Showing posts with label indie. Show all posts
Showing posts with label indie. Show all posts
, , , , , , , ,

Barbars - Barbars (2014)

June 25, 2019 Samuel Yudhistira
                                              

Pertengahan 2014 ketika musik neo psychedelic mulai digandrungi anak-anak muda muncul satu band dengan karakter dan attitude punk yang berisik menerobos masuk dengan karakter mereka yang aneh bin ajaib.

Pertemuan pertama gue dengan Barbars terjadi ketika kita berbagi panggung dalam sebuah acara. Gue rada kaget juga sama band ini Leather jacket, badan diselotip, muka dicorat-coret, dan attitude ugal-ugalan. Di atas panggung mereka benar-benar mampu menarik perhatian semua orang yang hadir dengan dandanan ajaib tersebut. Tapi bukan cuma dandanan, perilaku brutal di atas panggung, dan attitude brutal yang mereka tunjukan di panggung bukan sekedar aksi panggung, no, it's real! Banting-banting gitar, vokal menjerit-jerit, lirik tanpa kompromi, muntah di panggung, hentaman drum yang agresif...Gilak!

Sejak saat itu gue jatuh hati dengan musik mereka.

Hingga pada akhirnya mereka merilis E.P. pertama mereka tanpa dinaungi label apapun. Bikin sendiri. Bener-bener do it yourself.

Barbars bisa dibilang sebagai supergroup underground lokal yang sayangnya kurang mendapat exposure di skena musik. Diisi oleh personil-personil band lokal yang namanya sudah tidak asing lagi di kancah musik bawah tanah seperti Jon The King, Seek Sick Six, sampai Pestolaer.

                                             

Let's get into the songs!

Magenta and Half Black Garland

Kesan dark dari Barbars langsung terlihat di lagu pembuka album ini. Piano dan ketukan drum pelan dihajar jeritan gitar dan suara vokal minim bass. Sebagai lagu pembuka kayaknya sah-sah aja lagu ini dimainkan. Durasi 7 menit lebih tidak terasa karena tensi lagu ini yang naik turun.

Marilyn Monroe 

Nah, ini dia! My personal favourite. Tempo cepat langsung menhentak di awal lagu setelah narasi singkat. Wow! Riff-riff di lagu ini brutal mampus. Gue suka banget lagu ini, asik buat berheadbang ria. Entah yah, mungkin lagu ini terinspirasi dari aktris legendaris Marilyn Monroe dengan gaya hidup dan cerita-cerita kontroversialnya.

I Wanna be Your Dog

Dari judulnya aja kita sudah tahu kalau ini bukan lagu original dari mereka. Lagu ini merupakan lagu dari The Stooges, salah satu band legendaris yang melambungkan namaa Iggy Pop sebagai performer yang sinting di kancah musik underground. Barbars mengolah lagu ini dengan cukup baik. Mengubah komposisinya sehingga nuansa gelap khas mereka sangat terasa di lagu ini.

Angsa Berbisa

Satu-satunya lagu berbahasa Indonesia di album ini. Alunan suara sitar diisi oleh Erlangga Ishanders (Ramayana Soul) membuat lagu ini agak sedikit berbeda dengan lagu-lagu lain dalam album ini. Barbars bereskperimen dengan sound yang sedikit berbeda dan penulisan lirik dengan menggunakana bahasa Indonesia nampaknya cukup sukses. Lagu ini keluar sebagai single dari mereka dan Barbars merilis video klip dari lagu ini yang mendapat respon cukup positif. Tetap dengan lirik-lirik yang absurd, dark, dan depresif.

Barbars - Angsa Berbisa

The Glorious Brain

Hentakan drum cepat  berisi di awal lagu ditambah riff bass dan keyboard yang unik dan lengkingan gitar absurd membuat lagu ini penuh dengan kesan brutal. Barbars secara tepat mengisi lagu-lagu mereka dengan noise-noise ajaib menggunakan synth dan efek-efek suara. Suara unik Bofag digeber penuh menambah kesan "uedan" pada lagu ini. Secara pribadi lagu ini salah satu lagu yang gue suka banget di album ini.

Here Comes Alive

Lagu penutup sekaligus merupakan lagu yang menurut gue sangat mempermainkan emosi pendengarnya. Tempo pelan di awal lagu dan suara lirih vokalis yang jujur saja mampu bikin orang agak takut, hehehe. Tempo semakin pelan-pelan lalu hilang...... tiba-tiba riff-riff keras menerjang masuk ke telinga dan musik kembali datang, kali ini dengan tempo cepat yang tanpa ampun langsung menghajar. Suara vokal yang tadinya lirih berubah menjadi jeritan penuh amarah. Waow, sukses mereka menutup album ini dengan lagu yang sangat-sangat liar.


Sayang band ini jarang banget manggung. Padahal mereka punya materi lagu-lagu yang menurut gue sangat keren dan jarang banget ada band dengan attitude seperti mereka saat ini. Yah, mungkin selera pendengar saat ini belum cocok dengan musik mereka dan siapa tahu in the future Barbars bisa kembali manggung dan sangat menyenangkan melihat mereka secara langsung dengan aksi panggung gila mereka.







, , , , , , ,

Hahawall - Lost (2018)

November 22, 2018 Samuel Yudhistira


Gue kyanya kebanyakan membahas soal album-album musik yang gue suka tapi band gue sendiri gak pernah gue bahas di sini. Lost adalah judul E.P. kedua dari Hahawall setelah sebelumnya merilis E.P. bertajuk Beautiful Day dalam format kaset di bawah naungan label independen Pita Hitam Records.

Mini album kedua ini banyak dibilang lebih sangar, berisik, noise, dan elemen-elemen rusuhnya lebih kaya daripada E.P. pertama. Well, ini kan menurut orang-orang.

Gue sendiri baru tergabung dengan Hahawall tahun 2016. Sebelumnya, gue sering sepanggung sama mereka di beberapa acara dan kenal dengan Bayu, vokalis/bassist Hahawall yang kebetulan waktu itu bekerja sebagai graphic designer paruh waktu di sebuah perusahaan media. Setelah band gue, Bising Kota bubar jalan gue diajak Bayu buat gabung dengan Hahawall yang pada waktu itu baru saja ditinggal gitarisnya.

Singkat cerita, gaya bermain gue yang bluesy rada gak masuk dengan karakter musik Hahawall yang lebih banyak dipengaruhi band-band noise dan shoegaze. Walhasil gue harus belajar ulang demi memenuhi standar musik mereka.

Kebetulan yang menyenangkan, ternyata selera musik mereka gak beda jauh sama gue. Kita sama-sama suka The Velvet Underground, Sonic Youth, My Bloody Valentine, dan Chelsea Light Moving. Mungkin karena taste yang gak beda jauh ini menyebabkan gue akhirnya mudah untuk mengubah gaya bermain gitar gue dan blend in dengan mereka.

Selama bergabung dengan Hahawall gue banyak ngulik riff-riff dan tone yang jauh dari kebiasaan gue. Secara umum, gue belajar ulang main gitar.

Okey, mari kita bahas album ini.


