Showing posts with label poetry. Show all posts
Showing posts with label poetry. Show all posts
,

Pada Suatu Hari Ketika Jalanan Mulai Beraspal

May 02, 2022 Samuel Yudhistira


Kehalusan adalah sebuah keharusan. Di dunia yang serba tidak pasti ini manusia akan selalu menuntut untuk menjadi yang terbaik, tercantik, terdepan, ter ter ter ter ter. Hingga mereka lupa bahwa batasan bawah dan atas kehidupan adalah sangat abstrak. Kamu bilang A terbaik, saya bilang B terbaik, sedangkan mereka merasa C jauh lebih baik dari semuanya. Akan ada satu masa ketika engkau akan bosan meracau dan memilih untuk mengecilkan volume suaramu lalu tunduk pada perubahan yang tidak pernah kau kehendaki adanya. 

Terkadang kau merasa sangat nyaman ketika kau menjejakkan kakimu di tanah di mana engkau banyak menghabiskan waktumu dengan orang-orang yang hanya hidup untuk hari ini. Ketika tanah tersebut kehilangan merahnya digantikkan oleh kecantikan hasil penuh ego dari mereka yang begitu punya kuasa kau pun merasa asing bahkan jijik ketika kau berdiri diterpa angin panas kota Jakarta.

Kadang kita juga heran mendengar kisahmu diperbudak kenyamanan penuh kepalsuan. Manusia memang sudah selayaknya punya selera tinggi bahkan dalam kejijikan. Ketika semua kau terkam tanpa pertimbangan jelas, maka sudah tentu debu tanah pun masuk merongrong kerongkonganmu yang menjerit minta air. Mau sampai kapan diperbudak kenyamanan palsu? Mengapa sih ada saja manusia-manusia yang senang memelihara kebodohan bahkan ketika raganya sudah babak belur dihajar nasib?

Dramaturgi tentang kehidupan menjadi satu-satunya alasan semua orang melarikan dirinya dari dirimu. Serendah itulah mereka yang bicara cinta tanpa sadar tentang derita. Begitulah kelakukan orang yang bicara tentang tragedi tanpa pernah mersakan tragedi itu terjadi di dalam kepalanya dan di depan matanya sendiri. 

, , , ,

Tanpa Nama

October 31, 2017 Samuel Yudhistira
Lompat!

BYAAAAAR!

Kepalanya pecah menghantam aspal.
Jalanan yang tadinya sepi berubah ramai macam pasar malam.
Semua sibuk mengabadikan jasad yang beberapa menit lalu masih bernapas.

Ceklik! Ceklik!

Jemari menari di atas rana kamera.
Jemari menari di atas layar gawai.


Send! Send! Upload! Upload! Share! Share! Share! 

Dalam sekejab saja "sang jasad" sudah menjadi selebriti dunia maya.

Terkenal tapi tak bernapas.
Terkenal tapi tanpa nyawa.
Terkenal tapi tak berbentuk.
Terkenal tapi tak bernama.

, , , , , , , , ,

Psychocandy.

September 12, 2017 Samuel Yudhistira
Pills to wake you up.
Pills to help you sleep.
Pills to help you stay at night.
Pills to feel happy.
Pills to feel sad.
Pills for breakfast.
Pills for lunch.
Pills for dinner.
Pills to help you laugh.
Pills to help you cry.
Pills to help you to be yourself.
Pills to help you to be a superstar.
Pills to help each other.
Pills to fight the horde.
Pills to sing.
Pills to scream.
Pills to live.
Pills to die.

Kau berbicara kepada langit di malam hari.
"Mereka tuli! Mereka bisu!"

