Dylan butuh kemampuan yang luar biasa. Dalam hal kemampuan menganalisa tulisan, makna lirik, atau musikalitas gue ga sanggup. Gue hanya seorang penggemar biasa, hehe.

Gue suka lagu ini. Hentakan drumnya bikin semangat dan gaya puitis Dylan yang cuek dalam membawakan lagu ini buat gue sangat luar biasa. Lagu ini lebih bercerita mengenai kondisi masyarakat absurd Amerika ketika masa Perang Vietnam di tahun 60-an. Masih mengenai kritik, masih dengan sentimen anti perang yang mempengaruhi kultur underground di Amerika Serikat tahun 1960-an.

Now I wish I could write you a melody so plain
That could hold you dear lady from going insane
That could ease you and cool you and cease the pain
Of your useless and pointless knowledge

3. It Takes a Lot to Laugh, It Takes a Train to Cry

Awrite lagu ini kembali kepada alunan acoustic/electric blues dan tidak seagresif lagu-lagu lain yang dimuat di album ini. Lagu ini jauh lebih tenang, kalem, dan lembut dibandingkan dengan lagu-lagu lain di album ini. Liriknya berisi keresahan dan frustrasi yang begitu kelam diiringi dengan irama musik blues dan suara serak Dylan tanpa teriakan agresif. Semacam bentuk refleksi diri di antara kegilaan dan amarah.

4. From a Buick 6

Steve Jobs pernah berujar di tahun 2006 bahwa lagu ini merupakan lagu favoritnya. Well, irama blues/garage rock yang langsung menghentak ditambah vokal Bob Dylan yang sedikit keras menambah nuansa pemberontakan di lagu ini semakin kuat. Yeah, this is a great song. Pola dasar 12-bar blues dengan variasi musik dan luapan vokal Bob Dylan membuat lagu ini menjadi semakin berwarna.


Well, when the pipeline gets broken
And I'm lost on the river bridge
I’m all cracked up on the highway
And in the water’s edge

5. Ballad of a Thin Man

My personal favourite.

Great music, great lyrics, great interpretation, and this is totally outstanding.

One of the purest songs of protest ever sung.

Bahkan kontroversi masih terjadi di antara para jurnalis,kritikus, dan penggemar Bob Dylan mengenai siapakah yang disebut sebagai "Mr. Jones"di lagu ini.

Because something is happening here
But ya' don't know what it is
Do you, Mister Jones?  

6. Queen Jane Approximately 

Gue pernah membawakan ulang lagu ini. Yah, walaupun hanya sekedar akustik kecil-kecilan di ruangan. I love this song. Mengusung tema kritik terhadap kemapanan dan gaya hidup mewah mirip dengan "Like a Rolling Stone" tapi di lagu ini kritik tersebut disampaikan dengan cara yang lebih keras dan lugas. Kembali, kontroversi dan spekulasi mencuat mengenai siapakah "Queen Jane" yang dimaksud oleh Bob Dylan di lagu ini. Ada yang menyebutkan Joan Baez, ada pula spekulasi yang menyebut bahwa "Queen Jane" adalah Lady Jane Grey atau Jane Seymour, bahkan ada yang menyebutkan bahwa "Queen Jane" adalah bahasa slang dari marijuana. Satu hal yang pasti berdasarkan wawancara seorang jurnalis kepada Bob Dylan disebutkan bahwa "Queen Jane" di lagu ini adalah seorang pria.

When your mother sends back all your invitations
And your father to your sister he explains
That you’re tired of yourself and all of your creations

Won’t you come see me, Queen Jane?
Won’t you come see me, Queen Jane?

7. Highway 61 Revisited

Lagu ini benar-benar luar biasa secara penulisan lirik dan cara Dylan membawakan lagu ini. Lagu ini lebih menyerupai cerpen dibandingkan lirik lagu atau puisi. Mengambil beberapa unsur dari Alkitab dan digambarkan terjadi pada era modern. Wajar jika "Highway 61 Revisited" menempati peringkat 373 dalam chart "500 Greatest Songs of All Time" oleh majalah Rolling Stone.

8. Just Like Tom Thumb's Blues

Lagu ini pernah muncul dalam salah satu adegan di film "The Three Stooges" yang dirilis tahun 2012. Mengalir terus tanpa ada chorus dengan 6 verses/bagian di dalamnya tanpa ada pengulangan lirik sama sekali. Bob Dylan kembali membuat kita terpukau dengan gaya penulisan liriknya yang luar biasa. Bob Dylan banyak mengambil inspirasi dari sastrawan-sastrawan terkenal seperti Edgar Allan Poe, Arthur Rimbaud, hingga Jack Kerouac dalam menulis lagu. Jangan heran ada beberapa unsur novel yang masuk seperti nama tempat atau nama karakter dalam novel justru memperkaya lirik dan musiknya.