69
Album ini dimulai dengan hentakan pelan yang tiba-tiba berubah rusuh ketika kedua gitar masuk. Lagu ini sungguh amat cocok dijadikan pembuka album yang berisik ini. Liriknya? Wahduh gajauh-jauh dari pengaruh alkohol dan substansi.

Yah, kira-kira begitulah. Namanya juga anak muda. hehehe

Bearing a fall, it's gonna keep the rail.
You gotta get it on!
Bearing a fall, it's gonna keep the rail.
You gotta get it on! 

Lost
Lagu kedua diawali dengan teriakan depresif dan langsung dihajar riff keras dan ketukan drum yang cepat. Uedan! Lagu ini macam naik roller coaster. Cepat, pelan, sedang, pelan, cepat, tiba-tiba super cepat di beberapa bagian. Enak nih sambil headbanging di deket ampli. 

The lamp is so dumb
a fuckin' dumb
a really dumb
Today/Fade Away
Nah, ini adalah single pertama dari E.P. ini. Lagu ini merupakan salah satu lagu paling rumit yang ada di album ini. Intronya menyajikan harmonisasi gitar dan bass dengan riff yang aneh bin ajaib. Ketukan stagnan sepanjang lagu tiba-tiba berubah cepat. Wah, ternyata pengaruh punk-nya belum pudar, hehehe. 

Lagu ini masih bercerita tentang kondisi seorang dalam pengaruh substansi. Hadeh... 

Di akhir lagu benar-benar menampilkan suasana chaos yang berisik tapi tetap menyenangkan untuk didengarkan. Banyak elemen-elemen yang mengejutkan di lagu ini.



Wasted
Yak, dari judulnya saja sudah ketahuan lagu ini tentang apa. Tidak perlu dijelaskan lebih jauh. Cukup dinikmati saja. Lagu ini menjadi single kedua dari album ini dan mendapat banyak respon positif karena dinilai berbeda daripada lagu-lagu lain di album ini. Yap! Setuju! Bahkan gue sebagai personil bandnya juga sangat suka dengan lagu ini. Cepat, berisik, gapake basa-basi, dan enerjik! Video klipnya sudah bisa dilihat melalui kanal streaming Youtube.



Merah

Lagu terakhir di album ini dan merupakan satu-satunya lagu berbahasa Indonesia. Awalnya lagu ini cuman jamming-jamming noisy gak keruan yang biasanya kita bawain kalo manggung. Muncul ide unik untuk memasukkan unsur vokal nyeleneh. Lalu kita mulai berpikir kira-kira siapa yang cocok untuk mengisi vokal di lagu ini. Pilihan jatuh ke Bofag the Deadwhore. Yoi, doi adalah vokalis band Barbars dan Seek Six Sick. Kebetulan gue kenal sama orangnya dan langsung kita ajak buat ngisi vokal di lagu ini. Untunglah doi ternyata mau bantuin kita buat ngisi vokal di lagu ini.Hasilnya? Gilak! Keren mampus! Versi tanpa vokal bisa didengerin di kompilasi Popcore vol. 10 yang dirilis secara terbatas.

Lagu ini merupakan single ketiga dari album ini dan video klipnya sudah ada di Youtube.



Begitulah, ini karya gue dan teman-teman di Hahawall. Waktu band gue bubar gue sempet putus asa pengen ngeband lagi tapi gapunya temen dan ternyata Hahawall menjadi tempat gue buat mengekspresikan sisi musikal gue. 

Be there, we'll make you deaf!


, , , , , ,

Belle and Sebastian - Dear Catastrophe Waitress

September 17, 2018 Samuel Yudhistira
Wahh, sudah lama saya tidak berbagi cerita tentang album-album musik favorit saya di blog ini. Okeh, gue masih bakalan ngebahas Belle and Sebastian sebagai salah satu band favorit gue. Album rilisan Rough Trade Records tahun 2003 ini berisikan 12 lagu yang karakternya mulai menjauhi album-album Belle and Sebastian sebelumnya. Ensembel rame dan harmonisasi vokal yang khas masih menjadi senjata andalan Stuart Murdoch dan kawan-kawan dalam menciptakan lagu-lagu asoy nan sedap.

Mari kita bedah lagu-lagu di album ini satu per satu:



Step Into My Office, Baby

Album dimulai dengan hentakan macam marching gitu di lagu "Step Into My Office, Baby" yang langsung menghentak dengan tema-tema seputar kehidupan sehari-hari. Ada bagian choir di tengah lagu trus transisi tempo dipadu dengan harmonisasi suara yang apik.


I'm a slave to work
I'm only living when I walk amongst the office staff
And catch up with the office wag
I'll be in bed by nine
My curtains drawn
My thoughts composed
I get to work on time

Dear Catastrophe Waitres

I don't know what to say about this song. Mungkin yang bisa gue bilang adalah lagu ini diproduksi dengan sangat rapi. Padat, penuh dengan suara instrumen, tapi tetap terdengar ringan di telinga. Entah kenapa gue menangkap kesan sinis di lagu ini setiap kali gue dengerin lagu ini.

Stick to what you know
You'll blow them all to the wall
When they realize what you've been working for
You've been working for
You've been working for

If She Wants Me

Lagu ketiga di album ini dan salah satu lagu yang gue suka banget. Intronya jangly banget bikin pengen bergoyang-goyang santai. Gue suka banget suara vokal dan lirik di lagu ini. Ada kesan depresif di liriknya tapi juga ada kesan bodo amat dengan segala masalah yang terjadi di masa lalu. Lagu ini sungguh sangat menyenangkan untuk didengarkan dan liriknya bener-bener relevan dengan krisis psikologis anak-anak muda.

If I could do just one near perfect thing I'd be happy
They'd write it on my grave, or when they scattered my ashes
On second thoughts I'd rather hang about and be there with my best friend
If she wants me

Piazza New York Catcher

Okey, this is my favourite song in this album. Yeap, sebuah lagu yang sederhana tapi punya arti yang dalem banget buat gue. Gue pernah bawain lagu ini di sebuah acara setahun yang lalu. Ancur sih, tapi yah namanya juga usaha, hehehe. Lagu ini mungkin lagu yang gak terlalu heboh secara instrumental karena cuman ada suara vokal dan gitar akustik sepanjang lagu. Tidak ada repetisi dalam penulisan lirik, jadi yaudah ngalir aja terus dah, hehe. This song reminds me of my girlfriend.

Asleep On A Sunbeam

Nuansa pop tahun 60-an berasa banget di lagu ini. Lagu ini kayanya asik didengerin sambil tiduran di padang rumput bermandikan cahaya matahari selow. Gak tau deh, gue sih ngebayanginnya gitu, hehe. 

I'm A Cuckoo

Intro gitarnya menyenangkan. Lagu ini sih kalo gue mendalami liriknya kaya semacam lagu orang yang habis putus cinta. Yeah, break-ups are sometimes miserable and complicated. Gue suka banget pas ada bagian terompet rame gitu di tengah-tengah lagu. Kesannya kayak megah banget. Love it!

