Showing posts with label story. Show all posts
Showing posts with label story. Show all posts
, , ,

Ada Kamu Duduk di Ujung Tempat Tidurku

December 05, 2022 Samuel Yudhistira

Sama seperti malam-malam lainnya terbangunlah dirimu dari tidurmu. Keringat mengucur deras dan mulai basah kaus oblong robek-robek yang sudah lebih cocok menjadi kain lap itu di tubuhmu. Sayup-sayup suara kucing yang berkelahi dan bersenggama terdengar di kamarmu. Kesal dirimu menghadapi matamu yang menolak untuk terpejam barang beberapa jam saja. Bangun, duduk, kau usap-usap wajahmu sembari mencari kesadaran yang entah ada di mana. 

"Bukan, bukan, gak ke sini mainnya. Kayaknya kuncinya salah," suara itu tidak asing datang dari sudut kanan kamarmu tepat di ujung tempat tidurmu.

Menolehlah dirimu dan mendapati dia yang seharusnya tidak di sana sedang asik memainkan gitarmu. Jemari-jemarinya sedang berusaha menekan dawai, membentuk chord, menjadi nada yang entah sumbang atau merdu terdengar.

Mata kalian bertemu, kau tersenyum, lalu tertawa, lalu kalian berdua mulai bertukar nada, irama, aksara, dan tanpa sadar matahari mulai datang. Perlahan buyar kawanmu, menguap bersama embun, terbang, hinggap di kepala lainnya yang mungkin sedang butuh teman untuk bicara tentang betapa dunia begitu menyebalkan dan tidak perlu diperjuangkan. 

Perlahan mulailah kau berjalan gontai turun dari tempat tidurmu, kakimu lengket, perih rasanya. Kau nyalakan lampu kamarmu, terlihat jelas sekarang genangan darah kering mulai menghitam menghiasi lantai kamarmu. Bau anyir darah dan asap tembakau sekarang semakin jelas mengisi indera penciumanmu. Kau tengok telapak kakimu dan bergaris-garis luka menyapa dirimu. Tertegun, kau mulai tersenyum, menggelengkan kepala, dan pergilah kau menuju kota untuk menjadi "normal" kembali selama beberapa jam ke depan. Diguyur air dingin, kena macet, digencet dalam gerbong KRL, kesal, mengumpat, diburu waktu, tertawa-tawa, bergosip ria, dan kena macet kembali, hingga tiba kembali kau ke kamarmu untuk berbincang dengan dia yang seharusnya tidak ada di sana.

Begitu terus sampai kau mati...

***

Nothing in this world can take the place of persistence. Nothing is more common than unsuccessful men with talent. Persistence and determination alone are omnipotent” Hard work beats talent every single time.

*click*
*pause*
*continue*
*play from the beginning*
Nothing beats the pleasure of a rich man. Some people might argue that being rich is the ultimate goal and the only way you can gain respect from society. How do you measure success and kindness? By being rich. There is no nobility in poverty. Face it! You made yourself a recipe for disaster when you chose to be an ordinary man.
Nothing is more painful than seeing other people stomping on you from their glorious throne, up there in the leadership level, wearing fancy suits, riding fancy cars.
Dust and smoke are all you get from your limited space.
Accepting your fate is a fatal mistake.
***
Sudah dengar kisah tentang mereka yang merobek kulitnya sendiri demi kepuasan? 
Sudah dengar kisah tentang mereka yang menyerahkan diri demi kepuasan?
Sudah dengar kisah tentang mereka yang meracuni diri demi lari dari dunia ini?
Sudah dengar kisah tentang mereka yang menjamahi diri demi kekosongan?
Sudah dengar kisah tentang mereka yang merawat diri demi kepalsuan?
Sudah dengar kisah tentang mereka yang membohongi diri demi kemaslahatan bersama?
Sudah dengar kisah tentang mereka yang memarahi orang lain demi kesedihan?
Sudah dengar kisah tentang mereka....
Sudah dengar kisah tentang...
Sudah dengar kisah....
Sudah dengar...
Sudah.
Aku dan kamu adalah mereka yang lahir, bertumbuh, berkembang biak, dan bertahan hanya demi konten belaka.
Hidupmu sia-sia, matimu sia-sia.
Lalu dari goa gelap tak berujung terdengar suara bising yang bergaung:


