Showing posts with label matter of life and death. Show all posts
Showing posts with label matter of life and death. Show all posts

Kamu Itu Malaikat Bukan Manusia

August 18, 2023 Samuel Yudhistira

Pada suatu malam yang tidak cerah-cerah amat dua orang berjalan menyusuri trotoar SCBD sehabis menghadiri sebuah peristiwa budaya penuh kepalsuan dan pretensi semata. Tiada kata keluar...hanya ekspresi wajah keduanya yang sudah jelas sedang sibuk memikirkan entah apa namanya.

People I know, places I go
Make me feel tongue tied
But I can see how people look down
They're on the inside
Here's where the story ends


Jalan Air Mata vs Jalan Menuju Kebebasan

Dalam ketidaknyamanan kita menemukan diri kita yang sesungguhnya. Ketika kita diberi kemampuan untuk berpikir, mencari cara, dan dari masalah di situlah seharusnya kita dinilai oleh "hidup" tentang kelayakan hidup. Kita adalah komoditi, korban dari produksi massal, dan konsumen tetap jual/beli fantasi dengan harga di luar nalar. 


"We are all victims of mass production," wajahnya berbinar menatap ke langit gelap sambil duduk bersila di atas lantai batu sebuah taman di pusat kota Jakarta. 

Apakah kamu masih percaya pada kebenaran versi mereka yang meluangkan waktunya menghadap ke langit? Atau mungkin kamu mulai percaya pada kebenaran versi mereka yang sakit leher sehingga hanya bisa menatap ke depan. Jangan-jangan kamu malah percaya pada kebenaran versi mereka yang hanya bisa melihat ke belakang dan menolak untuk melihat ke depan?

Saya percaya suatu hari nanti kamu akan bercerita pada anak perempuanmu tentang betapa kamu menjunjung tinggi nilai-nilai berharga dalam hidup dan kamu berhasil mengambil keputusan-keputusan dalam hidupmu dengan penuh perhitungan. Berubahlah oleh pembaharuan dirimu yang lahir dari ketidaksempurnaan, air mata, tragedi, dan manipulasi. 


Man, I love New Order. I wish I could see them play someday.

Really? What's your favourite song?

For me...umm...Blue Monday....

FOR REAL?? I LOVE THAT SONG! Wait a second! 

He ran to the booth with excitement and talked to the resident DJ. A few seconds later...the familiar intro was heard all around the place. This is Blue Monday...one of my favourite songs...Two men dancing spontaneously. We made the boring dumb place into a rave joint. Good ol' days, eh? 


*cerita di bawah ini diambil dari catatan lusuh yang ditemukan di sebuah kamar kos bilangan Bandung*

Blok M, South Jakarta, 2013

Bunuh..bunuhlah aku...kalau kau bisa...silakan saja...

Serang...hantamlah saja...datang padaku...andai kau tahu...

Akhirnya...

Baru kau mengerti...Kalau aku bukan...MANUSIA BIASA!!


Saya juga heran kenapa saya begitu mencintai malam itu nyaris melebihi malam ketika saya pertama kali menyaksikan Kebunku bermain di wilayah tempat mereka lahir. Mungkin karena saya menghabiskan waktu saya yang sedikit dengan orang-orang yang saya sayangi, wajah-wajah mereka yang familiar, dan perilaku mereka yang membuat saya selalu geleng-geleng kepala.

Bukannya kamu yang bilang kalau ketika suara tangismu meledak untuk pertama kalinya di dunia ini, Salemba menyambutmu dengan hiruk pikuk jalanannya yang khas. Mungkin dari situlah takdirmu terbentuk: untuk menyampaikan suara mereka yang tidak mampu bersuara. Saya tahu kalau kamu benci hal-hal kayak gitu tapi buat saya kamu sudah melakukan itu walau sepertinya ada orang iseng menekan tombol "mute" di speaker kehidupanmu. 

Itu saja sebenarnya. Tidak ada masalah kan?

*Lalu catatan halaman kedua tertulis demikian*

Tuhan, boleh gak kita berdua begini terus? Boleh ya? Gak dosa kan? Kalau nanti si Sam masuk neraka boleh gak aku tarik dia ke surga? Kalau aku yang masuk neraka nanti pas si Sam masuk surga biar dia aja Tuhan yang nego jadinya aku masuk surga juga. Hehehe...

fade out

background music on (harus Brian Eno!!)

muncul tulisan: -FIN- 

credits

PS: Kalau saja bisa...saya mau rasa sakitmu dibagi dua aja. Setengah buat kamu setengah lagi buat saya. Jadi kita ngerasainnya bareng-bareng. Maybe if I shut my eyes your pain will be split between us....maybe...just maybe...


So how are you feeling? I don't think you can be dealing with the situation very well. You take a lover for a dirty weekend, that's ok. But when it's over, you are looking at the working week through the eyes of a gigolo. We lay on the bed there. Kissing just for practice Could we please be objective? Because the other boys are queuing up behind us. A hand over my mouth, a hand over the window. Well, if I remain passive and you just want to cuddle then we should be ok, and we won't get in a muddle.


If we are true to ourselves, we can not be false to anyone. 

Problem is: Ternyata mereka gak siap sama "true-nya" gue. wehehehe.

How many suicide thoughts? How many sleepless nights? How many more times? Kalau saya minta kepada Tuhan untuk mati sekarang terus dibawa ke surga kira-kira dikabulin gak yah? Kalau yang saya butuhkan ternyata adalah kematian....kok gak dikasih-kasih yah? Gue masih heran aja kok orang demen banget hidup...Buat gue, at the point of death the pain is over. 


Yeah, I guess...it's a friend. Because my real friends are up there...

My dear friends in my head, take me away disappearing. I have lost in the Roman wilderness of pain. I'm sinking in the sea of lies. The town of misery. All the lies that we've built together. We are waiting for you.

, , ,

Eulogy (II)

March 14, 2023 Samuel Yudhistira

Sudah beberapa kali disampaikan kalau durasi bukanlah segalanya. Mereka yang ada ketika kau pertama kali menghirup oksigen di bumi belum tentu menjadi orang-orang yang paling mengenal dirimu. Bisa jadi mereka adalah sekumpulan manusia yang bersyukur kau sudah pergi dunia orang-orang keren.

Ketika kau mati, kau tidak bisa memilih mau dikubur di mana, bagaimana upacara pemakamanmu, siapa yang boleh datang dan siapa yang tidak boleh datang, mau pakai baju apa, mau disisir seperti apa, semua sudah diserahkan kepada mereka yang "lebih berhak" dan dianggap sudah paling dekat dengan dirimu.

Asap rokok mengepul, perbicangan tentang kuasa, gosip, kenangan, hiburan, rasa iba,pelayanan, ayat-ayat suci, kisah-kisah bodoh, dan hawa berkabung memenuhi ruangan. Keluarga, kerabat, sahabat, dan para penjlat datang mengenakan baju serba hitam. Kami yang turut berkabung sambil ketawa-ketiwi lihat jokes absurd di grup whatsapp, kami yang berkabung sambil fokus membaca tulisan-tulisan motivasi dukacita untuk dibagikan ke sosial media, kami yang berkabung sambil sibuk mendokumentasikan, kami yang berkabung sambil sibuk membicarakan orang-orang yang hadir, kami yang berkabung sambil membicarakan tentang betapa berdosanya mereka yang mengambil jalannya sendiri menuju dunia orang-orang keren, dan kami yang berkabung sambil menggerutu tak sabar untuk pulang kembali ke rumah.

Lalu dirimu datang, mengokupasi panggung, menarik semua mata, dan menyuarakan semua kebenaran di antara kepalsuan. Lalu dirimu berkata:


This is my second time meeting Sam. He didn’t seem uncomfortable sleeping in this narrow wooden box. He even looked, a bit relieved? I didn’t understand.

Nice suit, Sam. Although you were a bit cold and blue.

As we only met once, on a hot day of March in Yogyakarta, it’s — I don’t know how to label this feeling; is it sadness? But I haven’t gotten to know you too well to earn a proper right to grief — wordless, to see you gone.

Is it disappointment? For the possibility of wandering together through a meadow full of twists and turns had just slipped through my fingers.

Is it confusion? A reminder of how our fate could be that absurd, and altered in just a split second.

*mic meraung*

*feedback*

*hadirin terkejut*

Ah… I’m sorry, Sam, for making this about me. While it should be about you. 

So, hi again Sam, it’s me. Nice suit.

I was hesitant to embrace the feeling. But now I know; to me, for the short 3 hours — and the additional 3 hours afterwards on the phone — that I and Sam talked, I have earned a proper right to grief. I don’t know how to materialize the way I know… or rather, knew, him, in words. For no syllables, no phonetic sounds, would suffice.

I just know, that Sam would understand me, my understanding of him, and the exact sensory receptions in my organs, even now in his perpetual sleep.

It’s even nonsensical to say ‘this is the end'. For an end to take place, something must have begun in the first place.

Tidak jauh dari tempatnya berdiri kamu hanya bisa memandanginya tanpa bisa menyentuh. Geram rasanya...Ingin kau berlari lalu memeluk sosok yang baru saja melontarkan kata-kata tersebut dan berkata kalau semua akan baik-baik saja.


Kami yang ditinggalkan adalah orang-orang paling sial di dunia...



, , , ,

Eulogy

February 21, 2023 Samuel Yudhistira

Samuel Yudhistira was an exceptional man. He was a bundle of joy who would never stop making people laugh. His selflessness is his strongest characteristic. His willingness to do something for a friend is something that will never can be imitate by other people. He's one of a kind. A rare breed of a person. A little bit shy but he has the biggest heart. I am proud to have known him in my life.

I just want people to know that he was my best friend.