Breaking off is misery
I see a wilderness for you and me
Punctuated by philosophy
And wondering how things could've been

You Don't Send Me

I like this song. Liriknya bagus banget. Nuansa lagunya berasa banget agak 60's atau 70's gitu kali yah. Harmonisasi vokalnya rame banget! Seru!

Listen honey, there is nothing you can say to surprise me
Listen honey, there is nothing you can do to offend me
You don't send me

Wrapped Up In Books

Lagu ini mungkin agak-agak mirip dengan karakter lagu-lagu Belle and Sebastian di album sebelumnya. Gue sih dengernya dari gaya nyanyi dan aransemen musiknya. Lagu ini menyenangkan. Gue suka. Satu hal yang mungkin agak berbeda di lagu ini suara tone bass-nya agak berbeda dibanding lagu-lagu lain yang ada di album ini. 

We’ve got a fantasy affair
We didn’t get wet, we didn’t dare
Our aspirations, are wrapped up in books
Our inclinations are hidden in looks

Lord Anthony

It's a beautiful song. Belle and Sebastian kembali lagi dengan tema-tema "troubled young people" di lagu ini. Kisah tentang seorang anak laki-laki yang penyendiri, dijauhi orang-orang, dan menjadi korban bullying oleh teman-temannya. Man, I love this song. 

Tony, you're a bit of a mess
Melted Toblerone under your dress
If the boys could see you they would pass you right by
Blue mascara running over your eye


If You Find Yourself Caught in Love

Satu menit pertama hanya terdengar suara piano dengan tempo pelan dan tiba-tiba musik masuk menghentak dengan nuansa indie pop awal 80-an yang menyenangkan. Asik ni lagu. Bikin badan pengen goyang-goyang santai terus. 

If you don't listen to the voices then my friend
You'll soon run out of choices
What a pity it would be
You talk of freedom don't you see
The only freedom that you'll ever really know
Is written in books from long ago

Roy Walker

Agak aneh di kuping gue. Lagu ini nuansanya beda banget dibanding lagu-lagu lainnya. Bahkan gue sampe mikir, "Ini masih Belle and Sebastian??" saking bedanya. Solo gitar di tengah-tengah lagu juga membuat lagu ini lumayan berbeda dibanding yang lain. Solo gitar, harmonika, dan harmonisasi vokal yang rame banget ternyata lumayan nendang juga di kuping. Sedap!

Stay Loose

Lagu penutup di album ini. Koq gue tiba-tiba keinget band Talking Heads yah pas dengerin lagu ini. 

Maybe I'm a little greedy
You said "Think before you speak"
Sometimes I'm a little seedy
You said "Everyone is weak"
Now I feel a little better
Is there something I can do?
But I never heard the answer
I never had a clue

Overall album ini emang agak sedikit berbeda dibandingkan dengan album-album Belle and Sebastian yang lain. Kesannya emang agak sedikit ringan tapi cukup nendang di beberapa track. Gue suka transisi tempo dan harmonisasi vokal di album ini. Intinya, album ini keren!!

, , , , , ,

Arctic Monkeys - Whatever People Say I Am, That's What I'm Not

June 14, 2017 Samuel Yudhistira
Album ini berisi lagu-lagu yang menjadi saksi tumbuh kembang gue dan beberapa orang di generasi gue. Album ini berhasil memecahkan rekor album debut terbaik di Inggris ketika dirilis tahun 2006 mengalahkan debut album Elastica yang dirilis tahun 1995. Gak terasa juga album ini sudah berusia 11 tahun. Time flies, baby. Lagu-lagunya kebanyakan bercerita tentang potret kehidupan remaja di wilayah suburb Inggris. Mungkin ini pula yang pada akhirnya membuat band ini cepat mencuri perhatian anak-anak muda di Inggris: mereka merasa lagu-lagu di album ini mewakili perasaan mereka sebagai anak muda.

The View from the Afternoon

Album ini dimulai dengan gemuruh drum yang asoy dan tone gitar ringan yang dimainkan dalam tempo yang cepat. Gue suka permainan drum di lagu ini. Terutama di bagian chorus akhir sebelum lagu ini berakhir. 

I want to see all of the things that we've already seen
 I Bet You Look Good on the Dancefloor

Single pertama mereka yang diambil dari album ini. Intronya langsung menghentak cepat. Ahh, I love this song. Terutama lick di bagian tengah. Dude,it's totally cool.


Oh, there ain't no love, no Montagues or Capulets
Just banging tunes and DJ sets and
Dirty dance floors and dreams of naughtiness
 Fake Tales of San Francisco 

Gue jujur pertama kali denger lagu ini dari video game. Entahlah game apa tapi yang jelas dari console. Lagu ini adalah lagu Arctic Monkeys pertama yang gue kulik, lagu Arctic Monkeys pertama yang gue mainin bareng band gue jaman SMA, dan lagu ini juga menjadi lagu pembuka pertemuan gue bersama teman-teman skena permusikan. Lagu ini sudah menjadi saksi banyak sekali kejadian bersejarah.

Yeah, but his bird said it's amazing though
So all that's left
Is the proof that love's not only blind, but deaf
 Dancing Shoes

Gue selalu senang ketika mainin lagu ini bareng band. Lagu ini gampang dimainin bahkan ketika band gue personilnya cuman bertiga lagu ini masih terasa padat. Gue teringat audisi acara kampus orang waktu itu kita mainin lagu ini. Efek metalzone, gitar Squire murahan, dan bass yang gak nyetem. Gue juga heran kenapa waktu itu kita lolos-lolos aja audisi itu.

The only reason that you came
So what you scared for?
Well, don't you always do the same?
It's what you’re there for, but no
You Probably Couldn't See for the Lights But You Were Staring Right at Me

Kalo lo lagi di panggung entah dalam occasion apapun dan lampu panggung menyala garang di atas panggung sudah tentu kemampuan mata lo dalam melihat ke arah penonton berkurang drastis. Yang lo lihat cuma cahaya putih di sekeliling lo. Nah, buat yang nonton justru kebalikannya. Orang yang ada di atas panggung terlihat semakin jelas dan matanya seolah-olah menatap ke arah kita. Jangan heran kalo nonton konser kadang kita bia eye contact dengan si penyanyi padahal si penyanyi gak ngeliat apa-apa. hehehe...

They don't want to say hello
Like I want to say hello
Still Take You Home

This one... Ahh gue suka banget. Gue inget pernah bawain lagu ini waktu acara di sebuah kafe halaman belakang beberapa tahun silam. Gue masih inget lho riff sampe lirik lagu ini sekarang. hehe

I fancy you with a passion
Oh, you're a Topshop princess, a rockstar too
But you're a fad and you're a fashion
And I'm having a job trying to talk to you
But it's alright, yeah, I'll put it on one side
Oh, 'cause everybody's looking, you've got control of everyone's eyes including mine
Riot Van

Lagu ini mengingatkan gue pada kejadian cukup memalukan ketika membawakan lagu yang bercerita tentang sekumpulan anak muda sedang bersenang-senang tanpa peduli aturan ini di tahun 2013 kemarin. We played it so bad. Gue gak hafal lirik dan penonton juga kurang respon dengan lagu ini. Wajarlah, lagu ini bukan sebuah hits single yang semua orang tahu.