"Kalau mau pergi, pergi saja! Hanya pecundang bodoh yang tidak berani untuk mengambil keputusan besar dalam hidup dan menganggap kesia-siaan adalah ibadah demi "DIA" yang tidak jelas rupa dan tujuannya apa!"
Kita semua sudah jenuh dibodohi oleh sistem dan semua perkara yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan manusia lain. Apalah artinya batasan kalau semua orang ternyata bisa hidup tenang di luar batas nalar yang sudah ditetapkan? Bukankah keagungan dan kesucian adalah produk dari masyarakat yang takut akan kematian? Bukankah kamu tidak takut mati? Bukankah kamu hendak menikmati kebebasan tanpa aturan yang mengikat? Sistem adalah suatu rumusan aturan yang diciptakan supaya manusia punya alasan untuk menindak manusia lain demi kepuasan batin.
Katanya sih begitu...gak tahu juga yah... 
, , , , , , , , ,

Psychocandy.

September 12, 2017 Samuel Yudhistira
Pills to wake you up.
Pills to help you sleep.
Pills to help you stay at night.
Pills to feel happy.
Pills to feel sad.
Pills for breakfast.
Pills for lunch.
Pills for dinner.
Pills to help you laugh.
Pills to help you cry.
Pills to help you to be yourself.
Pills to help you to be a superstar.
Pills to help each other.
Pills to fight the horde.
Pills to sing.
Pills to scream.
Pills to live.
Pills to die.

Kau berbicara kepada langit di malam hari.
"Mereka tuli! Mereka bisu!"

Kau berbicara kepada pisau dapur.
"Ayo kita bervakansi bersama. Bawa aku ke taman hiburan abadi,"

Kau berbicara kepada tali tambang yang tergantung di teralis jendela kamarmu
"Mari menghilang. Jangan pernah percaya kepada retorika. Bahkan Socrates pun masih bisa tertawa ketika dipaksa minum racun,"

Kau berbicara kepada mobil-mobil yang berlarian kencang di Jalan Thamrin sana.
"Terpaksa kujilat ludahku kembali. Kubiarkan kalian yang menentukan hasil akhir"

Kau berbicara kepada tembok kumal penuh coretan di kamarmu.
"Merah! Merah! Merah! Kubiarkan bau amis darah memenuhi ruangan penuh roh jahat ini!"

Kau berbicara kepada cairan obat anti serangga.
"Mari minum darah seperti minum anggur. Kita akan abadi dalam kemudaan kita,"

Kau berbicara kepada pecahan botol di sudut ruangan. Dari ujungnya darah segar menetes.
"Kubiarkan kalian meninggalkan tanda di tubuhku supaya mereka sadar akan perbuatan mereka,"

Kau berbicara kepada pil-pil di tangan kirimu dan segelas air di tangan kananmu.
"Usir hantu di kepalaku. Akan kubuat perusahaan kalian kaya dan kudoakan dia yang menemukan formula kalian masuk surga di mana tidak ada depresi, tidak ada obsessive disorder, tidak ada schizophrenia, tidak ada manic depressive, tidak ada OCD, tidak ada mental disorder, tidak ada paranoid, dan tidak ada lagi dunia di mana rasa sakit merupakan kesenangan,"



Jakarta, 12 September 2017


Berdasarkan pengalaman pribadi.

Judul postingan gue ambil dari judul album salah satu band favorit gue: The Jesus and Mary Chain - Psychocandy. Salah satu album favorit gue yang gue selalu dengerin di masa-masa hancur lebur berantakan. 

Sekarang sudah jauh lebih baik dibanding masa-masa menjengkelkan waktu itu.

Kalo mengutip lirik lagu The Grateful Dead - Touch of Grey:

I will get by
I will get by
I will get by
I will survive

Tetaplah hidup.