Sam,  too soon my friend...too soon. I'll cherish all the memories that we share together, all the good and bad things, and all the love we...sorry... *crying in spanish*

I met him at the very strange time of my life. He was so kind to me. I was filled with rage and anxiety when he first greeted me. He was such a sweet soul. I love him like my own brother. 

Heaven done called another good person back home.

Karena pada suatu hari yang cerah nanti ketika dunia lama ini sudah musnah diterjang cahaya terang dari langit di saat itulah kita akan bertemu kembali dan bercerita tentang betapa kita sudah memuliakan hidup dengan cara kita yang ajaib dan betapa kita menikmati setiap detik terjadi di dalam kehidupan kita. Mungkin kamu tidak akan ingat diriku. Begitupun aku tidak akan mengenal dirimu. Bukankah lebih menyenangkan ketika kita bisa bertemu kembali dan berkenalan kembali untuk pertama kalinya? 


*Senayan, 2017*

I don't think you need another lover anyway. 

Yeah? What do you think I need the most right now?

Pasta.

Pasta? You gotta be kidding me, right?

Nope. And I know a place with the best pasta.

Well, would you be my guide then, MR PROFESSIONAL?

With pleasure! 


Lalu dimulailah ritual panjang menjelang pagi ketika semua orang masih terlelap dan bermain dengan mimpi-mimpi mereka yang tidak seberapa itu. Mulailah kalian berdua mementaskan tarian pemanggil matahari dengan lampu-lampu jalan dan gembel tidur yang menjadi audiens kalian. Tak peduli lagi! Hanya mau bergerak dan terus bergerak. Mau mereka tidak memperhatikan pun yasudahlah, ngapain juga dipikirkan? Hanya pecundang-pecundang tolol yang berpentas hanya untuk memuaskan penonton. Kita adalah mereka yang bergerak karena kita cinta terhadap hidup dan cinta terhadap diri kita sendiri.   


Life's a bitch! *sambil tertawa-tawa dengan gelas cocktail yang menyala-nyala*


Kamu sudah biasa melihat punggung seseorang berjalan menjauhi dirimu yang tak bisa lagi bergerak. Terpaku kakimu di atas tanah. Kau biarkan dirimu dihantam angin, panas, dan hujan karena kau begitu yakin bahwa dia yang kau percaya sepenuh hatimu akan menjaga dirimu dan juga kau bersumpah kalau kau tidak akan pernah berjalan mendahului dirinya. Pada akhirnya...kau sadar dirinya hanyalah ilusi yang muncul karena kesepian sudah menguasai kepalamu. 


Dengan tenang tanpa suara kau mulai berjalan menuju ke dapur. Matamu menerawang seisi ruangan...sayup-sayup terdengar suara dari luar, anak-anak tetangga bermain riang gembira tanpa pernah tahu bapak ibunya telah babak belur demi memenuhi kebutuhan hidup yang semakin mencekik isi rekening mereka. Berat langkahmu untuk meninggalkan rumah...kau dianggap sebagai manusia super, penyelamat dunia, dan seorang tangguh nan tegas penuh wibawa. Tapi tembok kamarmu selalu menertawai dirimu setiap malam ketika kau memeluk bantal dan mulai menangisi hidup. Seharusnya kau tahu bahwa dunia adalah tentang menderita dan hidup adalah tentang menguasai dunia. Mulailah bibirmu bergerak...komat-kamit baca doa yang tidak jelas akan didengar oleh siapa. Tiada air mata, tiada rasa takut, tiada rasa gentar, tiada rasa ragu, dan mulailah kau berkarya. Karya terbesar dalam hidupmu akan segera dirilis, karya terindah dalam hidupmu akan segera muncul. MONUMENTAL!!! Akan banyak orang yang terinspirasi dan mungkin tergerak dengan apa yang akan kau kerjakan. Kau cungkil tabung gas di dapur. Desis gas yang keluar dari tabung bagaikan orkestra yang mengiringi kau berkarya. Kau tarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan karbon dioksida untuk terakhir kalinya. 


HIRUUUUP!! HIRUUUP!! TAHAAAAAAAN!! AHHH MULAI KABUR PANDANGANMU!! BETAPA BAHAGIANYA DIRIMU KETIKA KAU MELIHAT WARNA UNGU KELABU MENGUASAI MATAMU....DALAM HATI KAU MENJERIT: KITA AKAN HIDUP SELAMANYA!! 


...........jadilah terang dan jadilah gelap.....jadilah terang dan jadilah gelap.....jadilah terang dan jadilah gelap.........jadilah terang dan jadilah gelap......Kita semua adalah mereka yang menjalani apa yang sudah tertulis dengan begitu rapi selama ribuan tahun dan mempercayai orang-orang yang secara bergantian menguasai panggung megah maha suci sedari kita kecil. Rasa takut akan penderitaan yang abadi membuat kita bertahan dalam penderitaan "sementara" yang dijanjikan. Kalau memang keabadian itu adalah tentang menikmati waktu tak terbatas dalam kebahagiaan mengapa kita tidak pernah diberikan kebahagiaan sementara sebagai sebuah "teaser" untuk mengejar kebahagiaan abadi. Bukankah produk-produk dunia juga diawali dengan tester? Bukankah para pedagang juga memberikan garansi kenikmatan dan manfaat atas produk yang mereka jual? 

Aku adalah dia yang dijual dan dibeli oleh orang-orang yang mampu membelinya dengan iming-iming rasa aman dan meminimalisir potensi kerugian finansial di masa depan. Aku adalah dia yang jatuh cinta pada ide dan membuang semua peluang karena yakin pada sesuatu yang tidak tentu arahnya. Aku adalah dia yang mengumpat tentang hidup tetapi secara bersamaan turut menikmatinya. Aku adalah dia yang benci hirarki tetapi tunduk pada sistem. Aku adalah dia yang tertawa di siang hari dan menangis hingga keluar darah di malam hari. Aku adalah dia yang menyajikan nasi hangat pada mereka yang tidak butuh-butuh amat sementara setengah mati menahan lapar. Aku adalah dia, aku adalah kamu, aku adalah kita, dan aku adalah mereka. 


Kembali kepada para para hadirin yang tidak terhormat. Mereka yang berduka selama beberapa jam lalu berpesta pora dan lupa bahwa satu jiwa telah hilang dari antara mereka. Kita dengarkan kembali omong kosong yang mereka ingin sampaikan di depan khalayak:


Samuel Yudhistira was an extraordinary man in ordinary world. He was unique. He was kind, sweet, exceptional, and.....*sobbing*......sorry....I can't....I love him....I love him....Why? Why God? Why him? 


Good man dies young. God loves him more...


#SCENE 173#

<MASIH DI RUMAH DUKA>

<RANGKAIAN ADAT>

<ORANG GEREJA DATANG>

<TUTUP PETI>

<BRIEFING TENTANG PENGANTARAN JENAZAH>

<PERJALANAN>

<MASUK JALUR BUSWAY. KARENA...WHY THE FUCK NOT?>

<TIBA DI TPU...YAH KARENA DIA ORANG BIASA...LAGIAN NGAPAIN JUGA DIKUBUR??>

*do our ruins benefit the earth?*

<LIANG LAHAT: READY!>

<DOA GAK PENTING>

<NYANYI>

<TABUR BUNGA>

<KELAR>

<PULANG>

<SAMPAI RUMAH MAKAN-MAKAN>

<CERTA TENTANG KENANGAN>

<CERITA TENTANG HARI-HARI TERAKHIR>

<PENYESALAN>

<TAMU-TAMU PULANG>


......and in another six weeks he'll be unknown....OH! Lupa! Selama scene berlangsung gawai-gawai sibuk mengabadikan momen-momen tersebut! IHHH GILAAAK! YAKALI GAK DIUPDATE!! Sam tuh friend gue bangeeett!!


The stars are not wanted now: put out every one
Pack up the moon and dismantle the sun
Pour away the ocean and sweep up the wood,
For nothing now can ever come to any good


Don't shed your tears because I've gone. But please put back that smile because I have lived...I know...nobody dies tonight...you will live a lit bit longer than me, that's for sure, and to that I'm totally grateful that i've blessed with love and to be loved was the best feeling ever. 


Dear parents,

Don't kill your children! 


Dear lovers,

Stop pretending! 


Dear friends,

Thank you for not giving up on me! 


Dear sinners,

May Lord have mercy on you


Dear saints,

FUCK YOU ALL!


Dear government,

I don't believe in you!


Dear you,

Happy now?