"Have you been drinking, son?
You don't look old enough to me"
"I'm sorry, officer, is there a certain age you're supposed to be? 'Cause nobody told me"
Red Light Indicates Doors Are Secured

Lagu tentang bocah-bocah remaja mabuk yang berbuat sesuka hatinya. Yeah, emang kebanyakan lagu-lagu di album ini bercerita tentang kehidupan remaja yang masih mencari-cari jati diri di dunia yang sangat luas ini. Semacam usaha untuk menemukan jati diri dan menjadi dewasa lebih dini.

Oh, they wanted to be men
And do some fighting in the street
He said, "No surrender
No chance of retreat"
Mardy Bum

Mardy dalam kosakata urban masyarakat Yorkshire berarti seseorang yang kerjaannya ngambek melulu (tidak kooperatif). Yeah, lagu ini bercerita tentang seorang wanita yang kerjaanya marah-marah melulu walaupun si cowok bisa menenangkan tapi sifat "ngambek" si wanita tetap saja muncul. Banyak orang mungkin yang sudah sangat famliar dengan lagu ini. Beberapa kali gue denger diputar di mall atau jadi scoring di film atau reality show. A very great song.

 just laugh and joke around?
Remember cuddles in the kitchen, yeah
To get things off the ground
And it was' up, up, and away
Oh, but it's right hard to remember that
On a day like today
When you're all argumentative
And you've got the face on
Perhaps Vampires Is a Bit Strong But...

Lagu ini cocok untuk teman kita yang selalu menjadi benalu atau vampire di dalam lingkup tongkrongan.

He said, "I can't believe that you drove all that way
Well how much did they pay ya? How much did they pay ya?
You'd have been better to stay round our way
Thinking about things but not actually doing the things"
When the Sun Goes Down

Lagu ini adalah sejarah. Pertama kali gue manggung bersama band di sebuah kafe sumpek kawasan Jakarta Pusat gue bersama band membawakan lagu ini. Yeah this was the first we played together in a gig. Lagu ini menceritakan tentang prostitusi yang ada sekitaran studio tempat Arctic Monkeys rekaman dan latihan.

Look, here comes a Ford Mondeo
Isn't he Mr. Inconspicuous?
And he don't even have to say owt
She's in the stance ready to get picked up
Bet she's delighted when she sees him
Pulling in and giving her the eye
Because she must be fucking freezing
Scantily-clad beneath the clear night sky
It don't stop in the winter, no

From the Ritz to the Rubble 

Another song about clubbing experience in Sheffield. Singkat kata lagu ini tentang seseorang yang ditendang keluar dari klub malam oleh para bouncers sangar penjaga pintu klub.

Well, I'm so glad they turned us all away
We'll put it down to fate
I thought a thousand million things
That I could never think this morning
Got too deep
But how deep is too deep?
A Certain Romance

Lagu ini adalah sebuah bentuk nyata pendewasaan diri. Orang-orang yang sudah hidup berdampingan sama kita terkadang punya pola hidup dan kesukaan yang berbeda dan apapun yang kita bilang ke mereka hal tersebut tidak akan mengubah pola pikir mereka begitu saja.

Yah, gue juga merasa demikian koq. Most of my friends, been together since high school or something. They turn into something I hate the most. Yeah, you know, they act like chavs, gentlemen, and "scientists" at the same time. Why should I mad at them anyway. Just don't give them a hoot. It's their life. So, this song kinda reminds me of them. 

But over there, there's friends of mine
What can I say? I've known 'em for a long long time
And they might overstep the line
But you just cannot get angry in the same way
No, not in the same way
Said, not in the same way
Oh no, oh no, no

Seperti yang sudah gue utarakan di atas bahwa album ini adalah saksi pendewasaan diri gue. There's some kind of correlation between me and this album. Yeah, it's a great album. I do really love it.

***
Well, it's ever so funny'Cause I don't think you're special, I don't think you're coolYou're just probably alrightBut under these lights you look beautifulAnd I'm struggling, I can't see through your fake tanYeah, and you know it for a fact that everybody's eating out of your hands

***

picture source: http://relayfm.s3.amazonaws.com/assets/Inquisitive/Whatever.jpg 
, , , ,

The Strokes - Room on Fire (2003)

May 22, 2017 Samuel Yudhistira
We were young, darling
We don’t have no control
We’re out of control

Album ini memuat lagu The Strokes pertama yang gue denger dalam sejarah hidup gue dan membuat gue pada akhirnya tergila-gila dengan band ini sampai sekarang. Album kedua dari band indie rock asal New York ini setelah gue perhatikan ternyata berisi banyak lagu-lagu yang terlalu asoy untuk tidak didengarkan.

What Ever Happened

Album ini dimulai dengan lumayan apik. I love this song. Lagu yang juga mengisi soundtrack film "Marie Antoinette" ini memang "sangat The Strokes" dengan tone tidak jauh berbeda dari album pertama mereka. Liriknya sedap terutama di bagian pertama yang merupakan favorit gue.

I wanna be forgotten
And I don't want to be reminded

Reptilia

Salah satu lagu The Strokes yang pertama kali gue mainkan bersama teman-teman satu band waktu masa SMA adalah lagu ini. It sounds simple tapi komposisi lumayan rumit ketika memasuki reff yang bikin gue dan teman-teman satu band waktu itu ngulik lumayan lama untuk lagu ini. 

The wait is over, I'm now taking over
You're no longer laughing, I'm not drowning fast enough

Automatic Stop

Seriously, the intro of this song is really something. Setiap kali gue denger lagu ini memori gue membawa gue kembali ke tahun 2011 di sebuah acara "Tribute to The Strokes" yang berujung bencana. We played really awful back then. Lagu ini waktu itu harusnya jadi salah satu lagu yang kita bawain tapi gajadi karena persoalan teknis dan internal. 

Yeah, I know you warned me but this is too important
Now I got a different view, it's you

12:51

Yep! This was their first song of them that I hear during my high school time. I remember we were at my friend's room and listening to this album. Hal paling unik mungkin riff-nya Nick Valensi yang benar-benar mengimitasi suara synth keyboard. 

12:51 is the time my voice found the words I sought
Is it this stage I want?
The world is shutting out for us
Oh, we were tense for sure but we was confident

You Talk Way Too Much

Okay, sebuah lagu breakup yang pas gue baca liriknya gue langsung merasa seperti orang di lagu tersebut. Ahh, suka merasa-merasa deh lo. Eits, tapi beneran. I feel you man in the song. I really am. 
Karena ketika kita dikejutkan oleh sesuatu yang berhenti mendadak kita akan mencoba berbagai cara untuk tetap bergerak walau kadang tindakan harus diambil dan justru membuat semuanya semakin berantakan.

Now we're out of time
I said, it's my fault, it's my fault
Can't make good decisions
It won't stop, I can't stop

Between Love and Hate

Another breakup song...

Intro drumnya catchy sih beneran. Liriknya tentang laki-laki,diputusin pacarnya,sendirian,kosong,berusaha untuk membuat pihak wanita merasa bersalah atas perbuatannya,mengingat masa-masa indah yang sudah berakhir, dan tetap bilang, "I'm okay!" walau sebenarnya enggak. Tapi yaudahlah semua sudah selesai. 

