Tuesday, 10 September 2013

Konyol!

No one is free, even the birds are chained to the sky.


Gue setuju dengan kata-kata Dylan, kita tak pernah bebas. Kebebasan itu benar-benar sebuah omong kosong belaka. Semua orang yang berjuang untuk kebebasan pada akhirnya malah menindas orang lain, dan mereka semua yang menantikan kebebasan pada akhirnya hanya menuai kekecewaan.

Seperti apa bebas yang benar-benar bebas itu?
Lepas dari aturan konyol yang mengikat? Sehingga apa yang dianggap benar oleh kita bisa langsung kita lakukan. Lalu apakah peradaban justru membuat kita semakin terikat?

Selama oksigen itu masih bisa dihirup percuma, itulah yang gue sebut kebebasan.

Kebebasan berpendapat,memilih jalan hidup, menjalankan ibadah, kebebasan untuk "bisa bebas" semua sudah ternodai oleh penindasan. Apa lagi yang mau diharapkan?

Bahkan untuk mencari pasangan, kebebasan kita sudah dinodai oleh label suku,agama,latar belakang, dan segala hal yang pada akhirnya mengekang kita untuk memilih, yang juga didukung oleh teori "Stereotype" mengenai perbedaan nan ampuh untuk mengekang kita dalam menentukan pilihan. Anehnya lagi terkadang kita mudah sekali termakan oleh hal-hal semacam itu.

Kebebasan cuma ada di alam ide-nya Plato, lukisan Vincent van Gogh, puisinya Walt Whitman, surganya para Tuhan.

Bebas,bebas,bebas...

Dan suara bising mesin kota membangunkan lamunan bodoh gue ini, melanjutkan pekerjaan yang diperintahkan dan mulai memasuki alam perbudakan waktu.

Related Articles

1 komentar:

1mmanuel'Z-Note5 said...

Yah bebas memang relatif, Sam... :D