, , , , , , , , ,

Passer Baroe

July 25, 2017 Samuel Yudhistira
Waktu itu Pasar Baru masih menyimpan nuansa klasik dan hangat yang sampai sekarang masih aku ingat rasanya. Ketika beramai-ramai kami duduk bersama, saling mengucapkan selamat, panjang umur, dan bahagia selalu.
Aku sangat suka suasana magisnya sehabis hujan. Di malam hari ketika lampu jalan menyala terpantul genangan air menghasilkan visual yang menenangkan. 

Ada masa ketika seorang gadis menangis sedih melihat perselisihan ayah dan ibunya di rumah. Hanya ada cukup uang untuk membeli sebotol air mineral sehingga mereka punya hak untuk menikmati fasilitas berupa kursi di halaman belakang minimarket.

Seorang ibu dan anak laki-akinya berjalan menyusuri deretan toko kain dan sepatu di Pasar Baru. Si anak laki-laki hendak mengakhiri kuliah yang sudah empat tahun dijalaninya. Sidang pertanggungjawaban hasil belajar  selama empat tahun itu kini ada di depan mata. Sepasang sepatu formal model pantofel dibutuhkan demi melengkapi syarat penampilan sidangnya nanti. 

Cakwe dan kue bantal legendaris yang sudah menjadi primadona sejak dahulu. Masuk gang sempit dengan aroma limbah restoran mie yang khas jika kau hendak menemukannya. Adonan ditarik lalu berenang di lautan minyak panas kemudian berubah dari kurus putih menjadi gemuk kuning kecoklatan. Dinding kios sempit nan reot itu ditempeli foto para pesohor yang pernah mampir mencicipi kelezatannya. Secuil sejarah dan kenangan masa kecil hadir dalam setiap gigitannya.

Di depan mesin tik dan alat pemancar radio yang sudah sepuh itu kami berdiri membeku sambil membayangkan kejadian 70 tahun silam. Di tempat yang sama dan dengan peralatan yang sama berita gembira tersebut disebarluaskan. Entah perasaan macam apa yang ada di dalam hati mereka yang terlibat langsung dalam peristiwa kelahiran tersebut. Berita kelahiran ini harus disebarkan ke seluruh penjuru negeri. Karena berita ini akan membuat mereka yang tadinya berjalan sendiri-sendiri bersatu menjadi satu kesatuan besar dan akan berjalan dalam irama yang sama. Berita yang dinanti-nantikan jutaan orang bahkan jauh sebelum hari kelahiran itu tiba. Kelegaan,kebahagiaan,kebanggaan, dan kegembiraan mereka dibayangi oleh rasa was-was,ketakutan,kecurigaan, dan amarah akibat mereka yang menolak kelahiran tersebut. Kelahiran sebuah negara yang diidam-idamkan menjadi sebuah negara yang besar dan makmur. Negara yang sampai saat ini masih bergolak dalam pubertas-nya sebagai sebuah negara.

Pukul satu dini hari dan kami masih santai dengan kopi dan rokok kami. Perbincangan ala warung kopi ini memang membuat setiap orang menjadi lupa akan waktu yang sudah dilewati. Tidak jauh dari tempat kami duduk beberapa orang nampak larut dalam kegiatan serupa. Jalanan yang mulai sepi dan tanda-tanda kami sudah harus pulang mulai nampak. Tatapan mata orang-orang di sini mulai tidak ramah. Dipengaruhi alkohol jalanan dan (mungkin!) obat stimulan ilegal mata mereka nampak lebih tajam dan tidak ramah terhadap orang lain. Angin malam mulai bertiup tidak wajar dan kembalilah kami pulang terpisah. Engkau ke selatan dan aku menuju ke barat.

Wajah-wajah kaku, reruntuhan, ketidakadilan, penjahat, presiden, pahlawan, hingga pecundang terekam abadi entah dalam potret warna atau hitam putih terbingkai dan terpajang di sebuah gedung tua. Semua orang sibuk mengabadikan kembali potret-potret tersebut untuk dibagikan kembali sehingga seluruh dunianya tahu tentang apa yang terjadi di sana.