Never needed anybody, I never needed nobody
I never needed anybody, I never needed anybody
Don't worry about it, honey, I never needed anybody
I never needed anybody, it won't change now

Meet Me in the Bathroom

Intro lagunya gue suka deh. Gue inget dulu pernah ngulik lagu ini di ruangan kantor temen gue waktu jaman-jaman kuliah. 

Never was on time, yes, I once was mine
Well, that was long ago and darling, I don't mind
Yeah, they were just two fucks in lust
Oh, baby, that just don't mean much
Oh yeah, you trained me not to love
After you taught me what it was


Under Control

Anda terjebak dalam hubungan yang tidak mungkin? 
Beda suku? 
Beda agama?
Orang tua tidak setuju?
Beda visi dan misi?

Maka lagu ini cocok sekali untuk anda ketika hubungan anda yang tidak mungkin tersebut tiba pada akhirnya.

I don't want to change your mind
I don't want to waste your time
I just want to know you're alright
I've got to know you're alright

The Way It Is

Breakups are hard - even for the dumper. 

Walaupun gue merasa kalau si dumper tersebut merasa berat tapi jauh lebih berat beban si dumped. Gue merasa agak kurang 'sreg' sama lagu ini karena buat gue orang yang mencampakkan tentu saja bisa dengan enteng melaju kencang. 

Said she's not sorry the wind blows her way
Accidents happen, there's one planned today

The End Has No End

This song is about society. Di sini kaya dijelasin tentang semuanya akan terus berputar dan hidup begitu-begitu saja. Sama kaya orang yang sedang menggambar lingkaran. Mungkin yang membedakan hanya warna dan cara gambarnya tapi yang digambar tetap lingkaran.

Hoiya, di salah satu part ada selipan tentang Lou Reed dan The Velvet Underground. :)

He want it easy, he want it relaxed
Said I can do a lot of things, but I can't do that
Two steps forward then three steps back, it won't be easy

I Can't Win

Lagu ini adalah lagu yang waktu itu gue dan teman-teman band bawain dalam sebuah audisi untuk acara "Tribute to The Strokes" tahun 2011. Gue masih inget studionya di lantai dua di seberang minimarket (sekarang dah gaada) dan waktu itu temen gue si Thari bantu mengisi keyboard untuk menutupi kekurangan gitar. 

I love this song. Vokalnya Julian Casablancas di lagu ini buat gue keren banget dan solo gitarnya Nick Valensi menurut gue yang terbaik di album ini. A great song  to end a great album.

Things in bars that people do
When no one wants to talk to you
Failing can be quite a breeze
He told me that these girls were easy
Happy that you said you'd mount me
Felt unlucky when you found me
Some nights come up empty handed
Yes, I'll take it



picture source: http://www.jyonnobitime.com/time/2011/04/

, , , , , , , , , , ,

The Libertines - The Libertines (2004)

March 07, 2017 Samuel Yudhistira



Ini adalah album yang merupakan jawaban atas penantian deg-degan para fans The Libertines di tahun 2004. Setelah vokalis sekaligus salah satu frontmen mereka Pete Doherty dijebloskan ke bui akibat aksi pencurian di apartemen salah satu personil bandnya sendiri: Carl Barât. Banyak yang menduga kalau band ini bakalan bubar jalan. 



The Libertines sempat mencuri perhatian dengan album perdana mereka yang berjudul "Up The Bracket" dan menjadi ikon musik garage rock di awal tahun 2000-an. Konflik internal,perilaku ugal-ugalan,dan gaya hidup para personilnya yang berujung pada ditangkapnya Pete Doherty membuat publik sempat berasumsi kalau band ini tidak akan bertahan lama.

"FREEDOM GIG"

Tap 'n' Tin, Chatham, Kent

Acara ini menjadi tonggak awal kembalinya The Libertines sebagai sebuah band setelah Pete Doherty keluar dari penjara dan  beberapa jam kemudian langsung manggung bareng teman-teman bandnya. Publik kembali bertanya-tanya apakah kembalinya Doherty bersama bandnya apakah hanya sementara atau mungkin The Libertines kembali dengan karya-karya terbaru mereka.

Album ini menjawab semuanya.

Dirilis tahun 2004 di bawah label Rough Trade album ini merupakan album The Libertines yang pertama kali gue dengeri justru di tahun 2014. Yeah, gue terlambat satu dekade karena jujur gue belum begitu tertarik dengan musik mereka pada saat itu. Dengan bantuan dari seorang penggemar berat The Libertines (nama disamarkan) gue berhasil mendapatkan materi-materi album ini. 

Gue suka. 

This is an amazing stuffs. Album ini kaya biografi. Kebanyakan menceritakan tentang relasi pertemanan antara Pete Doherty dan Carl Barât yang sempat gonjang-ganjing karena kasus pencurian tersebut. 

Langsung digeber dengan single pertama dari album ini yaitu lagu "Can't Stand Me Now" yang juga merupakan hit palng cihuy dari The Libertines yang pernah dibuat. Lagu ini jelas tentang pertemanan yang mengalami turbulensi di tengah perjalanan. Yeah, sebuah hal yang mungkin juga banyak dialami sama kita semua.

An ending fitting for the start
you twist and tore our love apart
your light fingers through the dark
that shattered the lamp and into the darkness cast us...

No you've got it the wrong way round
you shut me up and blamed it on the brown
cornered the boy kicked out at the world...the world kicked back
alot fuckin' harder now

Gue suka track yang judulnya "Don't Be Shy","Narcissist","The Ha Ha Wall", sampe "Arbeit Macht Frei" yang masih menggunakan formula yang sama: lirik simpel,distorsi ringan,tempo cepat, dan attitude yang urakan. Album ini memang penuh dengan energi. Mungkin pengaruh absennya Pete Doherty yang tiba-tiba kembali dan membawa energi yang baru untuk The Libertines sehingga empat belas lagu di album ini menjadi penuh semangat.

Mungkin lagu "Music When The Lights Go Out" adalah lagu yang paling gue suka di album ini. Lagu ini menyentuh emosi gue secara berlebihan di masa-masa depresi gue dulu. Ahh, how I really love this song man. Lagu ini mengingatkan gue pada teman-teman dan keseruan dengan mereka. 


and all the memories of the pubs and the clubs, and the drugs and the tubs we shared together
will stay with me forever..
but all the highs and the lows and the to's and the fro's they left me dizzy oh wont you please
forgive me

but i no longer hear the music oh no no no no

Di lagu "What Katie Did" gue suka intronya dan harmonisasi vokal yang ringan tapi keren. Gue suka liriknya. Menceritakan tentang Pete Doherty yang lari dari kesedihan setelah putus dengan cara mengkonsumsi heroin.