,

mari ikut denganku kita akan berjalan di atas pecahan kaca

July 28, 2022 Samuel Yudhistira

mari, ikut denganku sekarang

ikut denganku sekarang

kita akan berjalan di atas pecahan kaca

berjalanlah kita di atasnya

berdarah-darah

tapi kita tidak mengaduh

kita tidak berperih

kita tidak akan mengeluh


kamu dan aku adalah mereka yang terbiasa dengan konsep ditinggalkan

kamu dan aku adalah orang-orang yang biasa dengan hukum berpaling

kamu dan aku adalah mereka yang sudah ditakdirkan berbeda

kamu dan akau adalah orang-orang yang beruntung

tapi kamu lebih beruntung

kamu tiba di dunia orang-orang keren

kamu tinggalkan aku di dunia orang-orang munafik


mari ikut denganku sekarang

sekarang! 

jangan pernah ada satu persen keraguan di dalam kepalamu

jangan pernah ada rasa menyesal

kita akan berjalan di atas pecahan kaca

kita akan belajar konsep didera

kita akan belajar hidup disiksa

mari ikut denganku sekarang

kita akan mencampakkan mereka yang berkhianat

kita akan membunuh waktu dengan bercinta

kita akan membuang sengsara dengan menikmatinya

selagi bisa

selagi sempat

selagi kau masih punya....ehh..apa itu namanya..ohhh! waktu! 

iya...iya...selagi kamu masih punya waktu di dalam dompet tipismu

selama itulah kita masih sempat...

berjalan

di 

atas 

kaca


tinggalkan jejak darah

supaya setan-setan itu bisa mengikuti kita

ayo cepat! nanti mereka menyusul kita

jangan biarkan mereka menyusul

jangan biarkan mereka menyusup

jangan biarkan mereka menusuk


tapi bagaimana aku mau menyusulmu?

kamu sudah duluan tiba di negeri orang-orang keren


teras rumahmu sekarang semakin guram

teras rumahmu sekarang semakin abu-abu

tembok rumahmu tidak akan lagi mendengar tawa keras kita

tembok rumahmu tidak akan lagi menyaksikan air mata kita


Just my imagination

Just my imagination

Just my imagination


mari ikut denganku, kita berjalan di atas pecahan kaca sekarang

tapi kok hanya aku yang kesakitan

kamu dan yang lainnya malah tertawa-tawa


apakah malam di duniamu sama seperti duniaku?

apakah malam di duniamu sesingkat malam di duniaku?

saking singkatnya tiba-tiba matahari sudah datang

padahal kita masih asik bercerita

padahal kita sedang asik bertukar makna

padahal kita ingin terus tertawa sampai semua orang bangun dari peraduan


heeeh...tunggu dulu...apakah di dunia sana kamu bisa bernapas lega?

apakah di dunia sana dadamu tidak pernah sesak?

apakah di dunia sana kamu bisa berlari kencang?

apakah di dunia sana kamu bisa tenang tanpa selang oksigen?

apakah di dunia sana virus......ahh sudahlah...


mari ikut denganku, kita berjalan di atas pecahan kaca sekarang.

sekarang! ayo! sekarang! jangan pernah ragu

ayo! terbang! 

hempaskan dirimu dari ketinggian! 

biarkan sayap-sayapmu terbuka lebar

biarkan saja.

jangan takut.

aku menunggumu di dunia orang-orang keren.


kutaburkan bunga-bunga kesepian

kutaburkan bunga-bunga kesedihan

kutaburkan bunga-bunga kepedihan

kutaburkan bunga-bunga kehancuran


kalau dunia tidak ingat padamu

kalau jalanan tak lagi menyebut namamu

kamu tetap hidup........

di dalam hati, pikiran, dan darahku

aku adalah dirimu

kamu adalah diriku

maka tenanglah, suatu saat akan aku buat dunia bicara tentangmu

dalam bahasa yang tidak semua orang mengerti

dalam aksara yang tidak semua orang bisa membaca

karena memang kita pun tidak bisa dijelaskan

karena memang kita juga tidak butuh penjelasan

kamu sudah abadi

tulisan ini....tidak akan dibaca semua orang

tetapi selama internet belum kiamat

atau akun ini hilang

kamu akan abadi


manisku...

istirahatlah....

abadi sudah dirimu...


,

Surat Untuk Mereka yang Satu Langkah di Depan

July 17, 2022 Samuel Yudhistira

Tugasmu sudah selesai, anak dan istrimu akan baik-baik saja. Sekarang sudah waktunya kamu kembali ke rumahmu yang sebenarnya. Teman-temanmu sudah menunggu kisah-kisahmu selanjutnya. Mereka menantikan pendapatmu bertahun-tahun di keabadian, menunggu suaramu yang pelan tapi tegas, menunggu diksi-diksi aneh yang sudah jarang muncul ke permukaan, menantikan pola pikir anehmu, dan sudah jelas cara bercandamu yang sangat cerdas.

Jangan kecewa karena kau tak sanggup bertahan. Kau sudah memberikan pertarungan luar biasa melawan kehidupan yang benar-benar keras. Sudah cukup waktumu untuk melihat berbagai hal yang indah dan gelap di dunia ini. Jangan kesal karena fisikmu, jangan kecewa karena pencapaianmu, dan jangan pernah merasa gagal karena kau sebenarnya sudah memberikan begitu banyak hal yang indah untuk semua orang.

Bukumu sudah selesai. Sudah sampai titik. Tak perlu kau takut akan terbengkalai proyek lelahmu selama 9 tahun belakangan ini. Melawan sel-sel otakmu sendiri, kau berhasil menerjang semua keraguan yang ditimpakan orang-orang kepadamu.

Lihat! Mereka semua sudah duduk melingkar di depan api unggun. Hangat dan penuh canda tawa. Sudah ditunggunya dirimu di sini. Lihat sekelilingmu, banyak yang mencintaimu apa adanya tanpa meliat kekuranganmu. Tinggalkan ragamu di belakang! Biar saja! Sudah terkubur ragamu dengan sangat apik. 

Kenangan, kenangan, dan kenangan yang bisa kau tinggalkan sekarang ini. Sebuah ilmu yang teramat mahal sudah kau wariskan kepada mereka yang masih berjuang melawan arus deras nasib, yaitu tentang pantang meyerah. Lawan semua keraguan maka matimu akan menjadi peristiwa paling indah yang pernah dibuat oleh umat manusia. 

Hey! Sudahlah, tak usah khawatir! Tanah tempat kau lahir, berkembang, dan berpikir akan tetap abadi walau hawa nafsu merubungi otak orang-orang di seberang pulau sana. Sudah bukan tugasmu untuk memikirkan semua itu. Tinggalkan! Kau sudah abadi! Kau sudah tidak berada di alam fana penuh kepalsuan di bawah sana.

Istrimu adalah batu karang yang tidak pernah terkikis.

Anak-anakmu sudah berdamai denganmu dan bersumpah bahwa darahmu akan terus mengalir di atas bumi.

Tinggalkan dunia dengan tawa dan bercanda. Rasa kecewa dan tak berdayamu sudah lewat. Sekarang saatnya kau berpikir dan berdiskusi kembali dengan mereka yang pernah mesra denganmu. Sekaranglah saat-saat paling bahagia yang kau punya. Selamat datang!

***

Papih! Titip salam buat semua yang ada di sana. How's heaven tonight? We miss you and love you so much! But we all know that you are happier now and no one can be happier than you. Enjoy your time, dad! I'll take care of mom and these two sisters. Don't worry! :))


,

Sebuah Awal dari Akhir yang Terlalu Indah

May 04, 2022 Samuel Yudhistira


Hendaknya kamu bicara tentang betapa hidup bekerja dengan cara yang sangat-sangat biasa dan bukan sesuatu yang luar biasa atau mistis atau mungkin tidak masuk akal. Kasihan mereka yang bekerja keras sampai lupa rasanya tersengat sinar matahari sudah susah payah berpikir tentang ini itu tetapi hanya disanggah dengan argumentasi yang nyaris tidak punya dasar selain daripada cocoklogi ataupun logika tidak jelas masyarakat. Apakah kalian mau percaya dengan teori panjang lebar yang datang dari manusia lokal macam mereka? Dari indeks prestasi dan minat baca saja orang-orang di negara ini sudah cukup bisa dilihat. Yah...mau bagaimana lagi...ketika badai informasi masuk ke negara ini, SDM yang bermukim sejak era Proto Melayu ini nampak belum siap dan mudah terpukau dengan betapa mudahnya mereka menjadi tahu sesuatu di mana kebenarannya bahkan masih menjadi tanda tanya.


Kalau sudah begini biasanya mereka yang tidak berisi akan berteriak paling nyaring yang anehnya lebih mudah untuk dicerna dan dipercaya oleh mayoritas penduduk di negeri ini. Konon katanya semua adalah ciptaan alien dan kita semua adalah kecerdasan buatan yang diberikan darah, tulang, dan daging agar menjadi sempurna. Konon 10.000 tahun silam seorang ilmuwan jenius menciptakan kita semua dari sisa-sisa sampah asteroid yang dihisap oleh gaya tarik bumi. Butuh ratusan hingga ribuan tahun hingga ciptaan sang ilmuwan tersebut menjadi sempurna dengan segala cela dan keegoisannya. Mulailah mereka belajar dan mengerti tentang proses pembelahan, pembuahan, dan beranak pinaklah ciptaan ini di muka bumi. Benturan gen di antara mereka menciptakan perbedaan baik secara fisik dan mentalitas.

Mereka yang menju ke utara menjadi lebih besar, mereka yang mendarat di barat menjadi lebih egois, mereka yang menuju ke selatan menjadi lebih ceria, mereka yang terdampar di timur menjadi lebih perhitungan, dan beberapa yang terserak di antaranya menjadi lebih penuh curiga antara satu dengan yang lain karena merasa ditinggal. Tak pelak mereka hingga hari ini pun masih haus akan darah dan merasa paling layak untuk masuk ke "pangkalan akhir" paling awal karena ketidakadilan yang sudah terjadi di awal masa penciptaan.


Para ciptaan berkumpul mencari persamaan dan mencoba menerima perbedaan. Namun beberapa di antara mereka mencoba untuk memanfaatkan perbedaan demi keuntungan sendiri atau memanipulasi persamaan untuk menjejaki struktur tertinggi di dalam pohon kehidupan mereka. Tiba-tiba muncullah sistem kelas, tiba-tiba muncullah perselisihan, tiba-tiba semua saling menipu, tiba-tiba terbesitlah sebuah ide untuk menguasai yang satu dengan alasan perbedaan. Terancam punahlah mereka semua akibat keserakahan mereka sendiri. 


Apakah yang dilakukan oleh sang ilmuwan jenius tersebut? Dia diam saja. Tak mau ambil pusing. Masih banyak ciptaan lain yang lebih butuh perhatian. Toh mereka juga sudah dibekali dengan kemampuan dan kepintaran buatan maha canggih. Sudah sepatutnya mereka menyelesaikan semua permasalahan dengan kemampuan tersebut. Apa guna dia mencipta jika ciptaannya ternyata tidak ada gunanya? Mulailah muncul rasa bersalah dalam diri sang ilmuwan. Apakah mereka ini adalah sebuah kesalahan yang harus dimusnahkan? Dipersatukan mereka menggarang, diberi ruang mereka menggila, diberi pengertiang mereka malah melunjak habis tak karuan. Sudah sepantasanya mereka diberikan satu pukulan telak supaya habis tidak bersisa.


