Showing posts with label the strokes. Show all posts
Showing posts with label the strokes. Show all posts

Finally...The Strokes!

August 04, 2023 Samuel Yudhistira


Lo dateng The Strokes gak?

Beberapa pesan singkat dengan pertanyaan yang sama (walau beda cara) mulai masuk terus-menerus menjelang kedatangan band yang dahulu kala sukses membuat saya percaya diri (sedikit) buat main musik.

Sebuah pertanyaan yang mungkin dengan sangat mudah gue jawab: YA!!

Beberapa tahun silam, entah di tahun berapa pertama kalinya gue terekspos dengan musik-musik yang mereka ciptakan. Awalnya dengan kuping gue yang terbiasa high gain tinung-tinung buat gue ni rada aneh ni band. Tapi semua berubah ketika gue menyaksikan video klip mereka yang You Only Live Once di rumah seorang kawan. Woah...keren euy! Julian dengan outfit putih-putih kerendem oli bekas. Bengis!

Sejak saat itulah mulai mencari-cari repertoire dari mereka. 

Gak bisa dibilang sebagai one of their biggest fans juga sih gue. Gak se-fanboy-ing itu juga tapi yaaa beberapa lagu mereka juga adalah lagu-lagu yang pertama kali gue dan teman-teman sekolah gue bawain ketika pertama kali memulai band. One of my first musical heroes I guess. 

Jujur, untuk mengungkapkan secara penuh tentang pengalaman saat menyaksikan mereka secara live agak sulit. Kenapa? Entahlah, no words can describe. Penampilan mereka mungkin yaa biasa-biasa saja untuk ukuran band gede yee...ditambah lagi setlist-nya rada mirip sama yang di Thailand...cuman secara emosional lumayan menguras sih...ya mau kapan lagi lo nonton idola lo di tanah kelahiran lo sendiri bareng temen-temen nongkrong lo? Well, beberapa mungkin bisa aja nonton doi di eropah atau di New York sekalian, tetapi, melihat band yang kalian idolakan sama-sama hadir di depan mata kalian sendiri, bernyanyi bersama, meluapkan energi sama-sama, wah, itu jauh lebih mahal harganya.

Gue gak bisa panjang lebar ceritanya hehehe...semakin gue mengingat semakin gue kayak...wah hepi banget...saking hepinya gue lebih banyak jogetan asoy ketimbang mengabadikan menggunakan gawai...itulah mengapa...foto-fotonya sedikit...video apalagi...karena kemarin emang gue kek gamau buang momen aja...semacam perjalanan spiritual kali yah...tapi bukan berarti mereka yang mengabadikan itu tidak terlalu ngefans...ya gak juga...justru ai malah kek...wah kalo banyak dokumentasinya kan bisa gue tonton lagi kalo lagi suntuk..hehehe....

Semangat nulis gue udah mulai pudar kayaknya jadi agak sulit nih kalau mau nulis-nulis panjang. 



Salah satu yang paling gue ingat justru momen pertemuan dengan teman-teman lama yang sudah lama sekali tidak gue temuin. Abil, Anida, Runi, Zaki, Bayu, Esa, Geng Kebayoran Lama, Kiki yang tiba-tiba meluk gue dan teriak: SAM! THE STROKES SAAAAM! trus juga Cinta x Harbiw yang menagih PC, Gobed, dan beberapa orang yang mukanya gue tahu tapi namanya gue ga tahu. Sempet ada yang ngehek sih ketika gue sedang mengantri minum tiba-tiba ada yang berteriak memanggil, "SAM!" tapi karena gue pikir nama gue gak se-exclusive itu, gue cuek aja...cuman pas gue eye contact dengan yang manggil, baru deh gue ngeh kalo gue yang dipanggil...hehehe...dan gue sama sekali gak inget sama orang yang manggil gue ini...muka gak inget, nama apalagi...hadeh...maap, sering kebentur kepalanya..

Apa kabar lo, Sam? Sekarang di Jogja yah?

Yoi fren! Sendirian lo?

Ohh enggak, ini sama temen-temen gue. Eh kenalin nih, Samuel, temen gue, cowonya temen gue.

*right at this moment...you know kalo ada yang salah*

Heits! Tar dulu deh, lo yang dulu anak Jeruk Records bukan sih?

Hah!? Jeruk apaan? Bukan! Bukan! Gue temennya cewe lo....lupa yah? Wahaha kita terakhir ketemu dah mayan lama sih yah...2 tahun lalu malah di Dharmawangsa.