What you gonna do Katie? 
You're a sweet, sweet girl 
But it's a cruel, cruel world 
a cruel, cruel world 

Safety pins are none too strong Katie
they hold my life together 
And I never say never 
And I never say never again 

But since you said goodbye 
The polka dots fill my eyes
And I don't know why 

Kebanyakan majalah musik memberikan review yang cukup positif tentang album ini. Tapi yang menurut gue sangat mencuri perhatian gue ketika gue dapet album ini jujur aja cover albumnya. Gue suka sama cover album ini. Sederhana tapi pesannya kuat. Foto Carl dan Pete waktu acara "Freedom Gig" yang legendaris tersebut dipilih menjadi cover album yang berisi kisah tentang mereka berdua.





Please don't get me wrong

See I forgive you with a song

We'll call the Likely Lads

But if it's left to you

I know exactly what you'd do

With all the dreams we had


picture source: https://en.wikipedia.org/wiki/The_Libertines_(album)
, , , , , , , ,

The Velvet Underground - White Light/White Heat (1968)

January 31, 2017 Samuel Yudhistira
Watch that side, watch that side don't you know it gonna be dead in the drive.

Setelah album pertama mereka yang diproduseri oleh Andy Warhol gagal dari sisi penjualan, The Velvet Underground mengalami gesekan dengan Andy Warhol dan sudah jelas kerja sama mereka berhenti sampai di sana. 

Jadwal panggung tetap berjalan dan improvisasi berisik mereka di panggung turut membangun embrio untuk materi di album kedua yang menurut gue sangat layak untuk didengarkan. Sebuah album yang memperoleh peringkat 293 dari 500 album terbaik sepanjang masa oleh majalah Rolling Stone.

Album ini kotor,berisik,pengang,membingungkan,nyeni,eksentrik,tidak jelas,nyeleneh, dan tidak punya arti. Itulah statement yang sudah sangat jamak beredar ketika membahas tentang album ini. Buat gue album ini canggih bukan main. Makanya waktu ngeliat CD album ini di sebuah toko musik tanpa pikir panjang gue langsung merogoh kantong untuk memboyong album ini. 

First time I heard this album was in my noisy college  day. I was so confused and I thought this album made while they high or something. 

"Gilak! Kenapa orang-orang ini kepikiran bikin album macam ini sih," kira-kira begitulah pendapat pertama gue setelah mendengarkan album ini.

Warisan dari album ini bisa kita dengarkan pada band-band seperti Joy Division,Buzzcocks,New Order,Television,Sonic Youth, sampai Chelsea Light Moving.

Attitude berisik yang mereka tunjukkan di album ini juga turut memberikan andil pada perkembangan musik noise,punk,sampai experimental rock. Bisa dilihat di lagu "The Gift" mereka mengiringi pembacaan sebuah cerita pendek dengan musik yang penuh feedback dan distorsi berisik selama 8 menit lebih. Atau pada lagu berdurasi 17 menit lebih penuh eksperimen berjudul "Sister Ray" yang sempat menjadi anthem depresi gue pada masa dulu. 

"Sister Ray" mungkin lagu yang paling memusingkan di album ini. The song concerns drugs use,homosexuality,violence, and transvestism. Lou Reed dalam sebuah interview bahkan pernah berujar, "Sister Ray' was done as a joke—no, not as a joke—but it has eight characters in it and this guy gets killed and nobody does anything. It was built around this story that I wrote about this scene of total debauchery and decay. I like to think of ‘Sister Ray' as a transvestite smack dealer. The situation is a bunch of drag queens taking some sailors home with them, shooting up on smack and having this orgy when the police appear."

Sebuah statement yang menurut gue sangat Lou Reed.

Lagu-lagu lain di album ini seperti "White Light/White Heat" atau "I Heard Her Call My Name" juga memberikan warna musik yang luar biasa abstrak dan berisik dengan lirik yang sangat tidak biasa.

Walau tetap secara penjualan album ini tetap tidak laku (seperti juga semua album yang mereka rilis) tapi album ini seperti sebuah pencerahan bagi generasi-generasi musik selanjutnya. Lirik-lirik transgresif secara sosial dan menantang album-album yang populer di masa itu dengan musik mereka. 

Tanggal 30 Januari 1968 album ini dirilis dan tepat hari ini merayakan ulang tahun yang ke 49 tahun. Wow! Usia yang cukup tua untuk sebuah album "underground" yang masih memberikan pengaruh masif di kalangan seniman dan musisi secara khusus. Masih dirilis ulang dalam berbagai format dan tentu saja kualitas suara yang lebih jernih dibanding sebelumnya. 


Daytime fantasies of sexual abandon permeated his thoughts.
And the thing was, they wouldn't understand who she really was.
The Velvet Underground - The Gift


, , , , , , , ,

Belle and Sebastian - Tigermilk (1996)

December 09, 2016 Samuel Yudhistira




Album debut dari salah satu band favorit gue: Belle and Sebastian. Direkam cepat dan efisien di Glasgow tahun 1996, album ini menjadi tonggak awal sensasi indie-pop ala mereka. Tidak terasa sudah 20 tahun yang lalu yah. Dan sampai sekarang gue masih mendengarkan album ini. Fyuuh, twenty years and still kicking my ears.


Cover albumnya jujur agak sedikit nyeleneh dengan menampilkan model yang topless dan berpose seperti sedang menyusui boneka anak harimau (atawa macan). Album ini termasuk langka karena hanya dicetak seribu kopi aja dan baru dirilis kembali tahun 1999. Okeh, yang gue punya itu CD yang rilisan ulang tahun '99.

Banyak yang punya komentar macam-macam tentang album ini, banyak yang bilang album ini diawali dan diakhiri dengan track-track yang canggih tapi in between banyak lagu-lagu shitty sangat.

Ya kalo jujur sih gue agak terganggu dengan track "Electronic Renaissance" entah kenapa. Untuk tema masih seputar apa yang bisa dilihat dan dirasakan sama orang-orang "biasa" pada umumnya. Ini yang jadi kekuatan Stuart Murdoch sebagai frontman dan penulis sebagian besar lagu di band ini. Dia membuat hal-hal yang umum menjadi sesuatu yang exclusive.

Tigermilk itu berasa kaya ajang pemanasan sebelum memasuki album mereka berikutnya yang sangat-sangat canggih "If You're Feeling Sinister" dirilis dua tahun setelah album ini.

The State I Am In

Salah satu lagu terbaik yang ada di album ini dan juga menjadi salah satu karya terbaik Belle and Sebastian. Liriknya kuat,musiknya benar-benar menggambarkan fondasi musik dari Belle and Sebastian. 

I gave myself to sin
And I've been been there and back again
I gave myself to providence
The State That I Am In
Expectations

Lagu favorit gue di album ini. It's like a conversation. Musiknya sungguh menyenangkan dengan tambahan suara trumpet menambah kesan menyenangkan walau liriknya justru menggambarkan situasi sebaliknya. 

And the head said that you were always were a
queer one from the start
For careers you say you want to be remembered 
for your art
Your obsessions get you known throughout the school
for being strange
Making lifesize models of the Velvet Underground in clay

She's Losing It

Lagu ini bercerita tentang Lisa yang mengalami semacam abuse dalam kehidupannya. Lagu ini bercerita tentang keseharian Lisa setelah kejadian buruknya itu. Bagaimana dia memandang berbagai hal dengan penuh rasa skeptis sampai dia bertemu dengan Chelsea, seoarang gadis yang mengalami hal serupa. Mereka merasa senasib dan mulai menjalin hubungan tidak biasa antara perempuan dan perempuan.