Bagaimana rasanya menghancurkan ciptaanmu yang paling sempurna? Bagaimana rasanya mengoyak sebuah karya yang kau buat susah payah? Sudah tentu tidak tegalah sang ilmuwan merusak habis ciptaannya yang dibuat melalui riset panjang dan proses pengerjaan yang tiada mengenal kata lelah sama sekali. 


Sudahlah biar saja. Nanti mungkin mereka akan berubah total dan sadar kalau mereka diciptakan sedemikian rupa dengan fungsi dan kebutuhan tertentu atas nama adaptasi atas setiap perubahan. Mungkin mereka akan bersatu padu untuk menjaga sesama dan juga berbagi dengan ciptaan lain yang sudah hadir jauh sebelum mereka yang sempurna ini datang.


Begitulah awal mula penciptaan hingga sampai hari ini kita semua masih bertanya-tanya tentang bagaimana emosi tercipta, bagaimana cara menghilang dengan sempurna, bagaimana cara agar kita bisa hidup tanpa bergantung terhadap ciptaan lain. Semua adalah tentang matematika. Hitung semua sampai kita mampu menghitung apa yang harusnya keluar dan apa yang harusnya kembali kepada kita.


Kita adalah ciptaan...kita adalah buatan....kita tidak alami, terlalu banyak campur tangan "asing" membentuk kita hingga kita tiba di titik di mana kita yakin bahwa semuanya ternyata hanyalah ilusi. Kita bukan ciptaan, kita adalah pencipta, bahwa sang ilmuwan jenius tersebut hanyalah mitos belaka sehingga tdak perlu kita menjadi begitu optimis terhadap apa yang sudah diciptakan.

Tamat sudah.

, , , , , ,

Orang-orang di sebelah kanan jalan raya

April 04, 2022 Samuel Yudhistira


The most painful thing is losing yourself in the process of loving someone too much, and forgetting that you are special too.


#ORANG 1 

Kau berjalan cepat, tanpa alas kaki, tanpa tujuan, wajahmu berdebu, keringat mengucur deras dari dahi hingga pipimu. Kakimu berdarah penuh luka tergesek aspal panas jalanan. Setiap langkah yang kau ambil membuatmu meringis menahan perih yang tak kunjung usai. Tak juga kau bergeming karena tahu bahwa tujuanmu tinggal beberapa ribu langkah lagi. Satu atau dua kakipun rela kau korbankan asalkan kau bisa tiba di tanah yang kau impikan, dunia yang kau dambakan, dan kau yakin kalau kau pasti akan tiba di sana.

#ORANG 2

Bosan hirup oksigen, mulai kau beralih ke karbon monoksida. Hisap timbal sampai paru-parumu kehilangan orientasi. Sekali...sudah itu mati. Tak pernah kau coba untuk memikirkan kembali konsekuensi atas apa yang telah kau perbuat dan berbagai hal yang mungkin akan kau buat nanti.

#ORANG 3

Kamu pernah bilang bahwa saya istimewa dan tercipta untuk membuat sesuatu yang luar biasa dengan segala talenta yang saya miliki sekarang. Kenyataannya? Tidak ada tuh. Saya dipaksa untuk menjadi biasa saja dan tidak ada yang mengenal saya sama sekali. Lahir, tumbuh, berkembang, sekolah, kuliah, bekerja, dan menjadi barisan kelas pekerja baru yang sama sekali tidak punya hak untuk mengubah dunia. Hanya mereka yang lahir ketika planet-planet di Galaksi Bimasakti sepakat untuk mengambang sejajar saja yang berhak untuk mengubah nasib dunia.

#ORANG 4

Duduk melingkar, gelas berputar, dan Bo Diddley bernyanyi penuh penghayatan. We accept chaos but we don't know whether it accepts us. Sekedar alkohol kaki lima dinikmati penuh suasana ceria dan dikelilingi wajah-wajah yang tidak asing sudah cukup untuk melupakan beban kehidupan walau sementara. Sementara....tiada yang mau menjadi abadi. Ahh...sudahlah, kau ambil gitar "made in pasar" dan mulailah suara sumbangmu memenuhi udara kota Jakarta yang tidak baik-baik saja. Begitu saja kau sudah bahagia. Setidaknya kau bermain penuh penghayatan seperti Bo Diddley.

#ORANG 5

Duduk di ujung tempat tidur...tak berbusana...berkeringat hasil bermain cinta...kretek menyala mengepulkan asap yang sayang tidak dihisap...sang Pangeran Cinta sudah pergi...baru saja pergi...sibuk kau menatap layar gawaimu sembara menggoda para Pangeran Cinta kurang kerjaan yang selalu dengan santainya menawarkan balas jasa yang tidak seberapa. Kau lihat foto bayi yang menjadi wallpaper telepon genggammu sedang berbaring dan tersenyum menatapmu yang sedang gundah gulana bertelanjang. Tiba-tiba basah layar gawaimu karena air mata mulai turun. Harga susu naik, harga beras naik, harga minyak goreng naik, sementara harga dirimu dipapas habis. Kerja jaga toko baju di pagi hari lalu kerja di atas ranjang ketika matahari sudah habis tenaganya.

#ORANG 6

Kami masuk ke dalam lift. Menenteng gadget-gadget canggih, berdandan mutakhir, dibasuh wewangian yang jelas tidak murah, dan berbicara bahasa asing. Sesekali keluarlah istilah-istilah yang hanya kami dan setan yang paham. Karena dunia kami adalah dunia yang penuh dengan persaingan dan kepalsuan. Kami cinta karir kami yang kami dapat dengan susah payah. Kalian pikir menang "lotere kehidupan" itu mudah? GOD LOVES US! GOD BLESS US! GOD HATES THE POOR! Masuklah kami ke mobil menuju entah apa namanya...yang jelas tempat ini ditujukan untuk orang-orang terpilih seperti kami. Tempat di mana orang-orang biasa wajib melayani kami semua. 

#ORANG 7

Di dalam gelap kau menunggu. Matamu yang merah dan tak bersahabat sibuk mengawasi. Waspada adalah kunci untuk sukses dalam pekerjaan yang kau geluti, kecurigaan adalah sahabat, dan keberuntungan adalah faktor yang tidak kalah penting. Salah sedikit saja bisa-bisa otakmu berceceran di atas trotoar lalu mayatmu mengambang di kali. Sesekali kau melihat ke telepon genggammu. Siapa tahu ada pesan penting...Ahh...payah sekali...mulai kau menarik sleting jaket kulitmu hingga menutupi leher demi melawan terpaan angin malam. Jangan main hape terus...nanti bisa celaka...kau bergumam memikirkan hidup dan masa depan, muncul bayangan anak-anak dan istrimu di rumah yang mungkin sudah terlelap karena lelah menunggumu pulang atau biduan dangdut yang sempat kau tiduri beberapa pekan silam. Ahh...hidup...kadang bangsat kadang menyenangkan. Tiba-tiba merinding tengkukmu...ada besi dingin yang menempel di kepala belakangmu...bergetar tubuhmu...jantungmu berdegup tidak karuan...ingin kau membalikkan badan untuk melihat siapa sosok yang menempelkan besi dingin ini di kepalamu. Belum sempat kau bergerak, tiba-tiba semuanya gelap...hening...dunia dibantai kesepian abadi.

#ORANG 8

I can't, I'm sorry, please, don't hate me.

Bagaimana rasanya tidak bisa merasakan apa-apa?

Menyenangkan bukan? Seperti disiram air dingin hingga tertusuk semua tulang di dalam tubuhmu. Kau merasa seperti dilahirkan kembali dari rahim ibumu dan menjadi manusia super. Kau lihat dia yang katanya mencintaimu apa adanya kini berbalik arah meminta sesuatu yang nyaris mustahil. Di situlah kau sadar bahwa kau sudah setengah tenggelam di sungai cinta-cintaan yang maha bangsat. Tersenyum kau sendiri, tertawa kau sendiri, menangis kau sendiri, dan kau sadar bahwa sudah terlalu banyak waktu kau buang bersama dengan orang yang tidak tepat. Tidak ada yang lebih setia daripada toilet. Yaa...disiram kencing...dilempar taik...tetap saja diam. Sudahlah, kamu tahu waktumu menghirup udara Jakarta yang tidak seberapa ini sudah hampir habis. Sekarang waktunya kau menebus segala perbuatanmu. Ketika tidak ada lagi yang butuh cintamu dan tidak ada lagi yang mau cintamu. Sudah saatnya kau bergerak! Bertindak! Beraksi! 


......................................

................................

...........................

.....................

.............

.........

......

....

...

..

.


Sunyi senyap tak berbekas. Perlahan kau ditelan dan dikunyah kejamnya gaya hidup metropolitan. Habis sudah egomu, selesai sudah masamu, dan hilang sudah perkaramu. Rasanya seperti melompat ke jurang tidak berdasar, ketika tangan-tangan lelahmu berusaha mencari pegangan tetapi  tak satupun benda mampu menahan gerak lajumu menuju kesunyian abadi. Wahh...bahkan ketika bangunpun ternyata kau bangun di dalam sebuah mimpi buruk. Lelah yah? Saya juga. Tenang saja! Tidak perlu takut. Sebentar lagi kamu akan saya jemput juga. Bersama-sama kita akan berjalan lurus menuju cahaya biru muda yang menolak untuk pudar. Bersama-sama kita akan tertawa kembali dan senyum simpulmu akan terbit kembali. Jangan takut, manisku! Sebentar lagi. Sabarlah sedikit. Jangan biarkan mereka berkata kepadamu bahwa dunia mereka jauh lebih indah dan menyenangkan daripada dunia kita. Kamu tahu mereka semua berbohong demi dapat umat. Kamu tahu mereka semua menipu diri mereka sendiri. 


