Showing posts with label quotes. Show all posts
Showing posts with label quotes. Show all posts
, , , , , , , , ,

Passer Baroe

July 25, 2017 Samuel Yudhistira
Waktu itu Pasar Baru masih menyimpan nuansa klasik dan hangat yang sampai sekarang masih aku ingat rasanya. Ketika beramai-ramai kami duduk bersama, saling mengucapkan selamat, panjang umur, dan bahagia selalu.
Aku sangat suka suasana magisnya sehabis hujan. Di malam hari ketika lampu jalan menyala terpantul genangan air menghasilkan visual yang menenangkan. 

Ada masa ketika seorang gadis menangis sedih melihat perselisihan ayah dan ibunya di rumah. Hanya ada cukup uang untuk membeli sebotol air mineral sehingga mereka punya hak untuk menikmati fasilitas berupa kursi di halaman belakang minimarket.

Seorang ibu dan anak laki-akinya berjalan menyusuri deretan toko kain dan sepatu di Pasar Baru. Si anak laki-laki hendak mengakhiri kuliah yang sudah empat tahun dijalaninya. Sidang pertanggungjawaban hasil belajar  selama empat tahun itu kini ada di depan mata. Sepasang sepatu formal model pantofel dibutuhkan demi melengkapi syarat penampilan sidangnya nanti. 

Cakwe dan kue bantal legendaris yang sudah menjadi primadona sejak dahulu. Masuk gang sempit dengan aroma limbah restoran mie yang khas jika kau hendak menemukannya. Adonan ditarik lalu berenang di lautan minyak panas kemudian berubah dari kurus putih menjadi gemuk kuning kecoklatan. Dinding kios sempit nan reot itu ditempeli foto para pesohor yang pernah mampir mencicipi kelezatannya. Secuil sejarah dan kenangan masa kecil hadir dalam setiap gigitannya.

Di depan mesin tik dan alat pemancar radio yang sudah sepuh itu kami berdiri membeku sambil membayangkan kejadian 70 tahun silam. Di tempat yang sama dan dengan peralatan yang sama berita gembira tersebut disebarluaskan. Entah perasaan macam apa yang ada di dalam hati mereka yang terlibat langsung dalam peristiwa kelahiran tersebut. Berita kelahiran ini harus disebarkan ke seluruh penjuru negeri. Karena berita ini akan membuat mereka yang tadinya berjalan sendiri-sendiri bersatu menjadi satu kesatuan besar dan akan berjalan dalam irama yang sama. Berita yang dinanti-nantikan jutaan orang bahkan jauh sebelum hari kelahiran itu tiba. Kelegaan,kebahagiaan,kebanggaan, dan kegembiraan mereka dibayangi oleh rasa was-was,ketakutan,kecurigaan, dan amarah akibat mereka yang menolak kelahiran tersebut. Kelahiran sebuah negara yang diidam-idamkan menjadi sebuah negara yang besar dan makmur. Negara yang sampai saat ini masih bergolak dalam pubertas-nya sebagai sebuah negara.

Pukul satu dini hari dan kami masih santai dengan kopi dan rokok kami. Perbincangan ala warung kopi ini memang membuat setiap orang menjadi lupa akan waktu yang sudah dilewati. Tidak jauh dari tempat kami duduk beberapa orang nampak larut dalam kegiatan serupa. Jalanan yang mulai sepi dan tanda-tanda kami sudah harus pulang mulai nampak. Tatapan mata orang-orang di sini mulai tidak ramah. Dipengaruhi alkohol jalanan dan (mungkin!) obat stimulan ilegal mata mereka nampak lebih tajam dan tidak ramah terhadap orang lain. Angin malam mulai bertiup tidak wajar dan kembalilah kami pulang terpisah. Engkau ke selatan dan aku menuju ke barat.