Wahh gilak suwer gue kolup freen... *mulai merasa tidak enak* Oiya! Ehh itu bukan cewe gue gilee. Kawan eug aja ituh. hehe

WOALAH! Gue kira itu cewe lo....abis doi kan kemana-mana ama lo mulu...ahahah...oke deh, lanjut yoo!

Xiap!

Disclaimer: Maap yee Aldi...gatau gue nyeletuknya Jeruk Records wehehehehe


It was totally fine buat gue. Konser berjalan lancar jaya tanpa hambatan walau di tengah set gue tiba-tiba merasakan sesuatu. Apa tuh? Wah, saya baru sadar kalau dulu beberapa dari kita pernah bermimpi bakalan nonton The Strokes sama-sama. Sedikit dari kita yang dulu bermimpi hal yang sama akhirnya bisa menonton The Strokes dari surga sana. Beberapa dari kita yang awalnya punya mimpi sama tiba-tiba membuang jauh mimpi tersebut demi entah apa namanya.

Mata mulai berkaca-kaca. Saya membayangkan mereka ada di kanan dan kiri saya ikut melantunkan lagu yang dibawakan oleh band idola kita. 

Teruntuk dirimu....mimpi burukmu sudah lewat. Walau akhirnya hanya saya sendirian yang nonton The Strokes di tanah tempat kita berdua lahir. Bang Jules masih sama kok cuman gemukan dikit, Fab sudah terlihat babeh-babeh sekali, Nikolai ngomong "TERIMA KASIH" dengan rada cringe, Nick jadi gondrong kek homeless, dan Albert (idola lo!) sama sekali tidak berubah...


Mari kita akhiri cerita singkat nirfaedah ini dengan potongan lirik dari The Strokes yang saya kirim juga untuk kamu semua yang sudah pergi ke dunia orang-orang keren itu.



I don't wanna change your mind
I don't wanna waste your time
I just wanna know you're alright
I've got to know you're alright




PS: Hey babe, ain't life grand? Sampai hari inipun saya masih suka melakukan sabotase terhadap kebahagiaan saya sendiri. Who lit this flame on us? Find peace, my friend. Saya tidak akan pernah lupa.

, , , , , , ,

What's Your Story? Hey Look! We've Made History. (part II)

May 31, 2017 Samuel Yudhistira
Suatu hari nanti mereka akan kembali ingat dengan suara berisik dari speaker murahan di dalam sebuah studio di pinggir kali yang mengeluarkan aroma sampah menyengat. Sudut sembilan puluh derajat tempat mereka bercengkerama juga akan kembali hinggap ke dalam pikiran.

Arctic Monkeys,The Stone Roses,The Kinks,The Strokes, Nirvana, Joy Division, sampai The Vaselines pernah bermain di sana dalam wujud yang berbeda.

Gitar-gitar murahan dengan kualitas buruk yang dilabeli dengan merk ternama menjadi "senjata" yang untuk sementara membuat mereka puas. Atau mungkin mereka sudah rindu dengan suara cymbal yang nyaring tak karakter dan nampak sudah jenuh dihajar dari pagi hingga malam. Lampu redup hemat energi menyinari optimisme dan tekad mereka.

Dari sanalah mimpi itu lahir dan beranakkan kekecewaan,marah,sedih,putus asa, dan tidak peduli.

Hari Minggu jam satu selalu menjadi waktu yang tepat untuk meluapkan energi remaja mereka yang sudah kelewat batas. Dalam dua jam ke depan suara berisik yang timbul dari dalam pintu dengan peredam buatan sederhana menjadi bukti luapan energi mereka.

They were young.

Aku melihat mata-mata penuh optimisme itu. Aku teringat masa ketika beban hidup itu hanya berupa cerita belaka. Tidak punya makna. Jalan kehidupan mulus diaspal tak akan hancur walau dilindas. Aku lihat mereka bercengkerama riang gembira persis seperti yang aku alami dulu.


"Keep do the noisy thing, Sam!"

"I've never seen anything like that in my life."

"Gilak! Lo gila! Asli, lo gila!

"Kebisingan yang hakiki."

"You did it! It was awesome."


Terkadang hidup punya caranya sendiri untuk membuat kita tetap terkejut. Petasan yang abadi dan meledak bisa kapan saja. Sekarang terserah kita mau bagaimana. Untuk saat ini saya tidak mau berhenti menghajar keenam dawai yang terikat kokoh di atas pick-up dan kayu. Tuning tidak lazim dan aksi brutal tanpa aturan di atas panggung sederhana menjadi ritual suci yang tidak akan pernah usai.


Saya tidak mau mati bosan! I'll see you on the other side, boys! See yaa!
, , , ,

The Strokes - Room on Fire (2003)

May 22, 2017 Samuel Yudhistira
We were young, darling
We don’t have no control
We’re out of control

Album ini memuat lagu The Strokes pertama yang gue denger dalam sejarah hidup gue dan membuat gue pada akhirnya tergila-gila dengan band ini sampai sekarang. Album kedua dari band indie rock asal New York ini setelah gue perhatikan ternyata berisi banyak lagu-lagu yang terlalu asoy untuk tidak didengarkan.

What Ever Happened

Album ini dimulai dengan lumayan apik. I love this song. Lagu yang juga mengisi soundtrack film "Marie Antoinette" ini memang "sangat The Strokes" dengan tone tidak jauh berbeda dari album pertama mereka. Liriknya sedap terutama di bagian pertama yang merupakan favorit gue.

I wanna be forgotten
And I don't want to be reminded

Reptilia

Salah satu lagu The Strokes yang pertama kali gue mainkan bersama teman-teman satu band waktu masa SMA adalah lagu ini. It sounds simple tapi komposisi lumayan rumit ketika memasuki reff yang bikin gue dan teman-teman satu band waktu itu ngulik lumayan lama untuk lagu ini. 

The wait is over, I'm now taking over
You're no longer laughing, I'm not drowning fast enough

Automatic Stop

Seriously, the intro of this song is really something. Setiap kali gue denger lagu ini memori gue membawa gue kembali ke tahun 2011 di sebuah acara "Tribute to The Strokes" yang berujung bencana. We played really awful back then. Lagu ini waktu itu harusnya jadi salah satu lagu yang kita bawain tapi gajadi karena persoalan teknis dan internal. 

Yeah, I know you warned me but this is too important
Now I got a different view, it's you

12:51

Yep! This was their first song of them that I hear during my high school time. I remember we were at my friend's room and listening to this album. Hal paling unik mungkin riff-nya Nick Valensi yang benar-benar mengimitasi suara synth keyboard. 

12:51 is the time my voice found the words I sought
Is it this stage I want?
The world is shutting out for us
Oh, we were tense for sure but we was confident

You Talk Way Too Much

Okay, sebuah lagu breakup yang pas gue baca liriknya gue langsung merasa seperti orang di lagu tersebut. Ahh, suka merasa-merasa deh lo. Eits, tapi beneran. I feel you man in the song. I really am. 
Karena ketika kita dikejutkan oleh sesuatu yang berhenti mendadak kita akan mencoba berbagai cara untuk tetap bergerak walau kadang tindakan harus diambil dan justru membuat semuanya semakin berantakan.

Now we're out of time
I said, it's my fault, it's my fault
Can't make good decisions
It won't stop, I can't stop

Between Love and Hate

Another breakup song...

Intro drumnya catchy sih beneran. Liriknya tentang laki-laki,diputusin pacarnya,sendirian,kosong,berusaha untuk membuat pihak wanita merasa bersalah atas perbuatannya,mengingat masa-masa indah yang sudah berakhir, dan tetap bilang, "I'm okay!" walau sebenarnya enggak. Tapi yaudahlah semua sudah selesai. 

Never needed anybody, I never needed nobody
I never needed anybody, I never needed anybody
Don't worry about it, honey, I never needed anybody
I never needed anybody, it won't change now

Meet Me in the Bathroom

Intro lagunya gue suka deh. Gue inget dulu pernah ngulik lagu ini di ruangan kantor temen gue waktu jaman-jaman kuliah. 

Never was on time, yes, I once was mine
Well, that was long ago and darling, I don't mind
Yeah, they were just two fucks in lust
Oh, baby, that just don't mean much
Oh yeah, you trained me not to love
After you taught me what it was


Under Control

Anda terjebak dalam hubungan yang tidak mungkin? 
Beda suku? 
Beda agama?
Orang tua tidak setuju?
Beda visi dan misi?

Maka lagu ini cocok sekali untuk anda ketika hubungan anda yang tidak mungkin tersebut tiba pada akhirnya.

I don't want to change your mind
I don't want to waste your time
I just want to know you're alright
I've got to know you're alright

The Way It Is

Breakups are hard - even for the dumper. 

Walaupun gue merasa kalau si dumper tersebut merasa berat tapi jauh lebih berat beban si dumped. Gue merasa agak kurang 'sreg' sama lagu ini karena buat gue orang yang mencampakkan tentu saja bisa dengan enteng melaju kencang. 

Said she's not sorry the wind blows her way
Accidents happen, there's one planned today

The End Has No End

This song is about society. Di sini kaya dijelasin tentang semuanya akan terus berputar dan hidup begitu-begitu saja. Sama kaya orang yang sedang menggambar lingkaran. Mungkin yang membedakan hanya warna dan cara gambarnya tapi yang digambar tetap lingkaran.

Hoiya, di salah satu part ada selipan tentang Lou Reed dan The Velvet Underground. :)

He want it easy, he want it relaxed
Said I can do a lot of things, but I can't do that
Two steps forward then three steps back, it won't be easy

I Can't Win

Lagu ini adalah lagu yang waktu itu gue dan teman-teman band bawain dalam sebuah audisi untuk acara "Tribute to The Strokes" tahun 2011. Gue masih inget studionya di lantai dua di seberang minimarket (sekarang dah gaada) dan waktu itu temen gue si Thari bantu mengisi keyboard untuk menutupi kekurangan gitar. 

I love this song. Vokalnya Julian Casablancas di lagu ini buat gue keren banget dan solo gitarnya Nick Valensi menurut gue yang terbaik di album ini. A great song  to end a great album.

Things in bars that people do
When no one wants to talk to you
Failing can be quite a breeze
He told me that these girls were easy
Happy that you said you'd mount me
Felt unlucky when you found me
Some nights come up empty handed
Yes, I'll take it



picture source: http://www.jyonnobitime.com/time/2011/04/

, , , , , , , , , , ,

The Libertines - The Libertines (2004)

March 07, 2017 Samuel Yudhistira



Ini adalah album yang merupakan jawaban atas penantian deg-degan para fans The Libertines di tahun 2004. Setelah vokalis sekaligus salah satu frontmen mereka Pete Doherty dijebloskan ke bui akibat aksi pencurian di apartemen salah satu personil bandnya sendiri: Carl Barât. Banyak yang menduga kalau band ini bakalan bubar jalan. 



The Libertines sempat mencuri perhatian dengan album perdana mereka yang berjudul "Up The Bracket" dan menjadi ikon musik garage rock di awal tahun 2000-an. Konflik internal,perilaku ugal-ugalan,dan gaya hidup para personilnya yang berujung pada ditangkapnya Pete Doherty membuat publik sempat berasumsi kalau band ini tidak akan bertahan lama.

"FREEDOM GIG"

Tap 'n' Tin, Chatham, Kent

Acara ini menjadi tonggak awal kembalinya The Libertines sebagai sebuah band setelah Pete Doherty keluar dari penjara dan  beberapa jam kemudian langsung manggung bareng teman-teman bandnya. Publik kembali bertanya-tanya apakah kembalinya Doherty bersama bandnya apakah hanya sementara atau mungkin The Libertines kembali dengan karya-karya terbaru mereka.

Album ini menjawab semuanya.

Dirilis tahun 2004 di bawah label Rough Trade album ini merupakan album The Libertines yang pertama kali gue dengeri justru di tahun 2014. Yeah, gue terlambat satu dekade karena jujur gue belum begitu tertarik dengan musik mereka pada saat itu. Dengan bantuan dari seorang penggemar berat The Libertines (nama disamarkan) gue berhasil mendapatkan materi-materi album ini. 

Gue suka. 

This is an amazing stuffs. Album ini kaya biografi. Kebanyakan menceritakan tentang relasi pertemanan antara Pete Doherty dan Carl Barât yang sempat gonjang-ganjing karena kasus pencurian tersebut. 

Langsung digeber dengan single pertama dari album ini yaitu lagu "Can't Stand Me Now" yang juga merupakan hit palng cihuy dari The Libertines yang pernah dibuat. Lagu ini jelas tentang pertemanan yang mengalami turbulensi di tengah perjalanan. Yeah, sebuah hal yang mungkin juga banyak dialami sama kita semua.

An ending fitting for the start
you twist and tore our love apart
your light fingers through the dark
that shattered the lamp and into the darkness cast us...

No you've got it the wrong way round
you shut me up and blamed it on the brown
cornered the boy kicked out at the world...the world kicked back
alot fuckin' harder now

Gue suka track yang judulnya "Don't Be Shy","Narcissist","The Ha Ha Wall", sampe "Arbeit Macht Frei" yang masih menggunakan formula yang sama: lirik simpel,distorsi ringan,tempo cepat, dan attitude yang urakan. Album ini memang penuh dengan energi. Mungkin pengaruh absennya Pete Doherty yang tiba-tiba kembali dan membawa energi yang baru untuk The Libertines sehingga empat belas lagu di album ini menjadi penuh semangat.