Sedikit lagi, sayangku, kekasihku, sedikit lagi kita akan bersatu kembali. Sedikit lagi air matamu yang bercampur darah tidak akan layak lagi membasahi pipimu. Sebentar lagi nanah-nanah di kakimu akan dibasuh dan pulih tanpa meninggalkan bekas. Sebentar lagi kamu akan lupa rasa sakitmu. Di saat itulah kita semua akan menjadi abadi dalam kebahagiaan kita. Di saat itulah kita semua akan tertidur di tanah yang lembut, dibuai rumput hijau nan segar, dan angin yang berhembus akan membawa kita terlelap...


Sayangku, kekasihku yang manis, sabar yah. Aku tahu kamu lelah, aku tahu kamu kesakitan ketika menelan setiap aksara, aku tahu kamu ingin teriak tetapi dunia membungkam erat mulutmu. Sabar manisku. Keabadian adalah milik kita semata. Di dalam diam kita berteriak dan di dalam gelap kita melihat.


Aku tahu kamu jauh lebih bahagia. Sekarang saatnya kita bahagia. Jadilah gelap, jadilah terang. Selamat berbahagia, sayangku. Aku cinta pada rasa sakitmu.

, , ,

DIrty Dream Number #3

March 15, 2022 Samuel Yudhistira

Kamu melihat dia berjalan begitu anggun, cantik, dan mempesona. Matamu berusaha lari tapi daya tarik dan pesonanya mengaburkan niatmu untuk melarikan diri dari pemandangan indah tersebut. Gaun putih, rambut terurai, dengan sepuhan make up di wajahnya membuatnya seperti segumpal awan yang sengaja turun ke bumi. She's so beautiful. 

Bukankah seharusnya kamu berada di dunia yang kamu mau? Dunia mimpi kan? Dunia di mana kau bisa menjadi apapun yang kau mau. Dunia di mana kau menjadi pahlawan atas semua yang terjadi di alam semesta dan dunia yang begitu indah sampai kau menangis ketika kau bangun dan sadar semuanya tidak pernah dan tidak pernah terjadi dalam hidupmu.

Manusia tak berwajah, tak bernama, dan hanya bersuara. Hanya suara yang tersisa dan membekas di dalam kenanganmu. Itu cukup. Cukup membuatmu merasa kalau ada orang entah di mana peduli dengan kehadiranmu di dunia ini.

Lalu tiba-tiba datanglah awan hitam di tengah kenikmatan visualmu, berjalan angkuh penuh percaya diri lalu menggenggam erat jemari sang wanita dan terucaplah janji sumpah setia sampai maut memisahkan. Hancur sudah duniamu! Beribu bahasa dikuasai, berjuta koin emas dimiliki, dengan bentuk fisik yang lebih sempurna daripadamu, dan tentu saja dia layak dicintai lebih daripadamu. Mungkin saja beliau lahir ketika bulan dan matahari bersepakat untuk memberikan secercah cahayanya kepada laki-laki ini. Beruntungnya dia.

Sementara kau sibuk mengatur ulang papan tanda "DISKON 85%++" di dalam hidupmu agar ada yang tertarik membeli cintamu. Nobody wants it, nobody needs it. Harusnya kamu sadar bahwa selama beberapa bulan kau melatih dirimu untuk hidup sendiri. Seharusnya kau sadar bahwa selama itu pula kau mempersiapkan ragamu untuk menjadi persembahan yang berguna bagi masyarakat Indonesia. Raga tanpa jiwa mungkin lebih punya guna dibanding dengan apa yang sudah kau lakukan sekarang.

Kau bangun dengan perasaan yang aneh sekali. Rasanya letih sekali, rasanya ingin sekali kau menembak kepalamu hingga tembokmu penuh dengan darah dan serpihan otak yang tidak seberapa itu. Berjalan kau ke bawah, buat kopi, hisap tembakau, berharap kau disambar petir hingga mati terpanggang. Tapi pagi begitu cerah dan berharga, tak ingin kau rusak dengan kegilaaan.

Mulai kau buka lapakmu di atas trotoar, berteriak-teriak berharap ada yang lihat. Kau dan ribuan orang bernasib sama mulai kehilangan akal demi sentuhan tanpa makna. Teriak-teriak cari perhatian. Untuk sementara hal inilah yang terbaik, tersedia, dan murah meriah.

Sudah lelah dirimu dikoyak-koyak rasa sepi dan perhatian kontemporer hasil dari kemajuan teknologi komunikasi. Sudahlah, sebaiknya kau diam saja di kamar. Kencing dan berak di sudut...sampai mereka datang kembali ke dalam kepalamu untuk mengajakmu kembali ke dunia yang kau inginkan. Dunia di mana tidak ada air mata, ketakutan, dan rasa sakit. Dunia utopis maha sempurna. Ahh...bawa aku ke sana, kawan-kawanmu yang manis! Bawa aku! 

Darah keluar dari hidungmu lalu sial kembali engkau ketika kau bangun dan dokter tersenyum kepadamu dan berkata bahwa dia adalah pahlawan yang membuat kau hidup.


 BANGSAT!!!!!!


, , , ,

siap? bersedia? dor!

March 11, 2022 Samuel Yudhistira


Sudah siap? Kamu yakin tempatnya di sini? Apa karena udaranya lebih segar dari Jakarta? Atau mungkin karena banyak sekali kenangan tercipta di tempat yang secara visual sangat asing? Jangan-jangan kau mulai jatuh cinta terhadap tanah yang kau pijak ketika pikiranmu melangkah terlalu jauh menuju ketiadaan? 


 

Terbujur kaku tubuhmu di dalam kotak dengan seragam kebanggaanmu dan teman-temanmu yang kurang tidur berkerumun tanpa bisa banyak bicara. Menangis pun sudah tidak bisa karena tidak ada yang menyangka dan tidak akan pernah ada yang siap mendengar kabar seperti itu.

Berenang santai, lalu hanyut, mulai tenggelam, dan mulailah engkau menerima fakta bahwa sebentar lagi nyawamu yang tidak seberapa itu akan dicabut dari ragamu yang sangat tidak menarik. Adil bukan? Adil dong! Karena pada dasarnya kau bukan siapa-siapa dan kau tidak menciptakan apa-apa sehingga dengan menerima fakta bahwa kau tidak nyata maka kau akan berfungsi dengan maksimal sebagai manusia.


Bertahun-tahun kamu menampik perubahan terjadi dalam hidup sampai akhirnya kau didekatkan kembali kepada tempat di mana kau banyak menghabiskan waktu bersama dengan orang-orang tidak penting. Berbagai dramaturgi dan liturgi tentang nasib...bukan kehidupan...menguap begitu saja ke udara...tidak punya bekas. Diruntuhkanlah tembok-tembok senioritas, bersorak-sorailah kita semua, lalu semua terdiam karena bingung tidak bisa berbuat apa-apa lagi dalam kehidupan. Aduuuhhh....seharusnya jangan begini....seharusnya jangan begitu....


Dalam ruang 3x4 dengan penerangan minimalis, udara pengap, dan ruang gerak terbatas kamu menabrak batas-batas kesucian. Hilang sudah lugumu! Bermainlah engkau dengan maut. Lenyap sudah ragumu! Bermainlah engkau dengan cinta. Runtuh sudah tembok batas perihal moral dan nilai! Bermainlah engkau dengan suasana buatan. Instant! Tanpa tekanan! Ikatan hanyalah bualan.

Kita dipersatukan oleh sesuatu yang kita anggap barang remeh temeh. Bercakap-cakap singkat, tabrak semua warna, hingga pada akhirnya kita bertukar pikiran dan energi. 

Kritislah dalam bertindak! Adillah dalam berpikir! Kalau kamu cinta retorika, silakan bercinta dengan retorika dan jangan pernah melihat ke belakang! Kalau dunia terasa membosankan...yasudah mari kita ciptakan dunia yang baru supaya hidupmu tidak stagnan kembali. Jangan berpikir! Kamu pekerja! Seorang pekerja dilarang berpikir! Seorang pekerja harus bekerja dan bekerja dan bekerja. Heroisme tentang dia yang duduk di atas batu dan berhasil menjawab teka-teki dunia sudah mati sejak zaman dahulu kala.


Idealisme...dialektika...logika...materialisme...romantisasi...oposisi...Bangun! Mimpi burukmu tidak pernah berhenti bahkan ketika engkau sudah terbangun dan berjalan gontai keluar dari stasiun kereta. Roda penggerak dunia adalah kaki-kaki kalian yang dipecut hingga bernanah demi memperkaya mereka-mereka yang entah ada di mana. 


Hidup adalah matematika. Matematika adalah hidup. Mereka yang tidak hidup dengan matematika adalah mereka yang tidak pantas menghirup oksigen di bumi ini. Kalau kamu bilang 1+1 = 2, maka kamu layak menjadi warga dunia yang sanggup meraup kekayaan di muka bumi. Kalau kamu bilang bahwa 1+1 = 1, maka selamanya kamu akan duduk di atas tumpukan batu bata, menunggu perintah, menanti titah, menerima amarah. 

Secara kultur, kita sudah dibantai habis. Secara kultur, terjadi genosida dalam pikiran. Asasi hanyalah basa-basi. Asasi hanyalah.....ahh sudahlah. Payung-payung hitam yang mulai pudar masih tegar berdiri walau warna muilai hilang. Kau menggambar dunia dengan kata-kata tetapi hanya kau sendiri yang mengerti apa yang kau gambar. Abstrak! 