Everybody said they'd stand behind me
When the game got rough
But the joke was on me
There was nobody even there to bluff

9. Desolation Row
The longest track in this album. Lagu ini sudah berusia lebih dari 50 tahun dan sampai saat ini banyak jurnalis musik, penggemar, pengamat musik, musisi, hingga ahli tata bahasa berusaha untuk menginterpretasikan lagu berdurasi lebih dari 11 menit ini. Begitu panjang lagu ini sehingga tidak dirilis sebagai single tapi berhasil mencuri perhatian semua orang.

When trying to interpret this song, keep in mind that Dylan was experimenting with LSD around the time he recorded it. Yeap, lagu ini begitu psychotic dan psychedelic. Dylan mengurai kejadian demi kejadian dengan gaya berceritanya yang khas dan nada muram diiringi dengan suara gitar akustik.

Desolation Row menjadi penutup album luar biasa ini. Bob Dylan jarang membawakan lagu ini ketika tampil secara live di panggung tapi ketika dibawakan improvisasi panggung dapat membuat durasi lagu ini menjadi 45 menit.

Di manakah tempat yang dimaksud dengan Desolation Row di lagu ini? Hanya Bob Dylan yang tahu.


Now the moon is almost hidden
The stars are beginning to hide
The fortune-telling lady
Has even taken all her things inside
All except for Cain and Abel
And The Hunchback of Notre Dame
Everybody is making love
Or else expecting rain
And the Good Samaritan, he’s dressing
He’s getting ready for the show
He’s going to the carnival tonight
On Desolation Row

Gue dulu sangat sering berujar begini, "Bob Dylan knows everything," karena begitu luas hal-hal yang bisa dieksplor oleh seorang Bob Dylan lewat nada dan kata. Album ini dirilis tahun 1965 dan sampai saat ini semua hal yang diceritakan dalam setiap syairnya masih relevan dengan apa yang terjadi saat ini.

This is "Highway 61 Revisited" and I love this album. You should hear this album before you die, man! 







image: https://www.amazon.com/Highway-61-Revisited-Bob-Dylan/dp/B00026WU82

, , , ,

The Strokes - Room on Fire (2003)

May 22, 2017 Samuel Yudhistira
We were young, darling
We don’t have no control
We’re out of control

Album ini memuat lagu The Strokes pertama yang gue denger dalam sejarah hidup gue dan membuat gue pada akhirnya tergila-gila dengan band ini sampai sekarang. Album kedua dari band indie rock asal New York ini setelah gue perhatikan ternyata berisi banyak lagu-lagu yang terlalu asoy untuk tidak didengarkan.

What Ever Happened

Album ini dimulai dengan lumayan apik. I love this song. Lagu yang juga mengisi soundtrack film "Marie Antoinette" ini memang "sangat The Strokes" dengan tone tidak jauh berbeda dari album pertama mereka. Liriknya sedap terutama di bagian pertama yang merupakan favorit gue.

I wanna be forgotten
And I don't want to be reminded

Reptilia

Salah satu lagu The Strokes yang pertama kali gue mainkan bersama teman-teman satu band waktu masa SMA adalah lagu ini. It sounds simple tapi komposisi lumayan rumit ketika memasuki reff yang bikin gue dan teman-teman satu band waktu itu ngulik lumayan lama untuk lagu ini. 

The wait is over, I'm now taking over
You're no longer laughing, I'm not drowning fast enough

Automatic Stop

Seriously, the intro of this song is really something. Setiap kali gue denger lagu ini memori gue membawa gue kembali ke tahun 2011 di sebuah acara "Tribute to The Strokes" yang berujung bencana. We played really awful back then. Lagu ini waktu itu harusnya jadi salah satu lagu yang kita bawain tapi gajadi karena persoalan teknis dan internal. 

Yeah, I know you warned me but this is too important
Now I got a different view, it's you

12:51

Yep! This was their first song of them that I hear during my high school time. I remember we were at my friend's room and listening to this album. Hal paling unik mungkin riff-nya Nick Valensi yang benar-benar mengimitasi suara synth keyboard. 

12:51 is the time my voice found the words I sought
Is it this stage I want?
The world is shutting out for us
Oh, we were tense for sure but we was confident

You Talk Way Too Much

Okay, sebuah lagu breakup yang pas gue baca liriknya gue langsung merasa seperti orang di lagu tersebut. Ahh, suka merasa-merasa deh lo. Eits, tapi beneran. I feel you man in the song. I really am. 
Karena ketika kita dikejutkan oleh sesuatu yang berhenti mendadak kita akan mencoba berbagai cara untuk tetap bergerak walau kadang tindakan harus diambil dan justru membuat semuanya semakin berantakan.

Now we're out of time
I said, it's my fault, it's my fault
Can't make good decisions
It won't stop, I can't stop

Between Love and Hate

Another breakup song...

Intro drumnya catchy sih beneran. Liriknya tentang laki-laki,diputusin pacarnya,sendirian,kosong,berusaha untuk membuat pihak wanita merasa bersalah atas perbuatannya,mengingat masa-masa indah yang sudah berakhir, dan tetap bilang, "I'm okay!" walau sebenarnya enggak. Tapi yaudahlah semua sudah selesai. 