You're Just A Baby

Lagu tipikal indie rock 90-an. Jika dibandingkan dengan album-album Belle and Sebastian yang nantinya akan datang memang bisa dibilang lagu-lagu di album ini terkesan lebih "ringan" dan tidak memiliki kesan "dark" nantinya akan muncul di album-album mereka selanjutnya. I don't really dig this song tapi nada dan riff gitar di awalnya lumayan mengena di telinga.

Electronic Renaissance

Di awal gue bilang kalo gue sangat annoyed dengan lagu yang satu ini. Aneh aja tiba-tiba mendengar nada elektronik di tengah jangle-jangle ala indie pop. I must say that I don't really like this song.

I Could Be Dreaming

Riff dengan efek-efek delay/tremolo mengawali lagu berdurasi hampir 6 menit ini. Jujur aja lagu ini rada ngebosenin. But still, I like it. Lagu ini kaya lamunan seseorang di mana orang itu saban hari mengalami hal yang begitu-begitu aja. 

If you had such a dream
Would you get up dan do the things
you've been dreaming

We Rule The School

Nah, kembali lagi Stuart Murdoch menulis lagu dari sudut pandang orang yang terpinggirkan dan termarjinalkan di lingkungan sekolah. I love it. Menurut gue lagu ini kaya semacam ajakan untuk berbuat sesuatu hebat tanpa harus berpikir menjadi seorang yang "hebat" dan dipandang di lingkungan.

Call me a prophet if you like
It's no secret
You know the world is made for men....
Not us

My Wandering Days Are Over

Ahh I love this song! Gue mendengarkan lagu ini terus-menerus waktu jaman depresi berat gue. And yeah it made me feel better that day. Lagu tentang seseorang yang bertemu dengan orang yang akhirnya menjadi sahabat atas dasar persamaan visi dan nasib. And yeah, this was my song. :D


I said "My one man band is over"
I hit the drum for the final time and I walked away
I saw you in Japanese restaurant
You were doing it for businessmen on the piano, Belle
You said it was a living hell
You said that it was hell

I Don't Love Anyone

Kembali ke jalur yang menurut gue sangat mereka. Lagu ini tentang seseorang yang benar-benar skeptis dengan semua hal dan selalu merasa dia gak pernah suka dengan apapun yang ada di dunia. Memilih untuk sendirian ketika semua orang sedang bersama-sama. Yeah, lagu ini tentang kesendirian memang.

But if there's one thing that I learned when I 
was a child
It's to take hiding
Yeah, if there's one that I learned when I 
was still at school
It's to be alone

Mary Jo

Lagu penutup yang powerful kalo menurut gue. This song is typically theirs.Dibuat mengalir seperti sebuah cerita yang dinyanyikan. Gue suka gaya musik mereka yang seperti ini. Ahh, I love this song. Sebuah lagu yang sempurna menutup album yang menjadi awal dari ledakan mereka.

Mary Jo, no one can guess
What you've been through
Now you've got love to burn


Album ini memang dianggap tidak sekuat album-album mereka yang lain. But still it is worth to hear. Dan jelas Belle and Sebastian memulai langkah mereka dari album ini. I love this album, it's still a great album.

Life is never dull in your dreams
A sorry tale of action and the men you left Women,
and the men you
left for intrigue,
and the men you left for dead.

picture source: https://en.wikipedia.org/wiki/Tigermilk
, , , , , ,

Fake It Until You Make It

November 29, 2016 Samuel Yudhistira
Kita adalah manusia-manusia yang hidup di era kepura-puraan. Pura-pura baik,pura-pura pintar, pura-pura mengerti, pura-pura tidak tahu, sampe pura-pura tidur semuanya mengambil peran dalam sandiwara kehidupan yang endingnya tidak jelas kapan.

Fake it until you make it.When you pretend that you're excellent or not in any kind work eventually it will develop the mindset or belief in your subconscious mind.

Kalo kita terlalu lama pura-pura pada akhirnya sifat "pura-pura" itu justru akan menjadi satu kebiasaan dan pikiran kita akan terus mengatakan kalau kita adalah produk dari kepura-puraan tersebut.

Pretend to be nice so you will be nice. Pretend to be sick then you will be sick. Pretend to be excellent then you will be an excellent type of person. Pretend to have a mental illness then you will have it inside your mind.

Pura-puralah bahagia, maka pikiranmu akan berkata padamu bahwa engkau adalah orang yang paling bahagia di dunia ini. Setidaknya di dalam pikiranmu engkau aman. Jangan mau dibuat sadar, karena kemabukan yang abadi terdengar jauh lebih baik daripada umpatan akan realita yang pahit.

So who are we? The pretenders.
Fake it until you make it.



, , , , , , , ,

Kunjungan Morrissey ke Jakarta 2016

October 14, 2016 Samuel Yudhistira

Ketika flyer pengumuman ini keluar di awal akhir Agustus gue langsung bersiaga mengamankan keuangan gue. AJRIIIIT HE'S BACCCCKK! MOZ IS BACK Y'ALL!!! Mantan vokalis The Smiths ini akhirnya kembali mengadakan konser di Jakarta setelah sukses menghibur para fans setianya di tahun 2012. Berhubung waktu doi ke sini tahun 2012 gue masih teramat gembel untuk beli tiket yang harganya ratusan ribu tersebut. Baru setelah gue kerja dan punya penghasilan sendiri sudah saatnya gue menunaikan "ibadah" menyaksikan idola gue yang mengubah hidup gue ini.

Di blog gue sendiri bahkan gue sudah membahas soal The Smiths beberapa kali. Yap, gue sangat mengidolakan doi sebagai figur,musisi,dan penulis lirik yang brilian  (sokin,sokin,sokin).



Rabu, 12 Oktober 2016

Dari pagi gue udah bener-bener gasabar. Di kantor gue udah gak fokus dan temen-temen yang lain juga kebetulah sudah paham dengan kelakuan gue karena emang gue dari sampe kantor juga udah ngebahas soal konser yang bakal gue datangin setelah balik kerja.

Setelah bergelut dengan ketidakf okusan gue di kantor walhasil setengah 5 gue langsung ngibrit ke kantin ngisi tenaga dulu biar pas sing along bisa kueenceng suaranya.Sebenarnya rada kuatir dengan cuaca yang dari siang rada labil cuman gue sudah mempersiapkan skenario buruk dengan menyimpan banyak baju dan celana di bagasi motor gue (syarat pertama beli motor: BAGASI LEGA!!).

Kelar makan gue langsung nyikat motor gue di parkiran tancap gas menuju venue di daerah Senayan sambil bersenandung riang gak sabaran. Man, finally gue bisa liat Moz nyanyi depan mukaaaaaa...