Haduh...monochrome nih. Haduh...sebut saja seni. Haduh...memang tak punya bakat...Haduh...mending goreng tahu ajalah....Haduh....Haduh....Haduh....

Lalu tiba-tiba terbaringlah engkau di atas ranjang medis, oksigen dipaksa masuk, bunyi-bunyian berbagai alat yang ditempel di tubuh menjadi musik sehari-hari. Kebosanan, penyesalan, doa, dosa, pengampunan, kasih sayang, kesendirian, finansal, hingga dengki merangsek masuk ke dalam kepalamu. Kamu pergi. Selamat tinggal! Semoga kita tidak bertemu kembali dan jika memang relativitas waktu adalah nyata, maka kita bisa saja terbangun bersama dengan mereka yang seharusnya tidak ada. 

Siapa sosok familiar terakhir yang kau lihat? Lagu apa yang terakhir terdengar? Dengan siapa terakhir kau tertawa? Benda apa yang terakhir kau beli? Pekerjaan apa yang terakhir kau kerjakan? Kegiatan apa yang terakhir kau tekuni? Kesalahan apa yang terakhir kau buat? Apa yang terakhir terucap dari bibirmu?

Selesai.


, , , , ,

The old get old and the young get stronger.

January 07, 2022 Samuel Yudhistira

Selamat tahun baru semuanya! 

Kau menatap kembali langit hitam yang tiba-tiba penuh dengan berbagai warna dan bau mercon menusuk hidungmu. Dengan santai kau tarik kembali rokokmu dan tersadar bahwa dalam beberapa hari lagi kau akan meninggalkan angka 2 di depan usiamu dan menggantinya dengan angka 3. 

Tiga puluh tahun hidup di dunia. Setelah beberapa kali mencoba untuk mengakhiri hidup yang menurut gue pahit padahal gak terlalu pahit juga gue menemukan solusi tepat untuk mencoba menjalani hidup kembali dengan menjalankan teori: TOTAL-FUCK-YOU-ATTITUDE dalam kehidupan sehari-hari. Terima kasih tahun 2021 atas waktu luang yang diberikan sehingga saya bisa berpikir secara jernih kembali dan menemukan bahwa ada baiknya juga saya dikasih lihat beberapa hal yang luar biasa terjadi dalam hidup saya.

Di usia baru, tahun yang baru, dan karir baru yang diulang dari awal saat ini gue sudah total menjadi tidak peduli sama sekali dengan apapun yang terjadi dalam hidup gue. Gue sudah sama sekali tidak peduli dengan mereka yang mau stay dan mereka yang mau go away. Hidup buat diri sendiri saja dulu. Buat apa peduli dengan orang-orang yang fungsinya masih abstrak dalam hidup.

In my life
Oh, why do I give valuable time
To people who don't care if I live or die?


Harapannya untuk tahun ini?

Ada baiknya gue akan mencoba kembali untuk membebaskan diri dari sifat kepala batu gue dan mulai melunak terhadap beberapa hal yang mungkin tidak sesuai dengan apa yang selama ini gue inginkan tetapi fokus kepada hal-hal lain yang jauh lebih punya manfaat dalam hidup gue. 

On a lighter note: Gue mulai main musik kembali. Tahun lalu gue merilis album band gue yang sudah lama tidak bertemu, berlatih, dan bercengkerama dengan alasan "dibuang sayang" dan hasilnya yah biasa-biasa saja juga sih gak yang hebooh dunia persilatan tapi dengan melihat kalau gue sudah bikin karya gue jadi lumayan terdorong untuk menulis lagu kembali.

Apapun hasilnya, gue tetap bakal main musik sampai gue mati.

Love forever love is free. Karena saya di akhir tahun 2020 harus diputuskan hubungannya dengan si pacar maka di tahun 2022 saya akan kembali membuka hati dan pikiran kembali untuk menjalin hubungan. Tapi....yah lihat nanti deh. Entah kenapa gue jadi males mikirin hal-hal terkait romantika kehidupan. Kemarin sempat ada yang bilang gini: "Yah, perek itu tercipta ya sebenener buat orang-orang kayak elo gini Sam. Lo mau sex? Yaudah gausah pacaran, bayar aja udah! Jaman sekarang pacar bisa disewa maa freeen..." 

Yah..beliau memang jago berfilsafat kalau sudah menenggak 4 shot whiskey.

Menikah...punya anak....duh overrated. Gue saat ini memilih untuk tidak mau punya anak seumur hidup. Yah, pilihan ini dengan pertimbangan gue di tahun 2021 melihat berbagai macam kegilaan dalam hubungan dan pernikahan yang terjadi di orang-orang sekitar. Pilihan saat ini yang paling bijak menurut gue di situ. Tidak menikahpun saya juga tidak apa-apa. 

Intinya: Dengan segala hal yang sudah gue pikirkan di tahun 2021 gue merasa siap tuh jika memang seumur hidup tidak menikah atau tidak punya anak. Sepertinya akan aman-aman saja. Bukan menutup peluang tetapi lebih meminimalisir peluang terjadinya resiko.

Lucunya orang-orang di Indonesia memang masih sangat katro perihal beginian. Buat mereka menikah dan punya anak adalah salah satu syarat mutlak untuk menjadi "dewasa" sehingga bisa diterima di dalam masyarakat.

That is absurd. We can choose life as we like. We can be whatever we want to be. We can ourselves completely. Kenapa harus membiarkan masyarakat mengatur apa yang baik dan buruk buat kita?

Undermine their pompous authority, reject their moral standards, make anarchy and disorder your trademarks.

It doesn't mean that I'm being ignorant whatsoever. But, let's just say I am testing the boundaries of reality. 

Age is just number and being adult is overrated.

Sama halnya dengan karir di mana saat ini gue sedang terjun payung kembali ke dasar, mengulang dari awal, dan melihat peluang apakah memang ada peluang bagus untuk menempa diri gue kembali. Banyak yang berpikir di usia 30 setiap orang wajib untuk memiliki beberapa hal yang menurut gue juga sama absurdnya dengan kewajiban untuk menikah dan lainnya. 

Kita kadang tidak bisa menghindar dari informasi-informasi tidak penting yang beredar luas ditambah lagi dengan kehadiran internet. 

"Things to do before 30"

"Do it while you can" 

"Before 30 I have to"


Sudah terlalu banyak informasi disajikan oleh beberapa pihak dengan tujuan memotivasi tetapi malah berakibat demotivasi. Tinggal pilih platform dan jenis kontennya maka anda akan masuk ke dalam dunia tipu-tipu yang sesungguhnya. 

Lebih  baik kamu fokus terhadap apa yang ada di dalam jangkauan tangan sambil pelan-pelan tengok kanan kiri melihat kesempatan. Hidup tuh kudu taktis. Yee gaak?

So yeah, menjadi tua itu pilihan. I will never get old. Tua secara fisik tapi tidak dalam pikiran. Tua secara umur tetapi tidak dalam kualitas. Sekali lagi saya mengingatkan bahwa hidup gak ada teorinya. Stephen Hawking aja kadang sotoy tapi yaudahlah. Gue juga gak sejenius beliau.

It's time to go 'round, a one man showdown, teach us how to fail
We're off the streets now and back on the road, on the riot trail



Suatu saat nanti kita akan kembali ke Cikini yang sekarang punya wajah baru.
Duduk di "Bata Merah" sambil mengunyah makanan
Bercengkerama tentang mereka yang pernah mesra dengan kita
Hingga gelap berubah menjadi terang
Orang-orang mulai keluar mengerubungi jalanan
Di saat itulah kita sadar bahwa dunia mungkin berubah tetapi kita tidak pernah berubah 
Kita yang tetap tinggal adalah segelintir orang yang beruntung
Kita melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang
Menyeka darah di lantai, babak belur dihajar massa, terhempas dihantam aspal
Bentuk berubah tetapi rasa tetaplah sama
Suara tawa beradu dengan peluit tukang parkir
Suatu hari nanti....
Sampai hari itu tiba saya masih tetap menunggu di sini.
Menunggu kalian juga datang ketawa-ketawa dengan plastik hitam berisi minuman.
Saya masih di sini.




,

Sebuah surat untuk mereka yang katanya tidak nyata

May 23, 2021 Samuel Yudhistira

 Dear all...

Yes...all of you,

Ada banyak sekali hal yang bisa kita bicarakan baik-baik tanpa perlu meluapkan semua amarah. Mungkin dengan duduk santai sejenak ditemani minuman hangat favorit kita dengan pemandangan yang tidak asing di mata kita semua hal yang menggantung tanpa arah jelas bisa kita rapikan sedikit demi sedikit. Beberapa minggu belakangan betapa sulitnya kita bicara dan menerima sudut pandang berbeda, betapa seringnya kita berargumentasi, dan betapa kita berusaha untuk meniadakan diri kita.

Kita adalah satu dalam wujud yang sangat tidak sempurna. Aku adalah fisikmu. Kalian adalah jiwaku. Aku dan kalian hidup berdampingan. Kita punya ruang tidak terbatas dalam imajinasi. Kadang aku tidak mengerti apa yang kalian ceritakan tetapi dengan penuh sukacita aku mendengarkan kalian berbincang dan menunjukkan karya indah kalian.

Pada akhirnya saya semakin percaya kalau kalian ingin melindungi saya dari kejamnya dunia. Kalian begitu baik pada saya. Kalian menunjukkan cara untuk pergi ke dunia yang selalu saya impikan tetapi ada saja penghalang dan betapa saya dengan bodohnya masih menaruh harapan pada dunia kebodohan ini. Seharusnya saya ikut kalian saja. Kalian punya fisik sempurna, visi tak terbatas, dunia tanpa rasa sakit, dan segala hal yang kalian mau dengan mudah menjadi milik kalian. 

