Thursday, 17 September 2015

Change.

John F. Kennedy once said, "Change is the law of life. And those who look only only to the past
 and present are certain to miss the future."


Gue saktujuh sama kata-kata Mr. Kennedy di atas.

Banyak orang yang terlalu takut mengalami perubahan. Gak heran muncul orang-orang konservatif yang pola pikirnya terlalu relik di era komunikasi sekarang ini.

Contohnya aja orang tua masing-masing. Mereka yang tetap memegang teguh sistem dan tata budaya jaman baheula harus berhadapan dengan anak-anak mereka beserta pola pikir barunya yang lebih progresif dan cenderung reaktif sehingga timbul kontra-kontra kecil dalam kehidupan. (saiklaaah)

Gak kecil juga sih kalo berujung pada cekcok.

Mereka generasi tua susah untuk beradaptasi dengan perubahan dan anak-anak muda yang berubah dengan kecepatan yang luar biasa cepat didukung dengan perkembangan jaman.

Kata-kata Mr. Kennedy bukannya gue jadikan senjata buat ngelawan orang tua lho tapi konsep berubah yang gue maksudkan justru lebih mengarah ke generasi di mana kita sekarang berada.

Ketika terpaku dengan masa lalu..yahh lo bakalan ketinggalan jauh dilindas oleh jaman yang super kejam.

Ketika sudah puas dengan apa yang dimilki sekarang belum tentu masa depan mau memberikan hal yang sama kepada kita.

Artinya... teruslah berkembang gali semua potensi yang ada di dalam diri kita masing-masing. 

Gue sendiri mengalami koq betapa perubahan itu sungguh amat sulit. Beradaptasi dengan hal baru itu lumayan challenging brooh. Mengubah gaya hidup,cara berdandan,cara bicara,bahasa yang digunakan,semuanya melelahkan. Memang berubah itu adalah hukum kehidupan yang tak bisa dipungkiri dan dihindari. Yang paling benar adalah dihadapi.

Anak punk masuk bank adalah fase pertama gue menguji teori hukum perubahan sebagai bagian dari hidup.

Gue yang semasa kuliah gondrong,serabutan,ngomong asal-asalan,hidupnya sok rokenrol tiba-tiba harus berubah entah berapa ratus derajat ketika pertama kali memasuki dunia pekerjaan. Rambut gue dipapas abis,kudu pake dasi dan kemeja plus sepatu pantofel, grooming abis-abisan, dan tata bahasa yang super ramah bin baku ketika bekerja di bank.

Berubah.Ya gue berubah yang tadinya anti banget nongkrong di mall jadinya ke mall, kalo belanja baju gak jauh-jauh dari flannel tiba-tiba belanja kemeja formal, tadinya pake sneakers belel tiba-tiba sepatu formal, dll. Kalo gue terus melihat masa lalu gue sebagai seorang penganut budaya urban gue gabakal tahan dan bertentangan dengan budaya perusahaan tempat gue bernaung (walaupun pada akhirnya gue cabut juga).

Jujur gue gak nyaman.

Kaya punya kulit kedua.

Tapi yah..namanya keharusan.

Dan ketika gue merasa amat tidak nyaman dengan kondisi tersebut gue mulai memikirkan masa depan gue.

Kalo gue tetap bertahan dengan apa yang ada pad asaat itu dan tahu dengan kondisi yang gak memungkinkan gue untuk berkembang gue bakalan stuck dan gak dapet apa-apa. Maka keputusan besar pun kembali dibuat. Gue memutuskan resign.

Semua orang shock.

Masuk ke tempat di mana ada tes yang lumayan sulit ditambah benefit yang lumayan untuk orang seusia gue dan tiba-tiba gue cabut gitu aja.

Berubah. Ya gue kembali berubah menjadi pribadi yang lebih kritis. Gue gak mau kehilangan masa depan yang lebih baik. Walaupun penuh kebimbangan dan godaan kanan-kiri gue tetep dengan keputusan gue. I've made a decision, a big one.

Budaya konservatif kita sebagai orang Indonesia bahkan menurut gue udah punya pattern yang kyanya gaboleh buat diakalin. Gak percaya? Lahir...anak kecil..sekolah dasar..SMP..SMA...kuliah (kalo bisa di negeri)...lulus....kerja (klo bisa PNS)...married (seagama dan sesuku)...punya anak cucu...mati.

Harus kerja yah?

Ya, kerja di perusahaan besar merupakan suatu keharusan kyanya di mata orang tua kita. Gak jelek sih kerja itu, tapi alternatif lain kan masih banyak. Namun karena memang kita adalah manusia yang menuntut kepastian maka get a decent job adalah sebuah pilihan yang nampaknya paling umum dan pasti.

Gue tiba-tiba teringat temen gue yang setelah lulus kuliah langsung buka usaha. Tak terikat korporasi,tak terikat jam kerja,hanya terikat niat dan usaha untuk sesuatu yang lebih baik. Atau tetangga gue yang 5 tahunan kerja kantoran dan tiba-tiba banting stir jualan nasi uduk. Semua orang heboh bukan main, dari eksmud jadi tukang nasi uduk. Berubah.

Gue teringat lagu... I was looking for a job but then I've found a job and heaven knows I'm miserable now.

Berubah dan berubah memang sebuah lingkaran yang tak bisa dihindari.

Dunia kita berubah? Ya berubah. Dulu gak ada busway sekarang ada busway. Dulu naik kereta itu berasa naik kora-kora sekarang udah enakan dikit dengan sistem yang rapi. Dulu birokrasi ribet sekarang sudah agak lebih mending deh.Dulu naik ojek harus nyari pangkalan sekarang pake aplikasi hape bisa. hehehe

To change the world, it may not work but it sure is a fun trying.

Jangan takut dengan perubahan, karena gak selamanya perubahan itu negatif koq.


Related Articles

0 komentar: