Showing posts with label noise. Show all posts
Showing posts with label noise. Show all posts
, , , , , , ,

Hahawall - Lost (2018)

November 22, 2018 Samuel Yudhistira


Gue kyanya kebanyakan membahas soal album-album musik yang gue suka tapi band gue sendiri gak pernah gue bahas di sini. Lost adalah judul E.P. kedua dari Hahawall setelah sebelumnya merilis E.P. bertajuk Beautiful Day dalam format kaset di bawah naungan label independen Pita Hitam Records.

Mini album kedua ini banyak dibilang lebih sangar, berisik, noise, dan elemen-elemen rusuhnya lebih kaya daripada E.P. pertama. Well, ini kan menurut orang-orang.

Gue sendiri baru tergabung dengan Hahawall tahun 2016. Sebelumnya, gue sering sepanggung sama mereka di beberapa acara dan kenal dengan Bayu, vokalis/bassist Hahawall yang kebetulan waktu itu bekerja sebagai graphic designer paruh waktu di sebuah perusahaan media. Setelah band gue, Bising Kota bubar jalan gue diajak Bayu buat gabung dengan Hahawall yang pada waktu itu baru saja ditinggal gitarisnya.

Singkat cerita, gaya bermain gue yang bluesy rada gak masuk dengan karakter musik Hahawall yang lebih banyak dipengaruhi band-band noise dan shoegaze. Walhasil gue harus belajar ulang demi memenuhi standar musik mereka.

Kebetulan yang menyenangkan, ternyata selera musik mereka gak beda jauh sama gue. Kita sama-sama suka The Velvet Underground, Sonic Youth, My Bloody Valentine, dan Chelsea Light Moving. Mungkin karena taste yang gak beda jauh ini menyebabkan gue akhirnya mudah untuk mengubah gaya bermain gitar gue dan blend in dengan mereka.

Selama bergabung dengan Hahawall gue banyak ngulik riff-riff dan tone yang jauh dari kebiasaan gue. Secara umum, gue belajar ulang main gitar.

Okey, mari kita bahas album ini.


69
Album ini dimulai dengan hentakan pelan yang tiba-tiba berubah rusuh ketika kedua gitar masuk. Lagu ini sungguh amat cocok dijadikan pembuka album yang berisik ini. Liriknya? Wahduh gajauh-jauh dari pengaruh alkohol dan substansi.

Yah, kira-kira begitulah. Namanya juga anak muda. hehehe

Bearing a fall, it's gonna keep the rail.
You gotta get it on!
Bearing a fall, it's gonna keep the rail.
You gotta get it on! 

Lost
Lagu kedua diawali dengan teriakan depresif dan langsung dihajar riff keras dan ketukan drum yang cepat. Uedan! Lagu ini macam naik roller coaster. Cepat, pelan, sedang, pelan, cepat, tiba-tiba super cepat di beberapa bagian. Enak nih sambil headbanging di deket ampli. 

The lamp is so dumb
a fuckin' dumb
a really dumb
Today/Fade Away
Nah, ini adalah single pertama dari E.P. ini. Lagu ini merupakan salah satu lagu paling rumit yang ada di album ini. Intronya menyajikan harmonisasi gitar dan bass dengan riff yang aneh bin ajaib. Ketukan stagnan sepanjang lagu tiba-tiba berubah cepat. Wah, ternyata pengaruh punk-nya belum pudar, hehehe. 

Lagu ini masih bercerita tentang kondisi seorang dalam pengaruh substansi. Hadeh... 

Di akhir lagu benar-benar menampilkan suasana chaos yang berisik tapi tetap menyenangkan untuk didengarkan. Banyak elemen-elemen yang mengejutkan di lagu ini.



Wasted
Yak, dari judulnya saja sudah ketahuan lagu ini tentang apa. Tidak perlu dijelaskan lebih jauh. Cukup dinikmati saja. Lagu ini menjadi single kedua dari album ini dan mendapat banyak respon positif karena dinilai berbeda daripada lagu-lagu lain di album ini. Yap! Setuju! Bahkan gue sebagai personil bandnya juga sangat suka dengan lagu ini. Cepat, berisik, gapake basa-basi, dan enerjik! Video klipnya sudah bisa dilihat melalui kanal streaming Youtube.



Merah

Lagu terakhir di album ini dan merupakan satu-satunya lagu berbahasa Indonesia. Awalnya lagu ini cuman jamming-jamming noisy gak keruan yang biasanya kita bawain kalo manggung. Muncul ide unik untuk memasukkan unsur vokal nyeleneh. Lalu kita mulai berpikir kira-kira siapa yang cocok untuk mengisi vokal di lagu ini. Pilihan jatuh ke Bofag the Deadwhore. Yoi, doi adalah vokalis band Barbars dan Seek Six Sick. Kebetulan gue kenal sama orangnya dan langsung kita ajak buat ngisi vokal di lagu ini. Untunglah doi ternyata mau bantuin kita buat ngisi vokal di lagu ini.Hasilnya? Gilak! Keren mampus! Versi tanpa vokal bisa didengerin di kompilasi Popcore vol. 10 yang dirilis secara terbatas.

Lagu ini merupakan single ketiga dari album ini dan video klipnya sudah ada di Youtube.



Begitulah, ini karya gue dan teman-teman di Hahawall. Waktu band gue bubar gue sempet putus asa pengen ngeband lagi tapi gapunya temen dan ternyata Hahawall menjadi tempat gue buat mengekspresikan sisi musikal gue. 

Be there, we'll make you deaf!


, , , , , , , , ,

Psychocandy.

September 12, 2017 Samuel Yudhistira
Pills to wake you up.
Pills to help you sleep.
Pills to help you stay at night.
Pills to feel happy.
Pills to feel sad.
Pills for breakfast.
Pills for lunch.
Pills for dinner.
Pills to help you laugh.
Pills to help you cry.
Pills to help you to be yourself.
Pills to help you to be a superstar.
Pills to help each other.
Pills to fight the horde.
Pills to sing.
Pills to scream.
Pills to live.
Pills to die.

Kau berbicara kepada langit di malam hari.
"Mereka tuli! Mereka bisu!"

Kau berbicara kepada pisau dapur.
"Ayo kita bervakansi bersama. Bawa aku ke taman hiburan abadi,"

Kau berbicara kepada tali tambang yang tergantung di teralis jendela kamarmu
"Mari menghilang. Jangan pernah percaya kepada retorika. Bahkan Socrates pun masih bisa tertawa ketika dipaksa minum racun,"

Kau berbicara kepada mobil-mobil yang berlarian kencang di Jalan Thamrin sana.
"Terpaksa kujilat ludahku kembali. Kubiarkan kalian yang menentukan hasil akhir"

Kau berbicara kepada tembok kumal penuh coretan di kamarmu.
"Merah! Merah! Merah! Kubiarkan bau amis darah memenuhi ruangan penuh roh jahat ini!"

Kau berbicara kepada cairan obat anti serangga.
"Mari minum darah seperti minum anggur. Kita akan abadi dalam kemudaan kita,"

Kau berbicara kepada pecahan botol di sudut ruangan. Dari ujungnya darah segar menetes.
"Kubiarkan kalian meninggalkan tanda di tubuhku supaya mereka sadar akan perbuatan mereka,"

Kau berbicara kepada pil-pil di tangan kirimu dan segelas air di tangan kananmu.
"Usir hantu di kepalaku. Akan kubuat perusahaan kalian kaya dan kudoakan dia yang menemukan formula kalian masuk surga di mana tidak ada depresi, tidak ada obsessive disorder, tidak ada schizophrenia, tidak ada manic depressive, tidak ada OCD, tidak ada mental disorder, tidak ada paranoid, dan tidak ada lagi dunia di mana rasa sakit merupakan kesenangan,"



Jakarta, 12 September 2017


Berdasarkan pengalaman pribadi.

Judul postingan gue ambil dari judul album salah satu band favorit gue: The Jesus and Mary Chain - Psychocandy. Salah satu album favorit gue yang gue selalu dengerin di masa-masa hancur lebur berantakan. 