Never needed anybody, I never needed nobody
I never needed anybody, I never needed anybody
Don't worry about it, honey, I never needed anybody
I never needed anybody, it won't change now

Meet Me in the Bathroom

Intro lagunya gue suka deh. Gue inget dulu pernah ngulik lagu ini di ruangan kantor temen gue waktu jaman-jaman kuliah. 

Never was on time, yes, I once was mine
Well, that was long ago and darling, I don't mind
Yeah, they were just two fucks in lust
Oh, baby, that just don't mean much
Oh yeah, you trained me not to love
After you taught me what it was


Under Control

Anda terjebak dalam hubungan yang tidak mungkin? 
Beda suku? 
Beda agama?
Orang tua tidak setuju?
Beda visi dan misi?

Maka lagu ini cocok sekali untuk anda ketika hubungan anda yang tidak mungkin tersebut tiba pada akhirnya.

I don't want to change your mind
I don't want to waste your time
I just want to know you're alright
I've got to know you're alright

The Way It Is

Breakups are hard - even for the dumper. 

Walaupun gue merasa kalau si dumper tersebut merasa berat tapi jauh lebih berat beban si dumped. Gue merasa agak kurang 'sreg' sama lagu ini karena buat gue orang yang mencampakkan tentu saja bisa dengan enteng melaju kencang. 

Said she's not sorry the wind blows her way
Accidents happen, there's one planned today

The End Has No End

This song is about society. Di sini kaya dijelasin tentang semuanya akan terus berputar dan hidup begitu-begitu saja. Sama kaya orang yang sedang menggambar lingkaran. Mungkin yang membedakan hanya warna dan cara gambarnya tapi yang digambar tetap lingkaran.

Hoiya, di salah satu part ada selipan tentang Lou Reed dan The Velvet Underground. :)

He want it easy, he want it relaxed
Said I can do a lot of things, but I can't do that
Two steps forward then three steps back, it won't be easy

I Can't Win

Lagu ini adalah lagu yang waktu itu gue dan teman-teman band bawain dalam sebuah audisi untuk acara "Tribute to The Strokes" tahun 2011. Gue masih inget studionya di lantai dua di seberang minimarket (sekarang dah gaada) dan waktu itu temen gue si Thari bantu mengisi keyboard untuk menutupi kekurangan gitar. 

I love this song. Vokalnya Julian Casablancas di lagu ini buat gue keren banget dan solo gitarnya Nick Valensi menurut gue yang terbaik di album ini. A great song  to end a great album.

Things in bars that people do
When no one wants to talk to you
Failing can be quite a breeze
He told me that these girls were easy
Happy that you said you'd mount me
Felt unlucky when you found me
Some nights come up empty handed
Yes, I'll take it



picture source: http://www.jyonnobitime.com/time/2011/04/

, , , , , , , , , , ,

The Libertines - The Libertines (2004)

March 07, 2017 Samuel Yudhistira



Ini adalah album yang merupakan jawaban atas penantian deg-degan para fans The Libertines di tahun 2004. Setelah vokalis sekaligus salah satu frontmen mereka Pete Doherty dijebloskan ke bui akibat aksi pencurian di apartemen salah satu personil bandnya sendiri: Carl Barât. Banyak yang menduga kalau band ini bakalan bubar jalan. 



The Libertines sempat mencuri perhatian dengan album perdana mereka yang berjudul "Up The Bracket" dan menjadi ikon musik garage rock di awal tahun 2000-an. Konflik internal,perilaku ugal-ugalan,dan gaya hidup para personilnya yang berujung pada ditangkapnya Pete Doherty membuat publik sempat berasumsi kalau band ini tidak akan bertahan lama.

"FREEDOM GIG"

Tap 'n' Tin, Chatham, Kent

Acara ini menjadi tonggak awal kembalinya The Libertines sebagai sebuah band setelah Pete Doherty keluar dari penjara dan  beberapa jam kemudian langsung manggung bareng teman-teman bandnya. Publik kembali bertanya-tanya apakah kembalinya Doherty bersama bandnya apakah hanya sementara atau mungkin The Libertines kembali dengan karya-karya terbaru mereka.

Album ini menjawab semuanya.

Dirilis tahun 2004 di bawah label Rough Trade album ini merupakan album The Libertines yang pertama kali gue dengeri justru di tahun 2014. Yeah, gue terlambat satu dekade karena jujur gue belum begitu tertarik dengan musik mereka pada saat itu. Dengan bantuan dari seorang penggemar berat The Libertines (nama disamarkan) gue berhasil mendapatkan materi-materi album ini. 

Gue suka. 

This is an amazing stuffs. Album ini kaya biografi. Kebanyakan menceritakan tentang relasi pertemanan antara Pete Doherty dan Carl Barât yang sempat gonjang-ganjing karena kasus pencurian tersebut. 

Langsung digeber dengan single pertama dari album ini yaitu lagu "Can't Stand Me Now" yang juga merupakan hit palng cihuy dari The Libertines yang pernah dibuat. Lagu ini jelas tentang pertemanan yang mengalami turbulensi di tengah perjalanan. Yeah, sebuah hal yang mungkin juga banyak dialami sama kita semua.