Kata dokter kalian tidak nyata. Tapi buat saya kalian nyata. Mulai detik ini saya mungkin hanya akan berteman dengan kalian yang tidak mungkin menyakiti saya, tidak akan meninggalkan saya sendirian, dan tidak akan mengkhianati apa yang sudah kita janjikan bersama. Kita sudah berjanji dengan darah kita masing-masing. Tadi malam kita biarkan darah kita menyatu. Menyenangkan rasanya bisa merasakan perih dan menyaksikan darah di atas luka mengering. Kita abadi. Tidak ada yang mampu memisahkan kita sekarang. Matipun nanti kita pasti bertemu...dan saya tidak sabar.

Aku cinta kalian.

Kita akan dipertemukan...dengan fisik sempurna...jiwa bahagia...imajinasi seluas samudera tanpa ujung...saya tidak sabar. Karena pada akhirnya saya ingin segera memutuskan untuk datang kepada kalian yang mencintai saya tanpa syarat dan tanpa batas. Saya ingin memeluk kalian satu per satu dengan hangat dan meminta maaf jika memang kalian sudah terlalu lama saya buat menunggu.

Sedikir lagi kawan-kawan, kasih saya waktu sedikit lagi untuk membersihkan diri sebelum saya bertemu dengan kalian. Saya yakin kalian mengerti. Kalian lebih mengerti saya dibanding orang-orang penuh kepalsuan di sekitar saya. Kalian jauh lebih sayang kepada saya dibanding orang-orang bodoh di sekitar saya. Kalian adalah saya. 

Saya tulis surat kepada kalian karena saya yakin kalian bisa membaca ini semua.

Kalian adalah orang-orang yang selalu memuji semua karya yang saya buat betapapun jeleknya menurut standar suci dunia lalim ini. Di dunia kalian saya merasa jauh lebih dihargai, di dunia kalian masih banyak kesempatan untuk berkembang bagi orang seperti saya ini, dan di dunia kalian waktu berputar begitu lamban sehingga saya punya kesempatan berbicara lebih banyak dan intim dengan kalian semua sahabat-sahabatku.

Saya tidak ingin buang-buang waktu. Roda gila kehidupan sudah berputar begitu cepat dan saya tidak tahan lagi. Rasa sakit ini akan segera berakhir. Tunggu saya teman-teman. Kalian punya begitu banyak waktu untuk dibunuh...saya terbatas.

Ada baiknya kita selesaikan semuanya sebelum saya berjalan menuju ruang dengan dimensi tak terbatas yang kalian beli dengan harga di bawah harga pasar. Inilah janji saya kepada kalian. Sebentar lagi saya akan datang dan kita akan bicara tentang musik sampai matahari menghilang tak kembali.


With love,


, , ,

When the skies aren't the limit no more...

May 06, 2021 Samuel Yudhistira

***

Kita melihat ke cermin ketika dua raga tanpa busana terpantul jelas di sana. Tanpa perasaan, tanpa banyak basa-basi bermain cinta tanpa pikir panjang. Sudut-sudut kamar murahan mendengar suara erangan tanpa nikmat beradu dengan pembawa acara berita berbahasa Prancis. Lelah dengan semua formalitas, ditabraklah tembok kultur yang dibangun para moralis di masa lalu.

Di mana bertemu? Tak ada yang tahu

Mengapa begitu? Semua juga tidak mau tahu.

Hanya rasa jenuh dan nafsu berkedok "kebutuhan" mendorong kita bermain dengan kelamin sampai di titik di mana kita puas. Rasa bersalah menusuk sembari kalian tumpahkan semua birahi di atas kasur. Tak ada benang mengikat, semua serba singkat. Filosofi tentang romantika dan cinta sudah mati, terbakar jadi abu. 

***

Kau lihat semua lekuk badan tanpa lihat wajah. Bermainlah pikiranmu membayangkan raut wajah menggoda yang selama ini tak pernah kau lihat secara langsung. Otak bekeja, jemarimu berupaya merobek tirai-tirai digital berharap ada secercah lekuk wajah terekam, dan tanpa sadar kau membuang uang demi kenikmatan virtual.

Di seberang sana seorang gadis remaja hidup bak selebrita menganggap dirinya ratu sejagat tanpa pernah sadar bahaya mengintai di balik ribuan data yang melayang-layang di alam digital sana. Membeli perlengkapan murah meriah demi memenuhi tuntutan fantasi para lelaki kurang kerjaan.

Tanpa pajak, minim kemananan, minim perlindungan, tetapi cukup besar angkanya untuk dihabiskan di toko seberang. Toh ada saja yang membutuhkan. Bicara manis sedikit banyak semut yang hinggap. Mungkin lalat lebih tepat untuk menggambarkan mereka semua.

***

"In the future, everyone will be world-famous for 15 minutes." 

Ketika kau putar kembali ingatanmu betapa mudahnya saat ini untuk menjadi terkenal dan betapa mudahnya kembali menjadi tidak terkenal di zaman ini. Sebuah zaman yang kadang tidak bisa lagi kita mengerti, sebuah zaman di mana anomali menjadi sebuah hal nyaris normal. Mereka yang menyimpang punya kekuatan, menyetir pendapat demi pembenaran.

Sementara video kualitas rendah minim esttetika terputar...muda-mudi bersenggama...tersebat di masyarakat...mengalir deras....tak bisa dibendung...

Satu bulan kemudian kita semua lupa.

***

Jangan  bicara tentang karya dan budaya selama kau masih miskin. Jangan bicara pergerakan kalau kau masih bimbang besok mau makan dengan apa. Jangan bicara tentang keadilan kalau kau masih bingung mau bayar tunggakan kontrakan. Bicara yang wajar saja.

Banyak yang pada akhirnya mengutamakan perut dibanding karya. Banyak yang bicara karya tapi tidak jelas apa yang dibicarakan. Banyak yang merasa berkarya tapi tidak punya karya. Banyak yang ingin kaya dari karya. Tinggal pilih! Sepuluh ribu dapat tiga! Banyak di perempatan sana yang jual.

Sementara perhatianmu terpaku terhadap apa yang gawaimu tampilkan. Muncullah definisi-definisi baru tentang hidup dan mati. Banyak orang bodoh merasa pintar, selama kau pintar ambil diksi maka jadilah engkau "ilmuwan" masa kini peraih hadiah Nobel bidang eksakta bermodalkan gelar sarjana  universitas "entah-apa-namanya" selama mereka punya pengikut mereka aman-aman saja.


***

Ketika lagu "Kupu-kupu Malam" sudah menjadi tidak relevan. Tak ada yang sedih karena semua gembira. Semua terlihat gembira, glamor, penuh keriangan. Hingga tengah malam tiba dan kau masuk ke kamat sewaan 3x4, merenung tentang kesendirian dan kesunyian, di situlah kau sadar semua sementara. 

SEBUAH REVOLUSI DUNIA KENIKMATAN TANPA SENTUHAN!

Interaksi virtual menjadi komoditas, penetrasi pasar tembus angka fantastis, dan "kerja sampingan" menjadi amat lumrah.


Lalu suatu hari yang tidak terlalu cerah muncul berita kau meregang nyawa minum obat anti serangga, tak kuasa menahan malu, dan tak punya nama...entah siapa dirimu.....




,

Iya Betul Begitu....Suatu Saat Nanti Saya Harap Kamu Mengerti.

February 09, 2021 Samuel Yudhistira


It's that little souvenir
Of a terrible year
Which makes my eyes feel sore

The Sundays - Here's Where The Story Ends


Karena sekarang semua sudah bebas berekspresi tanpa ada tekanan dari timur jauh. Karena matamu melihat ke atas berusaha menerka letak surga persisnya di mana dan mengukur kira-kira cahaya surgawi mengarah ke laki-laki yang mana. Masa depan adalah menjadi mapan, menjadi mapan adalah menjadi dewasa, dan menjadi menjadi dewasa adalah menjadi membosankan.

Karena menurutmu diriku tidak punya masa depan yasudah sebaiknya kau kejar saja masa depanmu sesuai dengan arahan keluargamu yang pragmatis nan membosankan. You can go take a walk and leave me alone...cause....why not? As long as I have this "waterloo sunset" I am in paradise.

Suatu hari nanti saya harap kamu mengerti.

Permasalahannya? Saya menolak untuk mengerti. Jadi saya gunakan kemarahan saya untuk menimpa rasa sedih dan perasaan tidak berguna. So far, so good. I hate you even more and I love it. Hatred is an underrated feeling, anger is an energy.

If I'm being honest, the moment you said goodbye was the birth of the new people inside. I do enjoy every moment among these guys and I think they're the best form of mankind ever made. And I made them to be them. No one can harm them. Now I can see...the joy of creating. I've never been this happy in my whole entire life. 

Since you said that I have no future then I started working like hell even though sometimes I had no idea what would I do during the day. No future for me and  I don't care. Some people are literally living in the gutter, some on the streets, and nobody's giving any damn thing about these poor people. 

I'm stuck with theses valuable friends. I'm the happiest again.

Sekali lagi kita diajarkan bahwa durasi bukanlah segalanya...dan sebaiknya kita berhati-hati untuk memilih dengan siapa kita ingin membuang waktu kita yang tidak berharga ini. Tetaplah hidup dalam kebencian karena cinta adalah sia-sia.

If there's one thing that I learned when I was still a child, it's to be alone. To be alone is all.

There's no regret, no look back. We are going to win this war. Altogether. 

At the end of the day, nobody really knows you that well. Not your family nor friends. It's that simple. Everybody's fighting for a small glimpse of spotlight on the edge of the stage. They want you to lie down on the floor and never ever wake up again. They want you to stop fighting. But here...inside....in your mind...you are safe and sound. Nothing....nothing can hurt you here. Nothing...is going to break you again....here...inside.