Wajah-wajah kaku, reruntuhan, ketidakadilan, penjahat, presiden, pahlawan, hingga pecundang terekam abadi entah dalam potret warna atau hitam putih terbingkai dan terpajang di sebuah gedung tua. Semua orang sibuk mengabadikan kembali potret-potret tersebut untuk dibagikan kembali sehingga seluruh dunianya tahu tentang apa yang terjadi di sana.

Kembali dia menghela napas dalam-dalam. Ditatapnya raut wajah ceria itu dari balik pintu kaca bening. Di balik wajah kumuh nan cemong itulah kebahagian bertahta. Tunggu sampai hujan reda lalu kita melangkah kembali menyusuri kebosanan abadi. Pendingin udara jelas sangat tidak cocok kala hujan dingin seperti ini. Keluar sejenak, menyalakan sebatang rokok sekedar untuk menghangatkan badan yang mulai dingin kaku akibat pendingin udara yang dinyalakan pada suhu yang kelewat rendah. Tempat ini adalah tempat yang sempurna untuk kembali jatuh cinta kepada Jakarta. Di sinilah sentuhan-sentuhan sederhana meninggalkan kenangan yang begitu rumit.

"Pulang, mari kita pulang," aku berbicara kepada kepulan asap di depan mata.

Kembali kita menyusuri kebosanan abadi di atas aspal hitam. Terus tidak akan pernah berhenti sampai tulang belulang kita tertanam abadi di bawah tanah. Semua kisah ini terjadi di Pasar Baru. Tempat itu masih menyimpan nuansa klasik dan hangat yang sampai sekarang masih ada.
, , , , ,

Faith

April 07, 2017 Samuel Yudhistira

You can't see it but you can feel it.

Di bawah sinar lampu seadanya kita bicara tentang apa yang tidak terlihat mata.

Apa yang kau yakini?

Ke mana kau hendak pergi?

Bagaimana bisa kau bertahan menghadapi angin ribut di dalam kepalamu?

Lampu terus berpijar, asap rokok terbang ke udara, tebal di awal lalu hilang perlahan sampai akhirnya benar-benar tembus pandang. Di antara kepulan asap kita sepakat bahwa semua yang terjadi di dunia ini tidaklah kebetulan.

"Tuhan itu simpel. Ngapain dia repot-repot ngurus ini-itu-ini-itu. Wong dia yang bikin semesta," ujarku dengan nada sarkas yang sudah menjadi ciri khas namun masih sulit engkau pahami.

Cause there must be a reason for all the looks we gave and all the things we never said before.


***
Have you and her taking picture of your obsessions?

Aku lelah dengan pikiran obsesifku. Perasaan menekan membuat emosiku tidak stabil. Diciptakan untuk menjadi paranoid. Bosan juga aku mendendam.

Yah, lama-kelamaan aku bosan memelihara dendam terhadap mereka yang dahulu berkhianat. Heran juga ada orang yang cepat sekali bosan bahkan ketika dendam belum terbalaskan dia sudah bosan mendendam.

Sekarang aku ingin memelihara kegilaan. Bosan tinggal di tengah masyarakat yang pura-pura waras dan tidak mau dianggap gila. Apa salahnya menjadi gila? Bahkan tanpa kalian semua sadari kalian sudah menjadi gila dan terpenjara dalam pikiran kalian sendiri.


***
Century of fakers

A sorry tale of action and the men you left for women, and the men you left for intrigue, and the men you left for dead.

Kita bicara tentang masyarakat miskin di sebuah kafetaria dalam mall yang menjual segelas kopi hitam seharga lima puluh ribu. Revolusi dimulai dari tempat tidur dan berakhir dengan retorika yang tidak pernah usai. Kita yang bicara keadilan tanpa sadar berada di garis depan untuk menginjak-injak keadilan itu sendiri.