Sekarang sudah jauh lebih baik dibanding masa-masa menjengkelkan waktu itu.

Kalo mengutip lirik lagu The Grateful Dead - Touch of Grey:

I will get by
I will get by
I will get by
I will survive

Tetaplah hidup.

, , , , , , , ,

The Velvet Underground - White Light/White Heat (1968)

January 31, 2017 Samuel Yudhistira
Watch that side, watch that side don't you know it gonna be dead in the drive.

Setelah album pertama mereka yang diproduseri oleh Andy Warhol gagal dari sisi penjualan, The Velvet Underground mengalami gesekan dengan Andy Warhol dan sudah jelas kerja sama mereka berhenti sampai di sana. 

Jadwal panggung tetap berjalan dan improvisasi berisik mereka di panggung turut membangun embrio untuk materi di album kedua yang menurut gue sangat layak untuk didengarkan. Sebuah album yang memperoleh peringkat 293 dari 500 album terbaik sepanjang masa oleh majalah Rolling Stone.

Album ini kotor,berisik,pengang,membingungkan,nyeni,eksentrik,tidak jelas,nyeleneh, dan tidak punya arti. Itulah statement yang sudah sangat jamak beredar ketika membahas tentang album ini. Buat gue album ini canggih bukan main. Makanya waktu ngeliat CD album ini di sebuah toko musik tanpa pikir panjang gue langsung merogoh kantong untuk memboyong album ini. 

First time I heard this album was in my noisy college  day. I was so confused and I thought this album made while they high or something. 

"Gilak! Kenapa orang-orang ini kepikiran bikin album macam ini sih," kira-kira begitulah pendapat pertama gue setelah mendengarkan album ini.

Warisan dari album ini bisa kita dengarkan pada band-band seperti Joy Division,Buzzcocks,New Order,Television,Sonic Youth, sampai Chelsea Light Moving.

Attitude berisik yang mereka tunjukkan di album ini juga turut memberikan andil pada perkembangan musik noise,punk,sampai experimental rock. Bisa dilihat di lagu "The Gift" mereka mengiringi pembacaan sebuah cerita pendek dengan musik yang penuh feedback dan distorsi berisik selama 8 menit lebih. Atau pada lagu berdurasi 17 menit lebih penuh eksperimen berjudul "Sister Ray" yang sempat menjadi anthem depresi gue pada masa dulu. 

"Sister Ray" mungkin lagu yang paling memusingkan di album ini. The song concerns drugs use,homosexuality,violence, and transvestism. Lou Reed dalam sebuah interview bahkan pernah berujar, "Sister Ray' was done as a joke—no, not as a joke—but it has eight characters in it and this guy gets killed and nobody does anything. It was built around this story that I wrote about this scene of total debauchery and decay. I like to think of ‘Sister Ray' as a transvestite smack dealer. The situation is a bunch of drag queens taking some sailors home with them, shooting up on smack and having this orgy when the police appear."

Sebuah statement yang menurut gue sangat Lou Reed.

Lagu-lagu lain di album ini seperti "White Light/White Heat" atau "I Heard Her Call My Name" juga memberikan warna musik yang luar biasa abstrak dan berisik dengan lirik yang sangat tidak biasa.

Walau tetap secara penjualan album ini tetap tidak laku (seperti juga semua album yang mereka rilis) tapi album ini seperti sebuah pencerahan bagi generasi-generasi musik selanjutnya. Lirik-lirik transgresif secara sosial dan menantang album-album yang populer di masa itu dengan musik mereka. 

Tanggal 30 Januari 1968 album ini dirilis dan tepat hari ini merayakan ulang tahun yang ke 49 tahun. Wow! Usia yang cukup tua untuk sebuah album "underground" yang masih memberikan pengaruh masif di kalangan seniman dan musisi secara khusus. Masih dirilis ulang dalam berbagai format dan tentu saja kualitas suara yang lebih jernih dibanding sebelumnya. 


Daytime fantasies of sexual abandon permeated his thoughts.
And the thing was, they wouldn't understand who she really was.
The Velvet Underground - The Gift