Kembali dia menghela napas dalam-dalam. Ditatapnya raut wajah ceria itu dari balik pintu kaca bening. Di balik wajah kumuh nan cemong itulah kebahagian bertahta. Tunggu sampai hujan reda lalu kita melangkah kembali menyusuri kebosanan abadi. Pendingin udara jelas sangat tidak cocok kala hujan dingin seperti ini. Keluar sejenak, menyalakan sebatang rokok sekedar untuk menghangatkan badan yang mulai dingin kaku akibat pendingin udara yang dinyalakan pada suhu yang kelewat rendah. Tempat ini adalah tempat yang sempurna untuk kembali jatuh cinta kepada Jakarta. Di sinilah sentuhan-sentuhan sederhana meninggalkan kenangan yang begitu rumit.

"Pulang, mari kita pulang," aku berbicara kepada kepulan asap di depan mata.

Kembali kita menyusuri kebosanan abadi di atas aspal hitam. Terus tidak akan pernah berhenti sampai tulang belulang kita tertanam abadi di bawah tanah. Semua kisah ini terjadi di Pasar Baru. Tempat itu masih menyimpan nuansa klasik dan hangat yang sampai sekarang masih ada.
, , , , , , ,

Aksi Tenang

July 13, 2017 Samuel Yudhistira
Kita tidak ada di sana.
Kau dan aku sudah menyatu dengan keabadian ketika dunia penuh sesak dengan kebodohan.
Suatu hari nanti mereka akan jenuh menjadi benar.
Suatu hari nanti mereka akan sadar bahwa hidup adalah tentang keliru.
Kita tidak ada di sana.
Kau dan aku sudah lama bernyanyi tentang betapa lucunya dunia ini.
Suatu hari nanti mereka akan menyesal tidak ikut tertawa dengan kita.
Suatu hari nanti mereka akan melihat ke langit dan berharap bisa ikut dengan kita.

Jangan dibuat sulit, kawan!
Sadarlah bahwa semua begitu mudah.
Dengan sedikit keberanian engkau bisa bergabung dengan kami di sini.
Ada tempat di mana engkau merasa buta dan tuli dalam sekejab.
Ada masa ketika engkau merasa begitu tua dalam dalam satu kedipan mata.

Kita tidak ada di sana.
Kau dan aku sudah bosan membuang waktu yang tidak habis-habis.
Suatu hari nanti mereka akan berdiri dan menangisi kebodohan mereka sendiri.
Suatu hari nanti mereka hanya bisa meratapi nasib karena tidak mau ikut jalan kita.

Mereka yang menangisi pusaramu adalah mereka yang menyesal masih hidup.
Mereka yang bicara tentang penghiburan sesungguhnya menangisi hidupnya.
Mereka yang bicara soal hidup sesungguhnya tersesat di hutan kebimbangan.
Mereka yang membunuh dirinya lewat kata-kata sesungguhnya hanya menipu diri.
Mereka yang mengutuk perbuatan kita hanyalah pengecut yang tak tahu apa-apa.

Kita tidak ada di sana.
Kita tidak ada di sana.
Kita abadi.
Kita tidak akan mati.

, , , , ,

A Space Boy Dream

June 02, 2017 Samuel Yudhistira
Sebuah pohon tumbuh subur di atas bukit merah yang basah karena darah. Batang dan dahannya terbuat dari aluminium. Akar kawatnya menancap gagah menusuk tanah merah yang belum kering betul dari darah. Merah. Daun-daun besi berwarna abu-abu berguguran. Pohon itu berbuahkan amunisi, bom, rudal, dan segala jenis senjata pemusnah massal.

Konon barangsiapa mampu mendaki bukit merah tersebut dan menyentuh pohon tersebut akan melihat kehidupan abadi yang sesungguhnya. Siapa yang tahan menginjak tanah lembek dan lengket oleh darah ditambah aroma busuk yang menyengat?

Dunia yang penuh karat.

***

Seorang wanita datang, duduk sudut kafetaria bernuansa industrial. Dia berkata, "Berikan padaku secangkir kopi yang hitamnya mengalahkan kegelapan malam dan manisnya mengalahkan madu!"