An ending fitting for the start
you twist and tore our love apart
your light fingers through the dark
that shattered the lamp and into the darkness cast us...

No you've got it the wrong way round
you shut me up and blamed it on the brown
cornered the boy kicked out at the world...the world kicked back
alot fuckin' harder now

Gue suka track yang judulnya "Don't Be Shy","Narcissist","The Ha Ha Wall", sampe "Arbeit Macht Frei" yang masih menggunakan formula yang sama: lirik simpel,distorsi ringan,tempo cepat, dan attitude yang urakan. Album ini memang penuh dengan energi. Mungkin pengaruh absennya Pete Doherty yang tiba-tiba kembali dan membawa energi yang baru untuk The Libertines sehingga empat belas lagu di album ini menjadi penuh semangat.

Mungkin lagu "Music When The Lights Go Out" adalah lagu yang paling gue suka di album ini. Lagu ini menyentuh emosi gue secara berlebihan di masa-masa depresi gue dulu. Ahh, how I really love this song man. Lagu ini mengingatkan gue pada teman-teman dan keseruan dengan mereka. 


and all the memories of the pubs and the clubs, and the drugs and the tubs we shared together
will stay with me forever..
but all the highs and the lows and the to's and the fro's they left me dizzy oh wont you please
forgive me

but i no longer hear the music oh no no no no

Di lagu "What Katie Did" gue suka intronya dan harmonisasi vokal yang ringan tapi keren. Gue suka liriknya. Menceritakan tentang Pete Doherty yang lari dari kesedihan setelah putus dengan cara mengkonsumsi heroin.

What you gonna do Katie? 
You're a sweet, sweet girl 
But it's a cruel, cruel world 
a cruel, cruel world 

Safety pins are none too strong Katie
they hold my life together 
And I never say never 
And I never say never again 

But since you said goodbye 
The polka dots fill my eyes
And I don't know why 

Kebanyakan majalah musik memberikan review yang cukup positif tentang album ini. Tapi yang menurut gue sangat mencuri perhatian gue ketika gue dapet album ini jujur aja cover albumnya. Gue suka sama cover album ini. Sederhana tapi pesannya kuat. Foto Carl dan Pete waktu acara "Freedom Gig" yang legendaris tersebut dipilih menjadi cover album yang berisi kisah tentang mereka berdua.





Please don't get me wrong

See I forgive you with a song

We'll call the Likely Lads

But if it's left to you

I know exactly what you'd do

With all the dreams we had


picture source: https://en.wikipedia.org/wiki/The_Libertines_(album)
, , , , , , , ,

Belle and Sebastian - Tigermilk (1996)

December 09, 2016 Samuel Yudhistira




Album debut dari salah satu band favorit gue: Belle and Sebastian. Direkam cepat dan efisien di Glasgow tahun 1996, album ini menjadi tonggak awal sensasi indie-pop ala mereka. Tidak terasa sudah 20 tahun yang lalu yah. Dan sampai sekarang gue masih mendengarkan album ini. Fyuuh, twenty years and still kicking my ears.


Cover albumnya jujur agak sedikit nyeleneh dengan menampilkan model yang topless dan berpose seperti sedang menyusui boneka anak harimau (atawa macan). Album ini termasuk langka karena hanya dicetak seribu kopi aja dan baru dirilis kembali tahun 1999. Okeh, yang gue punya itu CD yang rilisan ulang tahun '99.

Banyak yang punya komentar macam-macam tentang album ini, banyak yang bilang album ini diawali dan diakhiri dengan track-track yang canggih tapi in between banyak lagu-lagu shitty sangat.

Ya kalo jujur sih gue agak terganggu dengan track "Electronic Renaissance" entah kenapa. Untuk tema masih seputar apa yang bisa dilihat dan dirasakan sama orang-orang "biasa" pada umumnya. Ini yang jadi kekuatan Stuart Murdoch sebagai frontman dan penulis sebagian besar lagu di band ini. Dia membuat hal-hal yang umum menjadi sesuatu yang exclusive.

Tigermilk itu berasa kaya ajang pemanasan sebelum memasuki album mereka berikutnya yang sangat-sangat canggih "If You're Feeling Sinister" dirilis dua tahun setelah album ini.

The State I Am In

Salah satu lagu terbaik yang ada di album ini dan juga menjadi salah satu karya terbaik Belle and Sebastian. Liriknya kuat,musiknya benar-benar menggambarkan fondasi musik dari Belle and Sebastian. 

I gave myself to sin
And I've been been there and back again
I gave myself to providence
The State That I Am In
Expectations

Lagu favorit gue di album ini. It's like a conversation. Musiknya sungguh menyenangkan dengan tambahan suara trumpet menambah kesan menyenangkan walau liriknya justru menggambarkan situasi sebaliknya. 