Sampe di Senayan menjelang malam. Seusai memarkir motor gue langsung mempersiapkan diri dengan: NGEROKOK. Kenapa? Karena di venue rokok gaboleh masuk jadinya yawdah ngerokok di marih ajah deh. hehehe (bad habit, jangan ditiru!!). Gue gak langsung masuk ke dalem karena nungguin Radit, salah satu pemain lama di scene indie Jakarta. Salah satu orang yang berjasa memperkenalkan banyak koneksi kepada gue ketika masih era radio kampus. hehehe

Mata gue gak lepas terus tertuju kepada gate depan yang akhirnya gue beri julukan "Gerbang Kemenangan."

Sambil nunggu dan gak ada kopi dan gue males muter-muter nyari kopi banyak banget calo nawarin tiket gue dengan harga super duper kampret yang gue yakin bakal dia jual lagi ke orang lain dengan harga fantastis.

Setelah Radit dateng dengan teman-temannya gue menggabungkan diri daripada ntar basi di dalem sendirian. Weh ternyata venue-nya outdoor di bekas driving range golf. Rumput dan tanah yang basah plus keinjek-injek sama orang-orang ramai membuat banyak booby trap alias kubangan di mana-mana. Walhasil sepatu pada ancur-ancuran kena lumpur tapi cueklah namanya juga konser bodo amat soal sepatu,celana,sampe baju yang kena cipratan lumpur.



Gerbang Kemenangan

Waktu gue dan kawan-kawan masuk di dalem masih memutar-mutar video klip gitu. Gue masih inget pas masuk itu lagi nyetel Sex Pistols yang "God Save The Queen" trus New York Dolls sampe The Ramones. Yeah, Morrissey memang secara pribadi dibesarkan di saat kultur punk/glam lagi gila-gilaan mempengaruhi anak muda Inggris.

Gue demen deh ngeliat panggung yang dikepung sama gedung-gedung perkantoran gitu. Kesannya kya kita berpesta kecil dikelilingi gedung-gedung angkuh yang isinya orang-orang pekerja bermental robot. Dan siraman cahaya dari gedung-gedung itu kya ngasih sensasi antara takjub dengan visualnya sama pikiran kalo besok Kamis harus balik sibuk kembali di perkantoran sibuk. Tapi pedulil hantulah! Yang penting kita bersenang-senang dulu!

Panggungnya jadi kya kecil gitu

Gapake lama, Tiba-tiba panggung menyala terang...
Dan personil band pengiring keluar saling ngasih hormat...
Muncullah dia yang kita semua nantikan... STEVEN PATRICK MORRISSEY!!!!!

Geber langsung lagu pertama: Suedehead
Wah suasana langsung meriah penuh teriakan dan tepuk tangan...
Gue langsung menyanyi bersing along sambil joget gamau kalah sama yang lain sembari sekejab menutup mata penuh penghayatan...

Why do you come here
why do you hang around
I'm so sorry
I'm so sorry
Why do you come here
when you know it makes
things hard for me
when you know, oh
why do you come?
Why do you telephone?
and why send me silly notes?
I'm so sorry
I'm so sorry
why do you come here
when you know it makes
thing hard for me
when you know, oh
why do you come?
You had to sneak into my room
'just' to read my diary
was it just to see all the things
you knew I'd written about you?
and...so many illustrations
I'm so very sickened
oh, I am so sickened NOW

Gue merinding abis sampe air mata gue keluar... ANJROOT! Ini lagu kesukaan gueee...

Kayanya emang dari awal konser ini sengaja gak dikasih ampun karena lagu kedua langsung digeber Alma Matters... Wah sontak semua penonton lelumpatan gak keruan sambil sesekali mengacungkan tangan ke udara gak peduli kena cipratan lumpur yang bisa bikin spokat mandi lumpur. GAK PEDULI! I come to dance and music!




Jujur konser ini sebenarnya bukan konser yang buruk. Moz sempat beberapa kali berucap dan berinteraksi sama penonton. Bahkan dengan jenaka kaya ngajak penonton yang tereak-tereak pake bahasa Indonesia. Doi juga sempat berujar, "Terima kasih" biasalah namanya bule ngomong Indo apalagi ini seorang Morrissey penonton langsung berteriak kegirangan. hehehe

"I don't know what the hell you are saying...but you say it with passion... what? Sorry what? No..no...no get back! No! Get back!" doi berujar dengan mimik seakan-akan ngerti penonton pada tereak apaan. hehehe.. bisa aje ni aki-aki.

Fisik doi juga kyanya udah ga sekuat kya waktu lo ngeliat dia di yutub. Sempet setelah nyanyiin lagu "Speedway" doi spontan berujar, "Oxygen!" trus langsung menghirup oksigen kaleng yang stand by di panggung.

He is still a charming man... 

Meat is Murder

Nah, kebanyakan orang berujar kalo konser Morrissey berakhir anti-klimaks setela tulisan di atas ini. Moz membawakan salah satu tembang dari The Smiths yang berjudul "Meat is Murder" lalu setelah lagu selesai Moz keluar langsung cabut tanpa berujar apapun. Penonton bingung dan mulai berteriak WE WANT MORE WE WANT MORE! Yang nongol bukannya Morrissey tapi malah kru panggung tanpa basa-basi langsung menggulung peralatan band di atas panggung dan dalam sekejab panggung kosong meninggalkan para penonton yang masih melongo dan berharap Moz keluar membawakan beberapa lagu encore sebagai tanda perpisahan.

Sudah ketebak internet ramai penuh spekulasi. Semua bingung dengan apa yang terjadi. Bahkan gue sempet iseng nanya-nanya sama salah satu kru panggung tentang apa yang terjadi. Doi hanya menjawab dengan statement yang lebih musingin kepala, "Jujur aja mas, ini konser paling aneh," ujar doi yang namanya juga gak sempet gue tanyain.

So far gue gamau bandingin sama konser tahun 2012 yang "dinilai" lebih baik dibandingin 2016. Gak sah juga sih kalo dibilang gitu. Cuman karena gaada encore bukan berarti konser ini jelek. Justru gue bingung sama orang-orang yang kebanyakan mainan hape ngerekam,motret,ngapdet socmed. FUCK YOU ALL! I come for music.. Contoh waktu lagu "First of The Gang" gue bergoyang kya orang kesetanan malah diliatin bingung. 

Oi dumbfuck! Lo dateng ke konser musik ngapain? Sekedar apdet biar terlihat fancy? Go fuck yourself then you all stupid fucks! I come to dance! 

Gaada cara yang leih baik untuk menghargai musisi favorit selain dengan berdansa mengikuti irama dan menikmatinya. Gue sih cuek aja joget gila-gilaan, sabodo teuing! 





Buat gue secara pribadi I enjoyed every moment gue di sana. Gue bangga bisa menjadi bagian dari sejarah kedatangan Morrissey yang kedua dan yeah untungnya setlist mereka malam itu sangat-sangat menghibur walau banyak juga hits yang gak dibawain. Suka gue pokoke! One of the best nights I ever have. That moment will live in my mind and heart until the day I die.

Thanks Moz! For the inspiration,music, and thank you for changing my life.


Credit: Radit and the gang untuk foto-fotonya dan untuk nemenin gue yang sendokiran di sana...