Kacamata berbingkai tulai rusuk manusia dan kalung rantai yang berkarat menjadi aksesoris yang cukup menarik perhatian.

"Kopi Maut" demikian para pelayan menyebut pesanan si wanita tersebut. Si wanita menyeruput ujung cangkirnya lalu tersenyum senang dan senyumannya berubah menjadi tawa yang memekakkan telinga. 

"Bolehkah aku bertanya padamu wahai Barista  Agung?" si wanita bertanya pada sang Barista Agung peracik kopi terbaik yang ada di negeri ini bahkan di seluruh jagat raya.

"Silakan nona, apakah yang ingin kau tanyakan?" 

"Bertahun-tahun aku mengelilingi dunia ini. Beribu-ribu kilometer sudah kutempuh dan puluhan peracik kopi yang katanya terbaik di tempat itu sudah menyajikan kopi untuk kucicipi tapi tak satupun memenuhi seleraku. Mendekati pun tidak. Bagaimana caranya engkau mampu membuat kopi paling enak di dunia ini?" 

Sang Barista Agung hanya menyunggingkan senyum aneh yang misterius. Entah apa maksud dari senyuman itu kita tidak akan pernah tahu.

***

Seorang wanita berlari keluar dari rumah kayu yang sedang dilalap api.
Separuh wajahnya terbakar. 
Dia berteriak-teriak meminta tolong pada seorang laki-laki kurus yang kebingungan.
Semakin dia berteriak kesakitan semakin si laki-laki kebingungan.
Darah, air mata, dan nanah menyembur keluar dari separuh wajahnya yang terbakar.
Separuh wajahnya hilang terbakar.
Si laki-laki hanya terdiam.
Si wanita yang terbakar separuh wajahnya mengerang dan menjerit kesakitan.
Si laki-laki semakin terdiam menatap dua bola mata yang sekarang bentuknya tak lagi sama.
Sebelah kiri mengeluarkan air mata bening mengalir di pipi yang halus sedangkan sebelah kanan mengeluarkan air mata bercampur darah mengalir di kulit pipi yang mengelupas terbakar api.
Si laki-laki hanya terdiam lalu membalikkan badannya dan berjalan dengan langkah pelan penuh kebingungan.
Dia nampak kenal dengan sebelah wajah yang tidak terbakar.
Dia tahu betul mata itu.
Dia benci air mata yang keluar dari wajah sebelah kiri.
Walau akhirnya dia menyerah dengan kebingungan dan memilih pergi.


***

Tulisan di atas adalah beberapa bagian yang masih gue ingat dari mimpi-mimpi absurd gue dan  belakangan ini mengganggu gue ketika tidur. Gak tahu deh apa artinya. Apakah anda percaya pertanda mimpi? 

, , ,

Halo Hujan. (bagian kedua)

May 02, 2017 Samuel Yudhistira
5 Januari 2017


Dia berteduh di sebuah komplek pertokoan sambil meratapi nasib sial dihajar hujan deras. Jarak ke rumah dari tempatnya berteduh sekitar 36 kilometer lebih. Pikiran di kepalanya masih campur aduk antara senang atau sedih. Senang karena pada hari ini dia berulang tahun dan sedih karena hari ini terasa sangat hambar. Suasana sedih semakin bertambah kala hujan badai tiba-tiba turun tanpa pertanda.

"Aku adalah manusia sial yang tidak tahu apa artinya bersyukur," dia menggumam dalam hati sambil memandangi rintik hujan dengan tatapan naas.

Dia mengingat hari-hari yang lalu di tanggal yang sama ketika semua orang masih berwajah sama pula. Ketika segelintir orang bersumpah setia untuk saling menjaga dan mendukung satu dengan yang lainnya. Waktu itu mereka dengan bangga berkata bahwa tak akan ada yang dapat mengguncang ikatan persaudaraan di antara mereka.

Namun sayang nasib berkata lain. Mereka lebih suka membanggakan dirinya sendiri,mereka lebih suka memeluk awan hingga lupa daratan, mereka lebih mencintai uang dibanding yang lain, mereka lebih suka melihat orang lain sengsara asalkan mereka selamat.