Slogan-slogan basi yang terus diteriakkan lama-kelamaan membuat kita mual. Politisasi surga menjadi tontonan sehari-hari dan tanpa malu orang-orang itu menunjukkan betapa pura-pura pintarnya mereka. Heran, masih saja mereka berlagak pintar. Apa salahnya menjadi bodoh? Bukankah Steve Jobs yang Agung pernah berkata, "Stay foolish, stay hungry!" kepada mahasiswa-mahasiswa pintar di Stanford sana?

Wahai manusia-manusia berbalut putih penuh kepalsuan aku harap kalian menemukan jalan kalian menuju kedamaian.

***
If you had such dream would you get up and do the things you believe in?

Life is never dull in your dreams.

Mungkin karena itu kita sangat-sangat senang tidur. Betapa nyaman dan menyenangkan hidup dalam mimpi. Semua bisa diatur dan sungguh amat teratur. 

Hidup....
Mimpi....

Hiduplah dalam mimpi. Jangan pernah menyesal karena tidak akan pernah ada yang salah.
Tetaplah hidup.
, , , , , ,

Bicara di Bawah Lampu

March 14, 2017 Samuel Yudhistira



“I said that people never change their lives, that in any case one life was as good as another and that I wasn’t dissatisfied with mine here at all.”
-Albert Camus, The Stranger-

Kita selalu berdebat tentang siapa yang paling hebat di bawah kolong langit ini. Entah secara selera,ilmu,karir,nilai,norma,bakat, dan banyak hal yang bisa dijadikan bahan untuk berdebat tentang siapa yang lebih dari yang lain.

Di tengah keramaian yang tidak asing dan di tempat di mana kita mulai bangkit dari keterpurukan akibat tingkah masa lalu kita permasalahan ini menguap.

Yeah. Kita semua sama, us and them and after all we are only ordinary men.


, , , , , ,

Everybody is Making Love or Else Expecting Rain

January 24, 2017 Samuel Yudhistira
"I'm falling deeper to you," ujarmu seraya menatapku dengan tatapan layaknya seorang anak kecil.


"Buat apa jatuh kalau kau bisa terbang tinggi menari bersama senja. Terbanglah! Jangan mau jatuh lebih dalam. Menarilah bersama senja karena aku mencintaimu sama seperti aku mencintai senja," seperti biasa tanggapanku akan selalu berbanding terbalik dengan apa yang kau harapkan.

"Matamu...mereka bicara," engkau bicara sambil mengusap wajahku dengan alasan ingin menelusuri setiap lekuk yang ada di wajahku dan matamu terus beradu dengan mataku. 

Entah apa yang dibicarakan oleh kedua mataku bahkan aku sendiri tidak tahu. Yang pasti mereka pasti berbicara hal-hal yang menyenangkan. Semuanya terlihat dari ekspresi senangmu setiap kali mendengar mataku berbicara.

Jangan lihat ke belakang dan berkata bahwa semua nampak begitu baik di masa lalu. Manusia berubah begitu cepat. Aku tidak ingin menikmati waktu bersamamu karena setiap kali aku menikmati waktu di saat itu juga waktu berjalan begitu cepat. Pura-pura tidak tahu saja. Pretend to care so time won't be so mean.

Kita mengukir tanda tanya di setiap markah jalan yang kita temui sambil menertawakan orang-orang yang dengan begitu patuh mengikuti markah jalan menuju entah ke mana itu.

Beri aku badai semalam suntuk supaya aku terus terjaga bahkan dalam kelelahan yang teramat ekstrim. Jangan tawarkan aku bahagia karena kau dan aku punya definisi yang sangat berbeda tentang apa itu bahagia tapi buat aku merasakan kesedihan karena rasa sedih membuatku merasa bahwa hidup itu tidak selalu seperti apa yang aku harapkan.

Terbang, kita akan terbang dengan sayap imajiner dan tak pernah peduli kapan kita jatuh. Kita berdansa di langit yang tercemar oleh aktivitas manusia-manusia di darat sana. Kita akan terbang dan hidup di langit melawan gravitasi,tertidur di kasur awan,menantang matahari,mendengar cerita bintang-bintang, dan berdiskusi dengan bulan.