And the head said that you were always were a
queer one from the start
For careers you say you want to be remembered 
for your art
Your obsessions get you known throughout the school
for being strange
Making lifesize models of the Velvet Underground in clay

She's Losing It

Lagu ini bercerita tentang Lisa yang mengalami semacam abuse dalam kehidupannya. Lagu ini bercerita tentang keseharian Lisa setelah kejadian buruknya itu. Bagaimana dia memandang berbagai hal dengan penuh rasa skeptis sampai dia bertemu dengan Chelsea, seoarang gadis yang mengalami hal serupa. Mereka merasa senasib dan mulai menjalin hubungan tidak biasa antara perempuan dan perempuan.

You're Just A Baby

Lagu tipikal indie rock 90-an. Jika dibandingkan dengan album-album Belle and Sebastian yang nantinya akan datang memang bisa dibilang lagu-lagu di album ini terkesan lebih "ringan" dan tidak memiliki kesan "dark" nantinya akan muncul di album-album mereka selanjutnya. I don't really dig this song tapi nada dan riff gitar di awalnya lumayan mengena di telinga.

Electronic Renaissance

Di awal gue bilang kalo gue sangat annoyed dengan lagu yang satu ini. Aneh aja tiba-tiba mendengar nada elektronik di tengah jangle-jangle ala indie pop. I must say that I don't really like this song.

I Could Be Dreaming

Riff dengan efek-efek delay/tremolo mengawali lagu berdurasi hampir 6 menit ini. Jujur aja lagu ini rada ngebosenin. But still, I like it. Lagu ini kaya lamunan seseorang di mana orang itu saban hari mengalami hal yang begitu-begitu aja. 

If you had such a dream
Would you get up dan do the things
you've been dreaming

We Rule The School

Nah, kembali lagi Stuart Murdoch menulis lagu dari sudut pandang orang yang terpinggirkan dan termarjinalkan di lingkungan sekolah. I love it. Menurut gue lagu ini kaya semacam ajakan untuk berbuat sesuatu hebat tanpa harus berpikir menjadi seorang yang "hebat" dan dipandang di lingkungan.

Call me a prophet if you like
It's no secret
You know the world is made for men....
Not us

My Wandering Days Are Over

Ahh I love this song! Gue mendengarkan lagu ini terus-menerus waktu jaman depresi berat gue. And yeah it made me feel better that day. Lagu tentang seseorang yang bertemu dengan orang yang akhirnya menjadi sahabat atas dasar persamaan visi dan nasib. And yeah, this was my song. :D


I said "My one man band is over"
I hit the drum for the final time and I walked away
I saw you in Japanese restaurant
You were doing it for businessmen on the piano, Belle
You said it was a living hell
You said that it was hell

I Don't Love Anyone

Kembali ke jalur yang menurut gue sangat mereka. Lagu ini tentang seseorang yang benar-benar skeptis dengan semua hal dan selalu merasa dia gak pernah suka dengan apapun yang ada di dunia. Memilih untuk sendirian ketika semua orang sedang bersama-sama. Yeah, lagu ini tentang kesendirian memang.

But if there's one thing that I learned when I 
was a child
It's to take hiding
Yeah, if there's one that I learned when I 
was still at school
It's to be alone

Mary Jo

Lagu penutup yang powerful kalo menurut gue. This song is typically theirs.Dibuat mengalir seperti sebuah cerita yang dinyanyikan. Gue suka gaya musik mereka yang seperti ini. Ahh, I love this song. Sebuah lagu yang sempurna menutup album yang menjadi awal dari ledakan mereka.

Mary Jo, no one can guess
What you've been through
Now you've got love to burn


Album ini memang dianggap tidak sekuat album-album mereka yang lain. But still it is worth to hear. Dan jelas Belle and Sebastian memulai langkah mereka dari album ini. I love this album, it's still a great album.

Life is never dull in your dreams
A sorry tale of action and the men you left Women,
and the men you
left for intrigue,
and the men you left for dead.

picture source: https://en.wikipedia.org/wiki/Tigermilk
, , , , , , , ,

Kunjungan Morrissey ke Jakarta 2016

October 14, 2016 Samuel Yudhistira

Ketika flyer pengumuman ini keluar di awal akhir Agustus gue langsung bersiaga mengamankan keuangan gue. AJRIIIIT HE'S BACCCCKK! MOZ IS BACK Y'ALL!!! Mantan vokalis The Smiths ini akhirnya kembali mengadakan konser di Jakarta setelah sukses menghibur para fans setianya di tahun 2012. Berhubung waktu doi ke sini tahun 2012 gue masih teramat gembel untuk beli tiket yang harganya ratusan ribu tersebut. Baru setelah gue kerja dan punya penghasilan sendiri sudah saatnya gue menunaikan "ibadah" menyaksikan idola gue yang mengubah hidup gue ini.

Di blog gue sendiri bahkan gue sudah membahas soal The Smiths beberapa kali. Yap, gue sangat mengidolakan doi sebagai figur,musisi,dan penulis lirik yang brilian  (sokin,sokin,sokin).



Rabu, 12 Oktober 2016

Dari pagi gue udah bener-bener gasabar. Di kantor gue udah gak fokus dan temen-temen yang lain juga kebetulah sudah paham dengan kelakuan gue karena emang gue dari sampe kantor juga udah ngebahas soal konser yang bakal gue datangin setelah balik kerja.