"Air sedang menari," dia berujar lirih, "Mungkin jika setiap tetes air hujan punya warnanya masing-masing maka dunia akan menjadi sebuah lukisan yang menakjubkan."

Disekanya air hujan yang membasahi kacamatanya. Dia teringat sudut kamar tempat mencurahkan semua perkaranya, bicara dengan angin, menatap langit-langit kamar yang kadang penuh dengan visual ajaib, dan kadang bulan menyapanya dari ujung jalan. Sudut bau keringat bercampur asap yang menjadi tempat favoritnya di rumah. Di sanalah dia menulis surat untuk hujan yang dia cintai.

"Halo hujan. Terima kasih sudah memberikan ucapan ulang tahun. It means a lot to me, man. Thank you," dia mulai mengajak hujan berbicara.

"Terima kasih. Hari ini saya ulang tahun. Seperempat abad sudah menjejakkan kaki di dunia yang kadang indah kadang tidak. Saya senang kamu datang. Bahkan membawa angin temanmu untuk ikut bersukacita bersama. Ke mana kilat dan petir? Mengapa tidak sekalian kau ajak mereka? Kita bersenang-senang di sini. Antar aku pulang. Rumahku masih jauh, kalian ajak saya bicara supaya lelah di badan ini tidak lagi menyiksa," dia sudah tidak peduli lagi orang mau menganggapnya gila atau apalah mengajak hujan bicara.

Dia menari,berteriak,melompat,berjingkrak kegirangan di atas genangan air mengikuti nyanyian angin. Di hari yang sangat istimewa ini dia ingin berbagi dengan hujan sahabatnya. Hari yang dulu penuh kehangatan palsu sekarang terganti dengan dingin menusuk yang tulus dan penuh cinta.

Hari di mana dia pertama kali menghirup udara kehidupan.



, , , ,

Kisah Parkiran

February 07, 2017 Samuel Yudhistira
Si laki-laki berjalan mondar-mandir dengan tatapan bingung bercampur kesal sambil berbicara melalui telepon genggamnya. Dua jam lagi si wanita tiba, itupun belum pasti tergantung dari belas kasihan jalanan Jakarta yang selalu mampu menghambat orang-orang untuk bertemu tepat waktu. Percakapan di telepon genggam barusan nampaknya membuat si laki-laki bertambah gusar. Dia memutuskan untuk membeli segelas kopi instan dan beberapa batang rokok ketengan untuk menemaninya membunuh waktu tanpa sadar dua teman menunggu tersebut perlahan membunuh dirinya juga secara perlahan.


Ruang tunggu supir di mall adalah tempat yang cukup menyenangkan untuk sekedar duduk menikmati kopi dan kretek sambil menunggu datangnya si wanita yang terjebak kemacetan. Berhubung ini mall yang elit di kawasan Jakarta sudah tentu ruang tunggu supirnya dibuat cukup nyaman karena para supir pasti akan lama menunggu majikan mereka sibuk berbelanja atau sekedar ngopi di kafe kontras dengan mereka yang minum kopi instant dari gelas bekas air mineral.


Dimulailah cerita tentang mobil-mobil majikan mereka dengan beragam fiturnya yang mutakhir,kecepatan,kekuatan,dan kestabilan mobil-mobil super tersebut ketika melaju di jalan bebas hambatan atau tentang jarak yang mereka tempuh sehari-hari dari rumah ke kantor lalu ke mall atau bahkan ke tempat pijit dengan layanan "ekstra" selain sekedar merenggangkan otot yang kaku.
30,25,20,15,8,5 tahun sudah mengabdi di balik setir para majikan mereka.
Truk,jip,mobil boks,hingga sedan mewah sudah pernah menjadi rekan kerja mereka selama bertahun-tahun.

Dari aparat,executive,militer,hingga pegawai negeri sudah pernah menjadi tuan mereka.
Gosip majikan masing-masing menjadi penyedap rasa untuk cerita mereka.
Kebahagiaan hingga penyesalan semua menguap larut bersama udara malam.
Gaji pas-pasan dengan hutang bertumpuk menyambut mereka setiap hari di rumah.