, , , , , ,

Fake It Until You Make It

November 29, 2016 Samuel Yudhistira
Kita adalah manusia-manusia yang hidup di era kepura-puraan. Pura-pura baik,pura-pura pintar, pura-pura mengerti, pura-pura tidak tahu, sampe pura-pura tidur semuanya mengambil peran dalam sandiwara kehidupan yang endingnya tidak jelas kapan.

Fake it until you make it.When you pretend that you're excellent or not in any kind work eventually it will develop the mindset or belief in your subconscious mind.

Kalo kita terlalu lama pura-pura pada akhirnya sifat "pura-pura" itu justru akan menjadi satu kebiasaan dan pikiran kita akan terus mengatakan kalau kita adalah produk dari kepura-puraan tersebut.

Pretend to be nice so you will be nice. Pretend to be sick then you will be sick. Pretend to be excellent then you will be an excellent type of person. Pretend to have a mental illness then you will have it inside your mind.

Pura-puralah bahagia, maka pikiranmu akan berkata padamu bahwa engkau adalah orang yang paling bahagia di dunia ini. Setidaknya di dalam pikiranmu engkau aman. Jangan mau dibuat sadar, karena kemabukan yang abadi terdengar jauh lebih baik daripada umpatan akan realita yang pahit.

So who are we? The pretenders.
Fake it until you make it.



, , , , , ,

I Choose to be Sad

August 22, 2016 Samuel Yudhistira
I love sad. Sadness makes you feel more than anything - Jeff Ament- (Pearl Jam)

Sadness is a very interesting idea, this idea of sadness being some kind of default setting that artists will go into. And then I started thinking about this idea of sadness and happiness, and the idea that sadness is very loud, and happiness is quiet. -Glen Hansard- (The Frames,Solo)

I find sadness and strife to be so much more interesting with an upbeat melody. -Zooey Deschanel- (She & Him, Solo)

Sedih. Kemungkinan adalah sesuatu yang teramat dihindari oleh kebanyakan orang. Sangat-sangat dihindari sampai-sampai kalau bisa tidak perlu merasakannya.

Tapi gue menemukan sesuatu yang cukup aneh untuk dilakukan. Kesedihan itu menarik. Suatu perasaan yang menyeimbangkan kehidupan. Coba bayangkan jika di dunia ini tidak ada kesedihan. God, it might be as boring as a plain cracker. 

Untuk mencapai kebahagiaan yang nyaris sempurna terkadang kita harus mengalami kesedihan dalam batas yang nyaris ekstrim. Wah bagaimana tuh maksudnya? Logikanya kya orang lapar, kalo orang kelaparan dikasih makan sederhana aja udah bener-bener senang. Nah, sama kaya gitulah kira-kira.

Intinya jangan sampe terlalu berlarut-larut. Kesedihan yang gue maksud di sini hanya sebagai sumber alternatif untuk membuat karya seni. Sedih boleh koq, berlarut-larut juga sebenarnya hak orang sih. Cuman kalo gue menemukan "fungsi" lain kesedihan sebagai bahan gue menciptakan banyak karya terutama di musik. Bukan jadi "emo thing" tapi lebih ke arah sedih sebagai lelucon. Life is just a joke.

Lagipula hidup gue lebih dekat dengan kesedihan. Kapan terakhir kali gue senyum? Is it wicked when you smile even though you feel like crying?

Iya yah, baru nyadar.

Marilah kita bersedih bersama-sama. Sedihlah. Lalu kemudian tertawa-tawa bukan dalam pengaruh "substansi" tetapi karena kita sadar kalau semua hanya lelucon yang luar biasa lucu. Happy sad. 

"It's really easy to slide into a depression fueled by the pointlessness of existence." -Robert Smith- (The Cure)