Setelah bergelut dengan ketidakf okusan gue di kantor walhasil setengah 5 gue langsung ngibrit ke kantin ngisi tenaga dulu biar pas sing along bisa kueenceng suaranya.Sebenarnya rada kuatir dengan cuaca yang dari siang rada labil cuman gue sudah mempersiapkan skenario buruk dengan menyimpan banyak baju dan celana di bagasi motor gue (syarat pertama beli motor: BAGASI LEGA!!).

Kelar makan gue langsung nyikat motor gue di parkiran tancap gas menuju venue di daerah Senayan sambil bersenandung riang gak sabaran. Man, finally gue bisa liat Moz nyanyi depan mukaaaaaa...

Sampe di Senayan menjelang malam. Seusai memarkir motor gue langsung mempersiapkan diri dengan: NGEROKOK. Kenapa? Karena di venue rokok gaboleh masuk jadinya yawdah ngerokok di marih ajah deh. hehehe (bad habit, jangan ditiru!!). Gue gak langsung masuk ke dalem karena nungguin Radit, salah satu pemain lama di scene indie Jakarta. Salah satu orang yang berjasa memperkenalkan banyak koneksi kepada gue ketika masih era radio kampus. hehehe

Mata gue gak lepas terus tertuju kepada gate depan yang akhirnya gue beri julukan "Gerbang Kemenangan."

Sambil nunggu dan gak ada kopi dan gue males muter-muter nyari kopi banyak banget calo nawarin tiket gue dengan harga super duper kampret yang gue yakin bakal dia jual lagi ke orang lain dengan harga fantastis.

Setelah Radit dateng dengan teman-temannya gue menggabungkan diri daripada ntar basi di dalem sendirian. Weh ternyata venue-nya outdoor di bekas driving range golf. Rumput dan tanah yang basah plus keinjek-injek sama orang-orang ramai membuat banyak booby trap alias kubangan di mana-mana. Walhasil sepatu pada ancur-ancuran kena lumpur tapi cueklah namanya juga konser bodo amat soal sepatu,celana,sampe baju yang kena cipratan lumpur.



Gerbang Kemenangan

Waktu gue dan kawan-kawan masuk di dalem masih memutar-mutar video klip gitu. Gue masih inget pas masuk itu lagi nyetel Sex Pistols yang "God Save The Queen" trus New York Dolls sampe The Ramones. Yeah, Morrissey memang secara pribadi dibesarkan di saat kultur punk/glam lagi gila-gilaan mempengaruhi anak muda Inggris.

Gue demen deh ngeliat panggung yang dikepung sama gedung-gedung perkantoran gitu. Kesannya kya kita berpesta kecil dikelilingi gedung-gedung angkuh yang isinya orang-orang pekerja bermental robot. Dan siraman cahaya dari gedung-gedung itu kya ngasih sensasi antara takjub dengan visualnya sama pikiran kalo besok Kamis harus balik sibuk kembali di perkantoran sibuk. Tapi pedulil hantulah! Yang penting kita bersenang-senang dulu!

Panggungnya jadi kya kecil gitu

Gapake lama, Tiba-tiba panggung menyala terang...
Dan personil band pengiring keluar saling ngasih hormat...
Muncullah dia yang kita semua nantikan... STEVEN PATRICK MORRISSEY!!!!!

Geber langsung lagu pertama: Suedehead
Wah suasana langsung meriah penuh teriakan dan tepuk tangan...
Gue langsung menyanyi bersing along sambil joget gamau kalah sama yang lain sembari sekejab menutup mata penuh penghayatan...

Why do you come here
why do you hang around
I'm so sorry
I'm so sorry
Why do you come here
when you know it makes
things hard for me
when you know, oh
why do you come?
Why do you telephone?
and why send me silly notes?
I'm so sorry
I'm so sorry
why do you come here
when you know it makes
thing hard for me
when you know, oh
why do you come?
You had to sneak into my room
'just' to read my diary
was it just to see all the things
you knew I'd written about you?
and...so many illustrations
I'm so very sickened
oh, I am so sickened NOW

Gue merinding abis sampe air mata gue keluar... ANJROOT! Ini lagu kesukaan gueee...

Kayanya emang dari awal konser ini sengaja gak dikasih ampun karena lagu kedua langsung digeber Alma Matters... Wah sontak semua penonton lelumpatan gak keruan sambil sesekali mengacungkan tangan ke udara gak peduli kena cipratan lumpur yang bisa bikin spokat mandi lumpur. GAK PEDULI! I come to dance and music!




Jujur konser ini sebenarnya bukan konser yang buruk. Moz sempat beberapa kali berucap dan berinteraksi sama penonton. Bahkan dengan jenaka kaya ngajak penonton yang tereak-tereak pake bahasa Indonesia. Doi juga sempat berujar, "Terima kasih" biasalah namanya bule ngomong Indo apalagi ini seorang Morrissey penonton langsung berteriak kegirangan. hehehe

"I don't know what the hell you are saying...but you say it with passion... what? Sorry what? No..no...no get back! No! Get back!" doi berujar dengan mimik seakan-akan ngerti penonton pada tereak apaan. hehehe.. bisa aje ni aki-aki.