Kau berbicara kepada pisau dapur.
"Ayo kita bervakansi bersama. Bawa aku ke taman hiburan abadi,"

Kau berbicara kepada tali tambang yang tergantung di teralis jendela kamarmu
"Mari menghilang. Jangan pernah percaya kepada retorika. Bahkan Socrates pun masih bisa tertawa ketika dipaksa minum racun,"

Kau berbicara kepada mobil-mobil yang berlarian kencang di Jalan Thamrin sana.
"Terpaksa kujilat ludahku kembali. Kubiarkan kalian yang menentukan hasil akhir"

Kau berbicara kepada tembok kumal penuh coretan di kamarmu.
"Merah! Merah! Merah! Kubiarkan bau amis darah memenuhi ruangan penuh roh jahat ini!"

Kau berbicara kepada cairan obat anti serangga.
"Mari minum darah seperti minum anggur. Kita akan abadi dalam kemudaan kita,"

Kau berbicara kepada pecahan botol di sudut ruangan. Dari ujungnya darah segar menetes.
"Kubiarkan kalian meninggalkan tanda di tubuhku supaya mereka sadar akan perbuatan mereka,"

Kau berbicara kepada pil-pil di tangan kirimu dan segelas air di tangan kananmu.
"Usir hantu di kepalaku. Akan kubuat perusahaan kalian kaya dan kudoakan dia yang menemukan formula kalian masuk surga di mana tidak ada depresi, tidak ada obsessive disorder, tidak ada schizophrenia, tidak ada manic depressive, tidak ada OCD, tidak ada mental disorder, tidak ada paranoid, dan tidak ada lagi dunia di mana rasa sakit merupakan kesenangan,"



Jakarta, 12 September 2017


Berdasarkan pengalaman pribadi.

Judul postingan gue ambil dari judul album salah satu band favorit gue: The Jesus and Mary Chain - Psychocandy. Salah satu album favorit gue yang gue selalu dengerin di masa-masa hancur lebur berantakan. 

Sekarang sudah jauh lebih baik dibanding masa-masa menjengkelkan waktu itu.

Kalo mengutip lirik lagu The Grateful Dead - Touch of Grey:

I will get by
I will get by
I will get by
I will survive

Tetaplah hidup.

, , , , , , ,

Aksi Tenang

July 13, 2017 Samuel Yudhistira
Kita tidak ada di sana.
Kau dan aku sudah menyatu dengan keabadian ketika dunia penuh sesak dengan kebodohan.
Suatu hari nanti mereka akan jenuh menjadi benar.
Suatu hari nanti mereka akan sadar bahwa hidup adalah tentang keliru.
Kita tidak ada di sana.
Kau dan aku sudah lama bernyanyi tentang betapa lucunya dunia ini.
Suatu hari nanti mereka akan menyesal tidak ikut tertawa dengan kita.
Suatu hari nanti mereka akan melihat ke langit dan berharap bisa ikut dengan kita.

Jangan dibuat sulit, kawan!
Sadarlah bahwa semua begitu mudah.
Dengan sedikit keberanian engkau bisa bergabung dengan kami di sini.
Ada tempat di mana engkau merasa buta dan tuli dalam sekejab.
Ada masa ketika engkau merasa begitu tua dalam dalam satu kedipan mata.

Kita tidak ada di sana.
Kau dan aku sudah bosan membuang waktu yang tidak habis-habis.
Suatu hari nanti mereka akan berdiri dan menangisi kebodohan mereka sendiri.
Suatu hari nanti mereka hanya bisa meratapi nasib karena tidak mau ikut jalan kita.

Mereka yang menangisi pusaramu adalah mereka yang menyesal masih hidup.
Mereka yang bicara tentang penghiburan sesungguhnya menangisi hidupnya.
Mereka yang bicara soal hidup sesungguhnya tersesat di hutan kebimbangan.
Mereka yang membunuh dirinya lewat kata-kata sesungguhnya hanya menipu diri.
Mereka yang mengutuk perbuatan kita hanyalah pengecut yang tak tahu apa-apa.

Kita tidak ada di sana.
Kita tidak ada di sana.
Kita abadi.
Kita tidak akan mati.