Si laki-laki larut dalam khayalannya sendiri mencoba membayangkan menempuh Jakarta-Bogor dan sebaliknya setiap hari atau tenggelam dalam kemacetan ekstrim yang setiap hari memaksa orang-orang mengumpat setiap kali terjebak di dalamnya. Di dalam hatinya dia berdoa bersyukur atas apa yang dia genggam sekarang. Kopinya menyisakan ampas dan rokoknya mulai membakar filter menandakan tidak ada lagi tembakau untuk dibakar dan dihisap. Satu gerakan membuang dan menginjak menandakan pesta perusakan paru-paru sudah selesai.


Satu demi satu supir yang tadi ramai menunggu mulai mulai menyepi dipanggil para majikan. Telepon dari majikan menjadi panggilan surga menandakan majikan mereka sudah selesai beraktivitas dan sudah saatnya untuk pulang kembali ke rumah.


Si laki-laki menerima panggilan yang menandakan si wanita sudah tiba di mall tersebut membawa kerinduan bertumpuk beserta kelelahan fisik setelah didera kemacetan di jalan. Dilihatnya si wanita berjalan terburu-buru dengan wajah merasa bersalah karena membuat si laki-laki menunggu begitu lama. Dipeluknya tubuh si laki-laki sambil meminta maaf. Si laki-laki hanya tertawa dan tersenyum sambil mengusap rambut si wanita. Hilang semua lelah akibat menunggu dan duduk di mobil begitu lama hanya dengan pelukan dan senyuman.


Mungkin yang dibutuhkan semua orang itu hanyalah pelukan dan senyuman untuk membunuh semua beban lelah yang hinggap di tubuh. Yeah, saya mengalaminya dan saya rasa itu berhasil.
, , , , , ,

Everybody is Making Love or Else Expecting Rain

January 24, 2017 Samuel Yudhistira
"I'm falling deeper to you," ujarmu seraya menatapku dengan tatapan layaknya seorang anak kecil.


"Buat apa jatuh kalau kau bisa terbang tinggi menari bersama senja. Terbanglah! Jangan mau jatuh lebih dalam. Menarilah bersama senja karena aku mencintaimu sama seperti aku mencintai senja," seperti biasa tanggapanku akan selalu berbanding terbalik dengan apa yang kau harapkan.

"Matamu...mereka bicara," engkau bicara sambil mengusap wajahku dengan alasan ingin menelusuri setiap lekuk yang ada di wajahku dan matamu terus beradu dengan mataku. 

Entah apa yang dibicarakan oleh kedua mataku bahkan aku sendiri tidak tahu. Yang pasti mereka pasti berbicara hal-hal yang menyenangkan. Semuanya terlihat dari ekspresi senangmu setiap kali mendengar mataku berbicara.

Jangan lihat ke belakang dan berkata bahwa semua nampak begitu baik di masa lalu. Manusia berubah begitu cepat. Aku tidak ingin menikmati waktu bersamamu karena setiap kali aku menikmati waktu di saat itu juga waktu berjalan begitu cepat. Pura-pura tidak tahu saja. Pretend to care so time won't be so mean.

Kita mengukir tanda tanya di setiap markah jalan yang kita temui sambil menertawakan orang-orang yang dengan begitu patuh mengikuti markah jalan menuju entah ke mana itu.

Beri aku badai semalam suntuk supaya aku terus terjaga bahkan dalam kelelahan yang teramat ekstrim. Jangan tawarkan aku bahagia karena kau dan aku punya definisi yang sangat berbeda tentang apa itu bahagia tapi buat aku merasakan kesedihan karena rasa sedih membuatku merasa bahwa hidup itu tidak selalu seperti apa yang aku harapkan.

Terbang, kita akan terbang dengan sayap imajiner dan tak pernah peduli kapan kita jatuh. Kita berdansa di langit yang tercemar oleh aktivitas manusia-manusia di darat sana. Kita akan terbang dan hidup di langit melawan gravitasi,tertidur di kasur awan,menantang matahari,mendengar cerita bintang-bintang, dan berdiskusi dengan bulan.