When the skies aren't the limit no more...

***

Kita melihat ke cermin ketika dua raga tanpa busana terpantul jelas di sana. Tanpa perasaan, tanpa banyak basa-basi bermain cinta tanpa pikir panjang. Sudut-sudut kamar murahan mendengar suara erangan tanpa nikmat beradu dengan pembawa acara berita berbahasa Prancis. Lelah dengan semua formalitas, ditabraklah tembok kultur yang dibangun para moralis di masa lalu.

Di mana bertemu? Tak ada yang tahu

Mengapa begitu? Semua juga tidak mau tahu.

Hanya rasa jenuh dan nafsu berkedok "kebutuhan" mendorong kita bermain dengan kelamin sampai di titik di mana kita puas. Rasa bersalah menusuk sembari kalian tumpahkan semua birahi di atas kasur. Tak ada benang mengikat, semua serba singkat. Filosofi tentang romantika dan cinta sudah mati, terbakar jadi abu. 

***

Kau lihat semua lekuk badan tanpa lihat wajah. Bermainlah pikiranmu membayangkan raut wajah menggoda yang selama ini tak pernah kau lihat secara langsung. Otak bekeja, jemarimu berupaya merobek tirai-tirai digital berharap ada secercah lekuk wajah terekam, dan tanpa sadar kau membuang uang demi kenikmatan virtual.

Di seberang sana seorang gadis remaja hidup bak selebrita menganggap dirinya ratu sejagat tanpa pernah sadar bahaya mengintai di balik ribuan data yang melayang-layang di alam digital sana. Membeli perlengkapan murah meriah demi memenuhi tuntutan fantasi para lelaki kurang kerjaan.

Tanpa pajak, minim kemananan, minim perlindungan, tetapi cukup besar angkanya untuk dihabiskan di toko seberang. Toh ada saja yang membutuhkan. Bicara manis sedikit banyak semut yang hinggap. Mungkin lalat lebih tepat untuk menggambarkan mereka semua.

***

"In the future, everyone will be world-famous for 15 minutes." 

Ketika kau putar kembali ingatanmu betapa mudahnya saat ini untuk menjadi terkenal dan betapa mudahnya kembali menjadi tidak terkenal di zaman ini. Sebuah zaman yang kadang tidak bisa lagi kita mengerti, sebuah zaman di mana anomali menjadi sebuah hal nyaris normal. Mereka yang menyimpang punya kekuatan, menyetir pendapat demi pembenaran.

Sementara video kualitas rendah minim esttetika terputar...muda-mudi bersenggama...tersebat di masyarakat...mengalir deras....tak bisa dibendung...

Satu bulan kemudian kita semua lupa.

***

Jangan  bicara tentang karya dan budaya selama kau masih miskin. Jangan bicara pergerakan kalau kau masih bimbang besok mau makan dengan apa. Jangan bicara tentang keadilan kalau kau masih bingung mau bayar tunggakan kontrakan. Bicara yang wajar saja.

Banyak yang pada akhirnya mengutamakan perut dibanding karya. Banyak yang bicara karya tapi tidak jelas apa yang dibicarakan. Banyak yang merasa berkarya tapi tidak punya karya. Banyak yang ingin kaya dari karya. Tinggal pilih! Sepuluh ribu dapat tiga! Banyak di perempatan sana yang jual.

Sementara perhatianmu terpaku terhadap apa yang gawaimu tampilkan. Muncullah definisi-definisi baru tentang hidup dan mati. Banyak orang bodoh merasa pintar, selama kau pintar ambil diksi maka jadilah engkau "ilmuwan" masa kini peraih hadiah Nobel bidang eksakta bermodalkan gelar sarjana  universitas "entah-apa-namanya" selama mereka punya pengikut mereka aman-aman saja.


***

Ketika lagu "Kupu-kupu Malam" sudah menjadi tidak relevan. Tak ada yang sedih karena semua gembira. Semua terlihat gembira, glamor, penuh keriangan. Hingga tengah malam tiba dan kau masuk ke kamat sewaan 3x4, merenung tentang kesendirian dan kesunyian, di situlah kau sadar semua sementara. 

SEBUAH REVOLUSI DUNIA KENIKMATAN TANPA SENTUHAN!

Interaksi virtual menjadi komoditas, penetrasi pasar tembus angka fantastis, dan "kerja sampingan" menjadi amat lumrah.


Lalu suatu hari yang tidak terlalu cerah muncul berita kau meregang nyawa minum obat anti serangga, tak kuasa menahan malu, dan tak punya nama...entah siapa dirimu.....




Comments