Fisik doi juga kyanya udah ga sekuat kya waktu lo ngeliat dia di yutub. Sempet setelah nyanyiin lagu "Speedway" doi spontan berujar, "Oxygen!" trus langsung menghirup oksigen kaleng yang stand by di panggung.

He is still a charming man... 

Meat is Murder

Nah, kebanyakan orang berujar kalo konser Morrissey berakhir anti-klimaks setela tulisan di atas ini. Moz membawakan salah satu tembang dari The Smiths yang berjudul "Meat is Murder" lalu setelah lagu selesai Moz keluar langsung cabut tanpa berujar apapun. Penonton bingung dan mulai berteriak WE WANT MORE WE WANT MORE! Yang nongol bukannya Morrissey tapi malah kru panggung tanpa basa-basi langsung menggulung peralatan band di atas panggung dan dalam sekejab panggung kosong meninggalkan para penonton yang masih melongo dan berharap Moz keluar membawakan beberapa lagu encore sebagai tanda perpisahan.

Sudah ketebak internet ramai penuh spekulasi. Semua bingung dengan apa yang terjadi. Bahkan gue sempet iseng nanya-nanya sama salah satu kru panggung tentang apa yang terjadi. Doi hanya menjawab dengan statement yang lebih musingin kepala, "Jujur aja mas, ini konser paling aneh," ujar doi yang namanya juga gak sempet gue tanyain.

So far gue gamau bandingin sama konser tahun 2012 yang "dinilai" lebih baik dibandingin 2016. Gak sah juga sih kalo dibilang gitu. Cuman karena gaada encore bukan berarti konser ini jelek. Justru gue bingung sama orang-orang yang kebanyakan mainan hape ngerekam,motret,ngapdet socmed. FUCK YOU ALL! I come for music.. Contoh waktu lagu "First of The Gang" gue bergoyang kya orang kesetanan malah diliatin bingung. 

Oi dumbfuck! Lo dateng ke konser musik ngapain? Sekedar apdet biar terlihat fancy? Go fuck yourself then you all stupid fucks! I come to dance! 

Gaada cara yang leih baik untuk menghargai musisi favorit selain dengan berdansa mengikuti irama dan menikmatinya. Gue sih cuek aja joget gila-gilaan, sabodo teuing! 





Buat gue secara pribadi I enjoyed every moment gue di sana. Gue bangga bisa menjadi bagian dari sejarah kedatangan Morrissey yang kedua dan yeah untungnya setlist mereka malam itu sangat-sangat menghibur walau banyak juga hits yang gak dibawain. Suka gue pokoke! One of the best nights I ever have. That moment will live in my mind and heart until the day I die.

Thanks Moz! For the inspiration,music, and thank you for changing my life.


Credit: Radit and the gang untuk foto-fotonya dan untuk nemenin gue yang sendokiran di sana...
, , , , , , ,

Strangeways, Here We Come (1987)

August 08, 2016 Samuel Yudhistira
Another Smiths' album. Wajarlah, berhubung mereka band keren dan gue suka jadi gue mau berbagi tentang pandangan gue mengenai album keempat dan terakhir mereka: "Strangeways, Here We Come" yang dirilis 4 bulan setelah band ini menyatakan bubar di tahun 1987.

Let's just skip about the story behind this album ato musikalitas album ini. Orang lain mungkin punya skill dan tanggung jawab lebih untuk menceritakan hal-hal demikian. Di sini gue cuma mau menceritakan hubungan album ini dengan apa yang gue rasakan dan nikmati.


Ini mungkin adalah album The Smiths pertama yang gue punya dan dengerin. Pertama kali gue dengerin "Stop Me If You Think You've Heard This One Before", "Girfriend in a Coma", sama "A Rush and A Push and The Land is Ours" melalui album yang luar biasa ini.


Sayangnya, The Smiths bubar setelah rekaman album ini (waktu dirilis mereka udah bubar). Menurut sumber-sumber yang gue baca album ini juga adalah album favoritnya Morrissey dan Johnny Marr seperti yang dikutip dari perkataan Morrissey, "We say it quite often. At the same time. In our sleep. But in different beds."


Menjadi satu-satunya album di mana Morrissey memainkan instrumen piano di lagu "Death of a Disco Dancer."


Lagu-lagu di album ini emang rata-rata judulnya panjang. Gatau deh kenapa. Kalau dibandingkan dengan album-album The Smiths sebelumnya kayanya tracklist di sini judulnya agak sedikit panjang.

Mari bahas lagunya satu per satu.

1. A Rush and A Push and The Land is Ours

Suara piano di awal langsung disambung masuknya vokal dari Morrissey. Jangling-nya masih berasa walau faktanya tidak ada gitar sama sekali di lagu ini. Gue suka lagu ini. Morrissey masih sering bawain lagu ini setelah bersolo karir dengan beberapa perubahan pada liriknya.