Mungkin lagu "Music When The Lights Go Out" adalah lagu yang paling gue suka di album ini. Lagu ini menyentuh emosi gue secara berlebihan di masa-masa depresi gue dulu. Ahh, how I really love this song man. Lagu ini mengingatkan gue pada teman-teman dan keseruan dengan mereka. 


and all the memories of the pubs and the clubs, and the drugs and the tubs we shared together
will stay with me forever..
but all the highs and the lows and the to's and the fro's they left me dizzy oh wont you please
forgive me

but i no longer hear the music oh no no no no

Di lagu "What Katie Did" gue suka intronya dan harmonisasi vokal yang ringan tapi keren. Gue suka liriknya. Menceritakan tentang Pete Doherty yang lari dari kesedihan setelah putus dengan cara mengkonsumsi heroin.

What you gonna do Katie? 
You're a sweet, sweet girl 
But it's a cruel, cruel world 
a cruel, cruel world 

Safety pins are none too strong Katie
they hold my life together 
And I never say never 
And I never say never again 

But since you said goodbye 
The polka dots fill my eyes
And I don't know why 

Kebanyakan majalah musik memberikan review yang cukup positif tentang album ini. Tapi yang menurut gue sangat mencuri perhatian gue ketika gue dapet album ini jujur aja cover albumnya. Gue suka sama cover album ini. Sederhana tapi pesannya kuat. Foto Carl dan Pete waktu acara "Freedom Gig" yang legendaris tersebut dipilih menjadi cover album yang berisi kisah tentang mereka berdua.





Please don't get me wrong

See I forgive you with a song

We'll call the Likely Lads

But if it's left to you

I know exactly what you'd do

With all the dreams we had


picture source: https://en.wikipedia.org/wiki/The_Libertines_(album)
, , , , , , ,

The Strokes

January 16, 2010 Samuel Yudhistira


Alright, let's talk about one of my best influence! The Strokes! Formed in 1998 in New York City, they rose to fame in 1998 as a leader in garage rock revival music. Ok, start from now I'll speak in Bahasa! hehehe.... takut ntar pada gak ngerti! *padahal gw yang bingung mo ngomong apa lagi*

Ok, sebenernya gw dengerin The Strokes itu bisa dibilang baru banget! Mungkin orang yang bertanggung jawab atas demennya gw akan The Strokes itu si Erico! Bassist mantep The Chronograph.

Dan bisa dibilang lagu pertama yang bikin gw demen ama The Strokes itu lagu mereka yang judulnya "12:51" sama "You Only Live Once", mungkin karena waktu itu kita mau mainin lagu itu pas manggung buat pertama kali. Tapi fakta uniknya kita akhirnya gak jadi mainin kedua lagu itu dan ntu dua lagu belom pernah dimainin pas kita manggung.

Ok, kembali ke The Strokes!
Dibentuk di tahun 1998 di New York. The Strokes itu sendiri terdiri atas:

> Julian Casablancas - vokal
> Nick Valensi - lead guitar
> Albert Hammond, Jr. - rhythm guitar
> Nikolai Fraiture - bass
> Fabrizio Moretti - drum/percussion

Album pertama mereka "Is This It" tahun 2002 langsung meledak di kalangan penggemar indie-rock di Amerika,U.K.,Kanada,dan Australia. Gw gak tau deh kalo di Indonesia. Pertama kali denger kata The Strokes dulu waktu kelas 2 SMA gw kira ntu band Britpop kaya OASIS, tapi ternyata agak beda, The Strokes musiknya lebih "cuek", jadi seru dengernya!

Dan gw juga sempet ngerasa kalo suaranya Julian Casablancas agak" meniru Jim Morrison, vokalis The Doors. Gayanya juga suka gila kalo di panggung, doi hobi banget mabok dan berujung pada tingkah gila di atas panggung. Menghibur sih, cman rada" annoying!

(JULIAN CASABLANCAS)


Tapi suara dia tetep stabil tuhh!

Dan gw demen banget ama karakter vokal Julian di lagu" The Strokes, mirip kaya Morrison, maskulin banget! Dan gaya berantakan di panggung kadang pengen gw tiru, kaya minum" trus merokok di atas panggung sambil nyanyi,gebukin drum kit pake mic,guling",loncat"an, banyak dahh. Cuman sayang, gw kan nyanyi sambil megang gitar, jadinya gak bisa dehh! hehehe...

Denger" sih The Strokes mo ngeluarin album baru. So guys, prepare yourself and your money!! hehehe..