Saturday, 2 July 2011

Guilty of Being Right!

Postingan ini sedikit terinpirasi dari judul lagunya Minor Threat - Guilty of Being White...

But.. I'm not going to tell you about racism thing :D

Sekarang itu di Indonesia lagi ada fenomena terbalik: BERSALAH KARENA BENAR! Well, yeah indeed! Banyak hal yang unik dan salah yang di"benar"kan di negara kita tercinta ini.

Salah satu hal terunik dan rada ekstrem itu adalah kejadian yang ada di Surabaya. Can you believe it?? Orang yang melakukan tindakan pengendalian sosial terhadap penyimpangan justru dimusuhi bahkan dianggap musuh oleh orang-orang sekitar karena dianggap tidak mempunyai rasa solidaritas.

WOW! SOLIDARITAS...

Tau apa ente soal SOLIDARITAS???

Justru semestinya bangsat-bangsat yang mengatasnamakan SOLIDARITAS itu harusnya malu! Mereka itu gw anggap sebagai orang yang menyalahgunakan arti kata solidaritas sebagai tameng untuk membenarkan tindakan mereka.

Man, your words are really mean...

Buat apa pake kiasan-kiasan manis buat menggambarkan orang-orang yang mental-nya rendah seperti itu. Kebagusan!

Gw bukannya mau sok suci. Jaman SMA gw juga sering nyontek! *oops*

Tapi gak sampe massal begitu! Lagian juga diem-diem aja. Di sini gw menyayangkan tindakan guru yang justru bertindak amoral dengan membiarkan hal tersebut terjadi. Seharusnya teguran diberikan jika ada kecurangan yang terjadi jangan justru dibiarkan. Apalagi usia mereka terlalu rentan (masih SD, cuy!!) sehingga jelas bibit-bibit generasi baru koruptor tengah ditanam di dalam SD tersebut.

Trus apa bedanya nyonteknya elo di SMA sama nyontek massal di SD itu??

Let's comparing:

Gw nyontek di SMA itu gak didukung sama guru secara terang-terangan

Ketika nyontek mulai tetep di tempat gak ada yang slonong boy seenaknya trus didiemin sama gurunya.

Kadang ada guru yang "mengizinkan" nyontek terjadi dengan syarat: "Jangan sampe ketahuan sama saya!"

Nyontek terjadi dan diketahui hanya di kalangan siswa. Guru gak ada yang tahu!

Waktu nyontek itu hanya terjadi akibat kepepet dan gak pake gladi resik sehari sebelum ujian seperti yang terjadi di Surabaya.

Sehingga perbedaan mencolok akan sangat terjadi jika dibandingkan dengan sekumpulan bocah SD yang nyontek di kelas dengan skala yang besar dan tidak tindakan preventif dari guru yang mengawas. Suatu ironi yang luar biasa bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Anyway... Nasib orang-orang yang berusaha jujur juga gak kalah menggenaskan. Diusir dari rumahnya dan dicap sebagai pengkhianat sampe harus pindah rumah ke kota lain. Suatu hal yang sangat tidak layak terjadi bagi orang yang membela kebenaran.

*itulah akibatnya kalo membela kebenaran... Hidupnya gak enak!* ^__^

Di dunia perpolitikan Indonesia... wah gak usah ditanya! Kata SOLIDARITAS jelas menjadi jurus ampuh dalam memuluskan lobi-lobi politik yang sudah menjadi rahasia umum bagi kebanyakan rakyat Indonesia.
Anehnya... Kenapa akhirnya timbul kesan kalau orang-orang yang jujur dan benar di bangku pemerintahan dipaksa untuk tersingkir dari bangku pemerintahan.

Apa mungkin orang jujur itu gak bisa solider? Atau mungkin orang-orang yang gak jujur merasa gak nyaman dengan orang satu jujur di antara mereka? Atau mungkin mereka takut "rahasia kecil" mereka terbongkar dan mereka lengser dari kursi mereka?

Sehingga pada akhirnya orang-orang yang memperjuangkan kebenaran harus menerima resiko besar yang tak ayal kadang mengancam nyawa mereka. Kita sudah punya contoh:. Alm. Munir yang berjuang demi HAM harus tewas terbunuh.

Masih banyak pejuang-pejuang keadilan yang harus kehilangan nyawa karena pembelaan mereka terhadap hal-hal yang benar dan patut dibela.
Yahh... like it or not it's my country, welcome to Indonesia then. Sebuah negeri beribu pulau nan elok tetapi penuh korupsi dan ketidakadilan.

Yeah... Guilty of Being Right....

Related Articles

5 komentar:

dweedy said...

Tapi susah juga sistem pendidikan kita. Masa sekolah 6 tahun dan penentuan lulus tidaknya seseorang dilakukan dalam 3 hari. Gila namanya itu! Saya tidak menyalahkan si orang tua murid tersebut, tidak, hanya saja tidakkah ia bertindak terlalu berlebihan dengan melaporkan guru tersebut? Dan saya juga tidak membenarkan sang guru, mungkin beliau hawatir dengan murid-muridnya. Kasian jika hanya 3 hari mereka harus mengulang lagi sedangkan biaya untuk bersekolah mahal. Padahal sudah ada dana bos.

Ini sebenarnya seperti buah simalakama.

Gaphe said...

wah, soal nyontek beginian emang sih banyak faktor yang kudu diliat. jangan cuman setengah2.. mungkin sekolah pengen anaknya nyontek karena supaya kredibilitasnya nggak turun. soalnya kalo banyak yang nggak lulus kan sekolah jadi nggak laku.

nah berarti masalha utamanya pada sistemnya, ketika semua ditentukan cuman dari UAN aja

NuellubiS said...

rumit. karna kalo kita dukung si anak itu, kasian kan kalo mesti diulang lagi UNnya. mereka masih SD loh. beda kalo yang sma. diulang lagi ga masyalah.

mentalnya anak sd juga masih labil. mungkin itulah yang mendorong mereka melakukan itu.

Inez said...

Setuju bgt sm Bang Gaphe..

samuel said...

@dweedy: Gw jg sangat tidak setuju dengan sistem UN tapi gw menyayangkan sikap berlebihan tetangga si orang tua murid yang sampe mengusir dia keluar kota.

@Gaphe: Kembali ke sistem yang merumitkan. Kenapa pemerintah tidak mengubah sistem yang membelenggu ini yahh...

@Nuel: Yahh bener juga sih kasian kalo anak SD ngulang.
Justru mental mereka yang labil jangan dibiasakan mencontek nanti jadi kebiasaan :D

@Inez: Setuju juga deh sama kamuu

hehehehe ^__^