They said : 
"There's too much caffeine 
In your bloodstream 
And a lack of real spice 
In your life" 
2. I Started Something I Couldn't Finish

Gue suka intro gitarnya. Berdistorsi ringan. Salah satu lagu mereka yang gue dengerin di awal gue tahu The Smiths (sekitar jaman SMA). Gue langsung suka. Lagu ini keren banget  sampe sering gue putar ulang di MP3 player gue di jaman itu. Arti lagu ini kayanya juga mirip-mirip sama sifat geblek gue yang hobi maksain orang untuk ikutan "nyebur" dalam satu hal yang orang lain belum tentu suka dan di tengah jalan malah berubah jadi sedikit bencana.

3. Death of a Disco Dancer

Satu-satunya lagu di mana Morrissey memberikan kontribusi instrumen musik. Yep, doi memainkan piano di lagu ini, satu hal yang patut dicatat. Gue suka lagu ini. Tentang kematian dan betapa rasa kemanusiaan mulai dipertanyakan dalam kehidupan sehari-hari.

And if you think Peace 
Is a common goal 
That goes to show 
How little you know
(sebuah lirik yang kick-ass)

4. Girlfriend in a Coma

Ahhh my favourite song!! Lagu maha sarkas,penuh candaan yang ngehek, dan cerdas seperti biasanya gue suka banget lirik-lirik Morrissey yang puitis tapi tetep liar. Saking liarnya sampe lagu ini gadapet airplay di radio-radio Inggris termasuk BBC masa itu.

5. Stop Me If You Think You've Heard This One Before

I love this song. Gitarnya Johnny Marr bener-bener menghipnotis. Gue dulu sempet ngulik lagu ini dalam versi yang cukup kacau. Dan kembali tidak mendapatkan airplay dari radio di Inggris dikarenakan salah satu liriknya terdapat kata-kata "mass murder" yang dinilai terlalu ofensif termasuk lirik yang berbunyi, "a shy,bald, buddhist reflect." 
Gue suka video klip-nya. Jujur aja gue lagi sempet nyari cara bikin emblem kaya di video klip itu trus naik sepeda keliling kota. hehe.

I crashed down on the crossbar 
And the pain was enough to make 
A shy, bald, buddhist reflect 
And plan a mass murder

6. Last Night I Dreamt That Somebody Loved Me

Lagu yang dinilai oleh David Bowie sebagai yang terbaik di album ini dan menyatakan bahwa Morrissey adalah salah satu penulis lirik terhebat sepanjang sejarah. Gue sangat membenarkan Bowie. This is a great song. Liriknya juga sungguh luar biasa. Simpel tapi penuh arti.

Last night I dreamt
That somebody loved me
No hope - but no harm
Just another false alarm
Last night I felt
Real arms around me
No hope - no harm
Just another false alarm
So, tell me how long
Before the last one?
And tell me how long
Before the right one?
This story is old - I KNOW
But it goes on
This story is old - I KNOW
But it goes on
7. Unhappy Birthday 

Lagu sarkas yang memutarbalikkan kondisi tentang ulang tahun seseorang yang menurut kita "jahat". Gue suka lagu ini secara musikalitas sangat di luar pola pikir. Hal sederhana yang menjadi sebuah hal yang monumental dan begitu indah. Cara yang manis untuk menyindir seseorang.

8. Paint A Vulgar Picture

This song kicks our ears with a very "Marr" jangly thing. Jrruweeengwengwengweng. Disusul riff bass-nya Andy Rourke dan hentakan kick drum Mike Joyce. Sayup-sayup terdengar sedikit aksen tambourine baru deh masuk suara Morrissey.
Dari liriknya kayanya menceritakan tentang retorika dunia hiburan (showbiz) di mana musisi mendapat tekanan dalam berkarya demi keuntungan semata tanpa memikirkan sisi estetikanya. Kenyataan yang masih terjadi dalam dunia hiburan terutama musik akhir-akhir ini.

9. Death at One's Elbow

Salah satu lagu yang liriknya gue masih bingung artinya apa. Entah tentang affair,entah tentang suicide, entah tentang pasangan gay. Ada yang bilang diambil dari buku "James Dean is Not Dead" tapi ada juga statement lain yang bilang lagu ini diambil dari buku "The Orton Diaries" yah apapun itu pokoknya inti lagu ini adalah hal yang tragis dan menyedihkan. 

10. I Won't Share You

Final track. Dan sebuah hal yang benar-benar tepat menutup perjalanan album ini dan karir studio The Smiths. This is their legacy. Lagu ini gue sukaaaaa banget. Johnny Marr mainin autoharp di lagu ini. A very sweet song in my opinion. I won't share you/With the drive/The ambition/And the zeal I feel/This is my time. 

Huaah I really love this song. 

Pada akhirnya ini adalah album yang luar biasa. Secara musikalitas tetap mengejutkan dengan beberapa elemen instrumen yang mengisi beberapa lagu. Sayang memang menjadi karya album terakhir dari band yang sudah menginspirasi musisi di generasi selanjutnya seperti The Stone Roses,OASIS,Blur,The Libertines, dan banyak lagi band-band lain.