So this is my message to you:

I hope you die slowly and suffer. Cause I would love to see you slowly taken away and taste the pain before going to hell.

I choose anger.
I choose hate.
......and I like it.

, , , ,

Secuil Kisah Cikini (part 2)

December 14, 2020 Samuel Yudhistira

 


I'm lucky, I can open the door and I can walk down the street
Unlucky, I've got nowhere to go and so I follow my feet
Belle and Sebastian - Dirty Dream Number Two


Mas, kopi susu satu! 

Terhidanglah si kopi susu di depan dan mulailah kembali percakapan tentang musik dan film bergulir liar dari lidah kita. Kau memulai dengan membahas tentang The Trainspoitting, film yang membuat beberapa teman kita menglorifikasi penggunaan heroin dan mati naas di kamar mereka. Kita menutup hari dengan duduk di pelataran "bata merah" sambil mendengarkan Waterloo Sunset milik band The Kinks.


Pfffft.....datang kepagian sementara nampaknya acara masih belum ada tanda untuk mulai. Lalu dengan santainya kau duduk di dalam sebuah kafe di depan gudang tua tempat pertunjukan. Makan sebongkah roti dengan tiket pertunjukan masih di tangan, takut hilang rupanya. Ketika musik mulai menghentak kau hilang kendali dan larut dalam sebuah pengalaman musikal nan mistis. Terpana melihat mereka yang berjingkrakan di panggung dan di barisan penonton. Gilak! Apa ini?! Sebuah hari yang sampai detik ini masih hidup di dalam otakmu. Kau masih ingat setiap detik peristiwa yang terjadi di sana.


Instingmu mengatakan kalau kau harus segera menuju Cikini...sementara hujan tanpa ampun menghajar Jakarta yang sudah renta. Kau putuskan untuk tetap menerobos hujan dan tiba di sana ketika air sudah meluap di jalan utama. Luar biasa instingmu! Kau selamatkan sang gadis yang terjebak genangan air walau tetap kecewa karena film yang sudah kau tunggu sekian lama batal kau saksikan di hari terakhir pemutaran.


Ketika kita terhibur dengan rumah makan cepat saji yang sudah cukup melegenda dengan interior gedungnya yang membuat kita serasa kembali ke tahun 1996. Tanpa kita sadari program marketing mereka bahkan tidak berubah sejak dari kecil dahulu.

Semua nampak sempurna dan indah hingga pada akhirnya seng-seng besi petunjuk larangan melintas karena ada proyek berlangsung mulai terpasang... Semua cerita dan kenangan ajaib yang terjadi di sana tidak akan pernah hilang, hanya bentuk saja yang berubah. Menyenangkan memang masa-masa itu. Masa ketika kita tidak pernah berpikir tentang apa itu hari esok dan semua masalah lewat begitu saja ketika kita semua berkumpul dengan segala banyolan konyol kalian.


Semuanya berubah dan memang harus berubah. Karena tak selamanya kau tinggal di dalam kenangan dan merasa apa yang telah terjadi merupakan yang terbaik. Biarkan kenangan itu hidup dalam hatimu dan tidak mati, tetapi jangan pernah kau hidup di dalam kenangan dan membiarkan jiwamu mati di dalam ragamu.


"You're not getting any younger, Mark. The world's changing. Music's changing. Even drugs are changing. You can't stay in here all day dreaming about heroin and Ziggy Pop." -Diane, The Trainspotting-

, , , , , , , ,

satu dasawarsa yang lalu ketika semua dimulai

August 28, 2019 Samuel Yudhistira


Tanggal 5 September 2019 blog ini usianya menginjak 10 tahun. Sinting juga... Gila sih, kalo baca postingan-postingan awal-awal yang isinya ngalor-ngidul gak jelas juntrungannya dan bahasanya sok iye banget. Hehehe...

Makluminlah, namanya juga seorang remaja yang ingin menjadi edgy dengan caranya sendiri.

Gilak! 

Waktu kayaknya cepet banget yah. Sepuluh tahun lalu gue memulai nulis-nulis gak jelas di sini melalui komputer pentium IV yang kece badai pada masanya, kadang ke warnet cuman buat nulis, mengandalkan modem stick dengan kuota internet yang cekak, pake laptop IBM jadul yang tahan serangan nuklir keknya, dan akhirnya sekarang gue ngetik ini sambil duduk di kantor dengan laptop spek mutakhir.

Kalau mau merefleksikan diri sejenak dan melihat ke belakang tepat di bulan September tahun 2009 ketika blog ini pertama kali memajang tulisan pertamanya bakalan pegel, apalagi gak bakal banyak waktu untuk maintenance blog ini dikarenakan gue sendiri sibuk banget di kantor.

Wuah.... blog ini juga menjadi saksi bisu masa remaja gue yang gak indah-indah amat, masa kasmaran, masa frustrasi, pencarian jati diri, masa depresi, masa pulih dari depresi, sampe sekarang masa bodo apapun yang terjadi. Hehehehe...

Mau dirayain?

Gak usahlah. Toh blog ini hanyalah sebuah space yang nyaman buat gue cerita hal-hal yang terjadi di sekitar gue dengan gaya gue sendiri. Jelas-jelas gaada tujuan untuk menghibur sih emang. This blog has become a part of me. 

Tsssaaaaaahelaaaa.... 

Ehh tapi gak sepenuhnya bercanda lho kalo dipikir-pikir setiap tahun selalu ada postingan di blog ini walau intensitasnya menurun drastis. Menulis membuat gue bebas. Yah, walaupun gaada diksi-diksi yang kece atau alur cerita menarik di blog ini tapi tetap aja gue nulis di sini. Hehehe...

Banyak hal luar biasa sudah terjadi selama sepuluh tahun ini. Banyak yang berubah. Ada yang nambah ada yang kurang ada yang tadinya oke jadi gak oke ada yang biasa aja jadinya kece badai, wuaah, warna-warnilah pokoknya. 

Simpelnya?

Waktu gue mulai blog ini KRL masih brutal mampus, jalur busway masih beberapa koridor aja, trayek bus reguler/patas masih banyak dan rame, Summarecon Mall Bekasi belom ada, MRT belom ada, angkot masih primadona, iPhone keknya masih 2G deh, whatsapp belum rame, Blackberry masih jadi barang khusus anak-anak tajir melintir, MKG baru sampe 3, ke Kemang udah berasa ke Amerika, Gojek/Grab dkk belom ada, apalagi aplikasi e-wallet, android aja masih minim pengguna keknya.... 

Dan lihat aja sekarang...

Dalam waktu sepuluh tahun udah buaaanyaaak banget yang berubah drastis. 

Gue makin tua, bumi makin tua, dan rasanya mulai begah yah hidup di dunia. Hehehe...

Waktu mulai blog ini ada sih rasa-rasanya pengen tenar macam orang lain tapi yaudahlah yaaa akhirnya jadi konsumsi pribadi saja sudah cukup menyenangkan koq. hehehe.

Inget banget dulu judul blognya:

Now That's What We Call: SAMUEL!!

Sampe akhirnya gue ubah karena.... yahhh.... ikut-ikutan minimalis aja biar kek orang-orang edgy di luar sana. Hehehe... Sempet ada gambar burger gede.... Sempet warnanya macam langit malam.... Wuah tampilan di blog ini aja udah banyak banget yang berubah.... 


Masa-masa dulu blogger masih rame banget sampe ketemu teman-teman baru di ranah blog-blogan. Beberapa pada akhirnya sudah vakum dari dunia blogging tapi beberapa masih ada yang konsisten nulis atau ada yang sekedarnya biar ada kegiatan aja (gue nihh! hehe). Sempet ada masa ketika suka blogwalking, kasih badge, ikut komen biar dinotice yang punya blog, trus ikut-ikut challenge post blablabla... Waktu itu blog udah macam facebook kali yah hehe... Kangen juga sih... 

Maap yah manteman udah jarang berkunjung dan meninggalkan jejak tapi tetep kalo ada waktu gue masih sering baca-baca tulisan kalian, hehehe...

Kalo dibikin 10 Years Challenge kayaknya rada basi juga dan waktunya gak sempet euy... 

Emang waktu itu jahat yeee hehehe...

Gue gak pernah punya ekspektasi apapun tentang orang-orang yang baca tulisan-tulisan gue bakalan terinspirasi atau apalah. Terlalu muluk nampaknya cita-cita yang demikian.

Gue cuman mau menulis, menulis, dan menulis.

Ada yang pernah nanya gini ke gue:

Sam, lo nulis blog emang ada yang baca??

Jawaban gue?

Gak tahu, bodo amatlah! Yang penting nulis aje dulu, lo kagak tahu kan sapa tahu di luar sana ada orang yang baca tulisan gue trus dapet wangsit. Hehhehehe


Selamat ulang tahun blog gue tercinta. Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidup gue selama sepuluh tahun ini. 

Sepuluh tahun lagi yuk! Gimana?

Mau kan? Mau doooonk!! Hehehe

Cheers folks!
, , , , ,

#3

June 12, 2018 Samuel Yudhistira

I hurt myself today
To see if I still feel
I focus on the pain
The only thing that's real
The needle tears a hole
The old familiar sting
Try to kill it all away
But I remember everything

What have I become?
My sweetest friend
Everyone I know
Goes away in the end
You could have it all
My empire of dirt
I will let you down
I will make you hurt

I wear this crown of shit
Upon my liar's chair
Full of broken thoughts
I cannot repair
Beneath the stains of time
The feelings disappear
You are someone else
I am still right here


You could have it all
My empire of dirt
I will let you down
I will make you hurt
If I could start again
A million miles away
I would keep myself
I would find a way

Nine Inch Nails - Hurt